“Ketika Lelaki Itu Jatuh Cinta Pada Masjid”
Dulu…
Lelaki itu berjalan tegap di jalan dunia,
Tapi hatinya kering, jiwanya tanpa cahaya,
Ia tak kenal adzan, tak kenal shaf, tak kenal sujud,
Masjid? Baginya hanyalah bangunan sunyi yang tak layak disentuh.
Langkahnya selalu menjauh dari rumah Allah,
Telinganya tak pernah rindu panggilan shalat,
Ia lebih suka keramaian pasar dan sorak dunia,
Daripada tadarus yang membasuh luka.
Namun suatu malam…
Ketika bintang-bintang bersaksi di langit yang gelap,
Ia duduk sendiri, di pojok sepi,
Hidupnya ramai… tapi hatinya sunyi.
Ia mendengar suara lembut dari masjid,
Bukan musik, bukan nyanyian… tapi ayat-ayat yang hidup,
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah Allah… niscaya akan turun ketenangan kepada mereka…”
Dan hatinya yang beku… tiba-tiba hangat dan menangis.
Ia melangkah ragu, dengan hati yang hancur,
Masjid itu kini memanggil, bukan mengusir,
Dan di sana… ia temukan cahaya,
Tak terlihat… tapi terasa.
Ia duduk di barisan akhir,
Mendengar Qur’an dibaca pelan dan penuh makna,
Malaikat mungkin mengelilinginya,
Dan Allah… mungkin sedang menyebut namanya di langit-Nya.
Dulu ia lelaki yang tak peduli,
Kini ia menangis dalam sujud panjangnya,
Dulu ia mengangkat pemimpin karena janji dan gaya,
Kini ia hanya percaya pada yang tunduk di hadapan Tuhannya.
Wahai jiwa…
Jangan tertipu pemimpin yang bersorak tapi tak bersujud,
Jangan percaya pada suara lantang tapi jauh dari mushaf,
Carilah pemimpin yang hatinya terpaut masjid,
Yang menangis jika Qur’an ditinggalkan,
Yang gemetar jika amanah diabaikan.
Karena lelaki yang dulu menjauh dari sajadah,
Kini merindu setiap detik dalam sujud dan ibadah.
Masjid yang dulu asing, kini jadi pelabuhan jiwa,
Tempat air matanya luruh bersama dosa-dosa lama.
Di sanalah ia temukan damai… yang tak bisa dibeli dunia.
Jangan remehkan lelaki yang bertaubat.
Karena mereka lebih jujur dari ribuan yang belum kembali.
Jangan remehkan lelaki yang kembali dari gelap,
Langkahnya mungkin lambat, tapi hatinya telah mantap.
Air matanya lebih jujur dari ribuan kata,
Dosa yang ia tangisi jadi jembatan menuju surga.
Karena kadang, cahaya paling terang lahir dari jiwa yang paling gelap.














Leave a Reply