MAB Portal Islam

MASJID AL-FALAH BENHIL JAKARTA. “Dari Masjid untuk Umat, Menebarkan Ilmu dan Kebaikan”

JIKA INI SHALAT TERAKHIRKU

JIKA INI SHALAT TERAKHIRKU

Ada satu cara untuk melihat shalat dengan perspektif yang berbeda: bayangkan bahwa shalat yang sedang kita kerjakan adalah shalat terakhir dalam hidup kita.

  • Bukan untuk menakut-nakuti diri, tetapi untuk membangunkan hati.
  • Sebab manusia sering kali hidup seolah-olah masih memiliki waktu yang sangat panjang. Kita menunda taubat, menunda memperbaiki diri, menunda meminta maaf, menunda memperbaiki hubungan dengan keluarga, bahkan terkadang menunda shalat dengan alasan masih ada waktu.
  • Padahal kematian tidak pernah menunggu seseorang menyelesaikan seluruh rencananya.

Allah berfirman:

  • كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ Kullu nafsin dzā`iqatul-maut. “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” QS. Ali ‘Imran: 185

Maka, bagaimana jika suatu hari Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk berdiri dalam shalat, tetapi Dia menjadikan shalat itu sebagai pertemuan terakhir kita dengan dunia?

Bagaimana jika setelah salam tidak ada lagi kesempatan untuk mengerjakan shalat berikutnya?

  • Pertanyaan itu mungkin mengubah cara kita berdiri di hadapan Allah.
  • Bagaimana Jika Takbir Ini Adalah Takbir Terakhir?
  • Kita telah mengucapkan Allahu Akbar ribuan kali.
  • Sering kali ia keluar dari lisan dengan cepat. Takbir menjadi sesuatu yang sangat biasa karena terlalu sering diucapkan.

Tetapi bagaimana jika takbir ini adalah takbir terakhir?

Bagaimana jika setelah mengangkat tangan dan mengucapkan:

  • اللَّهُ أَكْبَرُ
  • Allāhu akbar.
  • “Allah Mahabesar.”

kita tidak pernah lagi mendapatkan kesempatan untuk mengucapkannya dalam shalat?

  • Mungkin kita akan mengucapkannya dengan hati yang berbeda.

Kita akan menyadari bahwa Allah memang lebih besar daripada segala sesuatu yang selama ini memenuhi pikiran kita.

  • Lebih besar daripada pekerjaan.
  • Lebih besar daripada harta.
  • Lebih besar daripada jabatan.
  • Lebih besar daripada masalah.
  • Lebih besar daripada ketakutan.
  • Lebih besar daripada manusia yang selama ini terlalu kita takuti.

Takbir terakhir akan mengajarkan kita bahwa seluruh dunia yang selama ini kita kejar pada akhirnya akan kita tinggalkan.

  • Yang tersisa adalah Allah dan amal yang kita bawa menghadap-Nya.

Bagaimana Jika Sujud Ini Adalah Sujud Terakhir?

  • Kemudian kita rukuk.
  • Kita berdiri kembali.
  • Lalu kita turun menuju sujud.
  • Dahi menyentuh tempat sujud.
  • Tubuh berada pada posisi paling rendah.
  • Tetapi justru di situlah seorang hamba berada dalam keadaan yang sangat dekat dengan Rabb-nya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

  • أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ
  • Aqrabu mā yakūnul-‘abdu min rabbihi wa huwa sājid.
  • “Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabb-nya adalah ketika ia sedang sujud.”
    HR. Muslim

Sekarang bayangkan: bagaimana jika sujud ini adalah sujud terakhir?

  • Mungkin kita tidak akan ingin segera bangkit.
  • Mungkin kita akan menangis mengingat dosa-dosa yang belum kita taubati.
  • Mungkin kita akan memohon ampun atas kesalahan kepada orang tua.
  • Mungkin kita akan teringat keluarga yang pernah kita sakiti.
  • Mungkin kita akan mengingat harta yang pernah kita peroleh dengan cara yang tidak sepenuhnya benar.
  • Mungkin kita akan menyadari betapa banyak nikmat Allah yang selama ini kita anggap biasa.
  • Sujud terakhir mungkin akan membuat kita memahami bahwa selama ini kita terlalu sibuk mengejar dunia dan terlalu sedikit mempersiapkan pertemuan dengan Allah.

Apa yang Akan Kita Rasakan ketika Membaca Al-Fatihah?

  • Kita membaca Al-Fatihah hampir setiap hari.
  • Tetapi apakah kita benar-benar menyadari apa yang kita ucapkan?
  • Bagaimana jika Al-Fatihah yang sedang kita baca adalah Al-Fatihah terakhir?

Ketika membaca:

  • الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
  • Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn.
  • “Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.”
  • apakah kita akan mengingat seluruh nikmat yang telah Allah berikan?

Ketika membaca:

  • الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
  • Ar-Raḥmānir-Raḥīm.
  • “Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.”
  • apakah kita akan merasa betapa luas rahmat Allah yang selama ini menaungi kehidupan kita?

Ketika membaca:

  • مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
  • Māliki yaumid-dīn.
  • “Pemilik Hari Pembalasan.”
  • apakah kita akan membayangkan hari ketika seluruh manusia berdiri di hadapan-Nya?

Kemudian kita membaca:

  • إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
  • Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn.
  • “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”

Apakah hati kita benar-benar mengakui bahwa hanya Allah tempat penghambaan dan pertolongan?

  • Lalu:
  • اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
  • Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm.
  • “Tunjukilah kami jalan yang lurus.”

Jika ini bacaan terakhir kita, mungkin untuk pertama kalinya kita benar-benar memahami bahwa petunjuk adalah kebutuhan terbesar manusia.

  • Bukan sekadar harta.
  • Bukan sekadar kesehatan.
  • Bukan sekadar kesuksesan.
  • Tetapi hidayah untuk hidup di jalan yang diridai Allah hingga akhir hayat.

Apa yang Akan Kita Mohon dalam Sujud?

Jika seseorang mengetahui bahwa sujudnya adalah yang terakhir, ia mungkin tidak lagi sibuk memikirkan banyak hal duniawi.

  • Ia akan memohon ampun.
  • Ia akan memohon rahmat.
  • Ia akan memohon petunjuk.
  • Ia akan memohon keselamatan.
  • Ia akan memohon agar Allah menerima amalnya.
  • Ia akan memohon agar dosa-dosanya diampuni.
  • Ia akan memohon kebaikan bagi keluarganya.
  • Ia akan memohon husnul khatimah.

Dan mungkin, untuk pertama kalinya, ia akan benar-benar memahami bahwa manusia pada akhirnya tidak membawa apa pun selain iman dan amal yang Allah terima.

  • Nabi ﷺ mengajarkan bahwa seorang hamba hendaknya memperbanyak doa ketika sujud, karena sujud merupakan keadaan yang sangat dekat dengan Rabb-nya.
  • Maka jangan biarkan sujud hanya menjadi gerakan tubuh.
  • Jadikan ia tempat hati berbicara kepada Allah.

Apa Makna Salam jika Kita Tidak Pernah Kembali ke Dunia?

Kemudian tibalah akhir shalat.

Kita menoleh ke kanan dan mengucapkan:

  • السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ
  • Assalāmu ‘alaikum wa raḥmatullāh.
  • Kemudian ke kiri.

Namun bagaimana jika setelah salam itu kita tidak pernah kembali ke dunia?

Bagaimana jika itulah salam terakhir yang kita ucapkan dalam kehidupan?

  • Pertanyaan ini menghadirkan kesadaran bahwa salam bukan sekadar penutup shalat. Ia menjadi simbol bahwa seorang muslim keluar dari ibadah dengan membawa kedamaian.

Jika itu salam terakhir kita, apakah orang-orang yang pernah hidup bersama kita akan mengingat kita sebagai manusia yang membawa kedamaian?

  • Apakah keluarga merasa kehilangan seseorang yang lembut dan penuh kasih?
  • Apakah sahabat mengenang kejujuran kita?
  • Apakah tetangga merasa kehilangan orang yang baik?
  • Apakah orang-orang yang pernah berurusan dengan kita merasa bahwa kita adalah manusia yang amanah?
  • Ataukah setelah kita pergi, yang tertinggal justru luka, hutang, konflik, kebohongan, dan permusuhan?

Jika Ini Shalat Terakhirku

  • Mungkin pertanyaan ini tidak perlu dijawab dengan kata-kata.
  • Jawablah dengan cara kita berdiri.
  • Jawablah dengan cara kita membaca Al-Fatihah.
  • Jawablah dengan cara kita rukuk.
  • Jawablah dengan cara kita bersujud.
  • Jawablah dengan cara kita berdoa.
  • Dan jawablah dengan cara kita menjalani hidup setelah salam.
  • Karena kita tidak pernah tahu shalat mana yang akan menjadi shalat terakhir kita.
  • Bisa jadi shalat yang sedang kita lakukan sekarang adalah salah satu kesempatan terakhir yang Allah berikan.
  • Maka jangan selalu menunggu kematian untuk membuat shalat menjadi khusyuk.
  • Jangan menunggu sakit untuk mengenal nikmat sehat.
  • Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai keluarga.
  • Jangan menunggu ajal untuk bertaubat.
  • Jangan menunggu shalat terakhir untuk benar-benar hadir di hadapan Allah.
  • Kerjakanlah shalat hari ini seolah-olah kita sedang diberi kesempatan yang sangat berharga untuk menghadap Allah.

SHALAT YANG HIDUP

Tubuh Bergerak, Lisan Membaca, Akal Memahami, Hati Hadir

  • Shalat yang hidup adalah ketika seluruh diri ikut beribadah.

Tubuhnya bergerak.

  • Ia berdiri dengan tertib, rukuk dengan tunduk, sujud dengan rendah hati, dan duduk dengan tenang sesuai tuntunan Nabi ﷺ.

Lisannya membaca.

  • Ia membaca takbir, Al-Fatihah, ayat Al-Qur’an, tasbih, tahmid, tasyahud, shalawat, doa, dan salam.

Akalnya memahami.

  • Ia mengetahui apa yang sedang dibaca. Ia memahami bahwa Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin adalah pujian kepada Allah. Ia memahami bahwa Iyyaka na‘budu wa iyyaka nasta‘in adalah pengakuan penghambaan dan permohonan pertolongan. Ia memahami bahwa Ihdinash-shirathal-mustaqim adalah permohonan agar Allah menunjukkan jalan yang lurus.

Hatinya hadir.

  • Ia merasa sedang berdiri di hadapan Allah. Ia takut kepada-Nya. Ia berharap kepada-Nya. Ia mencintai-Nya. Ia merasa membutuhkan-Nya.
  • Dan akhirnya—
  • kehidupannya berubah.
  • Inilah perjalanan shalat yang sempurna dalam makna spiritual: dari gerakan menuju kesadaran, dari kesadaran menuju penghayatan, dari penghayatan menuju akhlak, dan dari akhlak menuju perubahan kehidupan.

Shalat yang Hidup Tidak Berarti Tanpa Dosa

  • Shalat yang hidup bukan berarti pelakunya tidak pernah salah.
  • Manusia tetap manusia.
  • Ia bisa marah.
  • Ia bisa lupa.
  • Ia bisa tergelincir.
  • Ia bisa melakukan kesalahan.
  • Tetapi shalat membuatnya memiliki tempat untuk kembali.
  • Setiap kali ia berdosa, ia kembali memohon ampun.
  • Setiap kali ia tersesat, ia kembali meminta petunjuk.
  • Setiap kali ia lemah, ia kembali memohon pertolongan.
  • Setiap kali ia sombong, ia kembali bersujud.
  • Dengan demikian, shalat bukan tanda bahwa seseorang telah sempurna, melainkan salah satu sarana yang terus membimbingnya menuju perbaikan.

Bekas Shalat di Wajah Kehidupan

Bekas shalat tidak selalu berupa sesuatu yang dapat dilihat secara fisik.

Bekas shalat mungkin terlihat dalam kesabaran seorang ayah ketika menghadapi anaknya.

  • Dalam kelembutan seorang ibu.
  • Dalam kejujuran seorang pedagang.
  • Dalam amanah seorang pemimpin.
  • Dalam kesungguhan seorang pekerja.
  • Dalam kesetiaan seorang pasangan.
  • Dalam kepedulian seseorang kepada tetangganya.
  • Dalam kemampuan seseorang memaafkan.
  • Dalam keberanian seseorang mengatakan kebenaran.
  • Dalam keteguhan seseorang menolak sesuatu yang haram meskipun tidak ada manusia yang mengetahui.
  • Itulah sebagian bekas shalat.

Shalat yang hidup perlahan-lahan mengubah cara seseorang melihat dunia.

  • Shalat yang Mengubah Cara Kita Melihat Masalah
  • Orang yang hidup bersama shalat tidak berarti hidupnya bebas dari masalah.
  • Tetapi ia belajar menghadapi masalah dengan cara yang berbeda.
  • Ketika kehilangan, ia mengingat Allah.
  • Ketika takut, ia memohon pertolongan-Nya.
  • Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur.
  • Ketika melakukan kesalahan, ia bertaubat.
  • Ketika mendapatkan keberhasilan, ia tidak mudah lupa diri.
  • Ketika gagal, ia tidak mudah berputus asa.

Shalat tidak menjanjikan kehidupan tanpa ujian. Shalat membentuk manusia agar memiliki kekuatan spiritual dalam menghadapi ujian.

Allah berfirman:

  • وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ
  • Wasta‘īnū biṣ-ṣabri waṣ-ṣalāh.
  • “Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat.”
    QS. Al-Baqarah: 45

Shalat yang Mengubah Cara Kita Melihat Manusia

  • Shalat juga seharusnya mengubah cara kita memperlakukan manusia.
  • Kita melihat orang miskin bukan sebagai manusia yang lebih rendah.
  • Kita melihat orang kaya bukan sebagai manusia yang otomatis lebih mulia.
  • Kita melihat pemimpin sebagai manusia yang juga akan mempertanggungjawabkan amanahnya di hadapan Allah.
  • Kita melihat rakyat sebagai manusia yang memiliki kehormatan.
  • Kita melihat anak-anak sebagai amanah.
  • Kita melihat orang tua sebagai manusia yang harus dihormati.
  • Kita melihat tetangga sebagai bagian dari kehidupan sosial yang harus dijaga haknya.
  • Sebab setiap kali kita berdiri dalam shalat, kita mengakui bahwa kita semua adalah hamba Allah.

Shalat yang Mengubah Cara Kita Melihat Diri Sendiri

Shalat juga mengajarkan manusia untuk melihat dirinya dengan jujur.

  • Ia tidak terlalu bangga ketika dipuji.
  • Ia tidak terlalu hancur ketika dicela.
  • Ia tidak menganggap dirinya paling suci.
  • Ia tidak mudah menghakimi orang lain.
  • Ia mengetahui bahwa dirinya memiliki kelemahan.
  • Karena itu, semakin sering bersujud, seharusnya semakin rendah hati.
  • Semakin banyak membaca Al-Fatihah, semakin sadar bahwa ia membutuhkan petunjuk.
  • Semakin sering mengucapkan Allahu Akbar, semakin sadar bahwa dirinya kecil.
  • Semakin sering memohon ampun, semakin sadar bahwa dirinya membutuhkan rahmat Allah.

Shalat yang Hidup Sampai Setelah Kematian

  • Kita tidak akan selamanya hidup.
  • Akan tiba saat ketika azan terdengar tetapi kita tidak lagi mampu menjawabnya.
  • Akan tiba saat ketika waktu shalat datang tetapi kita tidak lagi dapat berdiri.
  • Akan tiba saat ketika sajadah tetap terbentang, tetapi tubuh kita telah kembali kepada tanah.
  • Pada saat itu, yang tersisa bukan lagi berapa mahal sajadah kita, seberapa indah pakaian shalat kita, atau seberapa banyak orang mengetahui bahwa kita rajin shalat.
  • Yang tersisa adalah amal.
  • Maka selama masih diberi kesempatan, mari hidupkan shalat kita.
  • Bukan sekadar memperbanyak gerakan.
  • Tetapi memperdalam makna.
  • Bukan sekadar memperbanyak bacaan.
  • Tetapi menghadirkan hati.
  • Bukan sekadar mengejar kesempurnaan penampilan.
  • Tetapi mengejar keridaan Allah.
  • Dan bukan sekadar menjadi orang yang rajin shalat, tetapi menjadi manusia yang shalatnya meninggalkan kebaikan.

Renungan Terakhir

  • Tubuhnya bergerak.
  • Lisannya membaca.
  • Akalnya memahami.
  • Hatinya hadir.
  • Jiwanya tunduk.
  • Akhlaknya berubah.
  • Keluarganya merasakan kebaikan.
  • Masyarakat merasakan manfaatnya.
  • Dan ketika ia meninggalkan masjid, dunia menjadi sedikit lebih baik karena keberadaannya.
  • Itulah shalat yang hidup.

EPILOG: DARI TAKBIR MENUJU PERUBAHAN

Shalat dimulai dengan mengagungkan Allah dan berakhir dengan menebarkan salam.

Di antara keduanya, seorang hamba belajar merendahkan diri, memohon ampun, mencari petunjuk, bersyukur, bersujud, dan mengingat bahwa seluruh hidupnya berada di hadapan Allah.

  • Ia berdiri dengan membawa segala kelemahan.
  • Ia membaca Al-Fatihah dengan membawa segala kebutuhan.
  • Ia rukuk dengan meninggalkan kesombongan.
  • Ia sujud dengan menyerahkan dirinya kepada Allah.
  • Ia berdoa dengan membawa harapan.
  • Ia duduk dengan penuh ketenangan.
  • Ia membaca tasyahud dengan memperbarui kesaksian iman.

Kemudian ia mengucapkan sal am.

  • Dan ia kembali kepada kehidupan.
  • Namun, seharusnya ada sesuatu yang berbeda.
  • Ia kembali kepada keluarganya dengan hati yang lebih lembut.
  • Ia kembali kepada pekerjaannya dengan amanah yang lebih kuat.
  • Ia kembali kepada masyarakat dengan kepedulian yang lebih besar.
  • Ia kembali menghadapi masalah dengan tawakal.
  • Ia kembali menghadapi godaan dengan kesadaran bahwa Allah melihatnya.
  • Ia kembali menjalani dunia dengan keyakinan bahwa dunia bukan tujuan terakhir.
  • Sebab shalat tidak dimaksudkan untuk membuat manusia melarikan diri dari kehidupan, tetapi untuk membuat manusia mampu menjalani kehidupan dengan orientasi yang benar.
  • Shalat mengajarkan bahwa manusia adalah hamba sebelum ia menjadi apa pun yang lain.
  • Sebelum menjadi pemimpin, ia adalah hamba.
  • Sebelum menjadi pengusaha, ia adalah hamba.
  • Sebelum menjadi dokter, guru, pejabat, pekerja, orang kaya, orang terkenal, atau siapa pun, ia tetap seorang hamba.
  • Dan seorang hamba memiliki Rabb yang harus disembah, ditaati, dicintai, ditakuti, dan diharapkan rahmat-Nya.
  • Maka, perjalanan shalat sebenarnya bukan hanya perjalanan dari takbir menuju salam.
  • Ia adalah perjalanan dari kesombongan menuju ketundukan.
  • Dari kelalaian menuju kesadaran.
  • Dari kecemasan menuju ketenangan.
  • Dari dosa menuju taubat.
  • Dari kebingungan menuju petunjuk.
  • Dari kelemahan menuju pertolongan Allah.
  • Dari rutinitas menuju penghayatan.
  • Dari masjid menuju kehidupan.
  • Dan dari ibadah menuju perubahan diri.

Pada akhirnya, mungkin bukan pertanyaan: “Berapa lama kita telah shalat?” Tetapi: “Apa yang telah shalat lakukan terhadap diri kita?”

  • Apakah ia telah melembutkan hati?
  • Apakah ia telah menundukkan kesombongan?
  • Apakah ia telah memperbaiki lisan?
  • Apakah ia telah menjaga tangan dari menyakiti?
  • Apakah ia telah membuat kita lebih jujur?
  • Apakah ia telah membuat keluarga kita merasa lebih dicintai?
  • Apakah ia telah membuat orang lain merasa lebih aman?
  • Apakah ia telah membuat kita semakin takut kepada dosa dan semakin rindu kepada Allah?
  • Dan ketika suatu hari kita berdiri untuk shalat yang benar-benar terakhir, semoga kita tidak berdiri sebagai orang asing di hadapan Allah.
  • Semoga kita berdiri sebagai hamba yang telah berusaha mengenal Rabb-nya.
  • Semoga takbir terakhir kita menjadi takbir yang paling tulus.
  • Semoga Al-Fatihah terakhir kita menjadi Al-Fatihah yang paling kita pahami.
  • Semoga sujud terakhir kita menjadi sujud yang paling rendah hati.
  • Semoga doa terakhir kita menjadi doa yang paling jujur.
  • Dan semoga salam terakhir kita menjadi salam yang membawa kita menuju rahmat Allah.

Karena pada akhirnya, shalat bukan hanya tentang bagaimana kita berdiri di hadapan Allah, tetapi tentang bagaimana kita hidup setelah berdiri di hadapan-Nya.

  • Dari takbir kita belajar bahwa Allah Mahabesar.
  • Dalam rukuk kita belajar merendahkan diri.
  • Dalam sujud kita belajar menyerahkan diri.
  • Dalam doa kita belajar berharap.
  • Dalam salam kita belajar menebarkan kedamaian.

Dan setelah semua itu, kita kembali menjalani kehidupan sebagai hamba.

  • Semoga shalat kita tidak hanya sah di hadapan Allah, tetapi juga hidup di dalam hati, nyata dalam akhlak, dan meninggalkan jejak kebaikan dalam kehidupan.
  • اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلَاتَنَا نُورًا فِي قُلُوبِنَا، وَهُدًى فِي حَيَاتِنَا، وَسَبَبًا لِصَلَاحِ أَخْلَاقِنَا وَأَعْمَالِنَا
  • Allāhummaj‘al ṣalātanā nūran fī qulūbinā, wa hudan fī ḥayātinā, wa sababan liṣalāḥi akhlāqinā wa a‘mālinā.
  • “Ya Allah, jadikanlah shalat kami sebagai cahaya di dalam hati kami, petunjuk dalam kehidupan kami, dan sebab bagi perbaikan akhlak serta amal kami.”
  • Dari takbir menuju perubahan.
    Dari sajadah menuju kehidupan.
    Dari penghambaan menuju kemuliaan sebagai manusia.
    Dan dari dunia menuju perjumpaan dengan Allah.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *