MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

QS YUNUS  19-18: Manusia Adalah Satu Umat Yang Memeluk Agama Yang Satu

 

“Umat yang Satu: Hakikat Persatuan Agama Menurut Al-Qur’an, Hadits, dan Pandangan Ulama”

Dalam perjalanan sejarah manusia, kita menemukan bahwa seluruh umat pada hakikatnya berasal dari satu ajaran dan satu agama. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dengan fitrah tauhid, mengenal Tuhannya yang Esa, dan memerintahkan mereka untuk menyembah-Nya tanpa menyekutukan-Nya. Namun seiring berjalannya waktu, hawa nafsu, kesombongan, dan pengaruh setan menyebabkan perpecahan, penyimpangan, dan munculnya berbagai keyakinan menyimpang dari jalan yang lurus.

Kesadaran akan asal-usul yang satu ini penting di tengah dunia modern yang penuh konflik agama dan sektarianisme. Umat Islam dituntut memahami bahwa manusia pada awalnya adalah satu umat yang menyembah Allah, dan perpecahan yang terjadi merupakan bentuk penyimpangan terhadap fitrah. Memahami hal ini bukan untuk mengaburkan kebenaran, melainkan untuk menguatkan dakwah, menghindari fanatisme buta, dan membangun dialog atas dasar kebenaran wahyu.

Menurut Al-Qur’an

Allah Ta’ala berfirman:
“Dan manusia itu dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih…”
(QS. Yunus: 19). Ayat ini menunjukkan bahwa seluruh umat manusia pada awalnya berada dalam satu agama yaitu tauhid, kemudian mereka berpecah belah karena perbedaan hawa nafsu dan keengganan menerima kebenaran. Ini bukan hanya catatan sejarah, tapi juga peringatan agar kita tidak mengulangi penyimpangan yang sama.

Dalam QS. Al-Baqarah: 213 Allah juga menegaskan, “Manusia itu adalah umat yang satu. Maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan…”. Ini memperjelas bahwa setelah umat menyimpang, Allah mengutus nabi-nabi-Nya untuk mengembalikan manusia kepada agama yang lurus. Tauhid tetap menjadi inti dari setiap risalah yang diturunkan.

Ayat-ayat seperti ini menunjukkan bahwa pluralitas agama bukanlah sesuatu yang dikehendaki Allah, melainkan konsekuensi dari penyimpangan manusia sendiri. Dalam QS. Al-Mu’minun: 52, Allah menyatakan: “Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” Ini adalah penegasan atas keesaan ajaran Allah dari zaman ke zaman.

Karenanya, Al-Qur’an tidak mengajarkan bahwa semua agama adalah benar, tetapi bahwa asal semua manusia adalah satu umat dengan satu agama, lalu mereka menyimpang. Pemahaman ini penting agar umat Islam memiliki dasar kuat dalam berdialog dan berdakwah kepada umat lain, tanpa terjerumus pada sinkretisme atau relativisme.

Menurut Hadits

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tauhid). Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi…”
(HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menegaskan bahwa semua manusia dilahirkan dalam keadaan mengenal Allah, dan penyimpangan berasal dari lingkungan dan pendidikan.

Dalam hadits lain disebutkan bahwa para nabi adalah saudara seayah, agama mereka satu. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Para nabi itu bersaudara seayah, ibu mereka berbeda, dan agama mereka satu.”
(HR. Bukhari, no. 3443). Ini adalah bukti bahwa ajaran inti para nabi adalah tauhid dan penghambaan kepada Allah.

Rasulullah ﷺ juga menyampaikan bahwa umat ini akan terpecah:
“Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semua masuk neraka kecuali satu, yaitu yang mengikuti ajaranku dan para sahabatku.”
(HR. Tirmidzi no. 2641). Ini menunjukkan bahwa meskipun asalnya satu, perpecahan tetap terjadi dan hanya yang istiqamah di atas sunnah yang selamat.

Hadits-hadits tersebut tidak hanya memperkuat penjelasan Al-Qur’an, tapi juga mengingatkan pentingnya menjaga kemurnian ajaran. Perpecahan bukanlah bukti kebenaran pluralisme agama, melainkan hasil dari penyimpangan terhadap agama yang satu.

Dengan demikian, umat Islam diperintahkan untuk kembali pada sunnah Nabi ﷺ agar tidak menjadi bagian dari golongan yang menyimpang. Doa dan usaha menjaga kesatuan aqidah adalah bentuk keimanan yang nyata terhadap risalah kenabian.

Menurut Ulama

Imam Ibn Kathir rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya tentang QS. Yunus: 19 bahwa manusia pada awalnya adalah umat tauhid, namun kemudian muncul syirik karena pengaruh setan dan mengikuti hawa nafsu. Beliau menegaskan bahwa penyimpangan ini adalah bentuk penolakan terhadap fitrah dan wahyu.

Syaikh Shalih Al-Fauzan menyatakan bahwa pluralisme agama yang menganggap semua agama benar adalah kekufuran. Beliau menjelaskan bahwa Islam menghormati manusia, tetapi tidak menyamakan kebenaran. Persatuan yang hakiki hanya dapat dibangun di atas tauhid.

Imam Al-Qurthubi juga menafsirkan bahwa ayat tentang satu umat adalah pengingat bagi kaum Muslimin agar tidak sombong dan tetap menjaga keutuhan dalam kebenaran, bukan sekadar slogan persatuan tanpa aqidah yang benar.

Syaikh Ibnu Utsaimin dalam majmu’ fatawa-nya menyebut bahwa penyimpangan dari satu agama kepada banyak agama menunjukkan kelemahan akal manusia dan dominasi hawa nafsu. Karenanya, manusia butuh petunjuk wahyu agar tidak tersesat.

Pandangan ulama menunjukkan bahwa kebenaran bukan dinilai dari jumlah, tetapi dari kesesuaian dengan wahyu. Umat yang menyimpang bukan bukti toleransi Allah terhadap kebatilan, melainkan bukti pentingnya risalah dan tanggung jawab dakwah.

Bagaimana Umat Menyikapi

Pertama, umat Islam harus memahami bahwa persatuan sejati terletak pada kesatuan aqidah, bukan sekadar pada simbol atau retorika. Meskipun semua manusia berasal dari satu umat, tidak berarti semua keyakinan saat ini setara di hadapan Allah.

Kedua, sikap terbuka dalam berdialog tidak boleh mengorbankan prinsip tauhid. Islam mengajarkan untuk bersikap lembut kepada non-Muslim dalam dakwah, namun tetap tegas dalam keyakinan bahwa hanya Islam agama yang diridhai Allah (QS. Ali Imran: 19).

Ketiga, penting bagi umat untuk terus belajar dan memahami sejarah penyimpangan umat-umat terdahulu. Hal ini agar mereka tidak terjerumus dalam kesalahan yang sama, terutama dalam hal mengutamakan akal dan budaya di atas wahyu.

Keempat, generasi muda perlu diajarkan bahwa keanekaragaman agama di dunia adalah hasil dari penyimpangan sejarah, bukan bentuk kebenaran yang banyak versi. Hal ini harus disampaikan dengan bijak, namun tidak permisif terhadap kesalahan aqidah.

Kelima, umat Islam harus memperbanyak doa dan usaha dalam menjaga kesatuan umat di atas jalan yang benar, serta tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu pluralisme agama yang membingungkan. Dakwah yang benar, ilmu yang lurus, dan akhlak yang mulia adalah kunci menyikapi hal ini.

Kesimpulan

Pada hakikatnya, seluruh manusia berasal dari satu umat yang mengimani satu agama, yaitu tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Perpecahan agama yang terjadi sepanjang sejarah bukanlah kebenaran yang dikehendaki Allah, melainkan bentuk penyimpangan manusia terhadap wahyu. Al-Qur’an, hadits Nabi ﷺ, dan penjelasan para ulama menegaskan bahwa agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam. Umat Islam dituntut untuk menjaga kemurnian aqidah dan mendakwahkannya dengan hikmah. Persatuan hakiki hanya akan tercapai jika umat bersatu di atas kebenaran wahyu, bukan pada kompromi terhadap kesesatan.


 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *