MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Kurang Menghargai Adab dalam Berbicara: Kajian Islam dan Pendidikan Modern dalam Membentuk Akhlak Remaja

Kurang Menghargai Adab dalam Berbicara: Kajian Islam dan Pendidikan Modern dalam Membentuk Akhlak Remaj

Abstrak

Kurangnya adab dalam berbicara merupakan salah satu masalah akhlak remaja yang semakin menonjol di era modern. Islam menekankan bahwa lisan adalah cermin iman, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari-Muslim). Al-Qur’an juga banyak menekankan pentingnya berkata dengan lembut, santun, dan penuh hikmah. Ulama klasik maupun kontemporer menilai adab berbicara bukan sekadar etika sosial, tetapi bagian dari ibadah yang mencerminkan akhlak seorang Muslim.

Psikologi komunikasi dan pedagogi modern menegaskan bahwa kemampuan berbicara sopan harus ditanamkan sejak dini melalui teladan (role model), latihan, dan lingkungan yang konsisten. Artikel ini mengkaji fenomena kurangnya adab dalam berbicara di kalangan remaja dengan meninjau pandangan Islam, ulama, serta strategi penanganan berbasis pendidikan modern. Dengan pendekatan integratif, diharapkan remaja dapat tumbuh sebagai generasi yang cerdas sekaligus beradab.


Remaja adalah fase kehidupan yang penuh gejolak emosi dan pencarian identitas. Dalam fase ini, kemampuan berbicara dengan adab sering kali terabaikan karena pengaruh lingkungan, pergaulan bebas, atau gaya komunikasi yang ditiru dari media sosial. Akibatnya, muncul kebiasaan berbicara dengan kasar, merendahkan orang lain, atau tanpa mempertimbangkan perasaan lawan bicara. Fenomena ini bukan sekadar masalah sosial, tetapi juga tantangan moral yang berpengaruh pada kehormatan diri remaja sebagai Muslim.

Di sisi lain, Islam memberikan perhatian besar terhadap adab berbicara. Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ menekankan pentingnya menjaga lisan agar senantiasa berkata baik, sopan, dan penuh hikmah. Adab berbicara bahkan dianggap bagian dari iman. Oleh karena itu, fenomena kurangnya adab dalam berbicara harus ditinjau secara serius, baik dari perspektif Islam maupun pendidikan modern, agar generasi muda mampu menginternalisasi nilai-nilai komunikasi yang santun dan berakhlak.

Sikap Buruk Remaja Menurut Islam

Pertama, Al-Qur’an memberikan arahan jelas tentang adab berbicara. QS. Al-Isra: 53 menegaskan: “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (ahsan), sesungguhnya setan menimbulkan perselisihan di antara mereka.” Ayat ini menegaskan bahwa ucapan kasar bukan hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga menjadi pintu masuk godaan setan.

Kedua, Rasulullah ﷺ memberikan teladan luar biasa dalam menjaga lisan. Beliau tidak pernah berkata kotor atau kasar, bahkan terhadap orang yang menentangnya. Hadits riwayat Tirmidzi menyebutkan bahwa salah satu tanda kesempurnaan iman adalah meninggalkan ucapan yang tidak bermanfaat. Imam Nawawi dalam Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa menjaga lisan merupakan salah satu akhlak utama yang harus dilatih sejak dini.

Ketiga, ulama klasik menekankan pentingnya adab berbicara dalam kehidupan seorang Muslim. Ibn Qayyim dalam Madarij as-Salikin menegaskan bahwa ucapan mencerminkan isi hati, dan lisan adalah cermin iman. Ulama kontemporer seperti Syekh Wahbah az-Zuhaili menambahkan bahwa adab berbicara tidak hanya terkait etika, tetapi juga menjadi indikator kualitas akhlak seorang Muslim. Dengan demikian, kurangnya adab dalam berbicara merupakan penyakit moral yang harus segera ditangani.

Tabel 10 Contoh Sehari-hari Kurang Menghargai Adab Berbicara

No Contoh Kurang Adab dalam Berbicara
1 Menyela pembicaraan orang tua atau guru dengan kasar.
2 Menggunakan kata-kata merendahkan teman.
3 Berbicara dengan nada tinggi tanpa alasan jelas.
4 Menghina fisik atau kekurangan orang lain.
5 Menggunakan bahasa kotor dalam percakapan sehari-hari.
6 Menjawab dengan sinis atau meremehkan.
7 Mengabaikan panggilan orang tua dengan acuh.
8 Membantah dengan kata-kata kasar.
9 Mengolok-olok teman di depan orang lain.
10 Menggunakan kata ejekan sebagai panggilan sehari-hari.

Penanganan Menurut Islam

Pertama, Islam menekankan latihan adab sejak kecil. QS. Luqman: 18–19 mengajarkan agar tidak memalingkan wajah dari manusia dengan sombong dan berkata dengan suara rendah. Pendidikan Qur’ani ini melatih remaja agar memahami pentingnya kelembutan dalam berbicara.

Kedua, sunnah Nabi ﷺ menunjukkan teladan nyata. Rasulullah tidak pernah mengucapkan kata kotor, bahkan ketika marah. Orangtua dapat meneladani metode Nabi dalam mendidik, yaitu menegur dengan lemah lembut, penuh kasih, dan tanpa mempermalukan anak.

Ketiga, ulama menekankan pentingnya tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) sebagai dasar memperbaiki lisan. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami’ al-‘Ulum wal-Hikam menegaskan bahwa lisan adalah amanah, dan setiap ucapan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Dengan kesadaran ini, remaja didorong untuk menjaga ucapan mereka.

Keempat, komunitas Muslim juga perlu membiasakan budaya berbicara sopan. Ulama kontemporer menekankan pentingnya membangun lingkungan positif, karena kebiasaan berbicara kasar sering ditiru dari pergaulan. Lingkungan Islami yang sehat akan menjadi benteng moral bagi remaja.

Penanganan Menurut Pendidikan Modern (Psikologi & Pedagogi)

Psikologi komunikasi menilai kurangnya adab berbicara sebagai gejala lemahnya regulasi emosi. Oleh karena itu, remaja perlu dilatih untuk mengendalikan amarah dan mengekspresikan perasaan dengan bahasa yang tepat. Program emotional regulation training dapat menjadi solusi efektif.

Pedagogi modern menekankan pentingnya role modeling. Guru dan orangtua harus konsisten menggunakan bahasa sopan dalam interaksi sehari-hari. Remaja lebih mudah meniru perilaku nyata daripada sekadar mendengar nasihat.

Psikologi perkembangan juga menekankan pentingnya dialog terbuka. Remaja perlu dilibatkan dalam diskusi keluarga, sehingga mereka merasa dihargai dan belajar mengungkapkan pendapat dengan sopan. Pendekatan partisipatif ini mengurangi kecenderungan berbicara kasar.

Selain itu, strategi pedagogis seperti role play atau simulasi percakapan santun efektif diterapkan di sekolah. Dengan latihan berulang, remaja terbiasa memilih kata yang baik, sehingga sopan santun menjadi kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar teori.

Tabel Strategi Penanganan

Perspektif Islam Perspektif Pendidikan Modern
Membaca dan mengamalkan QS. Al-Isra: 53, QS. Luqman: 18–19. Latihan role play percakapan santun.
Meneladani kelembutan lisan Rasulullah ﷺ. Pelatihan regulasi emosi.
Mengingat ancaman buruknya ucapan kasar (hadits). Komunikasi partisipatif dalam keluarga.
Menumbuhkan budaya Islami dalam komunitas. Role model dari guru & orangtua.
Pembiasaan doa agar diberi lisan yang lembut. Penguatan literasi komunikasi positif.

Kesimpulan

Kurangnya adab berbicara pada remaja merupakan masalah serius yang dapat merusak hubungan sosial dan menurunkan kehormatan diri. Islam menegaskan kewajiban menjaga lisan sebagai bagian dari iman, sementara Sunnah Rasulullah ﷺ memberi teladan kelembutan berbicara. Ulama klasik dan kontemporer menekankan bahwa adab berbicara adalah bagian penting dari akhlak seorang Muslim.

Pendidikan modern memandang fenomena ini sebagai bagian dari perkembangan psikologis yang memerlukan latihan regulasi emosi, teladan lingkungan, dan strategi komunikasi positif. Sinergi antara ajaran Islam dan ilmu modern memberikan solusi komprehensif untuk memperbaiki perilaku remaja.

Dengan pembiasaan yang konsisten, remaja dapat tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beradab dalam berbicara. Akhlak mulia ini akan memperkuat keluarga, masyarakat, dan umat.

Saran

Pertama, orangtua perlu menanamkan adab berbicara sejak dini dengan memberi teladan nyata. Kedua, sekolah dan lembaga pendidikan Islam harus mengintegrasikan pendidikan adab ke dalam kurikulum melalui praktik, bukan hanya teori. Ketiga, masyarakat perlu membangun budaya komunikasi positif yang mendorong remaja terbiasa berbicara sopan.

Selain itu, perlu adanya kolaborasi antara ulama, pendidik, dan psikolog dalam memberikan solusi praktis bagi masalah komunikasi remaja. Hal ini penting untuk membentuk generasi Muslim yang beriman, berilmu, dan beradab.

Jika upaya ini dilakukan secara konsisten, maka fenomena kurangnya adab berbicara dapat ditekan, dan remaja akan tumbuh menjadi teladan dalam akhlak lisan sesuai ajaran Islam.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *