“Ketika Dunia Menutup Mata”
Aku pernah hidup dalam pelukan dunia,
Tertawa dalam gemerlap fana,
Mengira panjangnya usia
Adalah tiket menuju surga.
Aku abaikan suara azan yang merintih,
Menganggap sujud hanya milik orang bersih,
Sementara tanganku sibuk menggenggam mimpi,
Yang semakin jauh dari langit suci.
Wahai Rasul, kekasih langit dan bumi,
Andai engkau tahu betapa lalainya aku kini,
Mengganti dzikir dengan lagu tak berarti,
Meninggalkan sunnah, mengejar mimpi duniawi.
Engkau meneteskan darah demi umatmu,
Sementara aku tertawa di atas dosa-dosaku,
Engkau menangis saat umat terbuai,
Sedang aku mabuk dalam dunia yang penuh lalai.
Qur’an, cahaya yang dulu turun bersinar,
Kini hanya debu di rak yang bersandar,
Aku tinggalkan ayat demi ayat,
Demi layar, demi likes, demi dunia yang sesaat.
Padahal Engkau berseru lembut dalam setiap huruf:
“Wahai manusia, jangan lupakan tempat kembali,
Jangan kau tukar akhirat dengan dunia yang hampa,
Karena kehidupan sejati bukan di sini, tapi di sana.”
Kini malam-malamku gelap tak bertuan,
Doaku tertahan di langit yang diam,
Tak ada lagi airmata yang mampu mencuci,
Dosa yang menumpuk tanpa jeda hari demi hari.
Aku kehilangan akhirat, ya Allah…
Karena kufur terhadap nikmat-Mu yang melimpah,
Karena sibuk mencintai yang fana,
Hingga lupa menyiapkan bekal untuk selamanya.
Tapi Engkau Maha Pengampun,
Dalam gelapku, kutemukan setitik cahaya,
Dari kisah Nabi yang tak pernah lelah mendoakan,
Dari firman-Mu yang membalut luka pertaubatan.
Aku kembali ya Rabb, walau dengan langkah gemetar,
Membawa luka, membawa dosa, membawa hampa,
Namun juga membawa harap,
Bahwa Engkau masih rindu akan hamba yang terlupa.
penaislam2025














Leave a Reply