EDITORIAL MAB: PALING AWAL DATANG, PALING AKHIR PULANG: Muhammadiyah dan Wajah Islam yang Hadir di Tengah Bencana
Bukan Sekadar Relawan — Ketika Iman Turun ke Jalan dan Kemanusiaan Menjadi Dakwah
Gempa tidak hanya meretakkan dinding dan merobohkan bangunan. Ia juga mengguncang rasa aman, memutus rutinitas, menghadirkan kecemasan, dan meninggalkan kesunyian di hati mereka yang kehilangan. Namun di tengah reruntuhan, selalu ada harapan yang datang melalui manusia. Di Flores, ketika sebagian masyarakat sedang mencari pertolongan, relawan Muhammadiyah melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) hadir membawa tenaga kesehatan, pelayanan, tenda, kepedulian, dan satu pesan sederhana: kalian tidak sendirian. Mereka datang ketika pertolongan sangat dibutuhkan dan bertahan hingga fase tanggap darurat berakhir.
Gempa yang terjadi pada 15 Agustus 2026 memberikan tekanan besar terhadap kehidupan masyarakat dan fasilitas pelayanan kesehatan. Kepala Puskesmas Dampek, Ferni Riwu, mengenang bagaimana tenaga kesehatan setempat berjuang dalam keterbatasan pada 24 jam pertama. Pada hari ketiga, relawan Muhammadiyah datang memberikan dukungan. Ketika bangunan Puskesmas Dampek mengalami kerusakan berat, Muhammadiyah mendirikan Rumah Sakit Lapangan EMT Type 1 Fixed. Di balik kain dan tiang-tiang tenda itu, lahir sebuah ruang pelayanan: tempat orang sakit diperiksa, keluarga mendapatkan pertolongan, dan rasa takut perlahan digantikan oleh keyakinan bahwa masih ada yang peduli.
Tetapi nilai sebuah bantuan tidak selalu dapat dihitung dengan jumlah kardus, obat, atau rupiah. Ada sesuatu yang lebih dalam: hubungan manusia dengan manusia. Camat Lamba Leda Utara, Emilianus Sarjanit, menyampaikan bahwa kehadiran EMT Muhammadiyah telah menjadi bagian dari keluarga masyarakat. Ia mengatakan MDMC telah “menghapus air mata” mereka. Kalimat itu mungkin lebih kuat daripada angka apa pun. Sebab dalam bencana, masyarakat bukan hanya membutuhkan barang; mereka membutuhkan kehadiran, perhatian, sentuhan kemanusiaan, dan seseorang yang bersedia tinggal ketika penderitaan belum selesai.
Dalam ilmu sosial, hubungan seperti ini dapat dipahami melalui konsep modal sosial—kepercayaan, jaringan, norma, solidaritas, dan kemampuan masyarakat untuk bekerja bersama. Sejumlah penelitian kebencanaan di Indonesia menunjukkan bahwa kepercayaan dan jaringan sosial dapat menjadi sumber daya penting dalam membangun ketangguhan masyarakat. Dari sini kita belajar bahwa relawan bukan sekadar orang yang datang membawa bantuan. Mereka juga dapat menjadi jembatan yang mempertemukan tenaga profesional, organisasi, pemerintah, dan masyarakat dalam satu semangat: bangkit bersama.
Kekuatan itu semakin berarti ketika kerelawanan tidak berdiri sendiri. Di belakang seorang relawan terdapat jaringan organisasi, pendidikan, tenaga profesional, komunitas, dan kader yang memungkinkan bantuan bergerak lebih cepat dan lebih terarah. Pengalaman Muhammadiyah melalui MDMC memperlihatkan bagaimana nilai keagamaan dapat bertemu dengan manajemen kebencanaan, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan penguatan masyarakat. Di sinilah organisasi kemasyarakatan menemukan salah satu fungsi sosialnya: bukan hanya berbicara tentang kepedulian, tetapi mengorganisasi kepedulian agar menjadi kekuatan nyata.
Islam pun memiliki bahasa yang sangat sederhana untuk semua itu: ta’awun—saling menolong dalam kebaikan. Iman tidak selalu hadir dalam mimbar yang tinggi atau kata-kata yang indah. Kadang ia hadir dalam langkah seorang dokter menuju tenda pasien, dalam tangan relawan yang mengangkat perlengkapan, dalam seseorang yang memberikan makanan kepada keluarga terdampak, atau dalam orang yang duduk menemani mereka yang sedang kehilangan. Ketika iman turun dari kata-kata menjadi tindakan, ketika ibadah melahirkan kepedulian, di sanalah agama menghadirkan wajah sosialnya.
Semangat itu bukan sesuatu yang asing dalam sejarah Muhammadiyah. Sejak awal, gerakan pelayanan sosial Muhammadiyah telah berkembang melalui semangat Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO)—sebuah gagasan bahwa agama harus hadir menjawab penderitaan manusia. Dalam konteks kebencanaan modern, semangat tersebut menemukan bentuk baru melalui kerja kemanusiaan, pelayanan kesehatan, mitigasi bencana, pendidikan, dan penguatan masyarakat. Maka relawan bukan hanya membawa identitas organisasi; mereka membawa sebuah tradisi panjang bahwa amal saleh harus mempunyai jejak di tengah kehidupan manusia.
Karena itu, kehadiran ormas keagamaan dalam kebencanaan bukan untuk menggantikan pemerintah, melainkan memperkuat ekosistem kemanusiaan. Negara memiliki kewajiban dan perangkatnya; masyarakat memiliki kekuatan gotong royong; tenaga profesional memiliki keahlian; sementara organisasi sosial-keagamaan memiliki jaringan, relawan, dan kedekatan dengan komunitas. Ketika semuanya bergerak bersama, pertolongan menjadi lebih luas. Bencana mengajarkan satu hal: dalam menghadapi penderitaan, yang dibutuhkan bukan siapa yang paling menonjol, tetapi berapa banyak tangan yang bersedia bekerja bersama.
Ketika EMT Muhammadiyah akhirnya ditarik, kisahnya ternyata belum selesai. Ketua PP Muhammadiyah, dr. Agus Taufiqurrahman, menegaskan bahwa penarikan tim tanggap darurat bukan akhir pendampingan. Perhatian akan dilanjutkan melalui rehabilitasi dan penguatan masyarakat tangguh bencana. Dukungan juga diarahkan kepada jaringan Muhammadiyah di sejumlah wilayah NTT. Sebab sebuah tenda memang memiliki waktunya untuk berdiri dan waktunya untuk dibongkar. Tetapi kepedulian tidak semestinya memiliki tanggal kedaluwarsa.
Ada kalimat dari Ketua PWM NTT Mukhsin Masri yang terasa begitu sederhana sekaligus dalam: “Tendanya saja dibongkar, tetapi mungkin perhatiannya terus.” Di situlah hakikat kemanusiaan menemukan maknanya. Tenda dapat dilipat. Ambulans dapat meninggalkan lokasi. Relawan dapat kembali ke rumah. Tetapi masyarakat masih harus melanjutkan hidup: membangun kembali rumah, memulihkan ekonomi, menyembuhkan luka psikologis, menghidupkan sekolah, memperbaiki fasilitas, dan menata masa depan. Karena itu, setelah tanggap darurat berakhir, pekerjaan kemanusiaan justru memasuki babak yang berbeda: membantu manusia kembali berdiri dengan kekuatannya sendiri.
Dalam pemulihan bencana, masyarakat bukan sekadar penerima bantuan. Mereka adalah subjek yang memiliki pengalaman, pengetahuan lokal, jaringan sosial, dan kemampuan untuk bangkit. Pendekatan psikososial berbasis komunitas juga menempatkan keluarga, tokoh masyarakat, guru, tenaga kesehatan, penyintas, dan komunitas sebagai bagian penting dalam proses pemulihan. Sebab luka akibat bencana tidak semuanya terlihat. Ada rumah yang roboh di hadapan mata, tetapi ada pula rasa takut yang diam-diam menetap di dalam jiwa. Maka membangun kembali Flores bukan hanya soal mendirikan bangunan, tetapi juga mengembalikan rasa aman, martabat, harapan, dan keberanian untuk menatap hari esok.
Flores kemudian memberikan pelajaran yang melampaui nama sebuah organisasi. Bencana tidak bertanya siapa agamamu, dari organisasi mana engkau berasal, atau apa latar belakangmu. Ketika seorang anak ketakutan, ia membutuhkan pelukan. Ketika seorang ibu sakit, ia membutuhkan pengobatan. Ketika sebuah keluarga kehilangan rumah, mereka membutuhkan pertolongan. Dalam keadaan seperti itu, kemanusiaan menjadi bahasa yang tidak membutuhkan penerjemah. Ia dipahami melalui tindakan: tangan yang terulur, kaki yang melangkah, hati yang peduli.
Maka “paling awal datang, paling akhir pulang” bukan sekadar ungkapan tentang waktu. Ia adalah gambaran tentang kesediaan untuk hadir ketika orang lain membutuhkan. Relawan Muhammadiyah datang bukan untuk mencari tepuk tangan; mereka datang karena di sana ada manusia yang sedang menghadapi ujian. Dan ketika tenda akhirnya dibongkar, semoga yang tertinggal bukan hanya jejak tiang di tanah, tetapi jejak kebaikan di hati masyarakat. Sebab pada akhirnya, dakwah tidak selalu harus terdengar dari pengeras suara. Kadang dakwah berjalan dengan kaki, menyembuhkan dengan tangan, menguatkan dengan senyum, dan berbicara melalui pengorbanan.
Barangkali inilah wajah Islam yang paling mudah dipahami siapa pun: iman yang menjadi kepedulian, ilmu yang menjadi pelayanan, dan amal yang menjadi harapan. Di Flores, sebuah tenda mungkin telah berdiri lalu dibongkar. Namun kisahnya mengajarkan bahwa ketika manusia jatuh, selalu ada kewajiban moral untuk mengulurkan tangan. Ketika air mata mengalir, ada kemuliaan dalam menghapusnya. Dan ketika kehidupan mulai runtuh, agama seharusnya hadir bukan sekadar untuk menjelaskan kesabaran, tetapi ikut menanam kembali harapan. Karena bisa jadi, dakwah terbaik bukanlah suara yang paling keras—melainkan kehadiran yang paling tulus ketika sesama sedang berada di titik paling sulit dalam hidupnya. (DrWJped)















Leave a Reply