MAB MASJID AL-FALAH BENHIL

MAB PORTAL ISLAM: “Dari Masjid untuk Umat, Berbagi Ilmu dan Kebaikan”

KONTROVERSI PENYALIBAN YESUS: ANALISIS KOMPARATIF AL-QUR’AN DAN PERJANJIAN BARU

KONTROVERSI PENYALIBAN YESUS: ANALISIS KOMPARATIF AL-QUR’AN DAN PERJANJIAN BARU

PENYALIBAN YESUS DAN KONSEP DISERUPAKAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN PERJANJIAN BARU: ANALISIS KOMPARATIF QS AN-NISA 4:157-158 DAN NARASI INJIL TENTANG SIMON DARI KIRENE

Penyaliban Yesus merupakan salah satu perbedaan teologis paling mendasar antara Islam dan Kekristenan. Artikel ini bertujuan menganalisis secara komparatif pandangan Al-Qur’an dan Perjanjian Baru mengenai identitas Isa atau Yesus, peristiwa penyaliban, kematian, serta konsep “diserupakan” yang terdapat dalam QS An-Nisa 4:157-158. Al-Qur’an menyebut Isa bin Maryam sebagai Al-Masih dan rasul Allah. QS An-Nisa 4:157 menyatakan bahwa mereka tidak membunuh dan tidak menyalibnya, tetapi perkara tersebut dibuat tampak demikian bagi mereka. QS An-Nisa 4:158 kemudian menyatakan bahwa Allah mengangkat Isa kepada-Nya. Al-Qur’an tidak menyebut secara eksplisit identitas individu yang dikaitkan dengan konsep “diserupakan” tersebut. Sebaliknya, Perjanjian Baru, terutama Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes, menggambarkan Yesus ditangkap, diadili di bawah otoritas Pontius Pilatus, dibawa menuju tempat penyaliban, disalibkan, wafat, dan kemudian diberitakan bangkit dari kematian. Dalam narasi Injil Sinoptik, Simon dari Kirene disebut sebagai orang yang dipaksa memanggul salib Yesus, sebagaimana Matius 27:32, Markus 15:21, dan Lukas 23:26. Analisis menunjukkan bahwa Simon dari Kirene tidak secara eksplisit disebut dalam Al-Qur’an dan tidak dapat secara tekstual diidentifikasi sebagai orang yang “diserupakan” dengan Isa. Hubungan antara narasi Simon dan konsep “diserupakan” merupakan wilayah interpretasi yang perlu dibedakan dari pernyataan eksplisit sumber primer. Kajian ini menegaskan bahwa perbandingan Al-Qur’an dan Perjanjian Baru harus mempertahankan perbedaan antara data tekstual, interpretasi historis, dan konstruksi teologis yang berkembang dalam tradisi Islam dan Kekristenan.

Penyaliban Yesus merupakan salah satu tema yang memiliki posisi sentral dalam perbandingan teologi Islam dan Kekristenan. Kedua tradisi memiliki sejumlah titik temu mengenai identitas Yesus atau Isa sebagai tokoh penting dalam sejarah keagamaan, tetapi memberikan penjelasan yang berbeda mengenai akhir kehidupan beliau. Dalam tradisi Islam, Isa bin Maryam dipandang sebagai Al-Masih dan rasul Allah. Al-Qur’an memberikan perhatian khusus terhadap klaim bahwa Isa dibunuh dan disalibkan. QS An-Nisa 4:157 menyatakan bahwa mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi perkara tersebut dibuat tampak demikian bagi mereka. Ayat berikutnya, QS An-Nisa 4:158, menyatakan bahwa Allah mengangkat Isa kepada-Nya. Dua ayat tersebut menjadi dasar penting bagi pembahasan mengenai penyaliban Isa dalam perspektif Islam.

Dalam tradisi Kekristenan, penyaliban Yesus merupakan bagian fundamental dari narasi Injil dan memiliki makna teologis yang berkaitan dengan dosa, keselamatan, kematian, dan kebangkitan. Keempat Injil kanonik memberikan narasi mengenai penangkapan Yesus, pemeriksaan di hadapan otoritas, keterlibatan Pontius Pilatus, perjalanan menuju tempat penyaliban, penyaliban, kematian, dan pemberitaan mengenai kebangkitan. Matius 27:32, Markus 15:21, dan Lukas 23:26 secara khusus menyebut Simon dari Kirene sebagai seseorang yang dipaksa memanggul salib Yesus. Narasi ini kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam tradisi Kristen mengenai perjalanan Yesus menuju Golgota.

Keberadaan Simon dari Kirene menimbulkan pertanyaan komparatif ketika narasi Injil tersebut ditempatkan berdampingan dengan QS An-Nisa 4:157. Dalam sejumlah pembahasan mengenai konsep “diserupakan”, kisah Simon dapat dipertimbangkan sebagai salah satu narasi yang relevan untuk dianalisis. Namun, Al-Qur’an tidak menyebut nama Simon dari Kirene dan tidak menyatakan bahwa Simon merupakan individu yang diserupakan dengan Isa. Karena itu, identifikasi Simon sebagai orang yang dimaksud dalam konsep tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai pernyataan eksplisit Al-Qur’an. Sebaliknya, hubungan tersebut harus ditempatkan sebagai hipotesis atau interpretasi tertentu yang memerlukan analisis tekstual dan historis.

Perbedaan antara kedua sumber juga terlihat dalam cara masing-masing tradisi menjelaskan identitas dan nasib Yesus. Al-Qur’an menekankan status Isa sebagai Al-Masih, rasul Allah, dan hamba Allah, sementara Perjanjian Baru memberikan posisi sentral kepada Yesus dalam narasi penyaliban dan kebangkitan. Perbedaan ini menghasilkan konsekuensi teologis yang luas, terutama mengenai konsep kenabian, hubungan Yesus dengan Tuhan, makna kematian, keselamatan, dan kebangkitan. Oleh karena itu, kajian terhadap penyaliban tidak cukup dilakukan hanya dengan membandingkan satu ayat Al-Qur’an dengan satu bagian Injil, tetapi perlu memperhatikan keseluruhan konteks tekstual dan tradisi interpretatif masing-masing.

Artikel ini menggunakan pendekatan analisis komparatif terhadap QS An-Nisa 4:157-158 dan narasi penyaliban dalam Perjanjian Baru, dengan perhatian khusus pada kisah Simon dari Kirene. Tujuannya adalah membedakan secara jelas antara apa yang dinyatakan secara langsung oleh teks, apa yang merupakan interpretasi teologis, dan apa yang berkembang sebagai hipotesis dalam kajian mengenai penyaliban. Pendekatan tersebut diharapkan dapat menghasilkan pembahasan yang lebih objektif mengenai konsep “diserupakan”, identitas orang yang dikaitkan dengan peristiwa tersebut, serta posisi Simon dari Kirene dalam narasi Injil.

RUMUSAN MASALAH

Artikel ini membahas beberapa pertanyaan utama:

  1. Bagaimana Al-Qur’an menggambarkan peristiwa yang berkaitan dengan pembunuhan dan penyaliban Isa?
  2. Bagaimana keempat Injil menggambarkan penangkapan, pengadilan, penyaliban, dan kematian Yesus?
  3. Apa persamaan dan perbedaan antara QS An-Nisa 4:157-158 dan narasi penyaliban dalam keempat Injil?
  4. Apakah Al-Qur’an menyebut identitas orang yang diserupakan dengan Isa?
  5. Bagaimana perbedaan tersebut memengaruhi konsep keselamatan dalam Islam dan Kekristenan?

TUJUAN

Penelitian ini bertujuan menganalisis secara komparatif teks Al-Qur’an dan Perjanjian Baru mengenai akhir kehidupan Isa atau Yesus.

Tujuan khusus penelitian meliputi:

  1. Menganalisis QS An-Nisa 4:157-158.
  2. Menganalisis narasi penyaliban dalam Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.
  3. Membandingkan struktur narasi kedua sumber.
  4. Menganalisis konsep kematian dan kebangkitan.
  5. Membedakan informasi tekstual dengan interpretasi teologis.
  6. Menjelaskan konsekuensi teologis dari perbedaan tersebut.

METODE PENELITIAN

  • Artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis komparatif tekstual. Sumber utama penelitian terdiri atas Al-Qur’an, khususnya QS An-Nisa 4:157-158, serta empat Injil kanonik dalam Perjanjian Baru, yaitu Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.
  • Analisis dilakukan melalui beberapa tahap. Pertama, mengidentifikasi pernyataan eksplisit mengenai Isa atau Yesus. Kedua, mengidentifikasi narasi mengenai penangkapan, pengadilan, penyaliban, kematian, penguburan, dan peristiwa setelah kematian. Ketiga, membandingkan persamaan dan perbedaan setiap sumber. Keempat, menganalisis implikasi teologis dari perbedaan tersebut.
  • Kajian ini membedakan tiga kategori informasi, yaitu data tekstual, interpretasi teologis, dan rekonstruksi sejarah. Pembedaan ini penting karena tidak semua penafsiran yang berkembang dalam tradisi keagamaan terdapat secara eksplisit dalam teks primer.

ISA DALAM AL-QUR’AN

  • Al-Qur’an memberikan kedudukan penting kepada Isa bin Maryam. Ia disebut sebagai Isa putra Maryam dan Al-Masih. Al-Qur’an juga menyebut berbagai mukjizat yang diberikan kepadanya dengan izin Allah.
  • Dalam konteks akhir kehidupan Isa, QS An-Nisa 4:157 menjadi ayat utama:
  • “Mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh ialah orang yang diserupakan bagi mereka.”
  • Ayat tersebut kemudian menyatakan bahwa orang-orang yang berselisih mengenai peristiwa tersebut berada dalam keraguan dan tidak memiliki pengetahuan yang pasti mengenai hal itu.

QS An-Nisa 4:158 kemudian menyatakan bahwa Allah mengangkat Isa kepada-Nya.

Dari sisi tekstual, terdapat dua pernyataan utama:

  • Isa tidak dibunuh oleh mereka.
  • Isa tidak disalib oleh mereka.

Kemudian terdapat pernyataan mengenai pengangkatan Isa oleh Allah.

Al-Qur’an tidak menyebut siapa orang yang mungkin diserupakan dengan Isa. Karena itu, nama tertentu seperti Yudas tidak dapat diklaim sebagai informasi eksplisit dari ayat tersebut.

ANALISIS QS AN-NISA 4:157-158

Tabel 1. Unsur Utama QS An-Nisa 4:157-158

Unsur Isi
Tokoh Isa bin Maryam
Klaim lawan Mereka mengklaim membunuh Isa
Pembunuhan Al-Qur’an menolak bahwa mereka membunuh Isa
Penyaliban Al-Qur’an menolak bahwa mereka menyalib Isa
“Diserupakan” Perkara tersebut dibuat tampak demikian bagi mereka
Identitas orang lain Tidak disebutkan
Kondisi pengetahuan manusia Digambarkan sebagai keraguan dan dugaan
Tindakan Allah Allah mengangkat Isa kepada-Nya

Ayat tersebut tidak memberikan kronologi lengkap seperti narasi Injil. Fokusnya berada pada koreksi terhadap klaim pembunuhan dan penyaliban serta pada tindakan Allah terhadap Isa.

YESUS DALAM PERJANJIAN BARU

  • Perjanjian Baru memuat empat Injil kanonik. Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes memberikan narasi mengenai kehidupan dan pelayanan Yesus serta bagian akhir kehidupannya.
  • Keempat Injil menggambarkan Yesus mengalami penangkapan dan kemudian menghadapi proses pemeriksaan. Narasi tersebut melibatkan otoritas Yahudi dan Romawi. Pontius Pilatus memiliki peran penting dalam keputusan yang mengarah pada penyaliban.
  • Setelah keputusan tersebut, Yesus dibawa untuk disalibkan. Keempat Injil menyatakan bahwa Yesus mati dan kemudian dikuburkan.
  • Peristiwa tersebut diikuti oleh berita kebangkitan. Para murid menemukan makam dalam keadaan kosong dan kemudian mengalami atau menerima kesaksian mengenai penampakan Yesus.

NARASI PENYALIBAN DALAM EMPAT INJIL

Matius 27, Markus 15, dan Lukas 23 memberikan narasi mengenai Yesus yang dibawa kepada Pontius Pilatus, kemudian diserahkan untuk disalibkan. Matius dan Markus secara khusus menyebut Simon dari Kirene sebagai orang yang dipaksa memanggul salib Yesus dalam perjalanan menuju tempat eksekusi. Lukas juga mencatat Simon sebagai orang yang dipaksa membawa salib mengikuti Yesus. Ketiga Injil tersebut kemudian menggambarkan Yesus disalibkan dan mengalami kematian, dilanjutkan dengan penguburan oleh Yusuf dari Arimatea. Matius 28, Markus 16, dan Lukas 24 selanjutnya menceritakan makam yang ditemukan kosong serta berita mengenai penampakan Yesus setelah kebangkitan. Lukas memberikan perhatian lebih besar terhadap proses pemeriksaan Yesus dan mencatat sejumlah perkataan Yesus ketika berada di kayu salib. Dengan demikian, ketiga Injil Sinoptik secara eksplisit menempatkan Simon dari Kirene dalam perjalanan Yesus menuju penyaliban, tetapi tidak menyatakan bahwa Simon menggantikan Yesus dalam penyaliban.

Yohanes 18-19 memberikan narasi yang lebih panjang mengenai hubungan dan dialog antara Yesus dengan Pontius Pilatus. Pilatus akhirnya menyerahkan Yesus untuk disalibkan, kemudian Yesus dibawa ke tempat yang disebut Golgota dan disalibkan. Berbeda dari Matius, Markus, dan Lukas, Yohanes 19:17 menyatakan bahwa Yesus membawa salib-Nya sendiri menuju tempat penyaliban, sehingga terdapat perbedaan detail naratif mengenai siapa yang membawa salib dalam perjalanan tersebut. Yohanes juga menggambarkan kematian Yesus secara eksplisit dan kemudian menceritakan keterlibatan Yusuf dari Arimatea serta Nikodemus dalam penguburan. Yohanes 20 melanjutkan kisah dengan penemuan makam kosong dan penampakan Yesus kepada para pengikutnya. Jika keempat Injil dibandingkan dengan QS An-Nisa 4:157-158, terlihat adanya perbedaan mendasar mengenai peristiwa penyaliban. Injil secara eksplisit menampilkan Yesus sebagai tokoh yang disalibkan, sedangkan Al-Qur’an menyatakan bahwa Isa tidak dibunuh dan tidak disalibkan serta bahwa perkara tersebut dibuat tampak demikian bagi mereka. Al-Qur’an juga tidak menyebut Simon dari Kirene sebagai orang yang diserupakan dengan Isa.

PERBANDINGAN KEEMPAT INJIL

Tabel 2. Perbandingan Narasi Penyaliban

Unsur Matius Markus Lukas Yohanes
Penangkapan Ya Ya Ya Ya
Pemeriksaan Ya Ya Ya Ya
Pilatus Ya Ya Ya Ya
Keputusan penyaliban Ya Ya Ya Ya
Simon dari Kirene Ya Ya Ya Tidak ditekankan
Yesus disalib Ya Ya Ya Ya
Yesus mati Ya Ya Ya Ya
Yusuf dari Arimatea Ya Ya Ya Ya
Penguburan Ya Ya Ya Ya
Makam kosong Ya Ya Ya Ya
Penampakan Ya Ya Ya Ya

PERBANDINGAN AL-QUR’AN DAN INJIL

Tabel 3. Perbandingan Tekstual

Aspek Al-Qur’an Perjanjian Baru
Nama Isa bin Maryam Yesus Kristus
Al-Masih Ya Ya
Utusan Allah Ya Konsep rasul tidak menjadi identitas utama Yesus
Penolakan Ya Ya
Penangkapan Tidak diceritakan dalam QS 4:157-158 Ya
Pilatus Tidak disebut dalam QS 4:157-158 Ya
Penyaliban Tidak Ya
Pembunuhan Tidak Ya
Penguburan Tidak diceritakan dalam ayat tersebut Ya
Kebangkitan Tidak dalam bentuk narasi Injil Ya
Pengangkatan Ya Ya setelah kebangkitan
Pengganti Tidak disebutkan Tidak ada
Keselamatan melalui salib Tidak Ya dalam teologi Kristen

PERSAMAAN AL-QUR’AN DAN PERJANJIAN BARU

Perbedaan mengenai penyaliban tidak menghilangkan seluruh persamaan antara kedua tradisi.

  • Pertama, kedua sumber berbicara mengenai tokoh yang memiliki kedudukan khusus dalam hubungan manusia dengan Tuhan.
  • Kedua, keduanya menggambarkan Yesus atau Isa sebagai tokoh yang mengalami penolakan dan konflik.
  • Ketiga, kedua tradisi tidak menggambarkan akhir kehidupan tokoh tersebut sebagai kemenangan manusia atas kehendak Tuhan. Dalam Al-Qur’an, Allah mengangkat Isa. Dalam Perjanjian Baru, Yesus bangkit dan kemudian naik ke surga.
  • Keempat, kedua tradisi memberikan posisi penting kepada Isa atau Yesus dalam sejarah keagamaan manusia.

PERBEDAAN FUNDAMENTAL

Tabel 4. Perbedaan Pokok

Tema Islam Kekristenan
Identitas Isa adalah Al-Masih dan rasul Allah Yesus adalah Kristus dan memiliki kedudukan ilahi dalam doktrin Kristen
Penyaliban Isa tidak disalib Yesus disalib
Kematian Tidak dibunuh oleh mereka Mati setelah penyaliban
Kebangkitan Tidak terdapat narasi kebangkitan dari kematian akibat salib Kebangkitan merupakan pusat iman Kristen
Pengangkatan Allah mengangkat Isa Yesus naik ke surga setelah kebangkitan
Penebusan Tidak melalui penyaliban Isa Penyaliban memiliki peran utama dalam keselamatan
Dosa Manusia bertanggung jawab atas amalnya sendiri Kematian Kristus memiliki hubungan dengan pengampunan dan keselamatan
Identitas pengganti Tidak disebutkan Tidak ada pengganti

PERSOALAN “ORANG YANG DISERUPAKAN”

  • Salah satu pertanyaan paling sering muncul dalam pembahasan QS An-Nisa 4:157 adalah siapa yang dimaksud dengan orang yang “diserupakan”.
  • Jawaban yang paling hati-hati adalah bahwa Al-Qur’an tidak memberikan nama.
  • Dalam sejarah tafsir, terdapat berbagai riwayat yang mencoba menjelaskan persoalan tersebut. Beberapa riwayat menghubungkannya dengan salah satu pengikut Isa atau orang yang berperan dalam penangkapan. Riwayat lainnya memberikan penjelasan berbeda.
  • Keragaman tersebut menunjukkan bahwa identitas orang yang diserupakan tidak memiliki satu penjelasan tunggal dalam seluruh literatur Islam.
  • Karena itu, kalimat “Al-Qur’an mengatakan Yudas disalib menggantikan Isa” tidak tepat jika digunakan sebagai pernyataan tekstual. Formulasi yang lebih akurat adalah “Sebagian riwayat tafsir memberikan identifikasi tertentu terhadap orang yang diserupakan, tetapi Al-Qur’an sendiri tidak menyebut namanya.”

KONSEP KESELAMATAN

  • Perbedaan mengenai penyaliban berhubungan langsung dengan perbedaan konsep keselamatan.
  • Dalam Kekristenan, kematian Yesus dan kebangkitan merupakan pusat narasi keselamatan. Surat-surat Perjanjian Baru, terutama tulisan Paulus, memberikan interpretasi teologis terhadap kematian Kristus dalam hubungan dengan dosa dan keselamatan manusia.
  • Dalam Islam, keselamatan tidak bergantung pada kematian Isa di salib. Al-Qur’an menekankan keimanan kepada Allah, amal saleh, pertobatan, dan rahmat Allah.
  • Dengan demikian, perbedaan penyaliban tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan dengan perbedaan yang lebih luas mengenai sifat manusia, dosa, kenabian, wahyu, pengampunan, dan hubungan manusia dengan Allah.

KEBANGKITAN DAN PENGANGKATAN

  • Perbedaan lain terdapat pada konsep kebangkitan.
  • Perjanjian Baru menyusun rangkaian:
  • Penyaliban → kematian → penguburan → kebangkitan → penampakan → kenaikan.
  • Sementara QS An-Nisa 4:157-158 memberikan rangkaian:
  • Penolakan terhadap klaim pembunuhan dan penyaliban → perkara dibuat tampak demikian → Allah mengangkat Isa.
  • Karena itu, kedua sumber tidak memberikan kronologi yang identik.

Kisah Orang Ikut Memanggul Salib

Kisah Simon dari Kirene yang ikut memanggul salib Yesus kadang dikaitkan oleh sebagian penafsir dengan perdebatan tentang penyaliban dan konsep “diserupakan” dalam QS An-Nisa 4:157. Namun, hubungan tersebut tidak dinyatakan secara eksplisit oleh Al-Qur’an maupun Injil. Injil Matius 27:32, Markus 15:21, dan Lukas 23:26 menyebut Simon sebagai orang yang dipaksa memanggul salib, sedangkan QS An-Nisa 4:157 menyatakan bahwa mereka tidak membunuh dan tidak menyalib Yesus, tetapi “orang yang diserupakan bagi mereka”. Al-Qur’an tidak menyebut nama orang yang diserupakan, sehingga tidak ada dasar tekstual yang secara langsung mengidentifikasi Simon dari Kirene sebagai orang tersebut. Karena itu, kisah Simon dapat dibahas sebagai bagian dari perbandingan narasi penyaliban, tetapi menyatakan bahwa Simon pasti merupakan orang yang diserupakan dengan Yesus merupakan sebuah penafsiran, bukan fakta yang ditegaskan oleh sumber primer.

Kisah orang yang membantu memanggul salib Yesus dalam tradisi Injil merujuk kepada Simon dari Kirene. Dalam Injil Sinoptik, ketika Yesus dibawa menuju tempat penyaliban, para prajurit Romawi memaksa Simon untuk memanggul salib. Markus 15:21 menyebut Simon sebagai orang Kirene yang sedang datang dari luar kota dan menyebutnya sebagai ayah Aleksander dan Rufus. Matius 27:32 juga menyebut Simon dari Kirene, sedangkan Lukas 23:26 menjelaskan bahwa para prajurit mengambil Simon yang sedang lewat dan meletakkan salib di atasnya agar ia membawanya mengikuti Yesus. Narasi tersebut menunjukkan bahwa Simon tampaknya tidak datang secara sukarela untuk membantu Yesus. Ia sedang berada dalam perjalanan ketika prajurit Romawi memaksanya membawa salib. Peristiwa ini juga menggambarkan kondisi fisik Yesus yang sangat lemah setelah mengalami penyiksaan.

Namun, Injil tidak menyatakan bahwa Simon membawa seluruh salib Yesus sejak awal perjalanan hingga Golgota. Teks hanya menyebut bahwa Simon dipaksa memikul salib ketika mereka membawa Yesus menuju tempat penyaliban. Yohanes 19:17 memberikan penyajian yang berbeda dengan menyatakan bahwa Yesus membawa salib-Nya sendiri menuju Golgota. Karena itu, keempat Injil perlu dibaca sesuai dengan masing-masing narasinya. Nama Aleksander dan Rufus yang disebut Markus juga menarik karena kemungkinan menunjukkan bahwa keluarga Simon dikenal oleh komunitas pembaca Markus, meskipun teks tidak memberikan informasi yang cukup untuk memastikan identitas mereka. Kisah Simon dari Kirene juga perlu dibedakan dari konsep “orang yang diserupakan dengan Yesus” dalam QS An-Nisa 4:157, karena Al-Qur’an tidak menyebut Simon dari Kirene sebagai orang yang diserupakan.

ASPEK SEJARAH

  • Tacitus, sejarawan Romawi yang hidup pada akhir abad pertama hingga awal abad kedua Masehi, menyebut Christus dalam Annals 15.44 ketika membahas pemerintahan Kaisar Nero dan penganiayaan terhadap kelompok Kristen di Roma. Tacitus menjelaskan bahwa nama kelompok tersebut berasal dari Christus, yang menurut keterangannya menerima hukuman pada masa pemerintahan Kaisar Tiberius melalui Pontius Pilatus, gubernur atau pejabat Romawi di Yudea. Tacitus menyebut hukuman tersebut sebagai “hukuman yang paling ekstrem”. Pernyataan ini penting dalam kajian sejarah karena berasal dari penulis Romawi yang bukan bagian dari komunitas Kristen dan menghubungkan Christus dengan Pontius Pilatus serta pemerintahan Tiberius.
  • Namun, kesaksian Tacitus harus dibaca secara tepat. Annals 15.44 tidak memberikan uraian kronologis mengenai penangkapan, pengadilan, proses eksekusi, atau kematian Yesus sebagaimana terdapat dalam keempat Injil. Tacitus juga tidak memberikan narasi rinci mengenai penyaliban dan tidak menjelaskan secara eksplisit seluruh proses yang menyebabkan kematian Christus. Karena itu, sumber tersebut dapat digunakan sebagai kesaksian non-Kristen mengenai adanya tradisi Romawi bahwa Christus menerima hukuman pada masa Pontius Pilatus, tetapi tidak seharusnya dikutip sebagai narasi lengkap mengenai penyaliban Yesus. Untuk rekonstruksi penyaliban, sumber utama yang secara eksplisit menceritakan peristiwa tersebut tetap terdapat dalam Perjanjian Baru, khususnya Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.
  • Namun, Tacitus tidak membahas teori bahwa orang lain menggantikan Yesus. Ia juga tidak memberikan rincian yang cukup untuk menjawab semua pertanyaan mengenai proses penyaliban.
  • Dari sudut pandang historiografi, menerima bahwa penyaliban merupakan bagian dari tradisi sejarah awal mengenai Yesus tidak secara otomatis menyelesaikan persoalan teologis yang muncul dari QS An-Nisa 4:157. Kedua persoalan harus dianalisis dengan metode yang berbeda.

DISKUSI

Perbedaan antara Al-Qur’an dan Perjanjian Baru mengenai penyaliban dapat dipahami pada tiga tingkat.

  • Pertama adalah tingkat tekstual. Perjanjian Baru memberikan narasi eksplisit mengenai penyaliban. Al-Qur’an memberikan pernyataan eksplisit bahwa Isa tidak dibunuh dan tidak disalib oleh mereka.
  • Kedua adalah tingkat teologis. Kekristenan memberikan makna keselamatan yang sangat kuat kepada kematian dan kebangkitan Yesus. Islam tidak menerima penyaliban Isa sebagai dasar keselamatan.
  • Ketiga adalah tingkat historiografis. Pertanyaan mengenai apa yang benar-benar terjadi pada abad pertama harus dibahas dengan metode sejarah, kritik sumber, dan analisis konteks. Pernyataan teologis dari teks yang muncul kemudian tidak dapat diperlakukan sama dengan kesaksian sejarah sezaman.

Perbedaan metodologis tersebut penting agar kajian tidak berubah menjadi sekadar pembelaan terhadap salah satu tradisi. Penelitian akademik perlu menjelaskan apa yang dikatakan masing-masing sumber, kapan sumber tersebut muncul, bagaimana tradisi menafsirkannya, dan apa yang dapat atau tidak dapat disimpulkan.

IMPLIKASI TEOLOGIS

  • Perbedaan mengenai penyaliban menghasilkan perbedaan besar dalam konsep Yesus atau Isa.
  • Dalam Islam, Isa adalah manusia yang dimuliakan Allah, Al-Masih, dan rasul Allah. Ia tidak menjadi objek penebusan dosa melalui kematian di salib.
  • Dalam Kekristenan, Yesus memiliki kedudukan Kristologis yang lebih tinggi. Penyaliban dan kebangkitan menjadi bagian utama dari identitas serta karya keselamatan Kristus.
  • Dengan demikian, kontroversi penyaliban berkaitan dengan pertanyaan yang lebih luas:
  • Apakah Isa adalah nabi atau memiliki sifat ilahi?
  • Apakah dosa manusia membutuhkan penebusan melalui pengorbanan Kristus?
  • Apakah penyaliban merupakan fakta sejarah sekaligus bagian dari rencana keselamatan?
  • Bagaimana memahami pernyataan Al-Qur’an mengenai tidak disalibnya Isa?
  • Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadikan penyaliban sebagai salah satu titik utama dialog dan perdebatan teologi Islam-Kristen.

KETERBATASAN KAJIAN

  • Kajian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, analisis difokuskan pada Al-Qur’an dan empat Injil sehingga tidak membahas seluruh literatur Kristen awal dan seluruh literatur tafsir Islam.
  • Kedua, artikel ini tidak bermaksud menentukan secara final rekonstruksi sejarah penyaliban berdasarkan metode historiografi modern. Fokus utama penelitian adalah perbandingan representasi tekstual dan teologis.
  • Ketiga, terjemahan Al-Qur’an dan teks Alkitab dapat memiliki variasi pilihan kata. Karena itu, analisis linguistik mendalam terhadap bahasa Arab, Yunani, dan konteks manuskrip memerlukan penelitian tersendiri.

KESIMPULAN

  • Al-Qur’an dan Perjanjian Baru memberikan dua gambaran yang berbeda secara fundamental mengenai akhir kehidupan Isa atau Yesus. QS An-Nisa 4:157-158 menyatakan bahwa Isa tidak dibunuh dan tidak disalib oleh mereka serta menyatakan bahwa Allah mengangkatnya kepada-Nya. Al-Qur’an tidak menyebut identitas orang yang mungkin diserupakan dengan Isa.
  • Keempat Injil, yaitu Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes, secara eksplisit menggambarkan Yesus mengalami penangkapan, pemeriksaan, keterlibatan Pontius Pilatus, penyaliban, kematian, penguburan, dan kebangkitan. Tidak satu pun dari keempat Injil tersebut menggambarkan orang lain menggantikan Yesus di salib.
  • Persamaan antara kedua tradisi terdapat pada kedudukan khusus Isa atau Yesus, pengalaman penolakan, serta keyakinan bahwa tokoh tersebut berada dalam tindakan dan kehendak Allah. Namun, persamaan tersebut tidak menghilangkan perbedaan utama mengenai penyaliban.
  • Perbedaan paling mendasar terletak pada status penyaliban. Al-Qur’an menolak bahwa Isa dibunuh dan disalib, sedangkan Perjanjian Baru menjadikan penyaliban Yesus sebagai bagian utama dari narasi kehidupan, kematian, kebangkitan, dan keselamatan.
  • Identitas orang yang “diserupakan” juga tidak dapat dipastikan dari Al-Qur’an karena teks tersebut tidak menyebut namanya. Identifikasi terhadap Yudas atau tokoh lain berasal dari interpretasi dan riwayat tertentu dalam tradisi tafsir, bukan pernyataan eksplisit QS An-Nisa 4:157.
  • Dengan demikian, kontroversi penyaliban Isa dan Yesus merupakan persoalan yang memiliki dimensi tekstual, teologis, dan historis. Kajian akademik perlu mempertahankan perbedaan ketiga dimensi tersebut agar analisis terhadap Al-Qur’an dan Perjanjian Baru tetap objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.

DAFTAR PUSTAKA

  • Al-Qur’an. QS An-Nisa 4:157-158. Al-Qur’an dan terjemahannya.
  • Al-Qur’an. QS Ali Imran 3:45-55.
  • Al-Qur’an. QS Maryam 19:16-36.
  • The Holy Bible. Gospel according to Matthew, chapters 26-28.
  • The Holy Bible. Gospel according to Mark, chapters 14-16.
  • The Holy Bible. Gospel according to Luke, chapters 22-24.
  • The Holy Bible. Gospel according to John, chapters 18-21.
  • Brown, Raymond E. 1994. The Death of the Messiah: From Gethsemane to the Grave. New York: Doubleday.
  • Dunn, James D. G. 2003. Jesus Remembered. Grand Rapids: Eerdmans.
  • Ehrman, Bart D. 2014. How Jesus Became God. New York: HarperOne.
  • Fredriksen, Paula. 1999. Jesus of Nazareth, King of the Jews: A Jewish Life and the Emergence of Christianity. New York: Vintage.
  • Griffith, Sidney H. 2016. The Bible in Arabic: The Scriptures of the “People of the Book” in the Language of Islam. Princeton: Princeton University Press.
  • Ibn Kathir. Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Tafsir QS An-Nisa 4:157-158.
  • Reynolds, Gabriel Said. 2018. The Qur’an and the Bible: Text and Commentary. New Haven: Yale University Press.
  • Tabari, Muhammad ibn Jarir al-. Jami‘ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an. Tafsir QS An-Nisa 4:157-158.
  • Tacitus. Annals, Book 15, section 44.
  • Theissen, Gerd, and Annette Merz. 1998. The Historical Jesus: A Comprehensive Guide. Minneapolis: Fortress Press.
  • Wright, N. T. 2003. The Resurrection of the Son of God. Minneapolis: Fortress Press.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *