ADAB ATAU ILMU: MANA YANG HARUS DIDAHULUKAN?
Pertanyaan
Dalam Islam, manakah yang harus didahulukan: adab atau ilmu? Apakah seseorang harus memiliki adab terlebih dahulu sebelum belajar ilmu, atau justru harus memiliki ilmu agar dapat mengetahui dan menjalankan adab dengan benar?
Jawaban
Dalam Islam, adab dan ilmu tidak seharusnya dipertentangkan, karena keduanya saling membutuhkan; ilmu memberikan petunjuk tentang apa yang benar, sedangkan adab mengajarkan bagaimana ilmu itu dipelajari, diamalkan, dan disampaikan dengan cara yang benar. Jika ditanya mana yang harus didahulukan, maka secara pendidikan adab perlu ditanamkan sejak awal bersamaan dengan ilmu, sementara secara epistemologis ilmu diperlukan untuk menentukan mana adab yang benar menurut Al-Qur’an dan Sunnah. Allah SWT berfirman, فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ — “Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah” (QS. Muhammad: 19), yang menunjukkan pentingnya ilmu sebagai dasar keyakinan dan amal. Rasulullah ﷺ juga diutus sebagai teladan akhlak dan Allah memuji beliau, وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ — “Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS. Al-Qalam: 4). Karena itu, ilmu tanpa adab dapat melahirkan kesombongan, merasa paling benar, merendahkan orang lain, atau menggunakan pengetahuan untuk kepentingan yang buruk; sebaliknya, adab tanpa ilmu dapat membuat seseorang berniat baik tetapi melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan tuntunan agama. Ungkapan ulama salaf, كَانُوا يَتَعَلَّمُونَ الْأَدَبَ كَمَا يَتَعَلَّمُونَ الْعِلْمَ, “Mereka dahulu mempelajari adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu,” menunjukkan betapa pentingnya adab dalam tradisi keilmuan Islam, tetapi ungkapan tersebut bukan hadis Nabi ﷺ. Dengan demikian, jawaban yang paling seimbang adalah: adab ditanamkan sejak pertama kali belajar, ilmu menjadi landasan untuk membedakan yang benar dan salah, dan keduanya harus diwujudkan dalam amal; ilmu menerangi jalan, adab menentukan cara berjalan, sedangkan amal menunjukkan bahwa ilmu dan adab benar-benar hidup dalam diri seseorang.
ADAB ATAU ILMU: MANA YANG HARUS DIDAHULUKAN?
Apa gunanya ilmu yang tinggi jika membuat seseorang semakin tinggi hati? Dan apa arti adab yang indah jika tidak dituntun oleh ilmu tentang kebenaran? Pertanyaan ini menjadi semakin penting di tengah zaman ketika orang dapat berbicara tentang agama dengan mudah, tetapi belum tentu mampu menjaga lisan; dapat mengutip banyak dalil, tetapi belum tentu mampu menghormati perbedaan; dan dapat terlihat berilmu, tetapi belum tentu menghadirkan keteduhan dalam perilakunya. Di sinilah pertanyaan klasik kembali menemukan maknanya: “Mana yang harus didahulukan, adab atau ilmu?”
Dalam tradisi Islam, pertanyaan tersebut tidak sesederhana memilih salah satu. Ilmu dan adab bukan dua jalan yang saling berlawanan, melainkan dua sayap yang membuat seseorang mampu terbang menuju kebaikan. Ilmu memberikan petunjuk tentang apa yang benar, sedangkan adab membentuk sikap dalam mencari, memahami, mengamalkan, dan menyampaikan kebenaran. Ilmu tanpa adab dapat berubah menjadi kesombongan, sementara adab tanpa ilmu dapat kehilangan arah. Karena itu, keduanya harus tumbuh bersama sejak seseorang mulai belajar.
Ada ungkapan yang sangat populer dari ulama salaf: كَانُوا يَتَعَلَّمُونَ الْأَدَبَ كَمَا يَتَعَلَّمُونَ الْعِلْمَ, “Mereka dahulu mempelajari adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu.” Ungkapan ini menggambarkan kuatnya perhatian generasi ulama terdahulu terhadap pembentukan akhlak dalam proses mencari ilmu. Namun, penting untuk membedakan antara atsar atau ungkapan ulama dengan hadis Nabi ﷺ. Kalimat tersebut tidak boleh dinisbatkan sebagai hadis Nabi ﷺ tanpa dasar yang sahih.
Di sisi lain, Islam sangat menekankan ilmu sebagai dasar kehidupan beragama. Allah SWT berfirman, فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ, “Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah” (QS. Muhammad: 19). Ayat ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang kebenaran menjadi dasar bagi keyakinan dan amal. Seseorang tidak cukup hanya memiliki niat baik; ia juga membutuhkan ilmu untuk mengetahui apa yang benar, apa yang salah, apa yang wajib, apa yang sunnah, dan apa yang dilarang.
Namun ilmu saja belum cukup. Al-Qur’an memuji Rasulullah ﷺ dengan firman-Nya, وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ, “Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS. Al-Qalam: 4). Rasulullah ﷺ tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga memberikan teladan bagaimana ilmu itu diwujudkan dalam akhlak, kelembutan, kesabaran, kejujuran, kasih sayang, dan sikap menghormati manusia.
Karena itu, pertanyaan “mana yang lebih dahulu, adab atau ilmu?” sebaiknya dijawab secara proporsional. Dalam proses belajar, adab dan ilmu sebaiknya berjalan bersama. Dalam pembentukan karakter, adab perlu ditanamkan sejak awal. Dalam menentukan benar dan salah, ilmu harus menjadi dasar. Dalam mengamalkan dan menyampaikan ilmu, adab dan akhlak harus menjadi pengarahnya.
Ilmu tanpa adab dapat melahirkan kesombongan. Seseorang mungkin mengetahui banyak dalil, tetapi merasa dirinya paling benar, mudah merendahkan orang lain, gemar menyalahkan, bahkan menjadikan ilmu sebagai alat untuk menunjukkan keunggulan dirinya. Pada keadaan seperti itu, ilmu yang seharusnya menjadi cahaya justru dapat berubah menjadi sumber perselisihan ketika tidak disertai kerendahan hati dan akhlak.
Sebaliknya, adab tanpa ilmu juga tidak cukup. Seseorang dapat memiliki niat baik, sopan, ramah, dan penuh kasih sayang, tetapi tanpa ilmu ia mungkin tidak mengetahui apakah suatu perbuatan sesuai dengan tuntunan syariat. Niat yang baik tidak selalu membuat suatu tindakan menjadi benar. Karena itu, adab membutuhkan ilmu sebagai kompas, sementara ilmu membutuhkan adab agar tidak kehilangan arah kemanusiaannya.
Dalam tradisi keilmuan Islam, hubungan keduanya dapat dirumuskan secara sederhana: ilmu memberi tahu apa yang benar; adab mengajarkan bagaimana menjalankan kebenaran dengan benar; amal membuktikan bahwa ilmu dan adab benar-benar hidup dalam diri seseorang. Orang berilmu bukan hanya orang yang mampu menjelaskan banyak hal, tetapi juga orang yang semakin mengenal keterbatasan dirinya, semakin rendah hati, dan semakin baik perilakunya.
Maka, yang seharusnya diajarkan kepada anak, santri, pelajar, mahasiswa, dan siapa pun yang menuntut ilmu bukanlah memilih “adab atau ilmu”, tetapi membangun keduanya secara bersamaan: belajar dengan adab, memahami dengan ilmu, mengamalkan dengan ikhlas, dan menyampaikan dengan hikmah. Guru bukan hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga memberikan teladan; murid bukan hanya mengejar kepandaian, tetapi belajar menghormati kebenaran dan orang yang mengajarkannya.
Pada akhirnya, ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan, adab adalah cara berjalan di atas jalan itu, dan amal adalah bukti bahwa seseorang benar-benar telah menempuhnya. Ilmu tanpa adab dapat kehilangan keberkahan, sedangkan adab tanpa ilmu dapat kehilangan arah. Karena itu, pendidikan Islam yang utuh bukan sekadar melahirkan manusia yang cerdas, tetapi manusia yang berilmu, beradab, beramal, rendah hati, dan bermanfaat bagi sesama.
Dalam tradisi Islam, pertanyaan “adab atau ilmu yang didahulukan?” tidak sesederhana memilih salah satu. Ilmu dan adab saling melengkapi, tetapi adab menjadi pintu agar ilmu membawa keberkahan.
Adab sebelum ilmu?
- Ada ungkapan yang sangat populer dari ulama salaf:
- كَانُوا يَتَعَلَّمُونَ الْأَدَبَ كَمَا يَتَعَلَّمُونَ الْعِلْمَ
- “Mereka dahulu mempelajari adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu.”
- Namun, perlu dibedakan antara ungkapan/atsar ulama dengan hadis Nabi ﷺ. Kalimat tersebut bukan hadis Nabi ﷺ.
- Allah SWT berfirman:
- فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ
- “Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.”
QS. Muhammad: 19 - Ayat ini menunjukkan pentingnya ilmu sebagai dasar keyakinan dan amal.
- Di sisi lain, Rasulullah ﷺ adalah teladan akhlak:
- وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
- “Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
QS. Al-Qalam: 4
Jadi, mana yang terlebih dahulu?
- Untuk belajar: ilmu dan adab sebaiknya berjalan bersama.
- Untuk membentuk karakter: adab harus menyertai ilmu sejak awal.
- Untuk menentukan benar dan salah: ilmu harus menjadi dasar.
- Untuk mengamalkan ilmu: adab dan akhlak menentukan bagaimana ilmu itu digunakan.
Karena ilmu tanpa adab dapat melahirkan kesombongan, sedangkan adab tanpa ilmu dapat menyebabkan seseorang berbuat baik tetapi tidak mengetahui apakah perbuatannya benar menurut syariat.
Rumusan sederhananya
- ILMU memberi tahu apa yang benar.
- ADAB mengajarkan bagaimana menjalankan kebenaran dengan benar.
AMAL membuktikan keduanya. - Maka bukan “adab atau ilmu”, tetapi:
- Belajar dengan adab, memahami dengan ilmu, mengamalkan dengan ikhlas, dan menyampaikan dengan hikmah.
- Itulah keseimbangan pendidikan Islam: ilmu menerangi jalan, adab menentukan cara melangkah.














Leave a Reply