MAB Portal Islam

MASJID AL-FALAH BENHIL JAKARTA. “Dari Masjid untuk Umat, Menebarkan Ilmu dan Kebaikan”

EDITORIAL MAB: KEADILAN, KEKUATAN, DAN KESEIMBANGAN: JIWA PERADABAN ISLAM UNTUK INDONESIA MASA DEPAN

KEADILAN, KEKUATAN, DAN KESEIMBANGAN: JIWA PERADABAN ISLAM UNTUK INDONESIA MASA DEPAN

Editorial MAB

Indonesia tidak sedang berada dalam satu warna tunggal. Di satu sisi, ekonomi tumbuh, kemiskinan nasional menurut ukuran BPS menurun, dan Indonesia kembali masuk kelompok negara berpendapatan menengah atas sejak 2023. Bank Dunia mencatat pertumbuhan Indonesia sekitar 5% dan menekankan bahwa tantangan berikutnya adalah meningkatkan produktivitas serta menciptakan lebih banyak pekerjaan berkualitas. Namun di sisi lain, persoalan struktural tetap nyata: kualitas pekerjaan, kesenjangan kesempatan, pendidikan, produktivitas, integritas institusi, penegakan hukum, dan pemerataan pembangunan. Inilah paradoks Indonesia: memiliki potensi besar, tetapi belum seluruh potensinya berubah menjadi kesejahteraan yang merata.

KEADILAN: KETIKA KESEJAHTERAAN BELUM SEPENUHNYA MERATA

Kemiskinan, ketimpangan, hukum, korupsi, dan amanah kekuasaan

  • Data harus dibaca dengan jujur. BPS mencatat bahwa pada September 2025 terdapat 23,36 juta penduduk miskin atau 8,25% penduduk Indonesia. Angka tersebut menurun dibandingkan Maret 2025 sebesar 8,47%. Kemiskinan perkotaan tercatat 6,60%, sedangkan perdesaan 10,72%. Penurunan ini merupakan perkembangan positif, tetapi jutaan manusia yang masih hidup di bawah garis kemiskinan menunjukkan bahwa pekerjaan pembangunan belum selesai.
  • Ketimpangan pengeluaran juga perlu terus diperhatikan. Gini ratio September 2025 tercatat 0,363, turun dari 0,375 pada Maret 2025 dan 0,381 pada September 2024. Pada saat yang sama, kelompok 40% penduduk terbawah menerima sekitar 19,28% distribusi pengeluaran. Keadilan bukan berarti semua orang harus memiliki jumlah harta yang sama. Keadilan berarti kesempatan untuk hidup layak, memperoleh pendidikan, mendapatkan pekerjaan, memperoleh perlindungan hukum, dan mengembangkan diri tidak semata-mata ditentukan oleh tempat lahir, kekayaan keluarga, koneksi, atau kekuasaan.
  • Dalam perspektif Al-Qur’an, keadilan bukan sekadar slogan politik, tetapi prinsip moral kehidupan publik: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.”
    QS. An-Nisa’: 58
  • Ayat tersebut memberikan fondasi yang kuat: jabatan adalah amanah, hukum harus adil, dan kekuasaan harus dipertanggungjawabkan. Dalam konteks Indonesia modern, prinsip tersebut dapat diterjemahkan ke dalam pemerintahan yang transparan, pelayanan publik yang setara, hukum yang dapat dipercaya, birokrasi profesional, serta kebijakan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
  • Persoalan integritas institusi juga menjadi perhatian. WJP Rule of Law Index 2025 mencatat skor Indonesia 0,52 dan menempatkannya pada posisi 69 dari 143 yurisdiksi; indeks ini mencakup antara lain pembatasan kekuasaan pemerintah, ketiadaan korupsi, pemerintahan terbuka, hak fundamental, penegakan regulasi, serta peradilan. Transparency International mencatat Indonesia memperoleh skor 34/100 dalam CPI 2025 dan berada pada posisi 109 dari 182 negara. Data tersebut bukan alasan untuk menyimpulkan bahwa seluruh institusi Indonesia gagal, tetapi merupakan alasan kuat untuk terus memperkuat integritas, transparansi, pengawasan, dan supremasi hukum.

KEKUATAN: MEMBANGUN INDONESIA DENGAN ILMU DAN MANUSIA

Pendidikan, produktivitas, ekonomi, teknologi, kesehatan, dan ketahanan bangsa

  • Negara besar tidak cukup hanya mempunyai wilayah luas, penduduk besar, sumber daya alam, atau anggaran besar. Kekuatan abad ke-21 semakin ditentukan oleh kualitas manusia, pendidikan, penelitian, teknologi, produktivitas, kesehatan, ketahanan pangan, energi, dan kemampuan menciptakan pekerjaan bernilai tinggi.
  • BPS mencatat bahwa pada Agustus 2025 angkatan kerja Indonesia mencapai sekitar 154 juta orang, dengan 146,54 juta orang bekerja dan tingkat pengangguran terbuka 4,85%. Rata-rata upah buruh/karyawan tercatat sekitar Rp3,33 juta per bulan. Tantangannya karena itu bukan hanya menyediakan pekerjaan, tetapi meningkatkan produktivitas, kualitas pekerjaan, keterampilan, dan nilai tambah ekonomi.
  • Di sinilah pesan “Iqra’” menjadi sangat relevan: اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ Iqra’ bismi rabbikalladzī khalaq “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”
    QS. Al-‘Alaq: 1
  • Wahyu pertama mengajarkan bahwa kekuatan peradaban dimulai dari ilmu. Peradaban yang kuat adalah peradaban yang mau membaca buku, membaca alam, membaca data, membaca sejarah, membaca perubahan teknologi, sekaligus membaca kesalahan dirinya sendiri.
  • Sejarah Islam pernah menunjukkan bagaimana tradisi ilmu melahirkan pusat-pusat intelektual seperti Baghdad dan Cordoba serta ilmuwan seperti Al-Khwarizmi, Ibn al-Haytham, Ibn Sina, dan Al-Biruni. Pelajaran terpenting bukan sekadar kebanggaan terhadap masa lalu, melainkan keberanian membangun kembali tradisi penelitian, literasi, inovasi, dan pengembangan ilmu.
  • Tantangan pendidikan Indonesia menunjukkan mengapa agenda tersebut mendesak. Dalam PISA 2022, hanya sekitar 18% siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih dalam matematika, dibandingkan 69% rata-rata OECD. Dalam membaca dan sains, masing-masing sekitar 25% dan 34% siswa Indonesia mencapai tingkat tersebut. Angka ini bukan alasan untuk menyalahkan guru atau merendahkan anak Indonesia. Sebaliknya, ia harus menjadi panggilan untuk memperbaiki sistem pendidikan: kualitas guru, literasi, numerasi, fasilitas, kepemimpinan sekolah, pemerataan pendidikan, dan budaya penelitian.
  • Kekuatan Indonesia masa depan harus semakin bertumpu pada manusia dan pengetahuan. Sumber daya alam penting, tetapi kemampuan mengolahnya menjadi teknologi, industri, inovasi, pangan, energi, layanan kesehatan, dan pekerjaan bernilai tinggi jauh lebih menentukan daya tahan bangsa. Kekuatan sejati bukan sekadar kemampuan memiliki sumber daya, tetapi kemampuan manusia untuk memecahkan masalah.

KESEIMBANGAN: VISI ISLAM UNTUK INDONESIA MASA DEPAN

Hukum dan kekuasaan, ekonomi dan pemerataan, kemajuan dan moralitas, serta kepemimpinan yang amanah

  • Keadilan dan kekuatan saja belum cukup. Indonesia juga membutuhkan keseimbangan.
  • Kemajuan ekonomi tanpa pemerataan dapat meninggalkan kelompok tertentu. Teknologi tanpa etika dapat memperbesar penipuan dan manipulasi informasi. Kebebasan tanpa tanggung jawab dapat merusak ruang publik. Pembangunan tanpa kepedulian lingkungan dapat menciptakan biaya sosial jangka panjang. Kekuasaan tanpa pengawasan dapat melemahkan institusi.
  • Al-Qur’an menawarkan prinsip wasathiyah: “Dan demikianlah Kami telah menjadikan kamu umat yang wasath.” QS. Al-Baqarah: 143
  • Keseimbangan bukan berarti kehilangan prinsip. Keseimbangan berarti menempatkan sesuatu secara proporsional: ekonomi bersama keadilan, kebebasan bersama tanggung jawab, teknologi bersama etika, pembangunan bersama kelestarian lingkungan, serta kehidupan dunia bersama orientasi akhirat.
  • QS. Al-Qashash: 77 juga memberikan prinsip penting: manusia diperintahkan mencari kebahagiaan akhirat tanpa melupakan bagiannya di dunia. Karena itu, pembangunan Indonesia tidak seharusnya mempertentangkan kemajuan material dengan moralitas. Keduanya dapat berjalan bersama.
  • Teladan Nabi Muhammad ﷺ di Madinah memberikan inspirasi historis yang penting. Masyarakat Madinah dibangun bukan hanya melalui ibadah individual, tetapi juga melalui pengaturan kehidupan sosial, tanggung jawab antarkelompok, persaudaraan, musyawarah, penyelesaian persoalan, dan kehidupan bersama. Madinah dapat dibaca sebagai pelajaran tentang bagaimana nilai agama diterjemahkan menjadi tata kehidupan, bukan sebagai cetak biru yang harus disalin secara mekanis ke negara modern.
  • Indonesia memiliki sejarah, konstitusi, masyarakat, dan struktur negara sendiri. Yang dapat diwarisi adalah nilai-nilai universal: amanah, keadilan, ilmu, musyawarah, tanggung jawab, persaudaraan, dan kemaslahatan.
  • Karena itu, Indonesia masa depan tidak membutuhkan romantisme kejayaan masa lalu semata. Indonesia membutuhkan transformasi nilai menjadi kebijakan nyata. Keadilan harus terlihat dalam hukum dan kesempatan. Kekuatan harus terlihat dalam sekolah, laboratorium, rumah sakit, industri, teknologi, pertanian, dan kualitas pekerjaan. Keseimbangan harus terlihat dalam hubungan antara ekonomi dan lingkungan, kebebasan dan tanggung jawab, pertumbuhan dan pemerataan, serta kemajuan material dan moralitas.

SARAN UNTUK INDONESIA

  1. Tegakkan keadilan dan supremasi hukum.
    Perkuat independensi dan profesionalitas lembaga, transparansi pelayanan publik, pengawasan kekuasaan, pemberantasan korupsi, serta kesetaraan warga di hadapan hukum.
  2. Jadikan pendidikan dan ilmu sebagai investasi utama.
    Perbaiki kualitas guru, literasi, numerasi, pendidikan sains, riset, perguruan tinggi, pendidikan vokasi, dan hubungan antara pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja.
  3. Naikkan kualitas pekerjaan dan produktivitas.
    Pertumbuhan ekonomi perlu semakin diarahkan pada penciptaan pekerjaan bernilai tambah tinggi, peningkatan keterampilan tenaga kerja, penguatan industri, inovasi, UMKM, pertanian modern, dan ekonomi berbasis pengetahuan.
  4. Bangun pemerataan kesempatan, bukan hanya pemerataan bantuan.
    Masyarakat membutuhkan akses yang lebih baik terhadap pendidikan, kesehatan, modal, teknologi, pekerjaan, transportasi, dan layanan publik agar mobilitas sosial dapat terbuka lebih luas.
  5. Perkuat keseimbangan antara pembangunan dan kemanusiaan.
    Kemajuan teknologi, pembangunan infrastruktur, industrialisasi, dan pertumbuhan ekonomi harus berjalan bersama perlindungan lingkungan, etika, budaya, kesehatan masyarakat, dan martabat manusia.
  6. Bangun kepemimpinan berbasis amanah dan institusi.
    Masa depan bangsa tidak boleh bergantung pada kultus individu. Kepemimpinan perlu diperkuat oleh lembaga yang sehat, birokrasi profesional, hukum yang kuat, masyarakat sipil, dunia pendidikan, dunia usaha, media, dan warga negara yang aktif.

PESAN UNTUK INDONESIA

  • Indonesia tidak kekurangan potensi; yang dibutuhkan adalah arah, integritas, dan keberanian membangun perubahan. Keadilan harus hadir dalam hukum dan kesempatan; kekuatan harus dibangun melalui pendidikan, ilmu, ekonomi, teknologi, kesehatan, dan sumber daya manusia; sementara keseimbangan harus menjaga agar pertumbuhan tidak meninggalkan kelompok lemah, kekuasaan tidak melampaui hukum, dan kemajuan tidak kehilangan nilai kemanusiaan. Inspirasi Madinah pada era Nabi Muhammad ﷺ mengingatkan bahwa masyarakat yang kuat dibangun di atas amanah, keadilan, ilmu, persaudaraan, dan tanggung jawab.
  • Indonesia masa depan membutuhkan kepemimpinan yang memiliki visi jauh melampaui pergantian kekuasaan: menjadikan keadilan sebagai akar, ilmu sebagai kekuatan, dan keseimbangan sebagai kompas. Bukan sekadar mengejar pertumbuhan, tetapi membangun manusia; bukan sekadar membangun infrastruktur, tetapi membangun karakter dan institusi; bukan sekadar menjadi bangsa besar, tetapi menjadi bangsa yang adil, berilmu, bermartabat, dan bermanfaat.

Kita tidak hanya membutuhkan kekuatan; kita membutuhkan kekuatan yang berkeadilan. Kita tidak hanya membutuhkan pertumbuhan; kita membutuhkan pertumbuhan yang menghadirkan kesempatan. Kita tidak hanya membutuhkan hukum; kita membutuhkan hukum yang dipercaya. Kita tidak hanya membutuhkan teknologi; kita membutuhkan teknologi yang tunduk pada kemanusiaan. Dan kita tidak hanya membutuhkan pemimpin yang kuat; kita membutuhkan kepemimpinan yang memahami bahwa kekuasaan adalah amanah.

Keadilan adalah akar agar bangsa tidak tercerabut.
Kekuatan adalah tenaga agar bangsa tidak mudah tertinggal.
Keseimbangan adalah kompas agar bangsa tidak kehilangan arah.

Madinah memberi inspirasi.
Al-Qur’an memberi prinsip.
Sejarah memberi pelajaran.
Ilmu memberi kekuatan.
Dan masa depan menunggu kerja nyata.

Indonesia tidak harus menyalin masa lalu. Indonesia harus belajar dari nilai terbaik masa lalu untuk menciptakan masa depan yang lebih adil, lebih kuat, lebih berilmu, dan lebih seimbang.

Sebab peradaban yang besar bukan hanya peradaban yang mampu membangun gedung tinggi dan ekonomi besar, tetapi peradaban yang mampu memastikan bahwa hukum tidak kehilangan keadilan, kekuatan tidak kehilangan akhlak, ilmu tidak kehilangan tujuan, dan kemajuan tidak meninggalkan manusia.

Dari Madinah kita belajar tentang nilai.
Dari sejarah kita belajar tentang naik dan jatuhnya peradaban.
Dari zaman modern kita belajar tentang tantangan baru.

Dan dari semuanya kita belajar satu pesan:

SEBUAH BANGSA AKAN KUAT KETIKA KEADILAN DITEGAKKAN, ILMU DIKEMBANGKAN, KEKUASAAN DIAMANAHKAN, DAN KESEIMBANGAN DIJAGA.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *