MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Ketika Anak Menjauh dari Orang Tua: Tinjauan Psikologi Modern dan Perspektif Islam”

“Ketika Anak Menjauh dari Orang Tua: Tinjauan Psikologi Modern dan Perspektif Islam”

Abstrak

Hubungan anak dan orang tua merupakan fondasi utama pembentukan kepribadian, stabilitas emosional, dan kesejahteraan psikologis individu. Namun, dalam kenyataannya, tidak sedikit anak yang menjauh atau bahkan memutuskan hubungan dengan orang tuanya. Artikel ini mengkaji fenomena tersebut dari sudut pandang sains psikologi modern dan perspektif Islam, dengan mendasarkan pembahasan pada temuan ilmiah, dalil Al-Qur’an, hadits, serta pandangan ulama kontemporer. Pemahaman yang adil terhadap kondisi orang tua dan anak, serta prinsip keseimbangan antara hak dan kewajiban, menjadi kunci dalam membangun kembali jembatan kasih sayang yang retak.


Dalam perjalanan hidup, hubungan anak dan orang tua kadang tidak berjalan harmonis. Konflik, kesalahpahaman, luka batin masa kecil, hingga perbedaan nilai seringkali menyebabkan anak merasa menjauh dari orang tuanya. Di sisi lain, orang tua pun terkadang tidak memahami dampak dari pola asuh mereka terhadap psikologi anak di masa depan. Fenomena keterasingan ini semakin banyak dibahas dalam kajian psikologi modern, dan menjadi tantangan besar bagi banyak keluarga.

Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin sangat menekankan pentingnya birrul walidain (berbakti kepada orang tua). Namun Islam juga memberikan ruang pemahaman akan kondisi-kondisi yang kompleks dalam hubungan anak dan orang tua, tanpa mengabaikan hak masing-masing pihak. Oleh sebab itu, penting untuk meninjau fenomena ini secara komprehensif.

Data dan Fakta Penelitian Hubungan Anak dan Orang Tua

Penelitian Karl Pillemer (Cornell University) dalam bukunya Fault Lines: Fractured Families and How to Mend Them menunjukkan bahwa sekitar 27% orang dewasa di Amerika Serikat memiliki keterasingan dengan orang tua atau anak. Keterasingan ini bukan sekadar jarak fisik, namun mencakup luka emosional yang dalam, bahkan hingga puluhan tahun.

Salah satu studi yang dikisahkan Pillemer adalah tentang seorang anak yang tidak berbicara dengan ibunya selama 25 tahun. Keputusan sang ibu untuk menikah kembali setelah ditinggal suami di era 1960-an menjadi pemicu. Namun, di kemudian hari, sang anak menyadari bahwa keputusan itu diambil ibunya demi keberlangsungan hidup mereka.

Penelitian mengenai pemutusan hubungan antara orang tua dan anak memang masih tergolong terbatas dan kerap dianggap tabu untuk dibicarakan. Lucy Blake, dosen senior psikologi di University of the West of England, dalam bukunya No Family is Perfect menyatakan bahwa banyak orang menganggap fenomena ini hanya terjadi pada keluarga lain, sehingga pembahasan ilmiahnya masih minim. Namun, beberapa studi besar mulai mengungkap fakta mencemaskan. Survei pada tahun 2022 terhadap lebih dari 8.500 orang di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 26% responden pernah mengalami kerenggangan hubungan dengan ayah, dan 6% lainnya mengalami kerenggangan dengan ibu selama rata-rata 24 tahun. Studi serupa di Jerman terhadap 10.200 orang menemukan bahwa 9% responden mengalami kerenggangan dengan ibu, sedangkan 20% lainnya tidak berkontak dengan ayah selama 13 tahun terakhir. Penelitian sosiolog Karl Pillemer dari Cornell University bahkan mencatat bahwa 10% responden benar-benar memutus hubungan tanpa kontak sama sekali dengan orang tua atau anak mereka.

Para ahli menilai fenomena ini makin menguat seiring perubahan nilai sosial. Karl Pillemer berpendapat bahwa norma solidaritas keluarga yang kuat pada generasi sebelum baby boomer kini mulai melemah, seiring dengan munculnya norma keluarga baru seperti hubungan kemitraan tanpa pernikahan maupun keputusan tidak memiliki anak. Joshua Coleman, seorang psikolog klinis yang banyak menangani kasus keterasingan keluarga, menambahkan bahwa budaya individualisme modern turut berkontribusi memperlebar jarak antara orang tua dan anak. Fokus pada kebahagiaan pribadi dan identitas individu seringkali membuat relasi keluarga menjadi prioritas sekunder. Bahkan, penelitian membuktikan bahwa orang tua lansia di negara-negara yang sangat individualistis seperti AS memiliki kemungkinan dua kali lebih besar mengalami hubungan buruk dengan anak-anak mereka dibandingkan dengan negara-negara yang masih memiliki ikatan keluarga lebih kuat seperti Jerman atau Inggris.

Joshua Coleman, seorang psikolog, juga menemukan bahwa banyak anak yang merasa diabaikan oleh orang tua karena kesibukan pekerjaan. Namun, dari sudut pandang orang tua, mereka justru berjuang keras bekerja untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya, sehingga terjadi ketidakseimbangan persepsi.

Menurut Cowley, seorang konsultan hubungan keluarga, anak-anak yang memutus hubungan dengan orang tuanya kerap membawa luka psikologis seumur hidup. Ia menekankan pentingnya memahami latar belakang orang tua sebelum mengambil keputusan drastis untuk menjauhkan diri.

Sementara itu, dari perspektif neuroscience, keterasingan dengan orang tua dapat meningkatkan risiko kecemasan, depresi, bahkan masalah kejiwaan lain pada anak maupun orang tua. Faktor trauma, ketidakseimbangan emosi, dan kegagalan komunikasi menjadi penyebab dominan dalam keterasingan ini.

Pillemer dan Coleman sepakat bahwa memahami keterbatasan orang tua secara manusiawi — seperti kondisi finansial, keterbatasan ilmu, trauma masa lalu — dapat membantu anak mengurangi beban emosional, meskipun tidak selalu berujung pada rekonsiliasi penuh.

Perspektif Al-Qur’an dan Hadits

Al-Qur’an dengan tegas memerintahkan anak untuk berbuat baik kepada orang tua, sebagaimana firman Allah:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنٗا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.” (QS. Al-Isra: 23)

Namun, dalam QS. Luqman: 15, Allah memberi pengecualian saat orang tua memaksa anak bermaksiat, seraya tetap memerintahkan untuk tetap berbuat baik secara muamalah:
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya; dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.”

Rasulullah ﷺ bersabda:
رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدِ وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ
“Keridhaan Allah terletak pada keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah terletak pada kemurkaan orang tua.” (HR. Tirmidzi, no. 1899)

Namun, Rasulullah ﷺ juga mengajarkan prinsip keadilan. Dalam hadits riwayat Bukhari, saat ada sahabat mengadu tentang kezhaliman ayahnya, Rasulullah menasihati keduanya dengan lembut untuk saling memaafkan dan memperbaiki komunikasi.

Islam memandang bahwa hubungan orang tua dan anak bukan sekadar hierarki, tetapi amanah saling mengasihi. Allah berfirman dalam QS. Al-Ankabut: 8, menekankan pentingnya ketaatan yang proporsional.

Beberapa ulama tafsir menegaskan, bahkan saat terjadi ketidaksepahaman, seorang anak tetap berkewajiban menjaga adab, tidak berlaku kasar, apalagi menelantarkan secara total.

Pandangan Ulama Kontemporer

Syekh Yusuf Al-Qaradawi, salah satu ulama kontemporer terkemuka, menegaskan bahwa kewajiban birrul walidain (berbuat baik kepada orang tua) tetap berlaku selama perintah atau tindakan orang tua tidak membawa kepada kemaksiatan. Jika orang tua melakukan kesalahan besar, kezaliman, atau pengasuhan yang menyakitkan, anak tetap berkewajiban menjaga adab dan sopan santun dalam bersikap. Namun demikian, menurut beliau, dalam situasi tertentu, menjaga jarak secara fisik atau emosional boleh dilakukan selama bertujuan untuk melindungi diri dan tidak menambah dosa.

Dr. Aidh Al-Qarni dalam karyanya La Tahzan menjelaskan bahwa luka masa kecil akibat pengasuhan orang tua tidak boleh menjadi alasan pembenaran mutlak untuk membenci atau memusuhi mereka. Justru luka itu dapat menjadi ujian spiritual dan ladang pahala ketika anak memilih untuk memaafkan, memahami, dan tetap bersikap bijaksana dalam menjaga hubungan dengan orang tua. Memahami bahwa setiap manusia, termasuk orang tua, pasti memiliki kekurangan menjadi kunci utama ketenangan batin.

Prof. Tariq Ramadan, seorang cendekiawan Muslim asal Eropa, mengingatkan bahwa banyak orang tua di berbagai generasi hidup dalam tekanan yang berat: kemiskinan, keterbatasan pendidikan, trauma masa kecil, hingga minimnya ilmu pengasuhan modern. Kondisi inilah yang kerap membentuk pola asuh yang kurang ideal dan terkadang melukai anak-anak mereka secara emosional. Oleh sebab itu, menurut beliau, penting bagi generasi muda untuk berusaha memahami latar belakang orang tua secara lebih utuh dan manusiawi.

Syekh Muhammad Al-Ghazali, ulama dan pemikir Mesir, menegaskan bahwa memutus tali silaturahmi termasuk dosa besar dalam Islam, sebagaimana yang disebutkan dalam banyak ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi. Meski konflik dan kekecewaan bisa terjadi, namun beliau menekankan agar pintu komunikasi dan kemungkinan rekonsiliasi senantiasa dijaga tetap terbuka. Dengan menjaga adab dialog, ada peluang untuk memperbaiki hubungan di masa depan.

Buya Yahya, ulama Indonesia, dalam berbagai kajian tafsirnya menjelaskan bahwa dalam kasus pengasuhan yang salah atau perilaku orang tua yang menyakitkan, anak boleh mengambil waktu jeda untuk menenangkan diri. Jeda ini bertujuan memberi ruang penyembuhan mental bagi anak, namun bukan sebagai alasan untuk memutus total hubungan. Dalam jeda tersebut, anak tetap disunnahkan mendoakan orang tua serta menjaga komunikasi proporsional sesuai kemampuan.

Syekh Salman Al-Audah menambahkan bahwa dalam Islam, kedudukan orang tua sangat mulia, namun Islam juga memberikan ruang perlindungan psikologis bagi anak. Jika hubungan dengan orang tua menyebabkan kerusakan mental berat, maka mengatur batasan (boundaries) diperbolehkan. Namun anak tetap dianjurkan menjaga kehormatan orang tua di hadapan orang lain, serta tidak menyebarkan aib atau keburukan mereka secara terbuka.

Syaikh Abdullah bin Baz rahimahullah, ulama besar Saudi Arabia, menyatakan bahwa kewajiban utama anak adalah berusaha sebaik mungkin berbakti dan bersabar terhadap orang tua. Bila terdapat perlakuan yang salah dari orang tua, hendaknya anak lebih banyak memohon pertolongan Allah, memperbanyak istighfar, serta tetap menunaikan hak-hak dasar orang tua seperti doa, nafkah, dan tidak membalas kezaliman dengan kezaliman.

Perspektif Psikologi Modern

Dalam ranah psikologi modern, Family Systems Theory yang dikembangkan oleh Murray Bowen menyoroti bagaimana konflik antara anak dan orang tua sering kali merupakan bagian dari pola relasi multigenerasi yang terus berulang. Luka batin, trauma, atau kesalahan pengasuhan yang dialami orang tua di masa kecil mereka sering tanpa sadar diturunkan kepada anak-anak mereka. Dengan kata lain, ketidakseimbangan emosional yang tidak diselesaikan di satu generasi dapat mengakar dan muncul kembali dalam interaksi generasi berikutnya.

Sementara itu, Attachment Theory yang dipelopori oleh John Bowlby menegaskan bahwa kualitas keterikatan emosional sejak masa kanak-kanak memainkan peran sangat penting dalam pembentukan kepribadian dan kesehatan psikologis anak saat dewasa. Anak yang mengalami pengabaian emosional atau kekerasan psikologis dari orang tua cenderung kesulitan mempercayai orang tua mereka di kemudian hari. Pola keterikatan yang tidak aman ini dapat menjadi pondasi lahirnya keterasingan emosional antara anak dan orang tua saat anak tumbuh dewasa.

Data dari American Psychological Association (APA) menunjukkan dampak serius dari keterasingan keluarga terhadap kesehatan mental. Individu dewasa yang mengalami keterputusan hubungan dengan orang tua berisiko dua hingga tiga kali lipat lebih tinggi mengalami gangguan depresi dibandingkan mereka yang memiliki hubungan keluarga yang sehat. Meski demikian, studi lanjutan juga membuktikan bahwa proses rekonsiliasi secara bertahap mampu meningkatkan stabilitas emosi, mengurangi stres psikologis, dan memperbaiki kualitas hidup kedua belah pihak.

Joshua Coleman, seorang psikolog klinis yang banyak meneliti keluarga yang terasing, menekankan pentingnya saling memahami perspektif masing-masing. Anak perlu belajar memandang orang tua mereka sebagai manusia biasa yang memiliki keterbatasan: baik secara finansial, mental, maupun emosional. Di sisi lain, orang tua pun dituntut untuk belajar menerima perasaan anak tanpa defensif. Pemahaman dua arah ini menjadi fondasi awal bagi penyembuhan relasi yang telah lama retak.

Menurut analisis Cowley, seorang terapis keluarga, keterasingan total dan permanen dari orang tua kerap meninggalkan beban psikologis yang berat bagi anak dalam jangka panjang. Memahami masa lalu bukan berarti secara otomatis memaafkan seluruh kesalahan, tetapi memberi anak kejelasan batin. Dengan kejelasan tersebut, anak bisa melepaskan beban dendam atau rasa sakit yang berkepanjangan, sehingga mental mereka menjadi lebih sehat meski hubungan tetap memiliki jarak.

Selain itu, berbagai penelitian juga menemukan bahwa proses penyembuhan relasi keluarga memerlukan emotional regulation yang baik. Anak-anak yang mampu mengelola emosi mereka, termasuk kemarahan, kekecewaan, dan kesedihan terhadap orang tua, cenderung lebih sukses dalam menginisiasi rekonsiliasi yang sehat. Dukungan dari terapis keluarga, komunitas suportif, maupun teman dekat berperan penting dalam memperkuat proses ini.

Terakhir, dalam psikologi modern, konsep self-compassion atau kasih sayang terhadap diri sendiri juga menjadi pilar penting. Anak-anak yang mampu mengakui luka masa lalu mereka dengan belas kasih, tanpa menyalahkan diri sendiri secara berlebihan, lebih mampu berdamai dengan perjalanan hidup mereka. Dengan self-compassion, anak dapat melangkah maju dengan hati yang lebih ringan, terlepas apakah rekonsiliasi dengan orang tua sepenuhnya berhasil atau tidak.

Bagaimana Sebaiknya Anak dan Orang Tua Bersikap

  1. Pertama-tama, kunci utama dalam memperbaiki hubungan antara anak dan orang tua adalah membuka ruang dialog yang jujur dan aman tanpa saling menghakimi. Anak sebaiknya belajar menyampaikan perasaan mereka secara asertif, yaitu mengungkapkan emosi dan pengalaman secara jelas, tenang, dan penuh rasa hormat. Pendekatan asertif memungkinkan pesan sampai tanpa melukai pihak lain, berbeda dengan cara agresif yang cenderung menyalahkan. Dengan komunikasi yang baik, kesalahpahaman yang lama tertanam dapat perlahan dikupas dan dibahas secara dewasa.
  2. Kedua, orang tua pun harus belajar membuka hati untuk mendengar keluhan dan luka batin anak tanpa langsung bersikap defensif. Mereka perlu mengakui bahwa pola asuh masa lalu mungkin dipengaruhi oleh keterbatasan pengetahuan, kondisi ekonomi, maupun tekanan sosial yang berat. Kesadaran bahwa tidak ada manusia yang sempurna akan membantu orang tua menerima tanggung jawab atas bagian dari kesalahan yang mungkin terjadi, sekaligus menunjukkan ketulusan dalam memperbaiki relasi.
  3. Ketiga, penting bagi anak untuk mengembangkan empati terhadap kondisi objektif orang tua pada masa lalu. Memahami bahwa orang tua mungkin menghadapi kesulitan finansial, beban mental, atau trauma pribadi yang berat akan membantu anak memandang masa kecil mereka dari sudut yang lebih luas. Ini bukan berarti mengabaikan perasaan sakit yang valid, tetapi membangun keseimbangan antara hak pribadi dan pemahaman terhadap latar belakang orang tua.
  4. Keempat, dalam beberapa situasi yang rumit dan telah berlangsung lama, pendampingan pihak ketiga seperti konselor keluarga atau mediator profesional dapat sangat membantu. Seorang profesional yang terlatih dapat membantu kedua belah pihak memahami pola komunikasi yang sehat, menyusun kata-kata yang tepat, dan membangun jembatan emosi yang sempat runtuh. Dengan bantuan ini, topik-topik sensitif bisa dibicarakan dengan lebih aman dan produktif.
  5. Kelima, dalam perspektif Islam, memperbaiki hubungan anak dan orang tua bukan semata persoalan duniawi, tetapi juga bagian dari ibadah. Keduanya dianjurkan untuk memohon pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, memperbanyak doa, dzikir, dan istighfar. Anak mendoakan ampunan bagi orang tuanya, dan orang tua mendoakan kebaikan bagi anak-anaknya. Dengan niat ikhlas mencari ridha Allah, banyak hubungan yang tadinya dingin bisa kembali hangat oleh keberkahan doa dan pertolongan-Nya.

Kesimpulan

Hubungan anak dan orang tua bersifat kompleks dan multidimensional. Baik sains psikologi maupun ajaran Islam mengajarkan pentingnya empati, komunikasi sehat, dan adab mulia. Memahami bahwa orang tua pun manusia yang punya keterbatasan dapat membantu anak mengurai luka batin. Islam memberikan panduan yang seimbang: hormat tanpa menzalimi diri, adab tanpa menutup mata atas kezaliman, serta cinta yang dilandasi oleh keikhlasan dan kesabaran. Menghindari keterasingan total menjadi langkah bijak agar keduanya tak memikul beban batin berkepanjangan.


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *