MAB Portal Islam

MASJID AL-FALAH BENHIL JAKARTA. “Dari Masjid untuk Umat, Menebarkan Ilmu dan Kebaikan”

Tanya Jawab: Karakter Seorang Da’i dalam Bergaul dengan Masyarakat

 

Tanya Jawab: Karakter Seorang Da’i dalam Bergaul dengan Masyarakat

Pertanyaan

Ketika seseorang mulai lebih dekat dengan agama, terkadang ia menjadi sangat serius, lebih banyak menyendiri, jarang tersenyum, dan merasa hubungan dengan keluarga maupun teman menjadi semakin renggang. Setelah menyadari hal tersebut, ia berusaha berubah dengan menjadi lebih ramah, mudah tersenyum, bercanda sewajarnya, bergaul dengan keluarga dan masyarakat, serta membangun kepercayaan mereka agar lebih mudah menyampaikan ajaran Islam. Namun, ia khawatir apakah sikap yang lebih akrab dan bersosialisasi seperti itu dapat mengurangi kesalehan atau justru merupakan bagian dari ibadah dan dakwah yang berpahala menurut syariat Islam?

Jawaban

Seorang Muslim, terlebih lagi seorang da’i, diperintahkan untuk menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia. Dakwah tidak hanya dilakukan melalui lisan, tetapi juga melalui keteladanan dalam perilaku sehari-hari. Sikap ramah, lembut, mudah tersenyum, santun, serta mampu menjalin hubungan yang baik dengan orang lain merupakan bagian dari akhlak Islam yang dapat menarik hati manusia kepada kebenaran. Oleh karena itu, kesalehan tidak identik dengan wajah yang selalu muram atau menjauh dari kehidupan sosial.

Seorang da’i hendaknya memiliki keseimbangan dalam kepribadiannya. Ia tidak bersikap kasar sehingga orang menjauh darinya, tetapi juga tidak bersikap berlebihan dalam bercanda atau mencari perhatian manusia hingga mengorbankan prinsip-prinsip agama. Sikap yang ideal adalah tetap menjaga kewibawaan, namun mudah didekati, sehingga orang merasa nyaman untuk bertanya, belajar, dan menerima nasihat darinya. Karakter seperti inilah yang banyak dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dalam kehidupan beliau bersama keluarga, para sahabat, maupun masyarakat luas.

Bergaul dengan masyarakat merupakan salah satu sarana dakwah yang sangat efektif. Ketika seorang Muslim menghadiri berbagai kegiatan, mengunjungi kerabat, membantu tetangga, menghibur orang yang sedang mengalami musibah, berbagi kebahagiaan dengan saudaranya, serta menunjukkan kepedulian kepada sesama, maka ia sedang memperlihatkan keindahan ajaran Islam melalui tindakan nyata. Dakwah yang dilakukan dengan akhlak sering kali lebih membekas daripada sekadar penyampaian nasihat secara lisan.

Senyum, wajah yang ceria, ucapan yang baik, serta sikap lemah lembut termasuk amal saleh yang memiliki nilai ibadah. Banyak hadis sahih menunjukkan bahwa senyum kepada saudara sesama Muslim bernilai sedekah, wajah yang berseri merupakan bentuk kebaikan, dan Allah mencintai kelembutan dalam setiap urusan. Dengan demikian, membiasakan diri bersikap ramah bukan hanya etika sosial, tetapi juga merupakan bentuk ketaatan kepada Allah apabila dilakukan dengan niat yang ikhlas.

Humor dan canda juga diperbolehkan dalam Islam selama berada dalam batas-batas syariat. Rasulullah ﷺ sesekali bercanda dengan para sahabat, istri, maupun anak-anak, tetapi candanya selalu mengandung kebenaran, tidak menyakiti orang lain, tidak merendahkan kehormatan seseorang, serta tidak membuat lalai dari kewajiban agama. Oleh karena itu, seorang da’i boleh mencairkan suasana dengan humor yang santun apabila hal itu membantu mendekatkan hati manusia kepada Islam.

Para ulama menjelaskan bahwa keberhasilan dakwah sangat dipengaruhi oleh akhlak pembawanya. Seseorang yang mudah marah, keras, kasar, atau merasa paling suci sering kali menyebabkan orang enggan mendengarkan nasihatnya. Sebaliknya, pribadi yang rendah hati, sabar, penyayang, mudah memaafkan, dan mampu memahami kondisi orang lain akan lebih mudah diterima. Akhlak yang baik merupakan salah satu sebab terbesar keberhasilan dakwah sejak masa Rasulullah ﷺ hingga sekarang.

Apabila seseorang bersikap ramah, murah senyum, membantu orang lain, mempererat hubungan keluarga, menjaga silaturahmi, dan membangun kedekatan dengan masyarakat dengan tujuan mencari ridha Allah serta memudahkan penyampaian dakwah, maka seluruh aktivitas tersebut dapat bernilai ibadah. Bahkan ia memperoleh dua bentuk pahala sekaligus, yaitu pahala karena menghiasi diri dengan akhlak yang mulia dan pahala karena menjadikan akhlak tersebut sebagai sarana mengajak manusia kepada jalan Allah.

Kesimpulannya, bersosialisasi, tersenyum, bercanda secara wajar, mempererat hubungan dengan keluarga dan masyarakat, serta membangun kepercayaan mereka tidak bertentangan dengan kesalehan. Sebaliknya, apabila semua itu dilakukan sesuai tuntunan syariat, tidak melampaui batas, dan diniatkan sebagai bagian dari dakwah serta mencari keridaan Allah, maka perbuatan tersebut termasuk amal saleh yang berpahala. Seorang da’i ideal adalah pribadi yang teguh memegang prinsip agama, tetapi tetap lembut, mudah didekati, penuh kasih sayang, dan menjadi teladan dalam akhlak sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *