“Suci di Mata, Luka di Hati”
Aku berjalan di antara manusia,
Dengan jubah putih dan senyum yang terjaga,
Lidahku melantun ayat-ayat-Mu setiap pagi,
Tapi hatiku… jauh dari janji.
Aku bicara tentang surga dan neraka,
Tentang adilnya hukum-Mu yang abadi,
Namun di balik itu, aku menjual cahaya,
Menukar ayat-Mu dengan harga duniawi.
“Jangan tukar ayat-Ku dengan harga yang rendah…”
Begitu firman-Mu menggema dalam dada,
Namun tanganku tetap meraih dunia,
Bahkan ketika Engkau memanggil: “Takutlah kepada-Ku, bukan kepada manusia…”
Aku takut kehilangan hormat dan pujian,
Bukan takut pada kehilangan iman,
Aku takut dicela di bumi,
Tapi tak gentar bila Engkau murka di akhirat nanti.
Wahai Rasul yang aku sebut dalam khutbah,
Bagaimana kau menangis untuk umat,
Sementara aku menjual warisanmu,
Demi kursi, demi amplop, demi kehormatan semu.
Qur’an di bibirku adalah syair keindahan,
Tapi di hatiku tak bergetar ketundukan,
Aku bicara tentang takut kepada Allah,
Tapi jiwaku gemetar… bukan karena takut… tapi karena kehilangan dunia yang lenyap.
Aku ini manusia suci yang penuh dosa,
Jubahku bersih, tapi dadaku penuh luka,
Aku menangis…
Bukan karena taqwa, tapi karena topengku mulai terbuka.
Wahai Tuhan,
Masihkah Engkau membuka pintu-Mu?
Untuk hamba yang menjual ayat-Mu dan mengabaikan takut kepada-Mu?
Untuk seorang pendosa dalam pakaian ulama,
Yang lupa bahwa Engkau Maha Melihat segalanya?
Kini aku berlutut dalam sepi malam,
Mengais ampun di antara puing-puing keimanan,
Kembali kepada-Mu, meski tak layak,
Karena hanya Engkau tempat semua dosa menjadi suci kembali.
Wahai jiwa…
Jangan bangga atas jubah putih yang kau kenakan,
Karena di hadapan Allah,
Yang dinilai adalah luka yang kau sembuhkan… dan dosa yang kau tangisi dalam keikhlasan.
penislam2025














Leave a Reply