PENGASUHAN ANAK: ANTARA OVERPROTEKTIF, KERAS, TIDAK KONSISTEN, DAN PENGASUHAN ISLAMI
Pengasuhan anak merupakan proses jangka panjang yang mencakup pemenuhan kebutuhan fisik, emosional, sosial, moral, dan spiritual anak. Dalam diskusi parenting modern muncul sejumlah istilah populer seperti strawberry parenting, VOC parenting, dan eggshell parenting. Istilah tersebut bukan klasifikasi ilmiah baku dalam psikologi perkembangan, tetapi dapat digunakan sebagai gambaran sederhana terhadap pola perilaku pengasuhan tertentu: perlindungan berlebihan, kekerasan atau kontrol yang terlalu keras, serta ketidakstabilan dan ketidakkonsistenan respons orang tua. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa pengasuhan yang hangat, responsif, terstruktur, konsisten, dan bebas kekerasan lebih mendukung hubungan orang tua-anak serta perkembangan emosional dan perilaku anak. WHO merekomendasikan intervensi pengasuhan yang memperkuat hubungan orang tua-anak dan mengurangi harsh parenting serta kekerasan. Dalam perspektif Islam, pengasuhan bukan sekadar membuat anak patuh, tetapi merupakan amanah untuk memberikan kasih sayang, pendidikan, keteladanan, adab, perlindungan, dan pembentukan tanggung jawab. Dengan demikian, pengasuhan Islami dapat dipahami sebagai perpaduan antara rahmah, keteladanan, batasan yang jelas, pendidikan, disiplin yang mendidik, dan tanggung jawab.
Menjadi orang tua tidak hanya berarti memenuhi kebutuhan makan, pakaian, pendidikan, dan kesehatan anak. Orang tua juga membentuk lingkungan tempat anak belajar mengenal dirinya, memahami emosi, menghadapi kegagalan, menyelesaikan masalah, menghormati orang lain, serta mengenal nilai agama.
WHO menempatkan pengasuhan sebagai salah satu komponen penting dalam pencegahan kekerasan terhadap anak dan peningkatan kesehatan mental serta perkembangan anak. Pedoman WHO untuk anak usia 0–17 tahun merekomendasikan program pengasuhan yang meningkatkan hubungan orang tua-anak sekaligus mengurangi pengasuhan keras dan masalah emosional maupun perilaku anak.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan sekadar:
“Apakah orang tua tegas atau lembut?”
Tetapi:
“Apakah cara orang tua mengasuh membantu anak merasa aman, belajar bertanggung jawab, mampu mengendalikan diri, dan berkembang menjadi pribadi yang mandiri?”
Memahami Tiga Istilah Parenting Populer
Perlu ditekankan bahwa strawberry parenting, VOC parenting, dan eggshell parenting bukan diagnosis psikologis atau klasifikasi parenting resmi. Istilah tersebut lebih tepat digunakan sebagai istilah populer untuk menggambarkan kecenderungan perilaku pengasuhan.
Tabel 1. Gambaran tiga pola pengasuhan populer
| Istilah populer | Ciri utama | Pesan yang mungkin diterima anak | Risiko bila menetap |
|---|---|---|---|
| Strawberry parenting | Terlalu melindungi, masalah anak selalu diselesaikan orang tua | “Aku tidak mampu menghadapi masalah sendiri.” | Ketergantungan, kurang kesempatan belajar menghadapi kegagalan |
| VOC parenting | Sangat keras, kontrol tinggi, aturan kaku, hukuman dominan | “Aku harus patuh karena takut.” | Ketakutan, konflik, masalah perilaku, rendahnya keterbukaan |
| Eggshell parenting | Suasana hati orang tua mudah berubah, respons tidak konsisten | “Aku harus berhati-hati agar orang tua tidak marah.” | Ketidakpastian, kecemasan, sulit memprediksi respons orang tua |
| Pengasuhan positif | Hangat, responsif, tetapi tetap memiliki batas | “Aku dicintai, tetapi aku juga harus bertanggung jawab.” | — |
| Pengasuhan Islami | Rahmah, adab, keteladanan, batasan, tanggung jawab dan pendidikan agama | “Aku dicintai, dibimbing, dan dipercaya untuk belajar menjadi baik.” | — |
Dengan demikian, tujuan parenting bukan membuat anak selalu nyaman atau selalu takut, tetapi membantu anak berkembang menjadi manusia yang mampu mengelola dirinya.
3. Strawberry Parenting: Ketika Perlindungan Menjadi Berlebihan
Orang tua tentu berkewajiban melindungi anak. Namun, perlindungan berbeda dengan mengambil alih seluruh masalah anak.
Contohnya:
Anak lupa mengerjakan tugas → orang tua langsung menghubungi guru.
Anak bertengkar dengan temannya → orang tua langsung menyelesaikan konflik tanpa memberi kesempatan anak belajar berbicara.
Anak gagal → orang tua segera mencari alasan dan menyalahkan keadaan.
Masalahnya bukan kasih sayang. Masalahnya adalah anak kehilangan kesempatan untuk belajar menghadapi konsekuensi, mengambil keputusan, dan memecahkan masalah.
Prinsip yang lebih sehat adalah:
“Bantu anak seperlunya, tetapi jangan mengambil seluruh kesempatan anak untuk belajar.”
UNICEF juga menekankan bahwa anak perlu kesempatan untuk mencoba, belajar, membuat keputusan, dan berkembang dalam lingkungan yang aman serta penuh dukungan.
4. VOC Parenting: Ketika Disiplin Berubah Menjadi Ketakutan
Istilah VOC parenting merupakan istilah populer yang mengambil analogi dari Vereenigde Oostindische Compagnie. Istilah tersebut bukan kategori ilmiah dalam psikologi parenting.
Namun, perilaku yang digambarkan—misalnya kontrol ekstrem, hukuman keras, penghinaan, ancaman, atau kekerasan—memang merupakan isu penting dalam ilmu pengasuhan.
Disiplin diperlukan. Anak membutuhkan batas.
Tetapi:
Disiplin ≠ kekerasan.
WHO menyatakan bahwa hukuman fisik berhubungan dengan berbagai dampak buruk terhadap kesehatan fisik dan mental, perkembangan kognitif dan sosial-emosional, prestasi pendidikan, serta peningkatan agresivitas. WHO juga menyatakan tidak ditemukan manfaat positif dari hukuman fisik.
Maka orang tua dapat mengatakan:
“Ayah tidak mengizinkan kamu memukul adik.”
daripada:
“Kalau kamu memukul lagi, Ayah akan pukul kamu.”
Yang pertama memberikan batas dan pendidikan.
Yang kedua menggunakan ketakutan sebagai alat utama.
5. Eggshell Parenting: Anak Hidup dalam Ketidakpastian
Istilah eggshell parenting menggambarkan situasi ketika anak merasa harus “berjalan di atas kulit telur” karena respons orang tua sangat bergantung pada suasana hati.
Misalnya:
- Hari ini kesalahan kecil dianggap biasa.
- Besok kesalahan yang sama menyebabkan kemarahan besar.
- Hari ini aturan berlaku.
- Besok aturan yang sama tidak berlaku karena orang tua sedang lelah.
Anak akhirnya bukan belajar: “Apa yang benar?”
melainkan: “Bagaimana suasana hati Ayah atau Ibu hari ini?”
Konsistensi merupakan bagian penting dari pengasuhan karena anak membutuhkan batas dan ekspektasi yang dapat diprediksi. UNICEF menjelaskan bahwa batas yang jelas dan tenang membantu anak merasa aman sekaligus membangun kepercayaan diri.
Pengasuhan Positif: Bukan Berarti Anak Boleh Melakukan Apa Saja
- Salah satu kesalahpahaman terhadap positive parenting adalah anggapan: “Kalau parenting positif berarti anak tidak boleh ditegur.”
- Justru sebaliknya. Positive parenting tetap memiliki aturan.
- Perbedaannya terletak pada cara memberikan aturan dan konsekuensi.
Contoh:
- ❌ “Kamu memang anak nakal!”
- ✅ “Perbuatan memukul itu tidak boleh. Kalau marah, kita belajar mengatakannya tanpa memukul.”
- ❌ “Kalau tidak diam, Mama pukul!”
- ✅ “Mama tahu kamu marah. Tetapi berteriak dan memukul tidak boleh. Kita tenang dulu, kemudian bicara.”
UNICEF menggambarkan pengasuhan positif sebagai kombinasi kasih sayang, mendengarkan anak, batas yang jelas, disiplin yang tenang, penghormatan, dan keteladanan.
Bagaimana dengan Pengasuhan Anak dalam Islam?
- Islam memberikan kerangka pengasuhan yang sangat luas.
- Anak bukan sekadar objek yang harus patuh kepada orang tua, tetapi amanah yang harus dijaga, dididik, dicintai, dan diarahkan.
- Salah satu prinsip penting adalah rahmah.
- Rasulullah ﷺ dikenal menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak. Pengasuhan juga mencakup pendidikan dan keadilan.
- Dalam Al-Adab Al-Mufrad, terdapat riwayat mengenai Nu’man bin Basyir ketika ayahnya memberikan sesuatu kepadanya tetapi tidak kepada anak-anak lainnya. Nabi ﷺ mempertanyakan apakah semua anak diperlakukan secara setara dan mengarahkan kepada keadilan di antara anak-anak.
Ada pula perkataan Ibn Umar yang dicantumkan dalam Al-Adab Al-Mufrad: “Sebagaimana orang tuamu mempunyai hak atasmu, anakmu juga mempunyai hak atasmu.”
Ini memberikan perspektif penting: Orang tua memiliki kewajiban kepada anak sebagaimana anak memiliki kewajiban kepada orang tua.
Prinsip Pengasuhan Islami
Tabel 2. Prinsip parenting Islami
| Prinsip | Makna | Contoh |
|---|---|---|
| Rahmah | Mengasuh dengan kasih sayang | Memeluk anak ketika sedih |
| Adab | Mengajarkan perilaku baik | Mengajarkan salam dan sopan santun |
| Tarbiyah | Membimbing secara bertahap | Mengajarkan tanggung jawab sesuai usia |
| Qudwah | Orang tua menjadi teladan | Orang tua meminta maaf ketika salah |
| Adil | Tidak pilih kasih | Tidak membandingkan saudara |
| Disiplin | Membentuk kebiasaan dan tanggung jawab | Jadwal tidur dan belajar |
| Syura/komunikasi | Mengajak anak berbicara | Mendengarkan alasan anak |
| Amanah | Menjaga keselamatan dan perkembangan anak | Melindungi dari kekerasan |
| Sabar | Tidak menjadikan emosi sebagai dasar pengasuhan | Menunda respons ketika sedang marah |
| Doa | Menggantungkan hasil pendidikan kepada Allah | Mendoakan kebaikan anak |
Pengasuhan Islami Bukan Strawberry dan Bukan VOC
Ada dua ekstrem yang perlu dihindari:
- Terlalu lunak “Kasihan anak, biarkan saja.” Anak akhirnya tidak belajar batas, tanggung jawab, dan konsekuensi.
- Terlalu keras “Anak harus menurut karena saya orang tua.” Anak mungkin belajar patuh, tetapi belum tentu memahami alasan moral di balik perilakunya.
- Pengasuhan Islami berada pada prinsip:
Kasih sayang tanpa memanjakan.
Ketegasan tanpa kekerasan.
Kebebasan tanpa kehilangan batas.
Disiplin tanpa penghinaan.
Contoh Situasi Sehari-hari
Tabel 3. Perbandingan respons orang tua
| Situasi | Terlalu melindungi | Terlalu keras | Pengasuhan positif & Islami |
|---|---|---|---|
| Anak mendapat nilai rendah | Menyalahkan guru | Memarahi anak | Mencari penyebab dan membuat rencana belajar |
| Anak bertengkar | Orang tua langsung membela | Mengancam | Mendengar kedua pihak dan mengajarkan penyelesaian konflik |
| Anak tidak mau membereskan mainan | Orang tua membereskan | Membentak | Memberi batas dan konsekuensi yang jelas |
| Anak berbohong | Menutupi kesalahan | Memukul | Membahas kejujuran dan konsekuensi |
| Anak gagal lomba | Mengatakan “tidak apa-apa” tanpa evaluasi | Menyalahkan anak | Menghibur, mengevaluasi, lalu mencoba kembali |
| Anak marah | Membiarkan semua perilaku | Menghukum kemarahan | Mengakui emosi tetapi membatasi perilaku yang salah |
| Anak melakukan kesalahan | Langsung menyelesaikan | Menghina | Membantu anak memperbaiki kesalahannya |
Disiplin dalam Islam: Mengajar, Bukan Melampiaskan Marah
Kata disiplin seharusnya tidak identik dengan hukuman.
Tujuan disiplin adalah membantu anak:
- memahami aturan;
- memahami alasan aturan;
- mengendalikan diri;
- memahami konsekuensi;
- memperbaiki kesalahan;
- mengembangkan tanggung jawab.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip positive discipline. WHO merekomendasikan intervensi pengasuhan yang meningkatkan keterampilan pengasuhan positif dan mengurangi harsh parenting.
Rumus Sederhana Pengasuhan Islami
Orang tua dapat menggunakan formula: CINTA + BATAS + TELADAN + KONSEKUENSI + DOA
- Cinta Anak tahu dirinya dicintai.
- Batas Anak tahu apa yang boleh dan tidak boleh.
- Teladan Anak melihat orang tua melakukan apa yang diajarkan.
- Konsekuensi Anak belajar bahwa setiap tindakan memiliki akibat.
- Doa Orang tua menyadari bahwa pendidikan adalah ikhtiar, sedangkan hasil akhirnya berada dalam ketetapan Allah.
Komunikasi: Jantung Pengasuhan
- Komunikasi bukan hanya berbicara kepada anak.
- Komunikasi juga berarti: mendengarkan → memahami → menjelaskan → menetapkan batas → membimbing.
- Contoh: “Mama tahu kamu kecewa karena mainannya diambil. Kamu boleh kecewa. Tetapi kamu tidak boleh memukul. Kalau ingin main lagi, mari kita bicarakan dengan adik.”
- Kalimat tersebut mengandung empat pesan:
- “Perasaanmu boleh.”
“Perilaku tertentu tidak boleh.”
“Mama tetap bersamamu.”
“Mari kita cari solusi.” - Komunikasi yang hangat dan efektif merupakan salah satu komponen yang ditekankan dalam program pencegahan kekerasan dan penguatan hubungan orang tua-anak.
Orang Tua Juga Perlu Mengendalikan Diri
- Salah satu tantangan terbesar parenting bukan mengendalikan anak.
- Tetapi: mengendalikan diri sendiri ketika menghadapi perilaku anak.
- Ketika orang tua sangat marah, mengambil jeda dapat lebih baik daripada langsung memberikan hukuman.
- Contoh: “Ayah sedang marah. Ayah akan menenangkan diri dulu. Setelah itu kita bicara.”
- Ini justru merupakan keteladanan pengendalian emosi.
- Anak belajar bahwa marah adalah emosi yang boleh dirasakan, tetapi tidak semua tindakan boleh dilakukan ketika marah.
Apa yang Sebaiknya Dihindari?
Hindari:
- memukul;
- menendang;
- mengguncang anak;
- mempermalukan;
- menghina;
- mengancam secara berlebihan;
- membandingkan saudara;
- memberi label “nakal”, “bodoh”, atau “malas”;
- menjadikan kasih sayang sebagai alat ancaman;
- aturan yang berubah-ubah sesuai emosi orang tua.
WHO menyebut hukuman fisik membawa risiko terhadap kesehatan dan perkembangan anak serta tidak memiliki manfaat positif yang terbukti.
Apa yang Sebaiknya Dibangun? Bangun lima hal:
- 1. Rasa aman Anak tahu rumah adalah tempat perlindungan.
- 2. Kedekatan Anak dapat bercerita tanpa selalu takut dihakimi.
- 3. Batas Anak mengetahui aturan yang jelas.
- 4. Tanggung jawab Anak diberi kesempatan melakukan sesuatu sesuai usianya.
- 5. Nilai agama Anak belajar bahwa kebaikan dilakukan bukan hanya karena takut kepada hukuman, tetapi karena mengenal Allah dan memahami nilai kebaikan.
Model Sederhana Parenting Islami
- AMAN → DEKAT → BIMBING → BATASI → LATIH → TELADANI
- AMAN Jangan membuat anak hidup dalam ketakutan.
- DEKAT Bangun hubungan emosional.
- BIMBING Ajarkan, jangan hanya memerintah.
- BATASI Tetapkan aturan yang jelas.
- LATIHBerikan kesempatan anak mencoba dan bertanggung jawab.
- TELADANI Anak belajar terutama dari apa yang dilihat.
Kesimpulan
- Strawberry parenting, VOC parenting, dan eggshell parenting merupakan istilah populer, bukan klasifikasi ilmiah resmi. Namun, ketiganya dapat menjadi metafora untuk mengingatkan orang tua terhadap tiga persoalan pengasuhan: terlalu melindungi, terlalu keras, dan tidak konsisten.
- Ilmu parenting modern menekankan pentingnya hubungan yang aman, hangat, responsif, batas yang jelas, komunikasi, dan disiplin tanpa kekerasan. WHO dan UNICEF menempatkan pengasuhan positif sebagai bagian penting dari pencegahan kekerasan serta peningkatan kesejahteraan anak.
- Dalam perspektif Islam, tujuan pengasuhan juga tidak berhenti pada anak yang patuh, tetapi membentuk anak yang memiliki iman, adab, akhlak, tanggung jawab, kasih sayang, dan kemampuan mengendalikan diri.
- Maka, parenting Islami bukan: memanjakan anak sampai tidak mandiri,
- dan bukan pula: mengeraskan anak dengan ketakutan.
- Tetapi: Menyayangi tanpa memanjakan.Menegur tanpa merendahkan.
Membatasi tanpa menindas.
Mendidik tanpa kekerasan.
Memberi kebebasan sekaligus tanggung jawab.
Dan menjadi teladan sebelum menuntut anak menjadi baik.** - Pada akhirnya, anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Anak membutuhkan orang tua yang hadir, mau belajar, mau memperbaiki kesalahan, dan konsisten mencintai sekaligus membimbingnya.
Referensi utama
- World Health Organization. WHO Guidelines on Parenting Interventions to Prevent Maltreatment and Enhance Parent–Child Relationships with Children Aged 0–17 Years. 2023.
- World Health Organization. Child Maltreatment. 2026.
- World Health Organization. Corporal Punishment of Children and Health. 2026.
- UNICEF. Designing Parenting Programmes for Violence Prevention.
- UNICEF Asia Pacific. Positive Parenting vs. Strict Parenting. 2026.
- Al-Adab Al-Mufrad, hadis tentang kewajiban dan keadilan orang tua terhadap anak.

















Leave a Reply