1 Muharram: Antara Sunnah dan Bid’ah
Abstrak
Pergantian tahun Hijriah pada 1 Muharram seringkali dirayakan umat Islam dengan berbagai bentuk amalan dan peringatan. Sayangnya, tidak sedikit di antaranya yang keluar dari tuntunan syariat sehingga jatuh pada praktik bid’ah. Artikel ini membahas secara sistematis amalan yang disyariatkan (sunnah) dan amalan yang tidak ada tuntunannya (bid’ah) pada 1 Muharram, serta memberikan arahan bagaimana umat Islam sebaiknya menyikapi momentum awal tahun hijriah ini agar selaras dengan ajaran Nabi ﷺ. Dengan memahami perbedaan antara sunnah dan bid’ah, diharapkan umat dapat menjalankan agama secara murni dan mendapat ridha Allah ﷻ.
1 Muharram sebagai awal tahun Hijriah memang tidak pernah dirayakan secara khusus oleh Rasulullah ﷺ ataupun para sahabatnya. Namun, bulan Muharram secara keseluruhan memiliki keutamaan tersendiri sebagai salah satu bulan haram yang dimuliakan dalam Islam. Dalam bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal salih dan menjauhi perbuatan maksiat. Sayangnya, dalam perkembangan sejarah, banyak tradisi dan kebiasaan yang dilakukan umat Islam pada 1 Muharram tidak didasari dalil yang kuat, bahkan sebagiannya bertentangan dengan syariat.
Membedakan amalan sunnah dan bid’ah pada 1 Muharram sangat penting agar umat tidak terjebak dalam kebiasaan yang sia-sia atau bahkan mendatangkan dosa. Karena itu, artikel ini akan menguraikan contoh-contoh amalan yang termasuk sunnah dan bid’ah pada 1 Muharram, lalu memberikan arahan bagaimana sebaiknya kita menyikapi momentum awal tahun baru Islam ini.
10 Contoh Amalan Sunnah pada 1 Muharram
- 1️⃣ Memperbanyak puasa di bulan Muharram, khususnya puasa Asyura (10 Muharram)
📌 Hadits: Rasulullah ﷺ bersabda, “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah (Muharram), dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163)
📌 Penjelasan: Ini menunjukkan keutamaan puasa di bulan Muharram, terutama pada hari Asyura (10 Muharram), karena dapat menghapus dosa setahun sebelumnya.
- 2️⃣ Melaksanakan puasa Tasua (9 Muharram) untuk membedakan diri dari Yahudi
📌 Hadits: Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan (Tasua).” (HR. Muslim no. 1134)
📌 Penjelasan: Nabi ﷺ menganjurkan puasa Tasua agar berbeda dari Yahudi yang hanya berpuasa pada hari Asyura.
- 3️⃣ Memperbanyak zikir dan doa
📌 Hadits: Rasulullah ﷺ bersabda, “Perbanyaklah mengingat Allah agar kalian menjadi orang yang beruntung.” (HR. Ahmad no. 10778, dinilai hasan oleh Al-Albani)
📌 Penjelasan: Zikir adalah amalan umum yang dianjurkan setiap waktu, terlebih di bulan mulia seperti Muharram.
- 4️⃣ Memperbanyak sedekah kepada fakir miskin
📌 Hadits: Rasulullah ﷺ bersabda, “Sedekah itu memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi no. 2616, shahih)
📌 Penjelasan: Sedekah sangat dianjurkan setiap waktu, apalagi di bulan-bulan haram, termasuk Muharram.
- 5️⃣ Menjaga silaturahmi
📌 Hadits: Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari no. 5986, Muslim no. 2557)
📌 Penjelasan: Awal tahun Hijriah menjadi momen tepat untuk memperbaiki hubungan kekerabatan.
- 6️⃣ Bertaubat dan memperbaiki amal
📌 Hadits: Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi no. 2499, shahih)
📌 Penjelasan: Muharram sebagai awal tahun hijriah adalah momentum muhasabah dan taubat.
- 7️⃣ Memperbanyak membaca Al-Qur’an
📌 Hadits: Rasulullah ﷺ bersabda, “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi para pembacanya.” (HR. Muslim no. 804)
📌 Penjelasan: Membaca Al-Qur’an adalah amalan sunnah yang membawa keberkahan kapan pun, termasuk di awal tahun baru Islam.
- 8️⃣ Memperbanyak istighfar
📌 Hadits: Rasulullah ﷺ bersabda, “Demi Allah, aku benar-benar beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari no. 6307)
📌 Penjelasan: Istighfar penting sebagai bentuk taubat dan pembersihan diri, terutama di bulan yang mulia.
- 9️⃣ Menjaga shalat wajib dan sunnah rawatib
📌 Hadits: Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya.” (HR. Bukhari no. 6502)
📌 Penjelasan: Shalat wajib dan sunnah rawatib menjadi prioritas utama dalam setiap kesempatan.
- 🔟 Menjauhi perbuatan dosa dan maksiat sebagai bentuk mengagungkan bulan haram
📌 Hadits: Allah ﷻ berfirman, “Janganlah kalian menzalimi diri kalian di dalamnya (bulan-bulan haram).” (QS. At-Taubah: 36)
📌 Penjelasan: Menjauhi dosa di bulan Muharram sebagai bulan haram adalah perintah langsung dari Allah ﷻ.
10 Contoh Amalan Bid’ah pada 1 Muharram
- 1️⃣ Mengadakan ritual khusus menyambut tahun baru Islam tanpa dasar syariat Tidak ada satu pun riwayat shahih yang menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ atau para sahabatnya mengadakan ritual atau perayaan khusus menyambut 1 Muharram. Segala bentuk ritual seperti doa bersama, upacara, atau acara keagamaan yang dikhususkan pada malam atau hari 1 Muharram termasuk perkara baru dalam agama yang tidak dicontohkan oleh Nabi ﷺ. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa membuat perkara baru dalam urusan agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara itu tertolak.” (HR. Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718). Umat seharusnya cukup memuliakan Muharram dengan memperbanyak amal salih umum, bukan dengan ritual tambahan tanpa dalil.
- 2️⃣ Membaca doa-doa tertentu untuk pergantian tahun yang tidak berasal dari Nabi ﷺ Doa adalah ibadah yang sangat mulia, tetapi doa-doa khusus pergantian tahun seperti doa awal tahun atau akhir tahun tidak pernah diajarkan Rasulullah ﷺ. Tidak ditemukan hadits shahih yang memerintahkan atau mencontohkan bacaan doa ini pada malam 1 Muharram. Mengkhususkan doa pada waktu tertentu tanpa dalil dapat menjadikan sebuah ibadah tertolak. Doa pada dasarnya boleh kapan saja, namun membuat susunan doa tertentu dengan keyakinan khusus di waktu yang tidak diajarkan termasuk dalam kategori bid’ah.
- 3️⃣ Mengadakan kenduri atau selamatan khusus awal tahun Kenduri atau selamatan yang dilakukan dengan tujuan menyambut tahun baru Hijriah tidak ada tuntunannya dari Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Amalan ini muncul dari tradisi masyarakat yang kemudian disandarkan pada agama tanpa dalil yang jelas.Segala bentuk ibadah yang dikaitkan dengan waktu tertentu harus memiliki dasar syariat. Jika tidak, maka termasuk amalan yang diada-adakan. Islam tidak pernah mengajarkan mengadakan selamatan khusus pada 1 Muharram untuk menolak bala atau mendatangkan berkah.
- 4️⃣ Mandi safar atau mandi awal Muharram dengan keyakinan tolak bala Sebagian masyarakat mengamalkan mandi khusus di awal Muharram atau bulan Safar dengan keyakinan dapat menolak bala dan mendatangkan keberkahan. Amalan ini tidak pernah dicontohkan dalam Islam dan hanya berdasarkan kepercayaan turun-temurun.Islam mengajarkan kita untuk menolak bala dengan doa, sedekah, dan taubat, bukan dengan mandi ritual yang tidak ada tuntunannya. Jika mandi diniatkan hanya untuk kebersihan, itu baik, tetapi jika diniatkan sebagai ibadah khusus, maka menjadi bid’ah.
- 5️⃣ Membuat acara pawai atau arak-arakan yang dianggap ibadah Pawai obor atau arak-arakan dalam rangka menyambut tahun baru Hijriah sering dianggap sebagai ibadah yang berpahala. Padahal hal ini tidak ada contoh dari Rasulullah ﷺ, para sahabat, ataupun generasi salaf. Pawai dan arak-arakan dalam Islam bukanlah bentuk ibadah. Jika dilakukan dengan keyakinan ibadah, termasuk bid’ah, apalagi jika di dalamnya bercampur dengan perbuatan sia-sia, tabarruj, atau bahkan maksiat.
- 6️⃣ Membagikan makanan dengan keyakinan membawa keberkahan khusus 1 Muharram Berbagi makanan adalah perbuatan baik, tetapi mengaitkannya dengan malam 1 Muharram dan keyakinan keberkahan khusus adalah bid’ah. Rasulullah ﷺ tidak pernah memerintahkan pembagian makanan pada malam atau hari tertentu di awal tahun hijriah. Berbagi makanan hendaknya dilakukan dengan niat ikhlas kapan saja tanpa mengkhususkan waktu-waktu yang tidak ada tuntunannya. Mengikat amal salih dengan waktu tertentu harus memiliki dalil syar’i agar tidak menjadi bid’ah.
- 7️⃣ Membaca surat tertentu (seperti Yasin 3 kali) dengan niat khusus untuk awal tahun Tidak ada hadits shahih yang menjelaskan keutamaan membaca surat Yasin 3 kali atau bacaan khusus lainnya pada malam 1 Muharram. Kebiasaan ini hanya muncul dari tradisi masyarakat, bukan dari tuntunan Rasulullah ﷺ. Al-Qur’an boleh dibaca kapan saja, namun mengkhususkan bacaan pada waktu tertentu tanpa dalil berarti menambah syariat yang tidak ada asalnya. Hal ini dapat menjadikan amal tersebut tertolak di sisi Allah.
- 8️⃣ Menulis doa awal dan akhir tahun lalu menggantungnya di rumah untuk keberuntungan Tradisi menulis doa khusus dan menggantungkannya di rumah agar mendapat keberkahan awal tahun adalah amalan tanpa dalil. Tidak ada contoh dari Rasulullah ﷺ atau sahabat mengenai hal ini. Keberuntungan dan berkah datang dari ketaatan kepada Allah, bukan dari menggantung tulisan doa. Perbuatan ini bisa mendekati keyakinan khurafat jika diyakini ada kekuatan dari tulisan tersebut.
- 9️⃣ Menyalakan lilin, pawai obor atau lampu khusus di malam 1 Muharram dengan maksud ibadah Menyalakan lilin, pawai obor atau lampu khusus di malam 1 Muharram sering dilakukan dalam rangka ritual menyambut tahun baru Islam. Ini tidak ada contohnya dalam syariat, sehingga termasuk amalan yang diada-adakan. Ibadah yang diterima adalah yang sesuai contoh Nabi ﷺ. Mengaitkan nyala lilin, pawai obor atau lampu dengan ibadah dan keberkahan di malam tertentu tanpa dalil adalah bid’ah yang harus ditinggalkan.
- 🔟 Meyakini malam 1 Muharram sebagai malam keramat yang harus diisi ritual tertentu Tidak ada dalil yang menyebut malam 1 Muharram sebagai malam keramat atau malam istimewa yang wajib diisi dengan ritual khusus. Keyakinan ini hanya tumbuh dari tradisi sebagian masyarakat tanpa dasar syariat. Setiap malam dalam Islam pada dasarnya sama kecuali ada dalil yang mengkhususkannya. Menganggap malam 1 Muharram sebagai malam penuh berkah atau wajib dirituali dapat membawa kepada perbuatan bid’ah dan keyakinan batil.
Budaya, Bid’ah Hasanah, dan 1 Muharram
Tahun Baru Islam yang dimulai pada 1 Muharram seringkali dirayakan oleh umat Muslim di berbagai belahan dunia dengan beragam tradisi dan budaya lokal. Di Indonesia, misalnya, terdapat tradisi seperti pawai obor, doa akhir dan awal tahun, serta pengajian malam 1 Muharram. Tradisi ini tidak secara langsung dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ, namun berkembang sebagai bentuk ekspresi syukur dan semangat hijrah umat dalam memulai tahun baru dengan kebaikan.
Sebagian ulama menganggap praktik-praktik ini sebagai bid’ah hasanah, yakni hal baru dalam agama yang tidak bertentangan dengan syariat dan membawa maslahat. Imam an-Nawawi dan Umar bin Khattab termasuk yang membolehkan bentuk bid’ah semacam ini, selama tidak menyelisihi prinsip-prinsip Islam. Maka, selama perayaan 1 Muharram tidak disertai dengan kemungkaran atau keyakinan keliru, seperti menganggapnya wajib atau menyamainya dengan hari raya yang disyariatkan, maka hal ini bisa dianggap bagian dari budaya yang diperbolehkan. Tetapi demi kehati hatian ada sebagian ulama tidak menganjurkan karena tidak sesuai dengan keteladanan nabi, karena bila hal itundikautkan dengan ibadah maka akan tertolak.
Namun demikian, penting bagi umat Islam untuk tetap memahami batas antara budaya yang dibolehkan dan praktik agama yang ditetapkan. Spirit dari 1 Muharram dan Hijrah Nabi adalah memperbarui komitmen dalam ketaatan kepada Allah, memperbaiki diri, dan berhijrah dari keburukan menuju kebaikan. Maka sikap terbaik adalah memanfaatkan momentum ini untuk muhasabah dan memperkuat tekad menjadi pribadi yang lebih baik, sembari menjaga agar bentuk perayaan tetap dalam koridor syariat.
Bagaimana Umat Islam Sebaiknya Menyikapi 1 Muharram?
Pertama, umat Islam sebaiknya memahami bahwa 1 Muharram adalah momentum untuk memperbaiki diri, bukan untuk membuat tradisi baru yang tidak dicontohkan Rasulullah ﷺ. Memulai tahun baru dengan taubat, memperbaiki niat, dan berkomitmen meningkatkan amal salih jauh lebih utama daripada sekadar mengikuti ritual yang tidak ada dasarnya.
Kedua, hendaknya umat mengisi bulan Muharram, termasuk 1 Muharram, dengan memperbanyak amal salih yang umum dianjurkan dalam Islam seperti shalat sunnah, zikir, sedekah, dan membaca Al-Qur’an. Amalan-amalan ini memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an dan sunnah serta akan mendatangkan pahala besar.
Ketiga, jauhilah amalan-amalan yang hanya berdasarkan tradisi turun temurun tanpa dalil syar’i. Setiap amalan yang tidak dicontohkan Nabi ﷺ dalam urusan ibadah berpotensi menjadi bid’ah yang tertolak. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan bagian darinya, maka amalan itu tertolak.” (HR. Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718).
Keempat, jadikan momentum ini sebagai ajang edukasi umat tentang pentingnya mengikuti sunnah dan menjauhi bid’ah. Para da’i, guru, dan tokoh masyarakat hendaknya meluruskan pemahaman umat dengan hikmah dan dalil yang shahih, agar tradisi-tradisi bid’ah perlahan ditinggalkan.
Kelima, umat Islam hendaknya menghidupkan semangat hijrah di awal tahun baru ini, dengan menjadikan setiap hari sebagai peluang memperbaiki amal, mendekat kepada Allah, dan menjauhi perbuatan dosa. Dengan demikian, pergantian tahun benar-benar menjadi momen muhasabah, bukan sekadar acara seremonial kosong.
Kesimpulan
1 Muharram adalah momentum penting yang seharusnya dimanfaatkan untuk memperbaiki diri dan memperbanyak amal salih. Umat Islam harus mampu membedakan amalan yang benar-benar bersumber dari sunnah dengan amalan yang hanya berdasarkan tradisi tanpa dalil syar’i. Dengan menghindari bid’ah dan menghidupkan sunnah, umat akan mendapat keberkahan dan ridha Allah ﷻ di awal tahun dan sepanjang hidupnya. Semoga kita termasuk golongan yang istiqamah di atas sunnah hingga akhir hayat.















Leave a Reply