MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Kelalaian Orang Tua sebagai Faktor Kerusakan Anak: Perspektif Pendidikan Islam Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyyah

Kelalaian Orang Tua sebagai Faktor Kerusakan Anak: Perspektif Pendidikan Islam Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyyah

Dr Widodo Judarwanto, pediatrician

Kerusakan moral dan spiritual anak sering kali disandarkan pada pengaruh lingkungan, teknologi, dan zaman. Namun, ulama klasik Islam seperti Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menegaskan bahwa faktor utama kerusakan anak justru berakar pada kelalaian orang tua dalam menjalankan amanah pendidikan. Artikel ini bertujuan menganalisis pandangan Ibnu Qayyim mengenai tanggung jawab orang tua terhadap pembentukan karakter anak, dengan merujuk pada karya-karya utamanya seperti Tuhfatul Maudūd bi Ahkām al-Maulūd dan Miftāḥ Dār as-Sa‘ādah. Kajian ini juga dikaitkan dengan temuan jurnal ilmiah modern dalam bidang psikologi perkembangan dan pendidikan keluarga. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-analitis. Hasil kajian menunjukkan bahwa konsep pendidikan anak menurut Ibnu Qayyim memiliki relevansi kuat dengan teori parenting modern, khususnya terkait dampak pengabaian orang tua terhadap kerusakan perilaku anak.

Kata kunci: Ibnu Qayyim, pendidikan anak, kelalaian orang tua, parenting Islam, kerusakan moral.

Pendidikan anak dalam Islam bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Al-Qur’an menegaskan kewajiban orang tua untuk menjaga diri dan keluarganya dari kebinasaan (QS. At-Tahrim: 6). Dalam konteks ini, ulama Islam klasik memberikan perhatian serius terhadap peran orang tua dalam pembentukan kepribadian anak.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (691–751 H), murid utama Ibnu Taimiyah, termasuk ulama yang paling tajam mengkritik kelalaian orang tua. Ia menegaskan bahwa banyak anak tumbuh dalam kerusakan akhlak dan agama bukan karena fitrah mereka yang rusak, tetapi karena orang tua yang mengabaikan pendidikan iman dan adab sejak dini.

Konsep Anak dan Amanah Pendidikan Menurut Ibnu Qayyim

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menempatkan anak sebagai amanah ilahi yang lahir dalam keadaan fitrah yang lurus dan siap menerima kebenaran. Dalam Tuhfatul Maudūd bi Ahkām al-Maulūd, ia menegaskan bahwa kondisi awal anak bersih dari penyimpangan, sehingga arah pertumbuhan akhlak dan keimanannya sangat ditentukan oleh pola asuh orang tua. Dengan demikian, anak bukan sekadar tanggung jawab biologis, tetapi merupakan titipan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Lebih jauh, Ibnu Qayyim menyatakan bahwa kerusakan pada anak pada umumnya tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi dari kelalaian pendidikan yang berlangsung sejak dini. Ia bahkan menyebut pengabaian pendidikan anak sebagai salah satu bentuk kezaliman terbesar orang tua terhadap anaknya. Kezaliman ini bersifat jangka panjang, karena dampaknya tidak hanya terlihat pada masa kanak-kanak, tetapi berlanjut hingga dewasa, bahkan berpengaruh pada kehidupan akhirat.

Menurut Ibnu Qayyim, pendidikan anak harus dimulai sejak usia paling awal, sebelum karakter dan kebiasaan buruk mengakar kuat. Penanaman tauhid, pengenalan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta pembiasaan ibadah dan akhlak mulia merupakan fondasi utama pendidikan Islam. Ia menekankan bahwa masa kanak-kanak adalah fase paling strategis untuk membentuk jiwa, karena hati anak masih lembut dan mudah diarahkan kepada kebaikan.

Sebaliknya, ketika orang tua bersikap cuek, terlalu sibuk dengan urusan dunia, atau menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada lingkungan tanpa pengawasan, maka anak akan tumbuh tanpa kompas nilai yang jelas. Ibnu Qayyim mengingatkan bahwa lingkungan yang tidak dikawal dengan nilai iman dapat merusak fitrah anak, meskipun anak tersebut terlahir dalam keadaan suci. Dalam kondisi ini, orang tua menjadi sebab utama terjadinya penyimpangan moral dan spiritual anak.

Pada akhirnya, konsep pendidikan anak menurut Ibnu Qayyim menegaskan bahwa keberhasilan atau kegagalan anak bukanlah semata-mata takdir, melainkan hasil dari amanah yang dijalankan atau diabaikan oleh orang tua. Pendidikan yang berlandaskan tauhid, keteladanan, dan kedekatan emosional merupakan kunci menjaga fitrah anak tetap lurus. Pemikiran ini menunjukkan kedalaman visi Ibnu Qayyim dalam memandang pendidikan sebagai investasi dunia dan akhirat yang tidak boleh disepelekan.

Kelalaian Orang Tua sebagai Sebab Kerusakan Anak

Ibnu Qayyim secara tegas menyebutkan bahwa banyak orang tua menjadi sebab utama rusaknya anak-anak mereka, baik di dunia maupun di akhirat. Dalam Miftāḥ Dār as-Sa‘ādah, ia menulis bahwa orang tua yang tidak mengajarkan agama, tidak melatih adab, dan tidak membiasakan disiplin syariat telah menyiapkan anaknya menuju kebinasaan secara perlahan.

Menurutnya, bentuk kelalaian orang tua meliputi: tidak mengajarkan shalat sejak dini, membiarkan anak tumbuh tanpa pengawasan moral, serta tidak menjadi teladan yang baik. Kerusakan ini pada akhirnya berbalik kepada orang tua sendiri, berupa kedurhakaan anak dan penyesalan yang terlambat.

10 contoh kelalaian orang tua dalam kehidupan sehari-hari yang dijelaskan selaras dengan peringatan Ibnu Qayyim رحمه الله dalam Miftāḥ Dār as-Sa‘ādah, ditulis dengan bahasa akademik-aplikatif:

Kelalaian Orang Tua sebagai Sebab Kerusakan Anak (Contoh Sehari-hari)

  1. Tidak membiasakan shalat sejak usia dini, bahkan membiarkan anak meninggalkan shalat dengan alasan “masih kecil”, padahal pembiasaan ibadah sejak awal adalah fondasi ketaatan.
  2. Memberi gawai tanpa batas dan pengawasan, sementara orang tua abai terhadap konten yang dikonsumsi anak, sehingga nilai dan akhlak anak dibentuk oleh media, bukan oleh iman.
  3. Menuntut prestasi akademik tetapi mengabaikan adab, sehingga anak cerdas secara intelektual namun miskin akhlak dan empati sosial.
  4. Bersikap kasar atau emosional di hadapan anak, lalu menuntut anak berakhlak lembut, tanpa menyadari bahwa teladan lebih kuat daripada nasihat.
  5. Tidak mengajarkan adab dasar Islami, seperti adab berbicara, makan, berpakaian, dan menghormati orang lain, sehingga anak tumbuh tanpa etika sosial yang jelas.
  6. Membiarkan anak bergaul tanpa seleksi lingkungan, tanpa arahan nilai agama, hingga anak menyerap kebiasaan buruk dari teman dan lingkungan sekitar.
  7. Jarang meluangkan waktu untuk dialog dan nasihat, karena sibuk bekerja atau dengan urusan pribadi, sehingga anak mencari perhatian dan rujukan nilai dari luar rumah.
  8. Tidak memperkenalkan Al-Qur’an secara rutin, baik melalui tilawah, hafalan, maupun tadabbur sederhana, sehingga Al-Qur’an terasa asing dalam kehidupan anak.
  9. Menormalisasi kebohongan kecil, seperti menyuruh anak berbohong demi kenyamanan orang tua, yang perlahan merusak integritas dan kejujuran anak.
  10. Menunda nasihat hingga anak bermasalah, lalu marah ketika anak telah sulit diarahkan, padahal kelalaian pendidikan telah berlangsung lama tanpa disadari.

Contoh-contoh ini menegaskan peringatan Ibnu Qayyim bahwa kerusakan anak bukanlah peristiwa mendadak, melainkan hasil dari kelalaian yang terus-menerus. Pendidikan yang diabaikan hari ini akan menjadi penyesalan di masa depan, baik bagi anak maupun orang tua.

Relevansi dengan Temuan Jurnal Ilmiah Kontemporer

Pemikiran Ibnu Qayyim mengenai kelalaian orang tua dalam pendidikan anak menunjukkan keselarasan yang kuat dengan hasil penelitian modern dalam bidang psikologi perkembangan dan pendidikan keluarga. Berbagai jurnal ilmiah kontemporer mengungkap bahwa parental neglect atau pengabaian peran orang tua berhubungan signifikan dengan munculnya perilaku menyimpang pada anak, seperti rendahnya kemampuan pengendalian diri, gangguan regulasi emosi, serta lemahnya internalisasi nilai moral dan religius. Temuan ini menguatkan pandangan Ibnu Qayyim bahwa kerusakan anak bukan disebabkan oleh fitrah, melainkan oleh kegagalan lingkungan terdekat dalam menjalankan fungsi pendidikan.

Lebih lanjut, studi yang dipublikasikan dalam Journal of Child Psychology and Psychiatry menegaskan bahwa kurangnya keterlibatan emosional orang tua berdampak langsung pada perkembangan psikologis anak, termasuk meningkatnya risiko perilaku agresif, kecemasan, dan gangguan perilaku. Sementara itu, Journal of Family Studies menyoroti bahwa absennya bimbingan moral dan keteladanan orang tua berkontribusi terhadap kecenderungan anak mengalami krisis identitas, kecanduan perilaku, serta kesulitan membangun relasi sosial yang sehat.

Keseluruhan temuan ilmiah tersebut menunjukkan bahwa gagasan Ibnu Qayyim bersifat lintas zaman dan memiliki validitas empiris yang kuat. Konsep pendidikan berbasis keterlibatan, keteladanan, dan pembinaan nilai yang ia tekankan sejalan dengan paradigma parenting modern yang menempatkan orang tua sebagai aktor utama dalam pembentukan kepribadian anak. Dengan demikian, pemikiran Ibnu Qayyim tidak hanya relevan secara teologis, tetapi juga terkonfirmasi oleh kajian ilmiah kontemporer.

Implikasi Pendidikan Islam

Pandangan Ibnu Qayyim menegaskan bahwa pendidikan anak dalam Islam tidak boleh bersifat reaktif—baru bergerak ketika masalah muncul—melainkan harus proaktif, terencana, dan berkesinambungan sejak usia dini. Orang tua diposisikan sebagai pendidik utama yang bertanggung jawab langsung atas pembentukan iman, akhlak, dan kepribadian anak, bukan sekadar sebagai pemenuh kebutuhan materi. Dalam kerangka ini, kelalaian mendidik anak tidak hanya dipandang sebagai kegagalan sosial atau psikologis, tetapi juga sebagai pelanggaran amanah yang bernilai dosa secara syar‘i.

Implikasi berikutnya adalah perlunya revitalisasi pola parenting Islami yang berorientasi pada keteladanan dan keterlibatan emosional orang tua. Ibnu Qayyim menekankan bahwa nasihat tanpa teladan akan kehilangan pengaruhnya, sementara kedekatan emosional menjadi pintu masuk efektif bagi internalisasi nilai. Konsistensi antara ucapan dan perbuatan orang tua berperan penting dalam membentuk stabilitas moral anak, sehingga pendidikan tidak berhenti pada instruksi, tetapi terwujud dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh, pendidikan Islam menuntut peneguhan tauhid dan adab sebagai fondasi utama sebelum aspek akademik dan keterampilan duniawi dikembangkan. Ibnu Qayyim memandang bahwa ilmu dan kecakapan tanpa landasan iman berpotensi melahirkan kecerdasan yang kering dari nilai. Oleh karena itu, sistem pendidikan Islam idealnya menempatkan pembinaan spiritual dan akhlak sebagai prioritas, agar anak tumbuh menjadi pribadi yang seimbang antara kecerdasan intelektual, kematangan emosional, dan keteguhan moral.

Kesimpulan

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah secara tegas menyatakan bahwa kerusakan anak pada hakikatnya merupakan cerminan dari kelalaian orang tua dalam menjalankan amanah pendidikan. Pemikirannya, yang bersumber dari Al-Qur’an, sunnah, dan realitas sosial, terbukti relevan dengan temuan ilmiah modern. Oleh karena itu, solusi atas krisis moral generasi tidak dapat dilepaskan dari perbaikan kualitas parenting Islami yang bertanggung jawab, sadar amanah, dan berorientasi akhirat.

Daftar Pustaka 

  • Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Tuhfatul Maudūd bi Ahkām al-Maulūd. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
  • Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Miftāḥ Dār as-Sa‘ādah. Beirut: Dār Ibn Kathīr.
  • Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. I‘lām al-Muwaqqi‘īn. Beirut: Dār al-Jīl.
  • Baumrind, D. (1991). The influence of parenting style on adolescent competence. Journal of Early Adolescence.
  • Lamb, M. E. (2012). Parenting and child development. Journal of Family Psychology.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *