Dalam gegap gempita dunia yang fana,
Orang-orang berlomba menumpuk harta.
Gedung menjulang, pasar menggila,
Tapi masjid… sunyi terlupa tanpa suara.
Jumat datang membawa cahaya,
Tapi berapa jiwa yang sempat membaca doa?
Dzikir terlupa, sibuk mengejar angka,
Sujud tertunda, demi angka di layar maya.
Masjid bukan sekadar bangunan tua,
Ia rumah rindu, tempat jiwa bersua.
Lantun adzan menggema di sela deru kota,
Namun hati umat tersesat di lorong dunia.
Dulu di sinilah engkau menangis pertama kali setelah dosamu terasa nyata,
Kini engkau melupakannya, seolah tiada perjanjian dengan Sang Pencipta.
Wahai insan yang disibukkan dunia,
Tidakkah kau rindu damainya sajadah tua?
Di sana, airmata tak ditertawakan,
Di sana, dosa pun bisa dimaafkan.
Sadarlah, sebelum Jumatmu jadi yang terakhir,
Sebelum dunia tak lagi mengizinkan takbir.
Kembalilah ke rumah yang dulu saksi sujudmu,
Karena dunia takkan pernah jadi tempat tinggal abadi bagimu.
Jumat datang membawa cahaya,
Hari di mana surga pernah memeluk manusia.
Namun berapa jiwa yang sempat membaca doa?
Berapa langkah yang diarahkan pada pintu masjid yang bersahaja?
Dzikir terlupa,
Sujud tertunda,
Ayat-ayat Allah diganti laporan laba rugi perusahaan,
Dan doa-doa digeser ke kolom komentar influencer bernama dunia.
Adzan memanggil,
Tapi lebih nyaring notifikasi yang berbunyi.
Masjid berseru,
Tapi telinga telah dikuasai earpod dan meeting pagi.
Lantun adzan menggema di sela deru kota,
Tapi hati umat tersesat di lorong-lorong dunia.
Sajadah yang dulu basah oleh airmata,
Kini tergulung, tersimpan, dan dilupakan begitu saja.
Masjid menunggu,
Bukan demi sumbangan,
Bukan demi kamera dan publikasi kegiatan.
Ia menunggu sujud yang tulus,
Dari jiwa yang rindu disucikan oleh air wudhu yang membasuh luka kehidupan.
Wahai insan yang disibukkan dunia,
Tidakkah kau rindu damainya sajadah tua?
Di sana, tak ada lelang reputasi,
Di sana, airmata tak ditertawakan seperti di sosial media.
Ketika dunia memanggil dengan janji semu,
Masjid tetap menunggu dengan ketulusan yang tak berpura-pura.
Ia tidak memintamu sempurna,
Hanya hadir…
Hadir dengan jiwa yang letih dan ingin pulang.
Mulailah…
Sebelum Jumatmu jadi yang terakhir,
Sebelum masjid hanya kau datangi untuk dishalatkan,
Sebelum takbir tak lagi kau lantunkan,
Kecuali sebagai gema sunyi di liang keabadian.
“Kau tak akan kehilangan dunia jika datang ke masjid, tapi kau bisa kehilangan akhirat jika terlalu cinta dunia.” “Barangsiapa mandi pada hari Jumat, lalu berangkat lebih awal, berjalan kaki dan tidak berkendara, duduk dekat imam, mendengarkan khutbah, dan tidak bermain-main, maka untuk setiap langkahnya, dia akan mendapatkan pahala puasa dan salat selama satu tahun.”— HR. Ahmad dan Abu Dawud”Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.”— QS. Al-Baqarah (2): 43
WJ














Leave a Reply