MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Anak Dibully: Melawan atau Diam? Perspektif Islam dan Psikologi Modern

Anak Dibully: Melawan atau Diam? Perspektif Islam dan Psikologi Modern

Abstrak

Bullying merupakan salah satu bentuk kekerasan yang memiliki dampak panjang terhadap perkembangan emosi, sosial, dan spiritual anak. Pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah anak yang mengalami bullying harus melawan atau diam? Artikel ini membahas definisi bullying, dampaknya menurut penelitian ilmiah terbaru, serta panduan Islam yang menekankan kehormatan diri, larangan berbuat zalim, dan kewajiban mencegah kezaliman dengan cara bijak. Selain itu, artikel ini menguraikan pandangan psikologi modern tentang respons adaptif terhadap kekerasan, termasuk strategi assertiveness, seeking help, dan emotional regulation. Di bagian akhir, artikel memberikan lima pesan praktis bagi orang tua untuk membekali anak menghadapi bullying dengan cara yang sehat, Islami, dan terbukti oleh ilmu pengetahuan.

Bullying menjadi masalah global yang semakin meningkat pada anak dan remaja, baik di sekolah, lingkungan bermain, maupun dunia digital. Berbagai laporan lembaga internasional seperti WHO, UNICEF, dan UNESCO menunjukkan bahwa bullying dapat mempengaruhi kesehatan mental, prestasi akademik, dan kualitas hidup jangka panjang. Di Indonesia, fenomena ini masih sering dianggap hal sepele atau sebagai bagian dari proses pendewasaan, padahal bullying merupakan bentuk kezaliman yang berbahaya.

Dalam kehidupan sehari-hari, anak yang menjadi korban bullying sering bingung: apakah harus diam, melawan, membalas, melapor, atau menghindar? Tanpa bimbingan, anak bisa memilih respons yang salah, entah menjadi terlalu agresif atau terlalu pasif. Dalam Islam dan sains psikologi modern, terdapat panduan jelas yang dapat membantu keluarga menangani masalah ini secara bijak.

Bullying dan Dampaknya

Bullying adalah tindakan agresif yang dilakukan secara berulang dengan tujuan menyakiti orang lain, disertai ketidakseimbangan kekuatan fisik, sosial, atau psikologis. Bentuknya beragam, mulai dari bullying fisik seperti memukul atau menendang, bullying verbal seperti menghina atau mengejek, bullying sosial berupa pengucilan, hingga cyberbullying yang dilakukan lewat media digital. Bentuk-bentuk ini tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi biasanya berkembang dari pola interaksi yang tidak sehat.

Dampak bullying sangat serius dan dapat berlangsung jangka panjang. Anak yang dibully mengalami peningkatan stres, kecemasan, gangguan tidur, rasa takut pergi ke sekolah, serta penurunan kepercayaan diri. Penelitian menunjukkan bahwa trauma bullying dapat mengubah perkembangan otak remaja, khususnya pada area yang berkaitan dengan regulasi emosi dan respon terhadap ancaman. Ini sebabnya korban bullying sering sulit fokus belajar, mudah marah, dan menarik diri dari lingkungan.

Dalam jangka panjang, bullying dapat meningkatkan risiko depresi, self-harm, hingga suicidal ideation. Anak yang mengalami perundungan secara berulang dapat membawa luka psikologis hingga dewasa, bahkan mempengaruhi cara mereka membangun hubungan sosial. Oleh karena itu, bullying bukan hanya masalah kecil, tetapi ancaman nyata bagi kesejahteraan spiritual, mental, dan sosial anak.

Pandangan Islam tentang Anak yang Dibully 

Islam menekankan larangan keras terhadap perbuatan zalim. Rasulullah ﷺ bersabda: “Seorang Muslim tidak boleh membahayakan dan tidak boleh saling membahayakan.” (HR. Ibn Mājah). Ini menunjukkan bahwa bullying adalah bentuk kezaliman yang haram, dan anak harus diajarkan untuk tidak membiarkan dirinya dizalimi. Namun, Islam juga mengajarkan untuk menghadapi kezaliman dengan hikmah, bukan dengan balas dendam.

Dalam Islam, jika seorang anak disakiti, ia diperbolehkan membela diri tanpa melewati batas. Allah ﷻ berfirman: “Barang siapa membela diri setelah dizalimi, maka tidak ada dosa atas mereka.” (QS. Asy-Syūrā: 41). Ayat ini menjadi dasar bahwa melawan dalam konteks pembelaan diri adalah tindakan yang diperbolehkan, selama tidak melampaui batas atau berniat menyakiti secara berlebihan.

Namun Islam juga sangat menekankan cara-cara damai, seperti melaporkan kepada guru/orang dewasa, menghindari tempat rawan, serta mengajak pelaku ke jalan kebaikan bila memungkinkan. Rasulullah ﷺ merupakan teladan dalam menyelesaikan konflik dengan lembut, bukan dengan kekerasan membabi buta. Anak perlu diajarkan untuk memilih langkah yang paling aman dan paling sesuai dengan nilai ihsan.

Terakhir, Islam mengajarkan konsep amar ma’ruf nahi munkar. Jika anak melihat temannya dibully, ia dianjurkan untuk mencegah dengan kekuatan (bila aman), dengan lisan (melapor), atau setidaknya dengan hati (tidak setuju dan tidak ikut). Ini mendorong lahirnya generasi pemberani yang adil, bukan pasif atau agresif tanpa kendali.

Pandangan Psikologi Modern 

Psikologi menekankan bahwa respons terbaik terhadap bullying bukanlah diam total atau melawan secara agresif, tetapi assertiveness—sikap tegas namun tetap tenang. Anak diajarkan untuk berkata “stop”, menjaga gesture tubuh yang kuat, dan berani menjauh dari sumber bahaya. Teknik ini terbukti mengurangi peluang anak menjadi target empuk bagi pelaku.

Jika situasi membahayakan, psikologi menyarankan seeking help, yaitu mencari bantuan dari guru, konselor sekolah, orang tua, atau teman tepercaya. Penelitian menunjukkan bahwa anak yang melapor lebih cepat pulih daripada anak yang memendam sendiri. Melaporkan bukan berarti lemah, tetapi bentuk keberanian dan strategi bertahan hidup.

Psikologi juga menekankan pentingnya social support. Anak yang memiliki teman dekat, komunitas positif, dan hubungan hangat di keluarga cenderung lebih tahan terhadap stres bullying. Hubungan yang aman membantu otak anak memproduksi hormon yang menenangkan, seperti oksitosin, sehingga mengurangi dampak trauma.

Pendekatan modern juga mendorong emotional regulation, seperti teknik pernapasan, mindfulness, dan reframing. Anak diajarkan bahwa direndahkan tidak berarti dirinya rendah. Menguatkan identitas positif adalah kunci agar anak tidak hancur mental saat dibully.

Pesan Orang Tua kepada Anak: Apa yang Harus Dilakukan? 

  • Pertama, orang tua harus berkata kepada anak: “Kamu berharga dan tidak pantas disakiti siapa pun.” Tanpa keyakinan ini, anak cenderung pasrah dan diam ketika dibully. Kekuatan mental dimulai dari fondasi harga diri yang sehat.
  • Kedua, ajarkan anak untuk tegas tanpa kasar. Katakan pada anak bahwa bila ada teman yang jahil, ia boleh mengatakan: “Aku nggak suka. Berhenti.” Ini bukan tindakan kasar, tetapi cara menghentikan perilaku negatif secara asertif.
  • Ketiga, orang tua harus melatih anak untuk melapor tanpa takut dianggap pengecut. Tekankan bahwa mencari bantuan adalah bagian dari keberanian. Anak harus tahu bahwa guru, ustaz, atau keluarga adalah tempat aman baginya.
  • Keempat, biasakan anak menjauhi lingkungan yang buruk. Islam menganjurkan berteman dengan orang baik, dan psikologi modern membuktikan bahwa anak yang punya lingkaran pertemanan positif lebih terlindungi dari bullying.
  • Kelima, tanamkan pada anak sikap tidak membalas dengan niat menyakiti, tetapi boleh melawan secukupnya untuk membela diri bila terpaksa. Katakan bahwa membela diri itu boleh, tetapi membalas dendam itu dosa dan merusak mental.

Saran 

  1. Sekolah perlu membuat sistem anti-bullying yang jelas, termasuk laporan anonim dan intervensi konselor.
  2. Orang tua harus rutin berdialog dengan anak tentang perasaan mereka di sekolah.
  3. Anak perlu dibekali keterampilan sosial dan regulasi emosi sejak dini.
  4. Lingkungan masjid dan sekolah Islam dapat menjadi pusat edukasi anti-bullying berbasis nilai Qur’an dan hadits.

Kesimpulan

Melawan atau diam saat dibully bukanlah pilihan yang hitam-putih. Islam mengajarkan pembelaan diri yang bijak dan terukur, sementara psikologi modern menekankan assertiveness dan pencarian bantuan. Yang paling penting adalah memastikan anak merasa aman, dihargai, dan didukung oleh keluarga serta sekolah. Dengan pendidikan yang tepat, anak tidak hanya terlindungi dari bullying, tetapi tumbuh menjadi pribadi kuat, lembut, dan berakhlak mulia.

Daftar Pustaka Ilmiah

  • Olweus, D. (2013). School Bullying: Development and Some Important Challenges. Annual Review of Clinical Psychology.
  • American Psychological Association. (2020). Bullying and School Climate Report. APA Press.
  • WHO. (2020). Global Status Report on Violence Against Children. World Health Organization.
  • UNICEF. (2021). Ending Violence in Schools. UNICEF Publications.
  • Kowalski, R. M., & Limber, S. P. (2013). Electronic Bullying Among School-aged Youth. Journal of Adolescent Health.
  • Hinduja, S., & Patchin, J. W. (2015). Bullying Beyond the Schoolyard: Preventing and Responding to Cyberbullying. Sage Publications.
  • Al-Qur’an al-Karim
  • Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim
  • An-Nawawi, Riyadhus Shalihin
  • Shahih al-Bukhari & Shahih Muslim

Author: Dr. Widodo Judarwanto, pediatrician
MAB Masjid Al-Falah Benhil, Jakarta
MAB Teknomedia – Divisi Riset & Publikasi Ilmiah
Bidang Minat Ilmiah: Kesehatan Anak Alergi Anak, Imunologi, Kedokteran Islam, Integrasi Sains & Wahyu.
Korespondensi : masjidalfalahbenhil@gmail, judarwanto@gmail.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *