Ketika Ramadhan Berlalu
Telah berlalu bulan suci yang agung,
Ramadhan nan mulia, cahaya di relung,
Langit bersyair dalam hening malam,
Bumi bersujud dalam zikir yang dalam.
Angin berbisik lirih di sepertiga akhir,
Langkah kaki rindu pada sajadah yang tak henti berzikir,
Tangis malam menjadi saksi luka dan harap,
Ampunan turun laksana hujan tanpa batas dan jeda.
Di balik sahur yang bersahaja,
Tersimpan rindu pada cinta Rabb yang Maha Kuasa,
Dalam letih puasa, hati pun mendaki,
Mendekat, merintih, menghiba dengan janji.
Ya Rabb,
Adakah Engkau terima air mata kami?
Doa yang gugur seperti embun pagi,
Tangan yang menengadah penuh dosa dan hampa,
Kini merindu, saat Ramadhan telah sirna.
Wahai jiwa,
Apakah kau benar-benar telah berubah?
Atau hanya sekadar berpura-pura di bawah cahaya berkah?
Adakah hatimu lebih lapang dari dendam?
Adakah imanmu lebih kuat dari malam kelam?
Ketika Ramadhan berlalu,
Bukan sekadar hilang waktu,
Tapi satu kesempatan telah terbang,
Menuju langit membawa harapan dan tangisan panjang.
Tinggallah takbir dalam kenangan,
Tinggallah lantunan Qur’an dalam angan,
Tinggallah masjid yang mulai sunyi,
Dan hati yang diuji—sendiri.
Tapi semoga,
Cahaya Ramadhan tak pergi dari dada,
Ia menetap, menumbuhkan taqwa,
Menjadi pelita hingga ajal tiba.
Ya Allah,
Jika ini Ramadhan terakhirku,
Terimalah seluruh amal yang terburu,
Ampunilah langkahku yang keliru,
Dan biarkan aku pulang—dalam keadaan bersih dan syukur yang syahdu.
penaislam2025















Leave a Reply