MAB MASJID AL-FALAH BENHIL

MAB PORTAL ISLAM: “Dari Masjid untuk Umat, Berbagi Ilmu dan Kebaikan”

APAKAH SAINS MODERN BISA MENJELASKAN ISRA MI’RAJ ? ISRA MI’RAJ DALAM PERSPEKTIF ISLAM DAN SAINS MODERN

TANYA JAWAB:

APAKAH SAINS MODERN BISA MENJELASKAN ISRA MI’RAJ ? ISRA MI’RAJ DALAM PERSPEKTIF ISLAM DAN SAINS MODER

Pertanyaan:

Apakah Isra Mi’raj dapat dijelaskan dengan sains modern? Isra Mi’raj merupakan peristiwa luar biasa yang dialami Nabi Muhammad ﷺ, yaitu perjalanan malam dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina, kemudian dilanjutkan dengan Mi’raj ke langit. Peristiwa Isra disebut secara jelas dalam QS Al-Isra’ ayat 1, sedangkan rangkaian Mi’raj dijelaskan dalam berbagai hadis sahih. Pertanyaannya, di tengah perkembangan ilmu pengetahuan modern tentang ruang, waktu, gravitasi, relativitas, dimensi alam semesta, dan perjalanan antariksa, apakah sains dapat membantu manusia memahami Isra Mi’raj tanpa mengubah kedudukannya sebagai mukjizat?

Jawaban:

Mukjizat Isra Mi’raj: Di Luar Batas Kemampuan Manusia

Dalam perspektif Islam, Isra Mi’raj adalah mukjizat yang terjadi atas kehendak dan kekuasaan Allah SWT. Al-Qur’an tidak menggambarkannya sebagai perjalanan biasa yang semata-mata dilakukan dengan kemampuan manusia, tetapi sebagai tanda kebesaran Allah. QS Al-Isra’ ayat 1 menyebutkan perjalanan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa. Karena merupakan mukjizat, Isra Mi’raj tidak harus dapat dijelaskan seluruh mekanismenya berdasarkan hukum-hukum alam yang saat ini diketahui manusia. Ketidakmampuan manusia menjelaskan suatu mukjizat secara fisika bukan berarti mukjizat tersebut menjadi tidak mungkin secara teologis.

Relativitas Einstein: Ruang dan Waktu Tidak Mutlak

Sains modern justru memberikan gambaran bahwa ruang dan waktu jauh lebih kompleks daripada pengalaman manusia sehari-hari. Dalam teori relativitas Einstein, waktu bukan sesuatu yang mutlak sama bagi seluruh pengamat; pengukuran waktu dapat dipengaruhi oleh kecepatan dan medan gravitasi. Ruang dan waktu juga dipahami sebagai bagian dari satu kesatuan ruang-waktu (spacetime). Pengetahuan ini tidak membuktikan Isra Mi’raj, tetapi membantu kita memahami bahwa konsep perjalanan, jarak, dan waktu dalam alam semesta tidak sesederhana persepsi manusia sehari-hari.

Wormhole dan Fisika Modern: Kemungkinan Bukan Bukti

Dalam fisika modern terdapat berbagai konsep teoretis mengenai struktur ruang-waktu, termasuk wormhole, yaitu kemungkinan geometris tertentu dalam relativitas yang secara matematis dapat menghubungkan wilayah ruang-waktu yang sangat berjauhan. Namun, penting membedakan kemungkinan matematis dalam teori fisika dengan kenyataan yang telah terbukti secara eksperimen. Sampai sekarang tidak ada bukti ilmiah bahwa Isra Mi’raj terjadi melalui wormhole, dimensi tambahan, kecepatan tertentu, atau mekanisme fisika tertentu. Karena itu, menghubungkan Isra Mi’raj secara langsung dengan wormhole hanyalah spekulasi dan tidak boleh disebut sebagai penjelasan ilmiah yang pasti.

Batas Sains dan Kebesaran Allah: Iman Tidak Menunggu Pembuktian Laboratorium

Hal yang lebih penting adalah memahami batas antara wahyu dan sains. Sains bekerja melalui pengamatan, pengukuran, pengujian, dan metode yang dapat diverifikasi. Sementara itu, mukjizat merupakan peristiwa luar biasa yang terjadi atas kehendak Allah dan tidak harus mengikuti pola fenomena alam biasa yang dapat diulang dalam laboratorium. Karena itu, mengatakan “Isra Mi’raj sudah terbukti oleh teori relativitas” tidak tepat secara ilmiah. Sebaliknya, mengatakan “Isra Mi’raj bertentangan dengan sains karena manusia belum menemukan mekanismenya” juga merupakan kesimpulan yang terlalu jauh.

Sains mengajarkan manusia bahwa pengetahuan tentang alam semesta terus berkembang dan masih memiliki banyak keterbatasan. Isra Mi’raj diyakini karena wahyu dan keimanan kepada Allah, sedangkan sains dapat menjadi sarana untuk menyadari betapa luas, kompleks, dan belum sepenuhnya dipahami alam ciptaan-Nya.

Kesimpulannya,

Isra Mi’raj tidak membutuhkan pembuktian fisika agar menjadi bagian dari iman seorang Muslim. Sains modern dapat memberikan perspektif bahwa ruang, waktu, gravitasi, dan alam semesta memiliki karakter yang jauh lebih kompleks daripada pengalaman manusia. Namun, mekanisme sebenarnya dari Isra Mi’raj merupakan bagian dari perkara gaib dan mukjizat yang tidak dapat kita pastikan dengan teori fisika yang ada. Sikap yang paling ilmiah sekaligus sesuai dengan akidah adalah tidak memaksakan sains untuk membuktikan mukjizat, tetapi juga tidak menjadikan keterbatasan sains sebagai alasan untuk menolak kekuasaan Allah SWT.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *