- Paket format laporan pajak Coretax 2026 Untuk Masjid
- Masjid Al-Falah Benhil Jakarta, melalui yayasan pengelola
Format berikut merupakan lembar kerja internal untuk menyiapkan data pajak. Format ini tidak menggantikan formulir resmi Coretax. Yayasan harus mengisi formulir dan lampiran yang muncul sesuai jawaban pada SPT Tahunan PPh Badan. DJP menyebutkan laporan laba rugi, laporan posisi keuangan, bukti potong, dan dokumen pendukung sebagai bahan persiapan SPT.

1. Siapa pemegang NPWP yang melaporkan pajak masjid?
-
Yayasan pengelola Masjid Al-Falah Benhil
-
Masjid sebagai lembaga dengan NPWP sendiri
-
Perkumpulan atau badan hukum lainnya
-
Belum tahu atau perlu diperiksa
2. Laporan apa yang ingin disiapkan?
-
SPT Tahunan PPh Badan melalui Coretax
-
Laporan pajak bulanan, termasuk pemotongan pajak
-
Paket lengkap laporan bulanan dan tahunan
-
Laporan keuangan masjid beserta rekonsiliasi pajak

- Format laporan pajak untuk Masjid Al-Falah Benhil Jakarta sebaiknya memisahkan laporan keuangan masjid, laporan penerimaan dan penggunaan dana, serta data perpajakan yang diperlukan untuk pelaporan melalui sistem Coretax DJP.
- Laporan perlu disusun dengan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan kemudahan pemeriksaan. Setiap penerimaan infak, sedekah, zakat, donasi pembangunan, serta setiap pengeluaran operasional harus memiliki bukti transaksi dan klasifikasi yang jelas.
Berikut rancangan format yang dapat digunakan oleh pengurus, bendahara, dan bagian administrasi keuangan Masjid Al-Falah Benhil Jakarta.
FORMAT LAPORAN KEUANGAN DAN PERPAJAKAN
MASJID AL-FALAH BENHIL JAKARTA
- Periode laporan: Tahun Pajak 2026
- A. Identitas wajib pajak
- Nama badan atau lembaga: ……………………………………..
- Nama organisasi: Masjid Al-Falah Benhil Jakarta
- Nama yayasan atau badan hukum pengelola: ……………………………………..
- NPWP: ……………………………………..
- Alamat: Benhil, Jakarta Pusat
- Tahun pajak: 1 Januari sampai 31 Desember 2026
- Penanggung jawab: ……………………………………..
- Bendahara: ……………………………………..
- Metode pembukuan: Kas atau akrual, sesuai metode yang berlaku bagi wajib pajak.
- Catatan penting: Nama dan NPWP pada laporan pajak harus mengikuti badan hukum yang terdaftar di DJP. Pastikan terlebih dahulu apakah pengelola masjid menggunakan NPWP yayasan, perkumpulan, atau badan lain.
B. Laporan penerimaan dana
| Jenis penerimaan | Jumlah (Rp) |
|---|---|
| Infak Jumat | |
| Infak harian jamaah | |
| Sedekah dan donasi | |
| Donasi pembangunan masjid | |
| Dana zakat, jika dikelola | |
| Sumbangan kegiatan keagamaan | |
| Pendapatan sewa atau pemanfaatan aset | |
| Pendapatan usaha atau kegiatan lainnya | |
| Penerimaan lain-lain | |
| Total penerimaan |
- Setiap penerimaan harus mencantumkan tanggal, sumber dana, rekening penerima, tujuan dana, serta bukti transaksi.
- Pisahkan dana operasional, dana pembangunan, dana terikat untuk tujuan tertentu, dan dana yang hanya dititipkan untuk disalurkan. Perlakuan akuntansi dan pajaknya dapat berbeda.
C. Laporan pengeluaran dana
| Jenis pengeluaran | Jumlah (Rp) |
|---|---|
| Gaji dan honorarium petugas | |
| Listrik, air, dan internet | |
| Kebersihan dan pemeliharaan | |
| Perlengkapan ibadah | |
| Kegiatan dakwah dan pendidikan | |
| Kegiatan sosial dan santunan | |
| Konsumsi kegiatan masjid | |
| Perbaikan dan renovasi | |
| Pembangunan sarana dan prasarana | |
| Administrasi dan operasional kantor | |
| Pajak yang dibayar atau disetor | |
| Pengeluaran lainnya | |
| Total pengeluaran |
Simpan kuitansi, faktur, kontrak, bukti transfer, daftar penerima honorarium, dan bukti pembayaran pajak untuk setiap transaksi yang relevan.
D. Laporan posisi keuangan
| Komponen | Awal tahun (Rp) | Akhir tahun (Rp) |
|---|---|---|
| Kas tunai | ||
| Saldo rekening bank | ||
| Piutang | ||
| Persediaan | ||
| Tanah dan bangunan | ||
| Peralatan dan aset tetap | ||
| Akumulasi penyusutan | ||
| Utang usaha | ||
| Utang pajak | ||
| Saldo dana bersih |
Laporan ini menunjukkan posisi keuangan masjid pada awal dan akhir tahun. Saldo bank harus cocok dengan rekening koran, sedangkan saldo kas harus cocok dengan hasil pemeriksaan kas.
E. Rekapitulasi pajak
| Jenis pajak atau kewajiban | Data yang disiapkan |
|---|---|
| PPh Pasal 21 | Honorarium, gaji, identitas penerima, dan bukti potong |
| PPh Pasal 23 | Transaksi jasa atau transaksi lain yang relevan |
| PPh Final Pasal 4 ayat (2) | Transaksi yang memenuhi ketentuan PPh final, misalnya persewaan tanah atau bangunan |
| PPN | Transaksi kena pajak jika status dan kegiatan badan menimbulkan kewajiban PPN |
| SPT Tahunan PPh Badan | Laporan keuangan, rekonsiliasi fiskal, dan lampiran yang diwajibkan |
| Utang dan pembayaran pajak | Kode billing, bukti bayar, serta bukti penerimaan negara |
Tidak semua transaksi masjid otomatis terkena pajak. Bendahara harus menilai jenis transaksi, pihak penerima pembayaran, status wajib pajak, dan ketentuan yang berlaku.
F. Rekonsiliasi laporan keuangan dan pajak
- Bagian ini menghubungkan pembukuan masjid dengan data yang akan dilaporkan melalui Coretax DJP.
| Komponen rekonsiliasi | Jumlah (Rp) |
|---|---|
| Total penerimaan menurut pembukuan | |
| Penerimaan yang merupakan penghasilan menurut ketentuan pajak | |
| Penghasilan yang dikenai PPh final | |
| Penghasilan yang bukan objek pajak, jika memenuhi syarat | |
| Biaya menurut pembukuan | |
| Biaya yang dapat dikurangkan secara fiskal | |
| Koreksi fiskal positif | |
| Koreksi fiskal negatif | |
| Penghasilan neto fiskal | |
| PPh terutang | |
| Kredit pajak | |
| PPh kurang bayar atau lebih bayar |
- Infak dan sumbangan yang diterima tidak boleh langsung dianggap sebagai penghasilan bebas pajak tanpa memeriksa ketentuan dan kondisi penerimanya. Status lembaga, tujuan penerimaan, penggunaan dana, serta sumber pendapatan lain perlu diperiksa.
G. Laporan penggunaan sisa lebih
Bagian ini perlu diperiksa jika badan pengelola masjid memenuhi ketentuan perpajakan mengenai sisa lebih lembaga nirlaba atau keagamaan.
| Komponen | Jumlah (Rp) |
|---|---|
| Sisa lebih awal tahun | |
| Sisa lebih tahun berjalan | |
| Dana yang dialokasikan untuk pembangunan | |
| Dana untuk pengadaan sarana dan prasarana | |
| Realisasi penggunaan dana | |
| Sisa lebih akhir tahun |
- Jika sisa lebih memperoleh perlakuan khusus berdasarkan ketentuan perpajakan, dokumentasikan rencana penggunaan, keputusan pengurus, bukti realisasi, dan periode penggunaannya. Jangan menyamakan seluruh saldo kas dengan sisa lebih fiskal.
H. Dokumen pendukung pelaporan Coretax
- DJP menjelaskan bahwa pelaporan SPT Tahunan PPh Badan melalui Coretax dimulai dari formulir induk, kemudian dilanjutkan dengan lampiran yang relevan. Dokumen pendukung utamanya mencakup laporan laba rugi, laporan posisi keuangan, bukti pemotongan atau pemungutan pajak, dan dokumen lain sesuai kondisi wajib pajak.
Daftar dokumen yang perlu disiapkan:
- Laporan penerimaan dan pengeluaran tahunan.
- Laporan posisi keuangan dan laporan aktivitas.
- Buku kas dan buku bank.
- Rekening koran seluruh rekening terkait.
- Daftar aset tetap dan penyusutan.
- Rekapitulasi gaji dan honorarium.
- Bukti potong, bukti setor, serta bukti pembayaran pajak.
- Rekapitulasi dana pembangunan dan penggunaan sisa lebih, jika relevan.
- Rekonsiliasi fiskal dan dokumen pendukung SPT.
- Bukti penyampaian SPT Tahunan.
- Panduan resmi tersedia di Panduan pelaporan SPT Tahunan Badan dan Portal Coretax DJP.
I. Pengesahan laporan
-
- Disusun oleh:
- Bendahara Masjid Al-Falah Benhil Jakarta
- Nama: ……………………………………..
- Tanggal: ……………………………………..
- Diperiksa oleh:
- Ketua atau pengurus yayasan/badan pengelola
- Nama: ……………………………………..
- Disetujui oleh:
- Ketua pengurus
- Nama: ……………………………………..
- Tanda tangan dan stempel: ……………………………………..
- Disusun oleh:

- Paket format laporan pajak Coretax 2026 Untuk Masjid
- Paket lengkap laporan bulanan dan tahunan
Laporan pajak bulanan, termasuk pemotongan pajak
- 1. Identitas wajib pajak
| Data | Isian |
|---|---|
| Nama yayasan sesuai NPWP | |
| NPWP 16 digit | |
| NITKU, jika relevan | |
| Alamat terdaftar | |
| KPP tempat terdaftar | |
| Nama Masjid | Masjid Al-Falah Benhil Jakarta |
| Tahun pajak | 2026 |
| Periode pembukuan | 1 Januari sampai 31 Desember 2026 |
| Nama ketua yayasan | |
| Nama bendahara | |
| Penanggung jawab Coretax | |
| Metode pembukuan | Akrual atau kas sesuai ketentuan |
| Status PKP | |
| Tanggal penyusunan |
- Pastikan nama wajib pajak sama persis dengan data administrasi DJP. Masjid dapat menjadi nama kegiatan atau unit operasional, sementara kewajiban pajaknya mengikuti yayasan yang memiliki NPWP.
- 2. Laporan pajak bulanan
- Gunakan lembar kerja berikut untuk merekap kewajiban setiap bulan. Isi hanya jenis pajak yang relevan dengan transaksi yayasan.
| Masa pajak | PPh 21 | PPh 23 | PPh final | PPN, jika relevan | Status pelaporan |
|---|---|---|---|---|---|
| Januari | |||||
| Februari | |||||
| Maret | |||||
| April | |||||
| Mei | |||||
| Juni | |||||
| Juli | |||||
| Agustus | |||||
| September | |||||
| Oktober | |||||
| November | |||||
| Desember | |||||
| Total setahun |
- Angka diisi dalam rupiah. Kolom ini merupakan rekapitulasi internal, bukan pengganti SPT Masa resmi.
- 3. Register transaksi pemotongan pajak
- Gunakan satu baris untuk setiap transaksi yang perlu ditelaah aspek pajaknya.
| Tanggal | Penerima pembayaran | Jenis transaksi | Nilai bruto (Rp) | Jenis PPh | Pajak (Rp) | Bukti potong |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Imam atau petugas | Honorarium | PPh 21, jika terutang | ||||
| Penceramah | Honorarium ceramah | PPh 21, jika terutang | ||||
| Penyedia jasa kebersihan | Jasa | PPh 23, jika terutang | ||||
| Kontraktor | Renovasi bangunan | Sesuai transaksi | ||||
| Pemilik bangunan | Sewa | PPh final, jika terutang | ||||
| Penerima lainnya |
- Jangan menentukan pajak hanya berdasarkan nama transaksi. Periksa status penerima, sifat pembayaran, dokumen transaksi, dan ketentuan pemotongan yang berlaku.
- PPh Pasal 21 dan PPh Unifikasi memiliki proses administrasi elektronik masing-masing di Coretax.
- 4. Buku kas dan bank bulanan
| Tanggal | Nomor bukti | Uraian | Penerimaan (Rp) | Pengeluaran (Rp) | Saldo (Rp) |
|---|---|---|---|---|---|
| Saldo awal | |||||
| Infak Jumat | |||||
| Donasi pembangunan | |||||
| Pembayaran listrik | |||||
| Honorarium | |||||
| Pembayaran jasa | |||||
| Setoran pajak | |||||
| Transaksi lainnya | |||||
| Saldo akhir |
- Buat buku terpisah untuk kas tunai dan setiap rekening bank. Rekonsiliasi saldo akhir dengan rekening koran dan hasil pemeriksaan kas.
- 5. Rekapitulasi infak, sedekah, dan sumbangan
- Laporan ini penting karena yayasan mengelola dana untuk kegiatan keagamaan dan sosial.
| Tanggal | Sumber dana | Jenis dana | Nilai (Rp) | Tujuan penggunaan | Bukti |
|---|---|---|---|---|---|
| Jamaah Jumat | Infak Jumat | Operasional masjid | |||
| Donatur | Sumbangan | Kegiatan dakwah | |||
| Donatur | Donasi pembangunan | Renovasi masjid | |||
| Jamaah | Sedekah | Santunan sosial | |||
| Donatur | Dana terikat | Sesuai amanah donatur |
- Pisahkan sumbangan, pendapatan sewa, pendapatan usaha, dan penerimaan lainnya. Sumbangan dapat dikecualikan dari objek PPh jika memenuhi ketentuan, termasuk persyaratan mengenai hubungan antara pemberi dan penerima.
- 6. Rekapitulasi pembayaran pajak
| Masa pajak | Jenis pajak | Dasar pengenaan (Rp) | Pajak terutang (Rp) | Tanggal setor | NTPN | Status |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Januari | ||||||
| Februari | ||||||
| Maret | ||||||
| April | ||||||
| Mei | ||||||
| Juni | ||||||
| Juli | ||||||
| Agustus | ||||||
| September | ||||||
| Oktober | ||||||
| November | ||||||
| Desember |
- Simpan kode billing, bukti pembayaran, NTPN, bukti potong, dan bukti penerimaan SPT. Jangan menganggap pembuatan kode billing sebagai bukti bahwa pajak sudah dibayar.
- Secara umum, DJP menetapkan batas pembayaran PPh pada tanggal 15 dan pelaporan SPT Masa pada tanggal 20 bulan berikutnya, dengan ketentuan khusus untuk jenis pajak tertentu. Periksa tenggat yang berlaku untuk setiap kewajiban.
7. Laporan keuangan tahunan
7.1 Laporan aktivitas
| Uraian | Tahun 2026 (Rp) |
|---|---|
| Infak dan sedekah | |
| Sumbangan dan donasi | |
| Penerimaan untuk pembangunan | |
| Pendapatan sewa atau usaha | |
| Pendapatan lainnya | |
| Total penerimaan | |
| Beban operasional | |
| Beban dakwah dan pendidikan | |
| Beban sosial | |
| Beban pemeliharaan | |
| Beban administrasi | |
| Beban lainnya | |
| Total pengeluaran | |
| Surplus atau defisit aktivitas |
7.2 Laporan posisi keuangan
| Uraian | 31 Desember 2025 (Rp) | 31 Desember 2026 (Rp) |
|---|---|---|
| Kas dan bank | ||
| Piutang | ||
| Aset tetap | ||
| Akumulasi penyusutan | ||
| Total aset | ||
| Utang usaha | ||
| Utang pajak | ||
| Liabilitas lainnya | ||
| Total liabilitas | ||
| Saldo dana atau aset neto | ||
| Total liabilitas dan aset neto |
- Pastikan jumlah total aset sama dengan total liabilitas dan aset neto. Sesuaikan penyajian dengan standar akuntansi yang berlaku bagi yayasan.
8. Rekonsiliasi fiskal tahunan
| Uraian | Nilai (Rp) |
|---|---|
| Surplus atau defisit menurut laporan aktivitas | |
| Koreksi fiskal positif | |
| Koreksi fiskal negatif | |
| Penghasilan neto fiskal sebelum kompensasi | |
| Kompensasi kerugian fiskal, jika memenuhi syarat | |
| Penghasilan kena pajak | |
| PPh terutang | |
| Kredit pajak | |
| Angsuran PPh Pasal 25 | |
| PPh kurang bayar atau lebih bayar |
- Rekonsiliasi ini harus memisahkan penerimaan yang merupakan objek pajak, penghasilan yang dikenai pajak final, penerimaan yang bukan objek pajak, dan biaya yang dapat atau tidak dapat dikurangkan secara fiskal.
- Jangan langsung menggunakan surplus laporan aktivitas sebagai penghasilan kena pajak. Perlakuan pajaknya bergantung pada karakter setiap transaksi dan ketentuan yang berlaku.

9. Checklist pelaporan Coretax
- Daftar pemeriksaan bendahara
Salin checklist
- Untuk SPT Tahunan PPh Badan tahun pajak 2026 dengan tahun buku kalender, tenggat normalnya adalah 30 April 2027. Siapkan laporan dan lampiran lebih awal. Ikuti formulir serta validasi yang tersedia pada akun Coretax yayasan.
- Panduan resmi: Pelaporan SPT Tahunan Badan dan Panduan Coretax DJP.
- Perhatian khusus: jangan otomatis menerapkan fasilitas pajak sisa lebih lembaga pendidikan kepada yayasan masjid. Pastikan dasar hukum dan persyaratan khususnya sesuai kegiatan serta status badan pengelola.

10. Jadwal kerja administrasi pajak yayasan
| Waktu kerja | Kegiatan | Penanggung jawab |
|---|---|---|
| Setiap transaksi | Catat penerimaan, pengeluaran, dan bukti transaksi | Bendahara |
| Akhir bulan | Tutup buku kas dan bank | Bendahara |
| Awal bulan berikutnya | Identifikasi transaksi yang perlu dipotong atau dipungut pajak | Administrasi pajak |
| Sebelum tenggat | Buat bukti potong, bayar, dan laporkan SPT Masa sesuai kewajiban | Petugas Coretax |
| Setiap triwulan | Periksa saldo, bukti pajak, dan realisasi anggaran | Bendahara dan pengurus |
| Januari sampai April 2027 | Siapkan laporan keuangan dan SPT Tahunan tahun pajak 2026 | Bendahara dan penanggung jawab pajak |
Jadwal ini merupakan jadwal kerja internal. Tanggal pembayaran dan pelaporan yang mengikat tetap mengikuti ketentuan masing-masing jenis pajak.
11. Referensi resmi DJP
- Coretaxpedia, Pelaporan SPT Tahunan Badan. Memuat persiapan dokumen, pembuatan konsep SPT, dan pengisian formulir induk.
- Portal Coretax DJP. Memuat panduan pelaporan SPT Masa, pembayaran, bukti potong, dan layanan wajib pajak badan.
- Portal SPT Tahunan Coretax DJP. Memuat panduan SPT Tahunan Badan dan materi rekonsiliasi fiskal.
- Panduan SPT Masa PPh Unifikasi. Memuat cakupan kewajiban PPh Unifikasi bagi wajib pajak badan.
12. Format rekapitulasi tahunan untuk pengurus yayasan
Lembar ini merangkum seluruh kewajiban dalam satu halaman untuk memudahkan rapat evaluasi dan pemeriksaan internal.
| Indikator | Realisasi 2026 |
|---|---|
| Total infak dan sedekah | Rp |
| Total sumbangan pembangunan | Rp |
| Total penerimaan lainnya | Rp |
| Total penerimaan seluruhnya | Rp |
| Total pengeluaran operasional | Rp |
| Total pengeluaran pembangunan | Rp |
| Saldo kas dan bank akhir tahun | Rp |
| Total PPh yang dipotong atau dipungut | Rp |
| Total pajak yang disetor | Rp |
| Total SPT Masa yang dilaporkan | |
| Status SPT Tahunan PPh Badan | |
| Tanggal penyampaian SPT Tahunan | |
| Nomor tanda terima elektronik |
Penyusunan SPT Tahunan dilakukan melalui akun Coretax yayasan. DJP mengarahkan wajib pajak badan untuk membuat konsep SPT, mengisi formulir induk, kemudian melengkapi lampiran yang sesuai dengan kondisi wajib pajak.
Format ini dapat menjadi standar administrasi tahunan Masjid Al-Falah Benhil Jakarta. Sebelum pelaporan resmi, bendahara perlu memeriksa status perpajakan yayasan, jenis penerimaan, kewajiban pemotongan, dan perlakuan pajak atas dana keagamaan berdasarkan ketentuan yang berlaku.

- Format Laporan Pajak Bulanan Coretax
- Masjid Al-Falah Benhil Jakarta
- Pemegang NPWP: Yayasan pengelola masjid
- Tahun kerja: 2026
Format ini digunakan bendahara untuk mencatat transaksi, menentukan kewajiban pajak, memantau pembayaran, dan menyiapkan pelaporan melalui Coretax DJP.
Penting: yayasan tidak perlu melaporkan semua jenis pajak setiap bulan jika tidak memiliki kewajiban terkait. SPT Masa PPh Pasal 21/26 berbeda dari SPT Masa PPh Unifikasi. SPT Unifikasi mencakup jenis pajak tertentu seperti PPh Pasal 23 dan PPh final, sesuai transaksi dan ketentuan yang berlaku.
A. Identitas dan periode laporan
| Data | Isian |
|---|---|
| Nama yayasan sesuai NPWP | |
| NPWP yayasan | |
| Alamat terdaftar | |
| Masa pajak | |
| Tahun pajak | 2026 |
| Nama bendahara | |
| Petugas pajak | |
| Tanggal penutupan buku | |
| Tanggal pemeriksaan |
B. Rekapitulasi penerimaan bulanan
| Tanggal | Sumber dana | Jenis penerimaan | Nilai (Rp) | Rekening/kas | Nomor bukti |
|---|---|---|---|---|---|
| Jamaah | Infak Jumat | ||||
| Jamaah | Infak harian | ||||
| Donatur | Sumbangan | ||||
| Donatur | Dana pembangunan | ||||
| Penyewa | Pendapatan sewa | ||||
| Lainnya | Pendapatan lain | ||||
| Total penerimaan |
Catat infak, sumbangan, dan dana pembangunan secara terpisah dari pendapatan sewa atau usaha. Status pajak setiap penerimaan harus dinilai berdasarkan sifat transaksi dan persyaratan yang berlaku.
C. Rekapitulasi pengeluaran bulanan
| Tanggal | Penerima | Uraian pembayaran | Nilai bruto (Rp) | Potongan pajak (Rp) | Nilai bersih (Rp) | Bukti |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Petugas masjid | Honorarium | |||||
| Penceramah | Honorarium kajian | |||||
| Penyedia jasa | Kebersihan | |||||
| Penyedia jasa | Pemeliharaan | |||||
| Kontraktor | Renovasi | |||||
| Pemilik properti | Sewa | |||||
| Lainnya | ||||||
| Total |
Nilai bruto merupakan nilai sebelum potongan pajak. Nilai bersih merupakan jumlah yang dibayarkan setelah potongan, apabila ada. Setiap transaksi perlu diperiksa untuk menentukan apakah yayasan wajib memotong atau memungut pajak.
D. Register pemotongan dan pemungutan pajak
Isi tabel ini setiap kali yayasan melakukan pembayaran yang perlu diperiksa kewajiban pajaknya.
| Tanggal | Penerima | Jenis transaksi | Dasar pengenaan (Rp) | Jenis PPh | Tarif sesuai ketentuan | Pajak (Rp) |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Petugas atau karyawan | Gaji atau honorarium | PPh 21 | ||||
| Penceramah | Honorarium | PPh 21, jika terutang | ||||
| Penyedia jasa | Jasa tertentu | PPh 23, jika terutang | ||||
| Penyedia jasa konstruksi | Pekerjaan konstruksi | PPh final, jika terutang | ||||
| Pemilik properti | Sewa tanah atau bangunan | PPh final, jika terutang | ||||
| Lainnya | ||||||
| Total |
Tarif tidak diisi secara seragam karena bergantung pada jenis transaksi, status penerima, dasar pengenaan pajak, dan ketentuan khusus yang berlaku.
E. Rekapitulasi pembayaran dan pelaporan Coretax
| Jenis kewajiban | Pajak terutang (Rp) | Dibayar (Rp) | Tanggal bayar | Bukti bayar/NTPN | Tanggal lapor | Status |
|---|---|---|---|---|---|---|
| PPh Pasal 21/26 | ||||||
| PPh Pasal 23/26 | ||||||
| PPh final Pasal 4 ayat (2) | ||||||
| PPh Pasal 25, jika ada | ||||||
| PPN, jika relevan | ||||||
| Kewajiban lainnya |
Gunakan kolom status dengan pilihan: belum diperiksa, belum dibayar, sudah dibayar, sudah dilaporkan, atau perlu pembetulan.
Panduan resmi DJP:
F. Rekapitulasi bulanan untuk laporan pengurus
| Ringkasan | Nilai (Rp) |
|---|---|
| Saldo awal kas dan bank | |
| Total penerimaan | |
| Total pengeluaran | |
| Saldo akhir kas dan bank | |
| Total pajak dipotong atau dipungut | |
| Total pajak disetor | |
| Total utang pajak yang belum dibayar | |
| Total SPT Masa yang wajib dilaporkan | |
| Total SPT Masa yang sudah dilaporkan |
Rumus pemeriksaan saldo:
- Saldo akhir = saldo awal + total penerimaan dikurangi total pengeluaran.
- Saldo akhir laporan harus cocok dengan saldo kas fisik dan rekening koran. Pajak yang dipotong dari pembayaran pihak lain perlu dicatat terpisah agar tidak tercampur dengan biaya operasional.
G. Checklist penutupan setiap bulan
Pemeriksaan bulanan bendahara
Salin checklist
Jadwal umum Coretax berdasarkan informasi DJP adalah pembayaran PPh paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya dan pelaporan SPT Masa PPh paling lambat tanggal 20 bulan berikutnya. Jenis pajak tertentu dapat memiliki ketentuan khusus, sehingga bendahara perlu memeriksa tenggat yang berlaku untuk kewajiban masing-masing.
Format ini dapat digunakan sebagai lembar kerja bulanan internal Yayasan pengelola Masjid Al-Falah Benhil Jakarta. Data akhirnya tetap harus dipindahkan dan divalidasi pada formulir resmi Coretax sesuai jenis pajak yang benar-benar menjadi kewajiban yayasan.

- Laporan Keuangan dan Rekonsiliasi Pajak
- Masjid Al-Falah Benhil Jakarta
- Pemegang NPWP: Yayasan pengelola masjid
- Periode: Tahun Pajak 2026
Format ini memisahkan laporan keuangan yayasan dari penghitungan pajak. Pemisahan tersebut penting karena sumbangan yang memenuhi persyaratan dapat dikecualikan dari objek PPh, sedangkan pendapatan sewa dan transaksi lainnya dapat memiliki perlakuan pajak berbeda.
DJP menyediakan panduan khusus untuk SPT Tahunan PPh Badan, termasuk pengisian lampiran rekonsiliasi laporan keuangan dan rekonsiliasi fiskal. Gunakan format di bawah sebagai lembar kerja sebelum memasukkan angka ke Coretax.
A. Identitas yayasan
| Data | Isian |
|---|---|
| Nama resmi yayasan | |
| NPWP yayasan | |
| Alamat terdaftar | |
| KPP terdaftar | |
| Nama unit kegiatan | Masjid Al-Falah Benhil Jakarta |
| Tahun buku | 1 Januari sampai 31 Desember 2026 |
| Ketua yayasan | |
| Bendahara | |
| Penanggung jawab perpajakan | |
| Status PKP | |
| Tanggal penyusunan |
B. Laporan penerimaan dan pengeluaran
B.1 Penerimaan
| Jenis penerimaan | Nilai komersial (Rp) | Kategori awal pajak | Bukti pendukung |
|---|---|---|---|
| Infak Jumat | Periksa karakter sumbangan | ||
| Infak harian | Periksa karakter sumbangan | ||
| Sumbangan donatur | Periksa persyaratan pengecualian | ||
| Donasi pembangunan | Periksa tujuan dan persyaratan | ||
| Pendapatan sewa | Periksa PPh final dan kewajiban lainnya | ||
| Pendapatan usaha | Periksa ketentuan penghasilan usaha | ||
| Penerimaan lain-lain | Periksa sesuai sifat transaksi | ||
| Total penerimaan |
B.2 Pengeluaran
| Jenis pengeluaran | Nilai komersial (Rp) | Bukti transaksi | Catatan pajak |
|---|---|---|---|
| Gaji dan honorarium | Periksa PPh 21 | ||
| Honorarium penceramah | Periksa PPh 21 | ||
| Listrik, air, dan internet | Periksa dokumen tagihan | ||
| Kebersihan dan pemeliharaan | Periksa PPh jasa jika relevan | ||
| Kegiatan dakwah | |||
| Kegiatan sosial | |||
| Renovasi dan konstruksi | Periksa ketentuan transaksi | ||
| Administrasi dan operasional | |||
| Penyusutan aset | Rekonsiliasi penyusutan fiskal | ||
| Pengeluaran lain-lain | |||
| Total pengeluaran |
Total penerimaan dikurangi total pengeluaran menghasilkan surplus atau defisit aktivitas komersial. Angka tersebut menjadi titik awal rekonsiliasi, bukan otomatis menjadi penghasilan kena pajak.
C. Laporan posisi keuangan
| Komponen | Awal tahun (Rp) | Akhir tahun (Rp) |
|---|---|---|
| Kas tunai | ||
| Rekening bank | ||
| Piutang | ||
| Persediaan | ||
| Tanah | ||
| Bangunan masjid | ||
| Peralatan dan inventaris | ||
| Aset tetap lainnya | ||
| Akumulasi penyusutan | ||
| Total aset | ||
| Utang usaha | ||
| Utang pajak | ||
| Liabilitas lainnya | ||
| Total liabilitas | ||
| Aset neto atau saldo dana | ||
| Total liabilitas dan aset neto |
Pemeriksaan: total aset harus sama dengan total liabilitas dan aset neto. Catat aset yang dimiliki yayasan berdasarkan dokumen kepemilikan dan pembukuan. Jika tanah atau bangunan digunakan bersama atau dimiliki pihak lain, jelaskan statusnya.
D. Tabel klasifikasi pajak penerimaan
Tabel ini menjadi dasar untuk memisahkan penerimaan menurut perlakuan pajaknya.
| Jenis penerimaan | Nilai (Rp) | Objek PPh | PPh final | Bukan objek PPh | Dasar dan bukti |
|---|---|---|---|---|---|
| Infak dan sedekah | |||||
| Sumbangan donatur | |||||
| Dana pembangunan | |||||
| Pendapatan sewa | |||||
| Pendapatan usaha | |||||
| Penerimaan lainnya | |||||
| Total |
Isi kolom perlakuan pajak setelah pemeriksaan. Jangan menganggap semua infak dan donasi otomatis bukan objek pajak. Dokumentasikan identitas pemberi jika tersedia, tujuan dana, hubungan para pihak, serta bukti penerimaan dan penggunaannya. Ketentuan pengecualian bantuan atau sumbangan dapat dilihat pada peraturan DJP tentang bantuan, sumbangan, dan hibah.
E. Rekonsiliasi laporan keuangan ke fiskal
| Uraian | Nilai (Rp) |
|---|---|
| Surplus atau defisit menurut laporan aktivitas | |
| Tambah: biaya yang tidak dapat dikurangkan secara fiskal | |
| Tambah: koreksi fiskal positif lainnya | |
| Kurang: penghasilan yang bukan objek PPh dan telah masuk perhitungan komersial | |
| Kurang: penghasilan yang dikenai PPh final dan telah masuk perhitungan komersial | |
| Kurang: koreksi fiskal negatif lainnya | |
| Penghasilan neto fiskal sebelum kompensasi | |
| Kompensasi kerugian fiskal yang memenuhi syarat | |
| Penghasilan kena pajak | |
| PPh badan terutang | |
| Kredit pajak | |
| Angsuran PPh Pasal 25 yang dapat dikreditkan | |
| PPh kurang bayar atau lebih bayar |
Penerimaan bukan objek PPh atau penghasilan final perlu direkonsiliasi agar tidak masuk kembali ke penghitungan penghasilan yang dikenai PPh badan umum. Perlakuan biaya yang terkait dengan penghasilan tersebut juga harus ditelaah sesuai ketentuan perpajakan.
Untuk pengisian SPT, ikuti struktur lampiran rekonsiliasi yang tersedia pada akun Coretax dan panduan resmi DJP, bukan hanya nama kolom pada lembar kerja ini.
F. Rekonsiliasi biaya komersial dan fiskal
| Jenis biaya | Biaya komersial (Rp) | Biaya fiskal (Rp) | Koreksi positif (Rp) | Koreksi negatif (Rp) |
|---|---|---|---|---|
| Gaji dan honorarium | ||||
| Listrik dan air | ||||
| Kebersihan dan pemeliharaan | ||||
| Kegiatan dakwah | ||||
| Kegiatan sosial | ||||
| Renovasi dan pembangunan | ||||
| Penyusutan aset | ||||
| Administrasi | ||||
| Biaya lainnya | ||||
| Total |
Renovasi dan pembangunan yang menghasilkan aset baru atau menambah masa manfaat aset perlu diperiksa apakah harus dikapitalisasi. Jangan langsung membebankan seluruh biaya pembangunan sebagai biaya operasional. Penyusutan komersial dan fiskal juga dapat berbeda.
G. Daftar bukti pendukung
| Dokumen | Tersedia | Keterangan |
|---|---|---|
| Rekening koran seluruh rekening | ||
| Buku kas dan buku bank | ||
| Rekap infak dan sumbangan | ||
| Bukti penerimaan dana pembangunan | ||
| Kuitansi dan faktur pengeluaran | ||
| Kontrak sewa dan jasa | ||
| Daftar gaji dan honorarium | ||
| Bukti potong PPh | ||
| Bukti pembayaran pajak | ||
| Daftar aset tetap | ||
| Perhitungan penyusutan | ||
| Laporan posisi keuangan | ||
| Laporan aktivitas | ||
| Rekonsiliasi fiskal | ||
| Dokumen penggunaan dana khusus, jika ada |
H. Penutupan laporan
| Persetujuan | Nama | Tanggal | Tanda tangan |
|---|---|---|---|
| Disusun bendahara | |||
| Diperiksa pengurus | |||
| Disetujui ketua yayasan | |||
| Diperiksa petugas pajak |
- Referensi utama untuk proses pengisian SPT adalah portal SPT Tahunan Coretax DJP. Portal tersebut memuat panduan SPT Tahunan Badan dan materi rekonsiliasi fiskal.
- Format ini bisa digunakan sebagai lembar kerja internal Yayasan pengelola Masjid Al-Falah Benhil Jakarta. Sebelum angka dilaporkan, pastikan klasifikasi penerimaan, biaya, aset, dan fasilitas perpajakan telah diperiksa berdasarkan status hukum serta kegiatan nyata yayasan.

- Format SPT Tahunan PPh Badan melalui Coretax DJP
- Masjid Al-Falah Benhil Jakarta, Yayasan Pengelola
- Tahun pajak: 2026
Format ini menjadi lembar kerja untuk menyiapkan SPT Tahunan PPh Badan yayasan. Angka dan dokumen disiapkan terlebih dahulu, lalu dimasukkan ke formulir dan lampiran yang muncul pada akun Coretax.
DJP menetapkan alur pelaporan dimulai dari formulir induk. Jawaban pada formulir induk menentukan lampiran yang perlu diisi. Dokumen utama mencakup laporan laba rugi, laporan posisi keuangan, bukti pemotongan atau pemungutan PPh, serta dokumen pendukung lainnya.
A. Identitas wajib pajak
| Data | Isian |
|---|---|
| Nama wajib pajak sesuai DJP | |
| NPWP yayasan | |
| Alamat terdaftar | |
| KPP terdaftar | |
| Nama unit kegiatan | Masjid Al-Falah Benhil Jakarta |
| Tahun pajak | 2026 |
| Periode pembukuan | 1 Januari sampai 31 Desember 2026 |
| Metode pembukuan | Akrual atau kas sesuai ketentuan |
| Nama ketua yayasan | |
| Nama bendahara | |
| Penanggung jawab SPT | |
| Status PKP | |
| Status SPT | Normal atau pembetulan |
B. Laporan laba rugi komersial
Masukkan angka berdasarkan pembukuan yayasan, sebelum koreksi fiskal.
| Uraian | Tahun 2026 (Rp) |
|---|---|
| Infak dan sedekah | |
| Sumbangan dan donasi | |
| Penerimaan pembangunan | |
| Pendapatan sewa | |
| Pendapatan usaha | |
| Pendapatan lainnya | |
| Total penerimaan | |
| Beban gaji dan honorarium | |
| Beban listrik, air, dan internet | |
| Beban kebersihan dan pemeliharaan | |
| Beban dakwah dan pendidikan | |
| Beban sosial | |
| Beban administrasi | |
| Beban penyusutan | |
| Beban lainnya | |
| Total beban | |
| Surplus atau defisit komersial |
Penerimaan dana keagamaan perlu diklasifikasikan berdasarkan substansi dan dokumennya. Jangan menganggap semua penerimaan sebagai pendapatan kena pajak atau seluruh sumbangan sebagai penerimaan bebas pajak.
C. Laporan posisi keuangan
| Uraian | Awal tahun (Rp) | Akhir tahun (Rp) |
|---|---|---|
| Kas tunai | ||
| Rekening bank | ||
| Piutang | ||
| Persediaan | ||
| Tanah | ||
| Bangunan | ||
| Peralatan dan inventaris | ||
| Aset tetap lainnya | ||
| Akumulasi penyusutan | ||
| Total aset | ||
| Utang usaha | ||
| Utang pajak | ||
| Liabilitas lainnya | ||
| Total liabilitas | ||
| Aset neto atau saldo dana | ||
| Total liabilitas dan aset neto |
Pastikan total aset sama dengan total liabilitas dan aset neto. Saldo kas dan bank harus cocok dengan pembukuan serta rekening koran.
D. Rekonsiliasi laporan keuangan
Lampiran rekonsiliasi laporan keuangan Coretax memuat laporan laba rugi dan laporan posisi keuangan sesuai sektor yang dipilih. DJP menyediakan tutorial khusus pengisian lampiran tersebut.
| Uraian rekonsiliasi | Nilai (Rp) |
|---|---|
| Surplus atau defisit komersial | |
| Tambah: biaya yang tidak dapat dikurangkan secara fiskal | |
| Tambah: koreksi fiskal positif lainnya | |
| Kurang: penghasilan bukan objek PPh yang telah masuk laba rugi | |
| Kurang: penghasilan final yang telah masuk laba rugi | |
| Kurang: koreksi fiskal negatif lainnya | |
| Penghasilan neto fiskal | |
| Kompensasi kerugian fiskal yang memenuhi syarat | |
| Penghasilan kena pajak |
Jangan langsung mengurangi seluruh sumbangan dari laba komersial. Periksa status penerimaan, ketentuan pengecualian, dan biaya yang berkaitan dengannya.
E. Penghitungan PPh Badan
| Uraian | Nilai (Rp) |
|---|---|
| Penghasilan kena pajak | |
| PPh terutang sebelum fasilitas | |
| Pengurangan atau fasilitas pajak, jika memenuhi syarat | |
| PPh terutang setelah fasilitas | |
| Kredit PPh Pasal 22 | |
| Kredit PPh Pasal 23 | |
| Kredit PPh Pasal 24, jika relevan | |
| Angsuran PPh Pasal 25 | |
| Kredit pajak lainnya yang diperbolehkan | |
| Total kredit pajak | |
| PPh kurang bayar atau lebih bayar |
Tarif dan fasilitas pajak tidak diisi secara otomatis dalam lembar kerja ini. Penentuan PPh terutang bergantung pada penghasilan kena pajak, status wajib pajak, dan ketentuan yang berlaku.
Jika yayasan memiliki penghasilan yang dikenai PPh final, pisahkan penghasilan tersebut dari penghitungan PPh badan dengan tarif umum. Laporkan sesuai bagian dan lampiran Coretax yang relevan.
F. Daftar bukti pemotongan dan pembayaran pajak
| Jenis pajak | Jumlah (Rp) | Nomor bukti | Tanggal |
|---|---|---|---|
| PPh Pasal 21/26 | |||
| PPh Pasal 22 | |||
| PPh Pasal 23/26 | |||
| PPh Pasal 25 | |||
| PPh Pasal 4 ayat (2) | |||
| PPh Pasal 24, jika relevan | |||
| Pajak lainnya |
Periksa kesesuaian angka dengan bukti potong, bukti pembayaran, data pajak yang tersedia pada Coretax, dan pembukuan yayasan.
G. Pemeriksaan khusus yayasan masjid
| Hal yang diperiksa | Hasil pemeriksaan |
|---|---|
| Status badan hukum dan NPWP | |
| Pemisahan dana operasional dan pembangunan | |
| Dokumen penerimaan infak dan sumbangan | |
| Bukti penggunaan dana sesuai tujuan | |
| Pendapatan sewa atau usaha, jika ada | |
| Transaksi honorarium dan jasa | |
| Kepemilikan dan pencatatan aset | |
| Perlakuan pajak atas sisa lebih, jika relevan | |
| Rekonsiliasi pembukuan dan data pajak |
Perlakuan pajak atas sisa lebih atau dana yang dialokasikan untuk pembangunan perlu diperiksa berdasarkan ketentuan khusus yang benar-benar berlaku bagi yayasan. Jangan langsung menerapkan fasilitas sisa lebih lembaga pendidikan kepada yayasan masjid tanpa memastikan persyaratannya.
H. Dokumen yang disiapkan untuk Coretax
- Laporan laba rugi atau laporan aktivitas.
- Laporan posisi keuangan.
- Rekonsiliasi fiskal.
- Buku kas dan bank.
- Daftar aset tetap dan penyusutan.
- Rekapitulasi infak, sedekah, dan sumbangan.
- Bukti pemotongan dan pembayaran pajak.
- Dokumen pendapatan sewa atau usaha.
- Dokumen pendukung perlakuan pajak atas penerimaan tertentu.
- Dokumen lain yang diminta sesuai jawaban formulir induk.
I. Alur pelaporan melalui Coretax
Masuk ke akun Coretax DJP menggunakan akses yang sah dan pilih profil wajib pajak yayasan.
Alur tersebut mengikuti panduan resmi DJP tentang pelaporan SPT Tahunan Badan melalui Coretax.
Untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2026, batas waktu normal SPT Tahunan PPh Badan adalah 30 April 2027. Kekurangan pembayaran pajak harus dilunasi sebelum SPT disampaikan.
Panduan resmi: Coretaxpedia, Lapor SPT Tahunan Badan dan Portal SPT Tahunan DJP.
Format ini merupakan lembar kerja persiapan, bukan pengganti formulir resmi SPT. Sebelum pelaporan, pastikan klasifikasi penerimaan dan perlakuan fiskal yayasan telah diperiksa berdasarkan dokumen serta ketentuan DJP yang berlaku.








Leave a Reply