MAB MASJID AL-FALAH BENHIL

MAB PORTAL ISLAM: “Dari Masjid untuk Umat, Berbagi Ilmu dan Kebaikan”

AGAMA SETELAH AI: KE MANA MUHAMMADIYAH MEMBAWA MASA DEPAN?

AGAMA SETELAH AI: KE MANA MUHAMMADIYAH MEMBAWA MASA DEPAN?

Membaca Muhammadiyah dan Masa Depan Agama di Tengah Kemiskinan Makna dan Kebodohan Digital

BANDUNG 5 Oktober 2026 — Masa depan agama tidak sedang ditentukan oleh seberapa banyak orang berbicara tentang agama, melainkan oleh kemampuan agama menjawab perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya. Pertanyaan itulah yang terasa kuat dalam peluncuran buku Muhammadiyah dan Masa Depan Agama karya Guru Besar Sosiologi Agama UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dadang Kahmad, di Universitas Muhammadiyah Bandung, 5 Oktober 2026. Peluncuran tersebut sekaligus bertepatan dengan ulang tahun ke-74 Dadang Kahmad. Buku ini bukan sekadar catatan perjalanan intelektual seorang tokoh Muhammadiyah, tetapi sebuah refleksi mengenai bagaimana agama dan gerakan Islam harus membaca perubahan sosial yang semakin cepat.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menilai gagasan dalam buku tersebut relevan dengan tantangan kehidupan beragama saat ini. Menurut Haedar, agama tetap memiliki masa depan sepanjang mampu menghadirkan nilai, makna, dan orientasi kehidupan bagi manusia. Di tengah perubahan sosial yang semakin kompleks, agama tidak cukup hanya mempertahankan keberadaan institusinya. Agama harus mampu menghadirkan jawaban terhadap persoalan manusia, menjadi sumber nilai, sekaligus memberikan arah ketika masyarakat menghadapi kegersangan spiritual dan ketidakpastian masa depan.

Di sinilah persoalan masa depan agama menjadi jauh lebih serius. Modernisasi telah mengubah cara manusia bekerja, belajar, berkomunikasi, memperoleh informasi bahkan membangun identitas. Kecerdasan buatan kini dapat menjawab pertanyaan dalam hitungan detik, termasuk pertanyaan mengenai agama. Algoritma mampu merangkum kitab, menerjemahkan teks, membandingkan pendapat ulama dan menghasilkan jawaban yang tampak meyakinkan. Namun teknologi dapat memberikan informasi tanpa selalu mampu memberikan kebijaksanaan. Ia dapat menjelaskan apa yang benar menurut suatu sumber, tetapi tidak otomatis mengajarkan manusia bagaimana hidup dengan kebenaran itu.

Dadang Kahmad menyebut tantangan zaman sekarang berbeda dengan zaman Ahmad Dahlan. Pada masa pendiri Muhammadiyah itu, persoalan besar yang dihadapi umat antara lain kemiskinan dan keterbelakangan pendidikan. Hari ini masyarakat hidup dalam situasi yang berbeda: materialitas dapat meningkat, informasi melimpah, tetapi manusia menghadapi apa yang disebut Dadang sebagai “kemiskinan makna” dan “kebodohan digital.”

Ungkapan tersebut penting karena menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak otomatis menghasilkan kemajuan manusia. Masyarakat dapat memiliki akses terhadap jutaan informasi, tetapi kehilangan kemampuan memilah mana yang benar, penting, bermakna dan bermoral. Manusia dapat terkoneksi dengan seluruh dunia, tetapi tetap mengalami kesepian. Pengetahuan dapat tersedia dalam genggaman, tetapi kebijaksanaan tidak selalu ikut tumbuh. Dalam keadaan seperti itu, agama menghadapi pertanyaan fundamental: apakah agama hanya akan menjadi sumber informasi keagamaan, atau tetap menjadi sumber orientasi kehidupan?

AGAMA DAN TANTANGAN ZAMAN

Dadang menawarkan cara membaca perubahan yang tidak terjebak pada dua kutub ekstrem. Pertama, menolak modernitas secara keseluruhan. Kedua, menerima seluruh perubahan tanpa kritik sehingga agama kehilangan identitasnya. Ia menawarkan apa yang disebut sebagai “jalan ketiga”: tetap kokoh dalam prinsip akidah dan ibadah, tetapi terbuka terhadap modernisasi dalam kehidupan dunia dan muamalah. Kerangka ini sejalan dengan karakter Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid dan Islam Berkemajuan.

Gagasan tersebut semakin penting ketika agama memasuki era kecerdasan buatan. Teknologi tidak dapat hanya dipandang sebagai ancaman yang harus ditolak, tetapi juga tidak boleh diperlakukan sebagai sesuatu yang selalu benar. Teknologi adalah instrumen. Persoalan utamanya adalah siapa yang menggunakannya, untuk tujuan apa, dengan nilai apa, dan dengan tanggung jawab moral seperti apa. Kajian mengenai etika kecerdasan buatan dalam perspektif pemikiran Islam dan Muhammadiyah juga menekankan pentingnya tauhid, keadilan, akhlak, tanggung jawab sosial dan kemaslahatan dalam pengembangan teknologi.

Guru Besar Sosiologi Agama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Yusron Razak, bahkan melihat perkembangan AI telah memasuki wilayah yang selama ini sangat dekat dengan otoritas keagamaan. Manusia kini dapat bertanya kepada mesin mengenai agama dan memperoleh jawaban seketika. Perubahan tersebut berpotensi menggeser cara masyarakat memperoleh pengetahuan agama dan sekaligus menantang otoritas keagamaan tradisional.

Karena itu, masa depan agama tidak cukup dijawab dengan memperbanyak ceramah. Tantangannya adalah bagaimana agama tetap menjadi sumber pembentukan manusia ketika generasi baru memperoleh sebagian besar pengetahuan melalui mesin pencari, media sosial, video pendek dan kecerdasan buatan. Jika lembaga keagamaan tidak hadir dalam ruang perubahan tersebut dengan pengetahuan yang kuat, argumentasi yang rasional dan bahasa yang dapat dipahami generasi baru, ruang itu akan diisi oleh sumber lain.

Indonesia sendiri memiliki modal sosial keagamaan yang besar. Indeks Religiusitas Indonesia 2024 yang dilakukan Kementerian Agama terhadap 4.000 responden di 34 provinsi mencatat indeks nasional sebesar 70,13 dan berada dalam kategori tinggi. Pengukuran tersebut mencakup antara lain kesalehan individual, kesalehan sosial, kerukunan umat beragama dan komitmen kebangsaan. Data ini menunjukkan bahwa agama masih memiliki tempat kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Namun angka religiusitas tersebut sekaligus menghadirkan pertanyaan kritis: sejauh mana keberagamaan diterjemahkan menjadi keadilan, kejujuran, ilmu pengetahuan, solidaritas sosial dan peradaban yang lebih baik?

Pertanyaan itu sangat penting bagi Muhammadiyah. Sebab Muhammadiyah bukan hanya organisasi keagamaan, tetapi gerakan pembaruan yang sejak awal berusaha menerjemahkan Islam ke dalam kehidupan nyata. Tantangan masa depan bukan sekadar mempertahankan apa yang telah dibangun, melainkan memastikan bahwa seluruh kekuatan intelektual, pendidikan, sosial, kesehatan dan ekonomi Muhammadiyah tetap relevan menghadapi perubahan generasi.

MUHAMMADIYAH DAN MASA DEPAN

Kekuatan Muhammadiyah, sebagaimana ditegaskan Dadang Kahmad dalam bukunya, tidak terutama terletak pada besarnya aset fisik, melainkan pada kelenturan ideologisnya dalam berdialog dengan zaman tanpa kehilangan jati diri keislamannya. Inilah inti penting yang harus dibaca secara serius. Muhammadiyah tidak boleh menjadi gerakan yang hanya besar karena sejarah. Ia harus menjadi gerakan yang besar karena kemampuannya membaca masa depan.

Muhammadiyah memiliki modal institusional yang sangat besar untuk melakukan itu. Jaringan pendidikannya mencakup ribuan sekolah, perguruan tinggi dan pesantren, disertai jaringan pelayanan kesehatan serta berbagai lembaga sosial. Pada 2025, jaringan Muhammadiyah tercatat memiliki lebih dari 5.000 sekolah, sekitar 163 perguruan tinggi, lebih dari 440 pesantren, serta jaringan rumah sakit dan klinik yang luas. Modal sebesar itu seharusnya tidak hanya menghasilkan kuantitas institusi, tetapi menjadi ekosistem pembaruan pemikiran Islam.

Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa pendidikan Muhammadiyah tidak sekadar menghasilkan lulusan yang mampu berkompetisi di pasar kerja, tetapi manusia yang mampu memahami hubungan antara ilmu, iman, teknologi dan tanggung jawab sosial. Dunia masa depan membutuhkan manusia yang tidak hanya cerdas menggunakan AI, tetapi mampu menentukan kapan AI harus digunakan, kapan harus dikritisi dan kapan keputusan harus tetap berada pada pertimbangan moral manusia.

Karena itu, tajdid Muhammadiyah pada abad ke-21 tidak cukup berhenti pada pembaruan hukum, pendidikan atau kelembagaan. Tajdid harus memasuki wilayah yang lebih dalam: pembaruan cara berpikir umat. Muhammadiyah perlu melahirkan generasi ulama yang memahami teknologi, ilmuwan yang memahami nilai agama, pendidik yang memahami perubahan psikologi generasi digital, serta pemimpin yang mampu menggabungkan kecerdasan intelektual dengan kedalaman moral.

Masa depan agama juga akan ditentukan oleh kemampuan agama berbicara kepada generasi muda. Anak muda tidak selalu meninggalkan agama karena membenci agama. Sebagian justru menjauh karena menemukan jawaban yang lebih cepat, lebih komunikatif atau lebih rasional di tempat lain. Karena itu, agama harus hadir bukan dengan kecemasan terhadap generasi baru, tetapi dengan dialog. Muhammadiyah harus mampu menjadi ruang intelektual yang memungkinkan anak muda bertanya tanpa takut, berbeda tanpa bermusuhan, kritis tanpa kehilangan adab dan modern tanpa kehilangan iman.

Pada titik inilah buku Dadang Kahmad memiliki arti strategis. Ia mengajak Muhammadiyah melihat masa depan bukan sebagai sesuatu yang harus ditunggu, tetapi sebagai sesuatu yang harus dipersiapkan. Agama tidak boleh menjadi artefak masa lalu. Muhammadiyah pun tidak boleh hanya menjadi penjaga warisan. Keduanya harus menjadi kekuatan yang ikut membentuk masa depan.

PESAN PENTING

Masa depan agama tidak akan ditentukan oleh banyaknya simbol, slogan atau retorika keagamaan. Ia akan ditentukan oleh kemampuan agama menghadirkan makna ketika manusia mengalami kekosongan, etika ketika teknologi semakin kuat, ilmu ketika informasi semakin berlimpah, dan harapan ketika masa depan semakin tidak pasti.

Bagi Muhammadiyah, tantangannya bahkan lebih besar. Gerakan ini tidak cukup hanya bertanya, “Bagaimana mempertahankan Muhammadiyah?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Muhammadiyah seperti apa yang dibutuhkan manusia pada masa depan?”

Jawabannya bukan Muhammadiyah yang meninggalkan identitasnya demi mengikuti zaman. Bukan pula Muhammadiyah yang membeku karena takut terhadap perubahan. Yang dibutuhkan adalah Muhammadiyah yang berakar kuat pada Islam, berpikir terbuka, berani melakukan tajdid, menguasai ilmu pengetahuan, memahami teknologi, dan mampu menerjemahkan nilai agama menjadi solusi bagi persoalan manusia.

Sebab pada akhirnya, masa depan agama bukan sekadar persoalan apakah manusia masih beragama. Persoalan yang jauh lebih mendasar adalah apakah agama masih mampu membuat manusia menjadi lebih manusiawi. Dan masa depan Muhammadiyah bukan hanya tentang seberapa besar organisasi ini tumbuh, tetapi tentang seberapa besar ia mampu membuat Islam hadir sebagai kekuatan ilmu, akhlak, kemajuan dan peradaban.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *