Pertanyaan
Bagaimana pandangan Islam terhadap orang-orang non-Muslim yang telah memberikan manfaat besar bagi umat manusia, seperti ilmuwan, penemu, dokter, atau tokoh kemanusiaan? Apakah jasa mereka dapat menyelamatkan mereka di akhirat, ataukah keselamatan tetap ditentukan oleh keimanan kepada Allah dan mengikuti Rasul-Nya? Bagaimana pula sikap seorang Muslim dalam menilai nasib akhirat orang tertentu?
Jawaban
Menurut ajaran Islam, keselamatan di akhirat tidak ditentukan semata-mata oleh besarnya jasa atau manfaat yang diberikan kepada manusia, tetapi juga oleh keimanan kepada Allah dan mengikuti rasul yang diutus kepada seseorang. Amal saleh merupakan syarat penting, namun amal tersebut harus disertai iman agar diterima di sisi Allah. Allah berfirman, “Barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali ‘Imran: 85). Allah juga berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari kalangan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik akan berada dalam neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Bayyinah: 6). Rasulullah ﷺ bersabda, “Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani, yang mendengar tentangku kemudian meninggal tanpa beriman kepada ajaran yang aku bawa, melainkan ia termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim No. 153).
Islam tetap mengakui bahwa orang non-Muslim dapat melakukan banyak kebaikan yang membawa manfaat besar bagi manusia. Seorang ilmuwan dapat menemukan obat, seorang penemu dapat menghasilkan teknologi yang memudahkan kehidupan, dan seorang dermawan dapat membantu jutaan orang. Dalam pandangan Islam, Allah Maha Adil dan tidak menyia-nyiakan kebaikan siapa pun. Kebaikan tersebut dapat dibalas di dunia berupa kesehatan, ketenaran, rezeki, penghormatan, atau manfaat yang terus dirasakan manusia. Namun, mengenai balasan akhirat, Al-Qur’an menjelaskan bahwa amal tanpa iman tidak menjadi sebab keselamatan. Allah berfirman, “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu seperti debu yang berterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23). Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini berlaku bagi orang yang meninggal dalam keadaan kufur setelah tegaknya hujah atas dirinya.
Meskipun demikian, Islam juga melarang seorang Muslim memastikan nasib akhirat seseorang secara individu apabila tidak ada nash yang secara khusus menjelaskannya. Misalnya, mengenai Thomas Alva Edison atau tokoh non-Muslim lainnya, umat Islam tidak boleh mengatakan secara pasti bahwa seseorang tertentu berada di surga atau neraka. Para ulama membedakan antara hukum umum berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah dengan penetapan hukum terhadap individu tertentu. Allah berfirman, “Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 117). Hanya Allah yang mengetahui apakah seseorang telah menerima dakwah Islam dengan benar, memahami risalah Nabi Muhammad ﷺ secara utuh, atau memiliki keadaan tertentu yang akan diputuskan dengan keadilan-Nya pada hari kiamat.
Karena itu, sikap seorang Muslim adalah menerima ketentuan Allah dan Rasul-Nya tentang prinsip keselamatan di akhirat, sekaligus bersikap adil kepada semua manusia di dunia. Islam memerintahkan agar menghargai ilmu, mengakui jasa, berlaku baik, dan tidak berbuat zalim kepada siapa pun, termasuk kepada non-Muslim. Allah berfirman, “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama…” (QS. Al-Mumtahanah: 8). Seorang Muslim dapat menghargai jasa seorang ilmuwan atau tokoh non-Muslim, memanfaatkan ilmunya, dan berterima kasih atas manfaat yang diberikannya, tetapi tetap meyakini bahwa urusan keselamatan akhirat berada di tangan Allah dan mengikuti ketentuan yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Sunnah.
















Leave a Reply