Mengapa Yesus (Nabi Isa AS) Akan Turun Kembali Menurut Islam Sebuah Kajian Berdasarkan Al-Qur’an, Hadits, dan Tafsir Ulama
Pendahuluan
Dalam Islam, kepercayaan akan turunnya kembali Nabi Isa AS di akhir zaman merupakan bagian dari akidah yang sahih. Berbeda dengan pandangan Kristen yang meyakini bahwa Yesus wafat dan bangkit untuk menebus dosa manusia, Islam menegaskan bahwa Nabi Isa tidak disalib dan tidak mati, melainkan diangkat ke langit oleh Allah SWT. Turunnya kembali Nabi Isa bukan untuk membawa agama baru, melainkan untuk menegakkan kebenaran Islam dan meluruskan kesesatan yang disebarkan oleh sebagian umat manusia setelahnya.
Menurut Dr. Zakir Naik, turunnya Isa AS adalah bukti keadilan Allah, bahwa seorang nabi yang difitnah dan disalib secara dusta akan kembali untuk menegakkan kebenaran, menghancurkan kebatilan, dan membuktikan bahwa hanya Allah yang layak disembah — bukan manusia.
Dasar Al-Qur’an
Allah SWT berfirman:
“Dan karena ucapan mereka: ‘Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih Isa putra Maryam, Rasul Allah’, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu; mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka; mereka tidak (pula) yakin bahwa mereka telah membunuhnya. Tetapi Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(QS. An-Nisa: 157–158)
Ayat ini menjadi dasar bahwa Nabi Isa AS tidak mati, melainkan diangkat ke sisi Allah. Dalam tafsir Ibn Katsir dijelaskan, ayat ini menegaskan bahwa Allah menyelamatkan Isa AS dari makar musuh-musuhnya dan akan menurunkannya kembali menjelang akhir zaman sebagai tanda dekatnya kiamat.
Hadits-Hadits Shahih Tentang Turunnya Isa AS
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh akan turun kepada kalian Isa bin Maryam sebagai hakim yang adil. Ia akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan menghapus jizyah. Dan harta akan melimpah hingga tak ada seorang pun yang mau menerimanya.”
(HR. Bukhari No. 3448 dan Muslim No. 155)
Hadits ini menjelaskan misi Nabi Isa saat kembali:
- Meluruskan akidah yang menyimpang.
- Menegakkan keadilan dan syariat Allah.
- Menegaskan kembali tauhid — bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.
Mengapa Nabi Isa (Yesus) Akan Turun Kembali: Tafsir Al-Qur’an, Hadits, dan Penjelasan Dr. Zakir Naik
Menegakkan Tauhid dan Meluruskan Kesalahan Akidah Umat Terdahulu
1. Nabi Muhammad ﷺ Sebagai Penutup Para Nabi (QS. Al-Ahzab: 40)
“Muhammad itu bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para nabi.”
(QS. Al-Ahzab: 33:40)
Ayat ini menjadi landasan utama bahwa tidak ada nabi atau rasul baru setelah Muhammad ﷺ. Oleh karena itu, ketika Nabi Isa AS turun kembali ke bumi di akhir zaman, beliau tidak datang sebagai nabi baru, melainkan sebagai pengikut Nabi Muhammad ﷺ yang akan menegakkan ajarannya.
Tafsir Ibn Katsir menjelaskan bahwa makna “khataman nabiyyin” menunjukkan kesempurnaan risalah Islam sebagai penutup seluruh syariat. Maka, kedatangan Isa AS bukan untuk membawa hukum baru, tetapi untuk menyempurnakan dan menegaskan kebenaran risalah Nabi terakhir
Dr. Zakir Naik menegaskan: “Isa AS akan datang kembali bukan sebagai utusan baru, tetapi sebagai pengikut Nabi Muhammad ﷺ. Ia akan membuktikan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan tidak ada nabi setelah Muhammad.” Dengan demikian, kedatangan Isa AS justru memperkuat finalitas Islam, bukan menandingi kerasulan Nabi Muhammad ﷺ.
2. Yesus Akan Datang Kembali (Yohanes 14:1–14)
Dalam Injil Yohanes 14:1–3, Yesus berkata kepada para muridnya:
“Janganlah gelisah hatimu… Aku pergi untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi dan menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku.”
Ayat ini sering dijadikan dasar oleh umat Kristen sebagai janji second coming of Christ. Namun menurut Dr. Zakir Naik dan para mufasir Muslim seperti Rahmatullah al-Hindi (penulis Izhar al-Haqq), janji ini tidak menunjukkan bahwa Yesus adalah Tuhan, melainkan bahwa ia akan kembali sebagai hamba dan utusan Allah untuk menyelesaikan misinya yang belum tuntas.
Nabi Isa AS akan datang untuk membenarkan kebenaran wahyu yang diturunkan setelahnya, yakni Al-Qur’an, dan menolak penyembahan terhadap dirinya. Jadi, second coming bukan pembuktian ketuhanan Yesus, tetapi justru pembuktian bahwa Yesus adalah manusia pilihan yang diangkat kembali untuk menegakkan tauhid.
3. Pengingkaran atas Penyaliban Isa AS (QS. An-Nisa: 157–158)
“Dan karena ucapan mereka: ‘Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah’, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi diserupakan bagi mereka… Tetapi Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya.”
(QS. An-Nisa: 157–158)
Tafsir Ibn Katsir dan Al-Tabari menegaskan bahwa makna “syubbiha lahum” menunjukkan bahwa Allah menggantikan wajah Isa dengan orang lain yang diserupakan dengannya — dan orang itulah yang disalib. Isa AS diselamatkan dan diangkat ke langit hidup-hidup.
Inilah sebabnya ia akan kembali di akhir zaman: untuk meluruskan kesalahpahaman teologis yang dilakukan oleh sebagian pengikutnya yang menganggapnya sebagai Tuhan atau anak Tuhan.
Zakir Naik menjelaskan: “Jika Yesus benar-benar Tuhan, ia tidak akan butuh diselamatkan. Fakta bahwa Allah menyelamatkannya adalah bukti bahwa ia hanyalah nabi, bukan Tuhan.” Maka, turunnya Isa AS adalah bentuk keadilan Allah untuk membuktikan kebenaran yang sesungguhnya.
4. Tidak Membawa Syariat Baru (QS. Al-Maidah: 3)
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku atasmu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.”
(QS. Al-Maidah: 3)
Ayat ini menegaskan bahwa Islam adalah agama terakhir dan paling sempurna. Karena itu, ketika Isa AS turun kelak, beliau tidak membawa hukum atau wahyu baru. Ia akan mengikuti hukum Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad ﷺ.
Tafsir Al-Qurthubi menegaskan bahwa kesempurnaan agama Islam berarti semua ajaran pokok telah lengkap: tauhid, ibadah, muamalah, dan akhlak. Maka, tugas Isa AS hanyalah menegakkan kembali keadilan dan kebenaran Islam, bukan menambah syariat baru.
5. Nabi Isa Menolak Disembah (QS. Al-Maidah: 116–117)
“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: ‘Hai Isa putra Maryam! Adakah engkau mengatakan kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku dua tuhan selain Allah?’ Isa menjawab: ‘Mahasuci Engkau! Tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya, tentu Engkau telah mengetahuinya… Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku: sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.’”
(QS. Al-Maidah: 116–117)
Ayat ini menjadi saksi dialog ilahi antara Allah dan Isa AS di akhirat, di mana Isa sendiri menolak penyembahan terhadap dirinya. Tafsir Al-Jalalayn menafsirkan bahwa ayat ini adalah pembebasan penuh Nabi Isa dari tuduhan syirik, sekaligus teguran terhadap umatnya yang menuhankan manusia.
Dr. Zakir Naik sering mengutip ayat ini dalam debatnya: “Yesus sendiri dalam Al-Qur’an menegaskan: ‘Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu’. Ini adalah deklarasi tauhid, bukan klaim ketuhanan.”
Dengan demikian, turunnya kembali Nabi Isa akan menjadi pembenaran langsung dari ayat ini, di mana beliau sendiri akan menyatakan di hadapan manusia bahwa hanya Allah yang layak disembah, bukan dirinya.
Turunnya kembali Nabi Isa AS adalah bagian dari tanda besar akhir zaman, dan puncak keadilan Allah SWT terhadap sejarah kenabian. Ia akan datang bukan sebagai nabi baru, tetapi sebagai pengikut Nabi Muhammad ﷺ, membawa misi:
- Meluruskan kesesatan akidah umat terdahulu.
- Menegakkan keadilan dan tauhid.
- Membuktikan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.
Sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Ahzab: 40 dan Al-Maidah: 3, Islam telah sempurna dan ditutup dengan kerasulan Muhammad ﷺ. Maka, kedatangan Isa AS adalah untuk meneguhkan kebenaran risalah terakhir, bukan memulai yang baru.
Pandangan dan Tafsir Ulama
- Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menyatakan bahwa turunnya Nabi Isa AS merupakan tanda besar menjelang Hari Kiamat dan pembuktian bahwa beliau bukan Tuhan, melainkan hamba Allah.
- Al-Qurthubi dalam At-Tadzkirah menulis bahwa Isa AS akan turun di menara putih Damaskus, menjadi pemimpin yang adil dan beribadah sesuai syariat Nabi Muhammad ﷺ.
- Imam Nawawi menegaskan dalam Syarh Shahih Muslim bahwa turunnya Nabi Isa adalah haqq (kebenaran yang pasti), disepakati oleh seluruh ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Penjelasan Dr. Zakir Naik
Dr. Zakir Naik menjelaskan bahwa:
“Isa AS tidak diutus kembali sebagai nabi baru, tetapi sebagai pengikut Nabi Muhammad ﷺ, untuk membuktikan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul terakhir. Turunnya beliau adalah bukti akhir dari kebenaran Islam dan sekaligus penolakan terhadap konsep ketuhanan Yesus.”
Beliau menegaskan bahwa misi Isa AS adalah menghapus kesalahpahaman teologis, menegakkan tauhid, dan menjadi saksi kebenaran risalah Nabi Muhammad ﷺ.
Sikap yang Seharusnya Dipegang Umat Islam
- Sikap terbaik bagi umat Islam adalah mengimani kedatangan Isa AS, memperkuat tauhid, menjauhi syirik, dan menegakkan amal saleh, karena turunnya beliau adalah panggilan untuk kembali kepada keesaan dan rahmat Allah SWT.
- Mengimani turunnya Nabi Isa AS sebagai bagian dari keimanan kepada hal gaib. Ini merupakan tanda keimanan kepada firman Allah dan sabda Rasulullah ﷺ.
- Meneguhkan tauhid dan menjauhi segala bentuk syirik dan pemujaan terhadap manusia.
- Memperbaiki diri dan memperkuat amal saleh, sebab turunnya Nabi Isa menandai dekatnya akhir zaman.
- Menjaga ukhuwah dan menjauhi fitnah akhir zaman dengan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah.
Kesimpulan
Turunnya Nabi Isa AS adalah salah satu tanda besar kiamat dan bukti keagungan serta keadilan Allah SWT. Beliau akan turun bukan sebagai pembawa agama baru, melainkan sebagai penegak tauhid dan pengikut Nabi Muhammad ﷺ. Dalam pandangan Zakir Naik dan para ulama, hal ini menunjukkan bahwa Islam adalah penutup semua risalah, dan Isa AS akan menjadi saksi atas kebenaran tersebut.
Maka, sikap terbaik umat Islam adalah memperkuat iman, mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ, menjauhi syirik, dan menyiapkan diri dengan amal saleh — karena kedatangan Isa AS bukanlah sekadar peristiwa sejarah, melainkan panggilan spiritual untuk kembali kepada keesaan Allah SWT.















Leave a Reply