Pertanyaan
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz.
Saya mempunyai om dan tante yang secara ekonomi sangat kaya jika dibandingkan dengan masyarakat di desa kami. Usahanya memproduksi dan menjual bakpia. Mereka beragama Islam dan tetap melaksanakan salat.
Namun, menurut cerita keluarga dan orang-orang sekitar, mereka sering melakukan ritual pesugihan di Gunung Kawi dan juga mengadakan ritual tertentu di rumah. Selain itu, masyarakat sering mengaitkan bahwa hampir setiap beberapa waktu ada karyawan yang meninggal secara tiba-tiba, lalu menghubungkannya dengan ritual tersebut.
Bagaimana hukum pesugihan dalam Islam? Apakah orang yang tetap salat tetapi meminta kekayaan melalui pesugihan termasuk syirik? Benarkah kematian orang lain dapat dipastikan sebagai tumbal pesugihan?
Jawaban
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Dalam ajaran Islam, meminta kekayaan, keselamatan, atau pertolongan kepada selain Allah melalui ritual yang bersifat mistik, meminta bantuan jin, atau melakukan praktik pesugihan adalah perbuatan yang diharamkan. Apabila dalam ritual tersebut terdapat keyakinan bahwa selain Allah memiliki kekuasaan memberi rezeki, maka hal itu dapat termasuk syirik, yaitu dosa terbesar dalam Islam.
Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. An-Nisa’: 48)
Allah juga berfirman:
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kamu menyembah seorang pun di samping Allah.”
(QS. Al-Jinn: 18)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa mendatangi dukun atau tukang ramal lalu membenarkan ucapannya, maka sungguh ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.”
(HR. , dengan riwayat serupa dalam beberapa kitab hadis)
Karena itu, seorang Muslim wajib mencari rezeki dengan cara yang halal, bekerja, berdoa, bertawakal, dan tidak menggantungkan harapan kepada ritual-ritual yang bertentangan dengan tauhid.
Adapun seseorang yang tetap salat tetapi juga melakukan praktik syirik, maka salatnya tidak menjadi pembenaran terhadap perbuatan syirik tersebut. Islam memerintahkan agar ibadah hanya ditujukan kepada Allah semata.
Mengenai anggapan bahwa ada karyawan yang meninggal sebagai “tumbal pesugihan”, Islam tidak mengajarkan menetapkan hubungan sebab-akibat seperti itu tanpa bukti yang sah. Kematian setiap manusia telah ditetapkan oleh Allah.
Allah berfirman:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)
Oleh karena itu, kita tidak boleh memastikan bahwa kematian seseorang disebabkan oleh pesugihan hanya berdasarkan cerita, dugaan, atau keyakinan masyarakat. Jika memang terjadi tindak pidana atau kematian yang mencurigakan, hal itu harus dibuktikan melalui penyelidikan dan proses hukum, bukan dengan prasangka.
Sikap yang benar adalah:
- Menjaga kemurnian tauhid dan tidak melakukan pesugihan atau ritual yang mengandung kesyirikan.
- Mencari rezeki dengan usaha yang halal dan bertawakal kepada Allah.
- Menasihati keluarga dengan hikmah dan kelembutan agar meninggalkan praktik yang bertentangan dengan ajaran Islam.
- Tidak menuduh adanya “tumbal” atau mengaitkan kematian seseorang dengan pesugihan tanpa bukti yang jelas.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga kita semua dari segala bentuk syirik, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, serta memberikan rezeki yang halal, berkah, dan penuh keberkahan.
Wallahu a’lam bish-shawab.













Leave a Reply