dr Widodo Judarwanto, ped
Pernyataan “Setiap penyakit adalah ujian dari Allah, tidak perlu pengobatan” sering kali muncul dari pemahaman bahwa penyakit merupakan takdir Allah dan bentuk ujian bagi manusia. Islam memang mengajarkan bahwa penyakit adalah bagian dari qadha dan qadar Allah, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits, namun ini tidak berarti bahwa pengobatan harus diabaikan. Sebaliknya, Islam mendorong umatnya untuk berikhtiar mencari kesembuhan sebagai bentuk usaha yang sejalan dengan tawakal kepada Allah. Artikel ini akan membahas pandangan Islam mengenai pentingnya pengobatan, berdasarkan Al-Qur’an, hadits sahih, serta pandangan ulama.
Islam memandang penyakit sebagai ujian dari Allah yang bertujuan untuk menghapus dosa, meningkatkan derajat, atau menguji kesabaran seseorang. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155). Hadits juga menyebutkan bahwa penyakit dapat menjadi penghapus dosa, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: “Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, sakit, kesedihan, atau bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapus dosa-dosanya karenanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Namun, pandangan bahwa penyakit adalah ujian tidak berarti seseorang harus pasrah tanpa usaha untuk mencari pengobatan. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Berobatlah kalian, karena Allah tidak menciptakan penyakit kecuali menciptakan pula obatnya.” (HR. Abu Dawud). Ini menunjukkan bahwa mencari pengobatan adalah bagian dari ikhtiar yang diperintahkan dalam Islam. Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa menerima penyakit sebagai ujian harus diimbangi dengan usaha untuk mencari kesembuhan.
Pendapat Ulama
- Ibn Qayyim Al-Jawziyya dalam “At-Tibb an-Nabawi” menegaskan bahwa mencari pengobatan adalah bagian dari sunnatullah (hukum alam) yang ditetapkan Allah. Beliau menjelaskan bahwa pengobatan adalah bentuk ikhtiar yang tidak bertentangan dengan tawakal, karena tawakal sejati adalah mengandalkan Allah sambil tetap melakukan usaha yang diperintahkan.
- Imam Al-Ghazali dalam “Ihya Ulumuddin” juga menekankan pentingnya mencari pengobatan. Menurut beliau, mengabaikan pengobatan dengan alasan tawakal adalah bentuk kesalahan pemahaman terhadap ajaran Islam. Beliau menjelaskan bahwa Allah menciptakan obat sebagai sarana bagi manusia untuk mencari kesembuhan, dan menggunakannya adalah bagian dari ibadah.
- Yusuf al-Qaradawi dalam pembahasan fikih kedokteran menempatkan kesehatan dan pengobatan dalam kerangka maqashid al-shariah. Menjaga kehidupan manusia merupakan salah satu tujuan utama syariat. Karena itu, perkembangan ilmu kedokteran dapat dimanfaatkan selama tidak bertentangan dengan prinsip Islam. Dalam masalah makanan dan obat, kaidah fikih juga menuntut perhatian terhadap keamanan, kebutuhan, manfaat, dan potensi mudarat suatu bahan.
- Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa seorang Muslim diperbolehkan mencari pengobatan dan menggunakan sarana medis. Penyakit merupakan bagian dari ketetapan Allah, tetapi manusia tetap diperintahkan mengambil sebab. Pengobatan tidak bertentangan dengan iman kepada qada dan qadar. Pandangan ini sejalan dengan hadis Nabi SAW yang menganjurkan umatnya untuk mencari obat.
- Muhammad Shalih al-Munajjid juga menekankan pentingnya menggabungkan kesabaran dengan ikhtiar. Sakit dapat menjadi ujian yang memberikan kesempatan memperoleh pahala melalui kesabaran, tetapi seseorang tetap diperbolehkan dan dianjurkan mencari pengobatan yang halal serta bermanfaat. Prinsip tersebut relevan dalam pembahasan keamanan pangan, karena mencegah penyakit merupakan bagian dari upaya menjaga jiwa.
Kesimpulan dan Saran
- Kesimpulannya, Islam mengajarkan bahwa penyakit adalah ujian dari Allah, tetapi ini tidak berarti seseorang harus mengabaikan pengobatan. Sebaliknya, mencari pengobatan adalah bagian dari ikhtiar yang diperintahkan dalam Islam, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Tawakal yang benar adalah mengandalkan Allah sambil tetap berusaha mencari kesembuhan melalui pengobatan yang sesuai dengan syariat.
- Saran bagi umat Islam adalah untuk memahami bahwa menerima penyakit sebagai ujian harus diimbangi dengan usaha untuk mencari pengobatan. Konsultasi dengan tenaga medis dan ulama yang kompeten sangat dianjurkan untuk memastikan pengobatan yang dilakukan sesuai dengan prinsip Islam. Selain itu, penting untuk menjaga keseimbangan antara aspek spiritual dan medis dalam menghadapi penyakit.













Leave a Reply