MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

AJAKAN KEMBALI KEPADA MANHAJ SALAF OLEH PROF. DIN SYAMSUDDIN: Sebuah Sumbangsih Pemikiran bagi Penguatan Manhaj Tarjih Muhammadiyah

AJAKAN KEMBALI KEPADA MANHAJ SALAF OLEH PROF. DIN SYAMSUDDIN: Sebuah Sumbangsih Pemikiran bagi Penguatan Manhaj Tarjih Muhammadiyah

Abstrak

Perkembangan pemikiran Islam kontemporer menghadirkan berbagai pendekatan metodologis dalam memahami ajaran agama. Di lingkungan Muhammadiyah, diskursus mengenai epistemologi Islam, termasuk pendekatan bayani, burhani, dan irfani yang dipopulerkan Muhammad Abid al-Jabiri, turut memengaruhi pengembangan Manhaj Tarjih. Dalam sebuah diskusi publik, Prof. Dr. Din Syamsuddin mengemukakan pentingnya kembali kepada manhaj salaf sebagai upaya memperkuat fondasi pemikiran Islam dan menjawab tantangan perpecahan umat. Artikel ini bertujuan mengkaji gagasan tersebut secara ilmiah dengan menempatkannya dalam konteks sejarah Muhammadiyah, literatur tafsir kontemporer, serta dinamika metodologi pemikiran Islam modern. Kajian ini menunjukkan bahwa ajakan kembali kepada manhaj salaf dapat dipahami sebagai usaha menguatkan orientasi Al-Qur’an dan Sunnah dengan merujuk kepada pemahaman generasi awal Islam, tanpa harus menafikan rasionalitas maupun perkembangan ilmu pengetahuan.

Pendahuluan

Muhammadiyah sejak kelahirannya dikenal sebagai gerakan tajdid yang berupaya melakukan pemurnian akidah sekaligus pembaruan dalam kehidupan umat. Gerakan ini menempatkan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber utama ajaran Islam, disertai semangat ijtihad dalam menjawab persoalan-persoalan kontemporer. Dalam perkembangannya, Muhammadiyah juga terlibat aktif dalam diskursus intelektual modern melalui pengembangan metodologi tarjih dan pendekatan multidisipliner dalam memahami agama.

Di tengah kompleksitas pemikiran Islam dewasa ini, muncul kembali seruan untuk memperkuat orientasi kepada manhaj salaf. Salah satu tokoh yang mengemukakan gagasan tersebut adalah Prof. Dr. Din Syamsuddin. Dalam sebuah diskusi bersama Kiai Cepu yang juga dihadiri Prof. Dr. Syamsul Anwar selaku Ketua PP Muhammadiyah, beliau menegaskan bahwa kembali kepada manhaj salaf dapat menjadi salah satu alternatif dalam menghadapi berbagai problem pemikiran dan perpecahan umat Islam. Gagasan ini menarik untuk dikaji karena berkaitan dengan identitas intelektual Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid.

Manhaj Salaf dalam Literatur Tafsir Kontemporer

Salah satu karya penting yang membahas kecenderungan salafi dalam tafsir modern adalah kitab Ittijāhāt at-Tafsīr fī al-‘Aṣr ar-Rāhin karya Dr. Abdul Majid Abdul Salam Al-Muhtasib. Dalam karya tersebut, Al-Muhtasib mengidentifikasi al-ittijāh as-salafī sebagai salah satu corak utama dalam perkembangan tafsir kontemporer.

Ketika membahas tokoh-tokoh yang merepresentasikan pendekatan tersebut, Al-Muhtasib memberikan perhatian khusus kepada Ibnu Qudamah Al-Maqdisi (w. 620 H), terutama melalui karya Dzamm at-Ta’wīl. Karya tersebut membela metode generasi salaf dalam memahami nash Al-Qur’an dan Sunnah, khususnya terkait ayat-ayat sifat, serta mengkritik kecenderungan takwil filosofis yang dianggap melampaui batas.

Menurut pendekatan ini, keselamatan dalam memahami agama terletak pada upaya mengikuti pemahaman Rasulullah ﷺ, para sahabat, tabi’in, dan generasi terbaik umat Islam. Oleh karena itu, manhaj salaf dipandang bukan sekadar identitas kelompok, melainkan metode memahami agama yang memiliki akar historis kuat dalam tradisi Islam.

Muhammadiyah dan Semangat Salafiyah

Secara historis, sejumlah prinsip dasar Muhammadiyah menunjukkan kedekatan dengan semangat salafiyah. KH Ahmad Dahlan mengajak umat untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, membersihkan akidah dari syirik, takhayul, dan khurafat, menolak taklid buta, serta menghidupkan kembali semangat ijtihad.

Selain itu, keteladanan generasi sahabat sebagai generasi terbaik umat juga menjadi salah satu inspirasi dalam gerakan pembaruan Muhammadiyah. Prinsip-prinsip tersebut memiliki titik temu dengan karakteristik manhaj salaf sebagaimana dijelaskan dalam berbagai literatur klasik maupun kontemporer.

Dalam konteks inilah, ajakan Prof. Din Syamsuddin dapat dipahami bukan sebagai upaya menghadirkan gagasan baru yang asing bagi Muhammadiyah, melainkan sebagai pengingat terhadap akar historis dan identitas intelektual gerakan tersebut.

Bayani, Burhani, Irfani dan Tantangan Metodologis

Dalam perkembangan akademik Islam modern, konsep bayani, burhani, dan irfani yang dipopulerkan Muhammad Abid al-Jabiri memperoleh perhatian luas. Pendekatan ini berusaha memetakan struktur epistemologi dalam sejarah intelektual Islam melalui tiga corak nalar yang berbeda.

Sebagian kalangan memandang pendekatan tersebut membantu memperkaya metodologi berpikir umat Islam. Namun, sebagian lainnya mengkritik bahwa konstruksi epistemologi tersebut merupakan produk analisis filosofis manusia yang tidak memiliki otoritas normatif sebagaimana Al-Qur’an dan Sunnah.

Sebaliknya, manhaj salaf menawarkan prinsip-prinsip yang lebih praktis, yaitu memahami Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, memahami Al-Qur’an melalui Sunnah, merujuk kepada pemahaman sahabat, mengutamakan dalil yang sahih, serta mendahulukan wahyu ketika terjadi pertentangan dengan spekulasi rasional yang tidak memiliki dasar yang kuat.

Relevansi Manhaj Salaf bagi Tajdid Muhammadiyah

Kembali kepada manhaj salaf tidak harus dimaknai sebagai penolakan terhadap kemajuan ilmu pengetahuan, rasionalitas, maupun perkembangan zaman. Sebaliknya, manhaj salaf dapat dipahami sebagai upaya menjaga agar seluruh proses ijtihad tetap berpijak pada sumber-sumber otoritatif Islam.

Muhammadiyah dapat terus mengembangkan metodologi tarjih yang adaptif terhadap perubahan sosial, sains, dan teknologi, sembari memastikan bahwa seluruh pengembangannya tetap berakar pada Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman generasi terbaik umat Islam.

Di tengah meningkatnya relativisme pemikiran dan kompleksitas perdebatan metodologis, penguatan identitas sebagai gerakan yang berpegang teguh pada wahyu sekaligus terbuka terhadap ijtihad dapat menjadi salah satu modal penting bagi Muhammadiyah dalam menghadapi tantangan masa depan.

Kesimpulan

Ajakan Prof. Dr. Din Syamsuddin untuk kembali kepada manhaj salaf merupakan sebuah sumbangsih pemikiran yang layak mendapat perhatian dalam diskursus internal Muhammadiyah. Gagasan tersebut tidak perlu dipahami sebagai penolakan terhadap dinamika intelektual modern, melainkan sebagai upaya memperkuat fondasi normatif gerakan tajdid agar tetap berpijak pada Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman generasi awal Islam.

Dengan demikian, dialog antara tradisi salaf, metodologi tarjih, dan perkembangan ilmu pengetahuan modern perlu terus dikembangkan secara konstruktif. Melalui pendekatan tersebut, Muhammadiyah diharapkan mampu mempertahankan identitas keislamannya sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan umat dan peradaban.

Daftar Pustaka

  • Al-Muhtasib, A. M. A. S. (1982). Ittijāhāt at-Tafsīr fī al-‘Aṣr ar-Rāhin. Beirut: Dār al-Fikr.
  • Al-Jabiri, M. A. (1990). Bunyat al-‘Aql al-‘Arabī: Dirāsah Taḥlīliyyah Naqdiyyah li Nuẓum al-Ma’rifah fī al-Thaqāfah al-‘Arabiyyah. Beirut: Markaz Dirāsāt al-Waḥdah al-‘Arabiyyah.
  • Ibnu Qudamah Al-Maqdisi. (t.t.). Dzamm at-Ta’wīl. Beirut: Al-Maktab al-Islami.
  • Nashir, H. (2010). Muhammadiyah Gerakan Pembaruan. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
  • Noer, D. (1980). Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900–1942. Jakarta: LP3ES.
  • Syamsuddin, D. (berbagai pidato dan diskusi publik tentang tajdid dan pemikiran Islam).

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *