Malam turun di bumi yang lelah,
Bintang-bintang sembunyi di balik awan gelisah,
Tak terdengar lagi suara lembut para ulama,
Yang dulu menjaga umat dari gelombang fitnah dunia.
Mereka telah pergi, satu per satu,
Membawa ilmu ke langit yang biru,
Dan bumi… kini hanya dihuni gema,
Dari lidah-lidah kering tanpa makna.
“Ilmu tidak dicabut sekaligus,” sabda Nabimu,
“Melainkan dengan wafatnya para pewaris cahaya itu.”
Kini umat dipimpin oleh suara yang lantang,
Tapi kosong… bagai genderang perang tanpa arah pulang.
Di mimbar mereka bicara tentang surga,
Tapi langkah mereka menuju dunia,
Di podium mereka janji demi janji,
Namun umat kian lapar, kian sunyi.
Mereka bukan pemimpin,
Mereka penyesat dalam jubah keemasan,
Dipuji karena gaya, diangkat karena suara,
Bukan karena takwa, bukan karena ilmu dan nurani yang nyata.
“Kiamat takkan datang,” sabda Rasul tercinta,
“Hingga setiap kabilah dipimpin si hina.”
Dan sungguh, kami telah menyaksikannya:
Bangsa besar dibawa oleh tangan yang kecil dalam iman dan makna.
Wahai jiwa…
Jangan sembah wajah yang rupawan,
Jangan puja suara yang memekakkan,
Timbanglah pemimpin dengan akal dan Qur’an,
Bukan dengan slogan, bukan dengan bayaran.
Pilihlah mereka yang mencintai ilmu,
Yang takut pada hari mereka dipanggil satu-satu,
Yang sujud ketika dipuji, dan menangis saat dipilih,
Bukan yang tertawa saat berkuasa, lalu lupa pada nasib rakyat yang bersedih.
Wahai Allah,
Beri kami pemimpin yang menangis dalam sepi,
Bukan yang tertawa di atas kursi,
Beri kami pemimpin yang membawa cahaya,
Bukan bayang-bayang gelap yang menyelimuti bangsa.
Dan jika ulama telah tiada, jagalah akalmu…
Karena kelak, suara-suara dusta akan tampak bijaksana,
Dan tipuan akan menyamar sebagai takwa,
Maka peganglah Qur’an… dan cintailah ilmu yang menghidupkan jiwa.
penaislam2025














Leave a Reply