MAB Portal Islam

MAB MASJID AL-FALAH BENHIL JAKARTA. "Membangun Umat dengan Iman, Ilmu, Sains, dan Teknologi."

Bolehkah Muslim Menyebut Diri “Anak Tuhan” atau Mengaku “Lebih Kristen dari Orang Kristen”? Penjelasan Al-Qur’an dan Hadis

 

Bolehkah Muslim Menyebut Diri “Anak Tuhan” atau Mengaku “Lebih Kristen dari Orang Kristen”? Penjelasan Al-Qur’an dan Hadis

Pertanyaan

Saya sering mengikuti ceramah seorang dai yang berdakwah kepada pemeluk agama lain. Dalam salah satu videonya beliau mengatakan bahwa orang yang mengikuti perintah Allah dapat disebut sebagai “anak-anak Tuhan” dalam arti kiasan. Beliau juga mengatakan bahwa seorang Muslim dapat disebut “lebih Kristen daripada orang Kristen” karena lebih mengikuti ajaran Nabi Isa AS yang sebenarnya. Apakah kedua ungkapan tersebut dibolehkan dalam Islam? Bagaimana penjelasan Al-Qur’an, hadis, dan pendapat ulama mengenai penggunaan istilah-istilah seperti ini?

Jawaban

Islam mengajarkan agar seorang Muslim menjaga kemurnian akidah, termasuk dalam memilih istilah ketika berbicara tentang Allah SWT. Walaupun suatu ungkapan dimaksudkan sebagai kiasan atau strategi berdakwah, seorang Muslim tetap dianjurkan menggunakan istilah yang jelas sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman dalam masalah akidah. Kaidah syariat mengajarkan bahwa lafaz yang berpotensi menimbulkan makna batil sebaiknya dihindari, sekalipun niat pembicaranya baik.

1. Bolehkah menyebut diri sebagai “anak Tuhan”?

Jawabannya, tidak dianjurkan bahkan harus dihindari. Al-Qur’an telah menyebut bahwa kaum Yahudi dan Nasrani pernah mengatakan:

  • ﴿وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَىٰ نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ﴾
  • “Orang-orang Yahudi dan Nasrani berkata, ‘Kami adalah anak-anak Allah dan orang-orang yang dicintai-Nya.'”

Allah kemudian membantah pernyataan tersebut:

  • ﴿قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُم بِذُنُوبِكُم ۖ بَلْ أَنتُم بَشَرٌ مِّمَّنْ خَلَقَ﴾
  • “Katakanlah, ‘Kalau demikian mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu? Bahkan kamu hanyalah manusia di antara makhluk yang Dia ciptakan.'” (QS. Al-Ma’idah: 18)

Ayat ini menegaskan bahwa manusia bukanlah anak Allah. Hubungan manusia dengan Allah adalah hubungan antara Pencipta dan hamba.

2. Sebutan yang benar menurut Islam

Al-Qur’an menggunakan istilah yang sangat mulia bagi orang beriman, yaitu ‘ibadullah atau hamba-hamba Allah.

  • ﴿يَا عِبَادِ فَاتَّقُونِ﴾
  • “Wahai hamba-hamba-Ku, bertakwalah kepada-Ku.” (QS. Az-Zumar: 16)

Karena itu, lebih tepat mengatakan, “Kita adalah hamba Allah yang taat kepada-Nya,” daripada menggunakan istilah “anak Tuhan”, walaupun dimaksudkan secara simbolis.

3. Bolehkah mengatakan “Muslim lebih Kristen daripada orang Kristen”?

Ungkapan ini juga kurang tepat karena dapat menimbulkan kesalahpahaman. Seorang Muslim bukanlah seorang Kristen, tetapi seorang Muslim yang beriman kepada seluruh nabi, termasuk Nabi Isa AS.

Ungkapan yang lebih tepat adalah:

  • “Kami lebih mengikuti ajaran Nabi Isa AS yang asli daripada ajaran yang telah mengalami perubahan.”

Pernyataan ini lebih sesuai dengan ajaran Islam dan tidak menimbulkan kerancuan istilah.

4. Dalil bahwa umat Islam paling dekat dengan Nabi Isa dan Nabi Musa

Rasulullah ﷺ bersabda ketika melihat orang Yahudi berpuasa Asyura:

  • «فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ»
  • “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.”
  • (HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa umat Islam adalah pewaris ajaran para nabi terdahulu karena membawa tauhid yang sama.

Allah juga berfirman:

  • ﴿إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَٰذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا﴾
  • “Sesungguhnya orang yang paling berhak mengikuti Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya, nabi ini, dan orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 68)

Ayat ini menunjukkan bahwa kedekatan kepada para nabi diukur dengan keimanan dan ketaatan, bukan dengan identitas agama yang digunakan saat ini.

5. Hikmah menjaga istilah dalam dakwah

Islam menganjurkan berdakwah dengan hikmah, tetapi tidak mengubah istilah akidah yang sudah jelas. Penggunaan istilah yang mirip dengan keyakinan agama lain dapat menyebabkan salah paham, terutama bagi orang yang baru mengenal Islam. Karena itu para ulama menekankan pentingnya menggunakan lafaz yang tegas, benar, dan tidak membuka peluang penafsiran yang keliru.

Ringkasan Hukum

Pertanyaan Jawaban
Bolehkah menyebut diri “anak Tuhan”? Tidak. Istilah ini bertentangan dengan penjelasan Al-Qur’an.
Mengapa tidak boleh? Karena manusia adalah hamba Allah, bukan anak-Nya.
Sebutan yang benar Hamba Allah, orang beriman, atau Muslim.
Bolehkah mengatakan “lebih Kristen daripada orang Kristen”? Sebaiknya tidak karena dapat menimbulkan kerancuan.
Ungkapan yang lebih tepat “Umat Islam lebih mengikuti ajaran Nabi Isa AS yang asli.”
Dalil utama QS. Al-Ma’idah: 18, QS. Ali Imran: 68, HR. Bukhari tentang Asyura.
Prinsip dakwah Gunakan bahasa yang jelas tanpa mengaburkan akidah.

Pelajaran yang Dapat Diambil

Islam mengajarkan keseimbangan antara hikmah dalam berdakwah dan ketegasan dalam menjaga akidah. Seorang Muslim boleh menjelaskan bahwa Islam menghormati Nabi Isa AS, Nabi Musa AS, dan seluruh nabi Allah. Namun, istilah yang bertentangan dengan tauhid, seperti menyebut manusia sebagai “anak Tuhan”, tidak layak digunakan walaupun hanya sebagai kiasan. Pilihan kata yang benar akan menjaga kemurnian akidah sekaligus membuat dakwah lebih jelas, mudah dipahami, dan tidak menimbulkan salah pengertian.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *