HADIS “NUR MUHAMMAD”: Benarkah sebagiannriwayatnya dinilai lemah, munkar, atau tidak memiliki dasar yang kuat
Riwayat yang populer dengan istilah “Nur Muhammad” umumnya menceritakan bahwa makhluk pertama yang diciptakan Allah adalah cahaya Nabi Muhammad ﷺ, kemudian dari cahaya tersebut diciptakan berbagai makhluk. Di tengah masyarakat Muslim, riwayat semacam ini sering dikutip dalam ceramah, kitab keagamaan, atau tulisan tasawuf. Namun, secara ilmu hadis, popularitas sebuah riwayat tidak otomatis menunjukkan bahwa riwayat tersebut sahih. Karena itu, pembahasan “Nur Muhammad” perlu dibedakan antara ajaran yang memiliki dasar hadis yang kuat dan narasi keagamaan yang berkembang dalam tradisi tertentu.
Dalam literatur hadis, terdapat beberapa redaksi yang sering dikaitkan dengan konsep tersebut, seperti ungkapan “Awwalu mā khalaqallāhu nūrī” — “Yang pertama kali Allah ciptakan adalah cahayaku.” Ada pula riwayat dengan redaksi bahwa Nabi ﷺ adalah “cahaya” sebelum Adam diciptakan. Riwayat-riwayat ini perlu diperiksa sanad dan matannya satu per satu. Para ahli hadis tidak serta-merta menerima seluruh riwayat tersebut sebagai hadis Nabi ﷺ hanya karena terdapat dalam sebagian kitab atau karena maknanya dianggap indah.
Salah satu riwayat yang sangat terkenal adalah hadis yang berbunyi secara populer, “Aku adalah Ahmad tanpa mim, dan aku adalah Arab tanpa ‘ain, dan aku adalah cahaya yang berada di antara kedua tangan Tuhanku sebelum Adam diciptakan…” Riwayat seperti ini tidak dapat dijadikan dasar akidah tanpa penelitian sanad yang serius. Demikian pula ungkapan “Aku berasal dari cahaya Allah dan seluruh makhluk berasal dari cahayaku” yang sering beredar dalam berbagai bentuk, tidak boleh langsung dinisbatkan kepada Rasulullah ﷺ sebagai hadis sahih.
Analisa Ilmu Hadis
- Dalam ilmu hadis, setidaknya ada beberapa pertanyaan yang harus diajukan: siapa perawinya, bagaimana kesinambungan sanadnya, bagaimana penilaian para ahli jarh wa ta‘dil terhadap para perawi, apakah terdapat illat, bagaimana kualitas matannya, dan apakah riwayat tersebut memiliki penguat yang معتبر (mu‘tabar)? Dengan metode ini, kita tidak menilai sebuah hadis hanya berdasarkan apakah isinya terasa indah atau sesuai dengan pemahaman teologis tertentu.
- Namun, penting pula untuk membedakan konsep “Nur Muhammad” sebagai konstruksi teologis atau spiritual dengan ayat dan hadis yang memang menggambarkan Nabi Muhammad ﷺ sebagai “cahaya”. Al-Qur’an menyebut Rasulullah ﷺ sebagai “sirājan munīran” — pelita yang menerangi (QS. Al-Ahzab: 46), dan dalam QS. Al-Ma’idah: 15 terdapat ungkapan “qad jā’akum minallāhi nūrun wa kitābun mubīn”. Para mufasir berbeda dalam menjelaskan apakah “nur” pada ayat tersebut menunjuk kepada Nabi Muhammad ﷺ atau kepada makna lain yang berkaitan dengan petunjuk Allah. Perbedaan tafsir ini menunjukkan bahwa istilah “nur” tidak boleh otomatis diterjemahkan menjadi doktrin metafisik bahwa Nabi ﷺ adalah substansi pertama yang diciptakan Allah.
- Yang juga sangat kuat adalah hadis tentang awal penciptaan ‘Arsy, air, dan pena, serta berbagai hadis sahih mengenai penciptaan Adam عليه السلام. Akan tetapi, hadis-hadis tersebut tidak secara eksplisit mengajarkan doktrin bahwa Nur Muhammad adalah makhluk pertama dan seluruh alam diciptakan dari Nur Muhammad. Karena itu, jika seseorang menjadikan teori tersebut sebagai bagian dari akidah yang wajib diyakini, diperlukan dalil yang jauh lebih kuat daripada riwayat-riwayat lemah yang beredar.
KESIMPULAN ILMIAH
- Secara ilmu hadis, hadis-hadis populer yang secara eksplisit menyatakan bahwa “Nur Muhammad adalah makhluk pertama yang Allah ciptakan” tidak dapat secara umum dinyatakan sebagai hadis sahih Nabi ﷺ. Sebagian riwayatnya dinilai lemah, munkar, atau tidak memiliki dasar yang kuat. Karena itu, tidak tepat menjadikan hadis-hadis tersebut sebagai landasan utama akidah tentang hakikat penciptaan alam.
- Tetapi kesimpulan ini bukan berarti merendahkan Nabi Muhammad ﷺ. Justru kehormatan Rasulullah ﷺ sangat tinggi karena ditegakkan oleh dalil-dalil yang kokoh: beliau adalah Rasul Allah, penutup para nabi, manusia pilihan, rahmat bagi alam, pembawa Al-Qur’an, dan teladan bagi orang beriman. Kemuliaan Nabi ﷺ tidak membutuhkan hadis dhaif agar menjadi tinggi.
- BAGAIMANA SEBAIKNYA UMAT BERSIKAP?
- Umat sebaiknya mengambil jalan ilmiah sekaligus beradab. Jika sebuah riwayat ternyata lemah, jangan menyebarkannya dengan kalimat “Rasulullah bersabda” seolah-olah sudah pasti sahih. Jika seseorang ingin menggunakannya sebagai bagian dari kisah spiritual atau tradisi tasawuf, hendaknya dijelaskan bahwa status riwayatnya diperselisihkan atau tidak sahih, bukan dipaksakan menjadi hadis sahih.
- Sebaliknya, orang yang tidak menerima konsep “Nur Muhammad” juga hendaknya tidak tergesa-gesa menuduh orang lain sesat, kafir, atau tidak mencintai Rasulullah ﷺ. Persoalan ini memiliki sejarah panjang dalam literatur Islam dan bersinggungan dengan tafsir, tasawuf, filsafat, dan akidah. Perbedaan pendapat harus disikapi dengan ilmu dan adab.
- Cinta kepada Rasulullah ﷺ tidak diukur dari seberapa tinggi seseorang mengucapkan teori tentang hakikat nur beliau, tetapi dari seberapa sungguh-sungguh ia mengikuti sunnahnya. Allah sendiri menegaskan:
- قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.”
QS. Ali ‘Imran: 31 - Jadi, sikap paling aman bagi umat adalah: hormati Rasulullah ﷺ setinggi-tingginya, cintai beliau sedalam-dalamnya, tetapi jangan menisbatkan sesuatu kepada beliau tanpa verifikasi hadis. Bedakan antara hadis sahih, hadis dhaif, pendapat ulama, pengalaman spiritual, dan tradisi keagamaan. Dengan begitu, kecintaan kepada Nabi ﷺ berjalan bersama kejujuran ilmiah, bukan bertentangan dengannya.










Leave a Reply