MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Cara Dzikir Nabi Muhammad SAW: Berdasarkan Hadits Shahih

Abstrak

Dzikir merupakan inti dari ibadah hati dalam Islam yang diajarkan langsung oleh Rasulullah SAW. Melalui dzikir, seorang hamba terus mengingat Allah dalam setiap waktu dan keadaan. Artikel ini membahas cara dzikir Nabi Muhammad SAW berdasarkan hadits-hadits shahih, penjelasan para ulama dunia, serta bagaimana sebaiknya umat Islam meneladani praktik dzikir tersebut di era modern. Dengan penjelasan ilmiah ini, diharapkan kaum Muslimin dapat lebih memahami dan mengamalkan dzikir sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.

Dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW, dzikir memegang peranan penting sebagai sarana penguatan ruhani, ketenangan hati, serta pengingat akan kebesaran Allah SWT. Dzikir bukan sekadar lafaz di lisan, tetapi merupakan cerminan kesadaran hati yang mendalam kepada Allah. Oleh sebab itu, pemahaman tentang bagaimana Nabi berdzikir menjadi teladan utama bagi umat Islam dalam menapaki jalan spiritual.

Sumber-sumber utama dalam Islam, yaitu Al-Qur’an dan hadits shahih, banyak merekam tata cara Nabi Muhammad SAW dalam berdzikir. Selain itu, para ulama generasi setelahnya juga memperluas penjelasan mengenai dzikir, baik dari sisi fiqh maupun tasawuf. Pemahaman dzikir secara benar sesuai sunnah akan menjaga umat dari praktik bid’ah yang tidak bersumber dari Nabi SAW.

Lafadz dzikir menurut Rasulullah SAW berdasarkan hadits 


  • Dalam banyak hadits shahih, Rasulullah SAW mengajarkan lafadz dzikir yang ringkas namun memiliki keutamaan besar. Salah satu dzikir yang paling utama adalah tahlil: Laa ilaaha illallah (Tiada Tuhan selain Allah). Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah bersabda: “Dzikir yang paling utama adalah Laa ilaaha illallah.” (HR. Muslim no. 2692). Tahlil ini merupakan kalimat tauhid yang menjadi dasar keimanan seorang Muslim dan memiliki pahala yang sangat besar.
  • Selain tahlil, Rasulullah SAW juga menganjurkan membaca tasbih, tahmid, dan takbir setelah shalat. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, beliau bersabda: “Bacalah Subhanallah (33 kali), Alhamdulillah (33 kali), dan Allahu Akbar (34 kali) setelah selesai shalat.” (HR. Bukhari no. 6329; Muslim no. 595). Lafadz dzikir ini sangat dianjurkan sebagai wirid harian karena ringan di lisan, namun berat dalam timbangan amal.
  • Rasulullah SAW juga mengajarkan dzikir istighfar untuk memohon ampunan Allah, sebagaimana sabdanya dalam hadits riwayat Bukhari: “Sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari 70 kali dalam sehari.” (HR. Bukhari no. 6307). Lafadz istighfar yang diajarkan antara lain: Astaghfirullah wa atubu ilaih (Aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya), serta Sayyidul Istighfar yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari no. 6306.
  • Pada waktu pagi dan petang, Rasulullah SAW juga mengajarkan dzikir khusus sebagai benteng dari keburukan. Salah satu dzikirnya: A’udzu bikalimaatillahit-taammaati min syarri maa khalaq (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa yang Dia ciptakan) (HR. Muslim no. 2708). Dzikir ini dibaca tiga kali saat sore, dan siapa yang membacanya, maka tidak akan terkena bahaya hingga pagi.
  • Ketika hendak tidur, Nabi SAW juga membaca dzikir: Bismika Allahumma amuutu wa ahyaa (Dengan nama-Mu ya Allah, aku mati dan hidup) (HR. Bukhari no. 6324). Selain itu, beliau menganjurkan membaca Ayat Kursi (QS. Al-Baqarah: 255) karena akan ada penjagaan dari malaikat hingga pagi. Semua contoh lafadz dzikir ini menunjukkan bagaimana Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk selalu mengingat Allah di setiap kondisi dengan lafadz yang terjaga keasliannya.

Tabel kompilasi lafadz dzikir Nabi Muhammad SAW beserta sumber haditsnya:

No. Lafadz Dzikir Makna Waktu / Kondisi Sumber Hadits
1 Laa ilaaha illallah Tiada Tuhan selain Allah Dzikir utama setiap saat HR. Muslim no. 2692
2 Subhanallah (33x), Alhamdulillah (33x), Allahu Akbar (34x) Maha Suci Allah, Segala Puji bagi Allah, Allah Maha Besar Setelah shalat fardhu HR. Bukhari no. 6329; Muslim no. 595
3 Astaghfirullah wa atubu ilaih Aku mohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya Dzikir harian, setelah berbuat dosa HR. Bukhari no. 6307
4 Sayyidul Istighfar: اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ… Istighfar paling utama Pagi dan petang HR. Bukhari no. 6306
5 A’udzu bikalimaatillahit-taammaati min syarri maa khalaq Aku berlindung dengan kalimat Allah dari kejahatan ciptaan-Nya Dzikir petang dan sebelum tidur HR. Muslim no. 2708
6 Bismika Allahumma amuutu wa ahyaa Dengan nama-Mu ya Allah aku mati dan hidup Sebelum tidur HR. Bukhari no. 6324
7 Ayat Kursi (Al-Baqarah: 255) Keagungan kekuasaan Allah Sebelum tidur, perlindungan dari setan HR. Bukhari no. 2311

Catatan Penting:
Semua dzikir di atas adalah dzikir ma’tsur (yang diajarkan langsung oleh Nabi SAW), sehingga sangat dianjurkan untuk diamalkan setiap hari oleh kaum Muslimin.

Tabel Dzikir Pagi dan Petang Lengkap berdasarkan hadits shahih:


📖 Tabel Dzikir Pagi dan Petang Lengkap Berdasarkan Hadits Shahih

No. Lafadz Dzikir Makna Singkat Jumlah Bacaan Sumber Hadits
1 Ayat Kursi (Al-Baqarah: 255) Perlindungan dan penjagaan Allah 1x HR. Nasa’i, Tirmidzi
2 Surat Al-Ikhlas (Q.S. 112), Al-Falaq (Q.S. 113), An-Naas (Q.S. 114) Perlindungan dari kejahatan 3x HR. Abu Dawud, Tirmidzi
3 Laa ilaaha illallahu wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir. Tauhid & keutamaan besar 100x (boleh 10x) HR. Bukhari no. 3293, Muslim no. 2691
4 Bismillahil ladzi laa yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wa laa fis samaa’i wa huwas sami’ul ‘alim. Perlindungan dari bahaya 3x HR. Abu Dawud, Tirmidzi
5 Radhiitu billahi Rabban, wa bil Islami dina, wa bi Muhammadin Nabiyyan. Keridhaan pada Allah, Islam & Nabi 3x HR. Abu Dawud, Tirmidzi
6 Allahumma inni asbahtu (amsaitu) usy-hiduka wa usy-hidu hamalata ‘arsyika, wa malaaikataka, wa jami’a khalqika annaka Antallahu laa ilaaha illa Anta wahdaka laa syarika Laka wa anna Muhammadan ‘abduka wa rasuluka. Persaksian tauhid 4x HR. Abu Dawud
7 Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’an, wa rizqan thayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan. Memohon ilmu, rezeki & amal diterima 1x HR. Ibn Majah no. 925
8 A’udzu bikalimaatillahit-taammaati min syarri maa khalaq. Perlindungan dari keburukan makhluk 3x HR. Muslim no. 2708
9 Hasbiyallahu laa ilaaha illa Huwa ‘alaihi tawakkaltu wa Huwa Rabbul ‘Arsyil ‘Azhiim. Tawakal kepada Allah 7x HR. Abu Dawud, Tirmidzi
10 Astaghfirullah wa atubu ilaih. Memohon ampunan Allah 100x HR. Muslim no. 2702
11 Ya Hayyu Ya Qayyum, bi rahmatika astaghiits, ashlih li sya’ni kullahu wa laa takilni ilaa nafsi tharfata ‘ayn. Memohon pertolongan & perbaikan urusan 1x HR. Hakim (hasan)

Catatan Penting:

  • Waktu dzikir pagi dimulai sejak setelah Subuh hingga terbit matahari.
  • Waktu dzikir petang dimulai sejak setelah Ashar hingga terbenam matahari.
  • Semua dzikir di atas berasal dari hadits-hadits shahih dan bisa diamalkan secara rutin.

Cara Dzikir Nabi Muhammad SAW Menurut Hadits

  1. Pertama, Nabi Muhammad SAW mengajarkan dzikir yang dimulai sejak bangun tidur. Dalam hadits riwayat al-Bukhari, Rasulullah bersabda: “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan hanya kepada-Nya lah kami kembali.” (HR. Bukhari no. 6312). Dzikir ini menunjukkan bahwa sejak membuka mata, hati Nabi sudah tertuju kepada Allah.
  2. Kedua, Nabi SAW banyak mengajarkan dzikir sesudah shalat. Dalam Shahih Muslim disebutkan: “Barangsiapa membaca setelah setiap shalat: Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 33 kali, kemudian menggenapkan seratus dengan mengucapkan: Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadiir, maka dosa-dosanya diampuni meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR. Muslim no. 597).
  3. Ketiga, dzikir pagi dan petang merupakan amalan harian Nabi SAW. Dalam hadits Tirmidzi, Nabi bersabda: “Barangsiapa membaca di pagi dan sore hari: Hasbiyallahu laa ilaaha illa huwa, ‘alaihi tawakkaltu wa huwa rabbul ‘arsyil adziim, tujuh kali, maka Allah akan mencukupkan kebutuhannya.” (HR. Tirmidzi no. 3571).
  4. Keempat, Nabi Muhammad SAW juga banyak berdzikir dalam perjalanan. Dalam riwayat al-Bukhari: “Apabila Nabi menaiki kendaraan, beliau membaca: Bismillah, kemudian membaca: Subhaanalladzii sakhkhara lanaa haadza wa maa kunnaa lahu muqriniin.” (HR. Bukhari no. 2873).
  5. Kelima, dalam menghadapi kesusahan, Nabi SAW mengajarkan dzikir: “Laa ilaaha illa Anta subhaanaka inni kuntu minaz-zhaalimiin.” (HR. Tirmidzi no. 3505). Ini menunjukkan bagaimana dzikir menjadi pegangan Nabi dalam menghadapi kesulitan.
  6. Keenam, Nabi SAW juga memperbanyak istighfar. Dalam hadits riwayat al-Bukhari, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari no. 6307).
  7. Ketujuh, dzikir sebelum tidur juga diajarkan Nabi SAW. Dalam hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim: “Jika kamu hendak tidur, bacalah Ayat Kursi (QS. Al-Baqarah: 255), maka Allah akan menjaga kamu dan setan tidak akan mendekatimu sampai pagi.” (HR. Bukhari no. 2311).

Penjelasan Ulama Dunia Tentang Dzikir Nabi Muhammad SAW


Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menegaskan bahwa dzikir yang utama adalah yang bersumber langsung dari Rasulullah SAW, baik lafaz maupun tata caranya, tanpa penambahan atau pengurangan. Menurutnya, keutamaan dzikir yang diajarkan Nabi tidak bisa digantikan oleh ijtihad manusia karena telah mencakup keberkahan, makna, dan keistimewaan yang sempurna. Beliau sangat berhati-hati terhadap munculnya inovasi dzikir yang tidak ada tuntunannya dari Nabi.

Syekh Ibn Taimiyyah dalam Al-Wabil ash-Shayyib menyatakan bahwa dzikir adalah makanan hati yang menjaga kesehatan spiritual seorang mukmin. Bila dzikir ditinggalkan, hati menjadi gersang dan gelap, rawan dikuasai bisikan syaitan. Oleh karena itu, ia sangat menganjurkan dzikir pagi dan petang sebagai benteng harian melawan gangguan syaitan, seraya menekankan pentingnya dzikir yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadits.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menekankan bahwa dzikir bukan hanya sekedar melafazkan kalimat tasbih atau takbir, namun intinya terletak pada kehadiran hati dan kesadaran penuh akan kebesaran Allah. Dzikir sejati menurutnya mampu menenangkan jiwa, membersihkan hati dari penyakit rohani, serta memperkuat ikatan seorang hamba dengan Tuhannya secara mendalam.

Syekh Abdullah bin Baz mengingatkan bahwa dzikir terbaik adalah dzikir yang ma’tsur, yaitu dzikir yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadits shahih yang diajarkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Ia mengkritik keras praktik dzikir-dzikir baru hasil kreasi manusia, yang seringkali tanpa dalil syar’i, dan berpotensi mengarahkan umat pada bid’ah dalam ibadah.

Dr. Yusuf Al-Qaradawi dalam Fiqh Adz-Dzikr menjelaskan bahwa dzikir tidak cukup hanya dilafazkan oleh lisan, tetapi harus melibatkan penghayatan hati dan penerapan dalam perilaku sehari-hari. Ia menekankan keseimbangan antara dzikir lisan, dzikir hati, dan dzikir dalam amal perbuatan, sehingga dzikir betul-betul memberikan dampak spiritual dan moral yang menyeluruh bagi seorang Muslim.

Tabel perbandingan pendapat ulama tentang dzikir Nabi Muhammad SAW agar lebih ringkas dan mudah dipahami:

No. Nama Ulama Kitab Pandangan Utama tentang Dzikir
1 Imam An-Nawawi Al-Adzkar Menekankan pentingnya mengikuti lafaz dan tata cara dzikir sesuai ajaran Nabi tanpa tambahan; dzikir Nabi memiliki keutamaan yang tidak dimiliki dzikir hasil ijtihad manusia.
2 Syekh Ibn Taimiyyah Al-Wabil ash-Shayyib Dzikir adalah makanan hati; dzikir menjaga hati tetap hidup; dzikir pagi dan petang menjadi benteng dari syaitan; dzikir harus bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah.
3 Imam Al-Ghazali Ihya Ulumiddin Dzikir bukan sekedar ucapan, tetapi kehadiran hati; dzikir menenangkan batin, membersihkan hati, dan mempererat hubungan hamba dengan Allah.
4 Syekh Abdullah bin Baz (Fatawa beliau) Dzikir terbaik adalah dzikir ma’tsur dari Al-Qur’an dan hadits; menolak dzikir hasil rekayasa tanpa dasar syar’i; mewaspadai bid’ah dalam dzikir.
5 Dr. Yusuf Al-Qaradawi Fiqh Adz-Dzikr Dzikir harus disertai penghayatan hati, bukan sekedar rutinitas; menyeimbangkan dzikir lisan, hati, dan amal; dzikir berdampak pada spiritual dan moral.

Dzikir yang Tidak Sesuai dengan Ajaran Nabi Muhammad SAW Menurut Ulama:


Dalam Islam, dzikir adalah amalan yang sangat utama. Namun, sebagian bentuk dzikir yang berkembang di tengah masyarakat tidak semuanya sesuai dengan tuntunan yang diajarkan Rasulullah SAW. Para ulama telah menegaskan pentingnya menjaga keaslian dan kemurnian dzikir, agar tetap berada dalam koridor syariat. Dzikir yang tidak sesuai dengan ajaran Nabi biasanya ditandai oleh lafaz-lafaz baru, tata cara yang diada-adakan, jumlah hitungan tertentu tanpa dasar, serta keyakinan keutamaan yang tidak memiliki landasan nash.

Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menegaskan bahwa sebaik-baik dzikir adalah yang berasal dari Rasulullah SAW. Ia mengingatkan agar tidak menambah-nambahkan lafaz dzikir yang tidak pernah dicontohkan Nabi. Penambahan lafaz yang tidak pernah diucapkan Rasulullah dikhawatirkan mengarah pada bid’ah dalam beribadah. Dzikir bukan sekadar ucapan, tetapi ibadah yang harus mengikuti ketentuan syariat.

Syekh Ibn Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa menjelaskan bahwa dzikir-dzikir hasil ijtihad manusia yang tidak bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah tidak termasuk dzikir syar’i. Beliau memperingatkan praktik-praktik dzikir berjamaah dengan suara keras secara serempak, atau mengatur irama dan gerakan tertentu yang tidak ada contohnya dari Nabi SAW. Ibn Taimiyyah menyebutnya sebagai bid’ah fi adz-dzikr.

Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menambahkan bahwa dzikir yang dikaitkan dengan keyakinan adanya fadhilah-fadhilah khusus tanpa dalil, seperti dzikir dengan bilangan ribuan tanpa dasar, tergolong amalan yang tidak disyariatkan. Beliau menegaskan bahwa setiap bentuk ibadah harus ada dalilnya, baik dari Al-Qur’an, sunnah, atau ijma’ ulama. Jika tidak ada dalil, maka amalan tersebut tertolak.

Imam Asy-Syathibi dalam Al-I’tisham menyatakan bahwa bid’ah dalam dzikir muncul ketika manusia menambah atau mengubah bentuk dzikir yang telah ditetapkan oleh Nabi SAW. Misalnya, dzikir dengan cara melompat-lompat, bertepuk tangan, menari, atau menyebut asma Allah secara dipotong-potong seperti “Hu.. Hu..” tanpa susunan kalimat yang sempurna, merupakan contoh dzikir yang menyimpang.

Syekh Yusuf Al-Qaradawi dalam Fiqh Adz-Dzikr menegaskan bahwa dzikir adalah ibadah tauqifiyyah, yakni harus mengikuti contoh Rasulullah. Praktik dzikir modern yang bercampur dengan musik, nyanyian, tarian atau zikir massal yang diiringi drum dan alat musik adalah bentuk pengaburan terhadap makna dzikir yang sesungguhnya. Hal ini berpotensi mengalihkan dzikir dari tujuan utamanya yaitu mengingat Allah dengan hati yang khusyuk.

Selain itu, Syekh Abdul Aziz bin Baz menekankan bahayanya dzikir-dzikir yang mengandung unsur syirik kecil atau pengagungan kepada selain Allah. Dzikir yang mengandung permohonan kepada wali, malaikat, atau makhluk lain termasuk dalam kategori dzikir syirik yang sangat berbahaya. Ia mengingatkan umat agar berhati-hati dari ajaran tarekat-tarekat tertentu yang menyisipkan unsur-unsur kesyirikan dalam dzikir mereka.

Baik, berikut saya buatkan tabel ringkasan dari penjelasan 7 paragraf tentang Dzikir yang Tidak Sesuai dengan Ajaran Nabi Muhammad SAW Menurut Ulama:

No Nama Ulama Kitab / Keterangan Pandangan Utama tentang Dzikir yang Tidak Sesuai Sunnah
1 Imam An-Nawawi Al-Adzkar Dzikir yang tidak dicontohkan Nabi, seperti penambahan lafaz baru, termasuk bid’ah dan menyalahi syariat ibadah.
2 Syekh Ibn Taimiyyah Majmu’ Fatawa Dzikir hasil ijtihad yang tidak berasal dari Al-Qur’an dan sunnah, dzikir berjamaah keras, berirama atau gerakan tertentu tergolong bid’ah fi adz-dzikr.
3 Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Fatawa beliau Dzikir dengan keyakinan fadhilah khusus tanpa dalil syar’i (contoh: jumlah hitungan ribuan tanpa dasar) termasuk amalan yang tidak disyariatkan.
4 Imam Asy-Syathibi Al-I’tisham Penambahan bentuk dzikir seperti melompat, bertepuk tangan, menari, atau menyebut lafaz Allah yang dipotong-potong (misal: “Hu.. Hu..”) adalah bentuk dzikir yang menyimpang.
5 Syekh Yusuf Al-Qaradawi Fiqh Adz-Dzikr Dzikir yang disertai musik, nyanyian, tarian, atau iringan alat musik merupakan pengaburan makna dzikir, mengganggu kekhusyukan dan menjauhkan dari tujuan utamanya.
6 Syekh Abdul Aziz bin Baz Fatawa beliau Dzikir yang mengandung unsur syirik kecil, seperti meminta kepada wali, malaikat atau makhluk lain, termasuk dzikir syirik yang berbahaya.
7 Kesimpulan Umum Semua ulama menegaskan bahwa dzikir adalah ibadah tauqifiyyah yang harus sesuai tuntunan Rasulullah SAW tanpa rekayasa manusia.

Siap untuk melanjutkan?

Jika Anda mengizinkan, saya bisa lanjutkan membuatkan “Dzikir yang Menyimpang: Contoh-contoh Praktik di Masyarakat” dalam 7 paragraf.
Silakan ketik: “Lanjutkan contoh praktik menyimpang”.

Bagaimana Sebaiknya Umat Meneladani Dzikir Nabi Muhammad SAW

  • Pertama, umat sebaiknya menghidupkan dzikir dari bangun tidur hingga tidur kembali, sebagaimana Rasulullah SAW mencontohkan. Ini menciptakan koneksi spiritual yang kontinu sepanjang hari.
  • Kedua, dzikir yang dibaca hendaknya berasal dari Al-Qur’an dan hadits shahih. Umat hendaknya mempelajari kitab-kitab dzikir ma’tsur seperti Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi atau Hisnul Muslim.
  • Ketiga, penting bagi umat untuk menghindari dzikir yang berlebihan atau tidak ada tuntunannya dari Nabi. Menghindari bid’ah dalam dzikir akan menjaga kemurnian ibadah dan menjauhkan dari penyimpangan.
  • Keempat, umat dianjurkan menghadirkan hati saat berdzikir. Dzikir yang dilakukan dengan hati lalai akan kehilangan esensi spiritualnya. Nabi SAW sendiri selalu berdzikir dengan kekhusyukan hati.
  • Kelima, memperbanyak dzikir dalam berbagai kondisi hidup, baik senang maupun susah. Seperti Nabi yang berdzikir dalam segala keadaan, umat pun hendaknya menjadikan dzikir sebagai sandaran utama dalam menghadapi dinamika kehidupan.

Kesimpulan

Dzikir merupakan bagian penting dari ajaran Nabi Muhammad SAW yang patut dihidupkan oleh setiap Muslim. Dengan mengikuti dzikir-dzikir ma’tsur yang diajarkan beliau, umat akan mendapatkan ketenangan hati, keberkahan hidup, serta penguatan iman. Penjelasan para ulama dunia juga menegaskan pentingnya dzikir yang bersumber dari sunnah agar ibadah dzikir tetap berada di jalur yang benar. Umat Islam perlu menjadikan dzikir sebagai bagian tak terpisahkan dari keseharian mereka dengan tetap menjaga keikhlasan, kekhusyukan, dan adab yang benar.


 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *