30 TOKOH MUHAMMADIYAH PALING BERPENGARUH SEPANJANG SEJARAH INDONESIA
Muhammadiyah merupakan gerakan Islam yang berdiri pada 18 November 1912 di Yogyakarta oleh KH Ahmad Dahlan. Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah telah memberikan kontribusi penting dalam perjalanan sejarah Indonesia, terutama melalui pendidikan, dakwah, pelayanan kesehatan, pemberdayaan sosial, dan perjuangan kebangsaan. Pengaruh gerakan ini tercermin melalui kiprah para tokohnya yang berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari ulama, pendidik, cendekiawan, aktivis perempuan, diplomat, politisi, hingga pemimpin militer.
Artikel ini mengulas 30 tokoh Muhammadiyah yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan Islam dan perjalanan bangsa Indonesia. Tokoh-tokoh tersebut mencakup para perintis dan pemimpin Muhammadiyah, seperti KH Ahmad Dahlan, Siti Walidah, KH Mas Mansur, Ki Bagus Hadikusumo, dan Buya Hamka, serta tokoh pergerakan nasional seperti Haji Agus Salim, Soetomo, Jenderal Soedirman, Kasman Singodimedjo, Fatmawati, Djuanda Kartawidjaja, Abdul Kahar Muzakkir, dan AR Baswedan. Pembahasan juga mencakup tokoh kepemimpinan Muhammadiyah dari berbagai generasi hingga Haedar Nashir dan Abdul Mu’ti. Kajian ini menunjukkan bahwa kontribusi tokoh Muhammadiyah tidak terbatas pada perjuangan kemerdekaan, tetapi berlanjut dalam pembentukan dasar negara, penguatan pendidikan nasional, diplomasi internasional, pengembangan pemikiran Islam, serta pembangunan institusi sosial dan kemanusiaan. Pengaruh mereka memperlihatkan hubungan erat antara nilai keislaman, nasionalisme, kecendekiaan, dan pengabdian kepada masyarakat. Artikel ini diharapkan dapat menjadi dokumentasi sejarah sekaligus sumber inspirasi bagi generasi muda untuk melanjutkan perjuangan melalui ilmu pengetahuan, integritas, kepemimpinan, dan amal nyata bagi kemajuan Indonesia.
30 TOKOH MUHAMMADIYAH PALING BERPENGARUH SEPANJANG SEJARAH INDONESIA
A. Pendiri dan tokoh perintis Muhammadiyah
- 1. KH Ahmad Dahlan (1868–1923)
- KH Ahmad Dahlan merupakan pendiri Muhammadiyah pada 18 November 1912 di Yogyakarta. Ia mengembangkan gerakan Islam yang menekankan pemurnian akidah, pendidikan, pelayanan sosial, dan pembaruan pemikiran Islam. Ia mengajak umat Islam memahami Al-Qur’an sekaligus mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
- Melalui Muhammadiyah, Ahmad Dahlan mendorong pendirian sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan lembaga sosial. Gagasannya membangun gerakan Islam modern memberi pengaruh besar terhadap perkembangan pendidikan dan kehidupan sosial umat Islam Indonesia.
- 2. Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan (1872–1946)
- Siti Walidah merupakan tokoh penting dalam gerakan perempuan Muhammadiyah. Ia mendirikan dan mengembangkan organisasi Aisyiyah yang memperjuangkan pendidikan, dakwah, dan peningkatan peran perempuan dalam kehidupan masyarakat.
- Ia memperjuangkan kesempatan perempuan untuk memperoleh pendidikan agama dan pengetahuan umum. Perjuangannya membuka jalan bagi perempuan Indonesia untuk terlibat dalam kegiatan sosial, pendidikan, dan kepemimpinan organisasi.
- 3. Haji Agus Salim (1884–1954)
- Haji Agus Salim merupakan tokoh pergerakan nasional dan anggota Muhammadiyah pada masa KH Ahmad Dahlan. Ia dikenal sebagai ulama, diplomat, dan pemikir Islam yang memiliki kemampuan intelektual serta penguasaan bahasa asing.
- Dalam perjuangan kemerdekaan, Agus Salim berperan penting dalam diplomasi Indonesia. Ia membantu memperkenalkan dan memperjuangkan pengakuan internasional terhadap Republik Indonesia. Kiprahnya memperlihatkan kontribusi kader Muhammadiyah dalam perjuangan politik dan diplomasi bangsa.
- 4. Haji Fachruddin (1890–1929)
- Haji Fachruddin merupakan tokoh penting Muhammadiyah pada masa awal perkembangan organisasi. Ia aktif dalam dakwah, pergerakan Islam, dan pengembangan media pers Muhammadiyah. Ia turut memperkuat penyebaran gagasan pembaruan Islam melalui tulisan dan kegiatan organisasi.
- Perjuangannya membantu membangun tradisi literasi dan komunikasi dakwah Muhammadiyah. Ia juga memperlihatkan bahwa perjuangan umat dapat dilakukan melalui pendidikan, pers, dan pengorganisasian masyarakat.
- 5. Ki Bagus Hadikusumo (1890–1954)
- Ki Bagus Hadikusumo merupakan Ketua Umum Muhammadiyah periode 1942–1953. Ia dikenal sebagai ulama dan pemikir Islam yang memiliki peran penting dalam kehidupan organisasi serta perjuangan kemerdekaan Indonesia.
- Ia menjadi anggota BPUPKI dan PPKI. Dalam proses perumusan dasar negara, Ki Bagus turut memberikan pemikiran tentang hubungan agama dan negara. Perannya menjadi bagian penting dari sejarah pembentukan Republik Indonesia.
- 6. KH Mas Mansur (1896–1946)
- KH Mas Mansur memimpin Muhammadiyah pada periode 1937–1942. Ia dikenal sebagai ulama pembaru yang memiliki pemikiran luas tentang Islam, pendidikan, dan kebangsaan. Ia memperkuat Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah dan pembaruan sosial.
- Dalam perjuangan nasional, Mas Mansur menjadi salah satu tokoh Empat Serangkai bersama Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ki Hajar Dewantara. Ia berperan dalam pergerakan kebangsaan dan mendorong umat Islam untuk terlibat dalam perjuangan kemerdekaan.
- 7. Gatot Mangkupraja (1898–1968)
- Gatot Mangkupraja dikenal sebagai tokoh pergerakan nasional dan pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ia terlibat dalam perjuangan politik pada masa kolonial dan menjadi bagian dari dinamika gerakan kebangsaan Indonesia.
- Keterlibatannya menunjukkan bahwa Muhammadiyah juga menjadi ruang pengabdian bagi tokoh pergerakan nasional. Ia berkontribusi dalam memperkuat hubungan antara gerakan Islam, pendidikan, dan perjuangan kemerdekaan.
- 8. Kasman Singodimedjo (1904–1982)
- Kasman Singodimedjo merupakan tokoh Muhammadiyah dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia dikenal sebagai ahli hukum, tokoh politik, dan anggota BPUPKI serta PPKI. Ia memiliki peran dalam proses pembentukan pemerintahan Indonesia setelah proklamasi.
- Kasman juga pernah menjabat sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat. Ia memperlihatkan kontribusi kader Muhammadiyah dalam bidang hukum, politik, dan pembentukan lembaga negara.
- 9. Nani Wartabone (1907–1986)
- Nani Wartabone merupakan tokoh perjuangan kemerdekaan dari Gorontalo dan dikenal sebagai anggota Muhammadiyah. Ia memimpin perlawanan terhadap kekuasaan kolonial Belanda di Gorontalo.
- Pada 23 Januari 1942, ia memproklamasikan kemerdekaan di Gorontalo sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Perjuangannya menjadi bagian penting dari sejarah perlawanan rakyat daerah terhadap penjajahan.
- 10. Abdul Kahar Muzakkir (1907–1973)
- Abdul Kahar Muzakkir merupakan tokoh Muhammadiyah dan anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ia dikenal sebagai ulama, akademisi, dan tokoh pendidikan Islam. Ia juga menjadi anggota BPUPKI dan PPKI yang terlibat dalam proses persiapan kemerdekaan Indonesia.
- Ia berperan dalam pengembangan pendidikan tinggi Islam. Salah satu kontribusi pentingnya adalah keterlibatan dalam pendirian Sekolah Tinggi Islam di Yogyakarta, yang menjadi salah satu tonggak perkembangan pendidikan tinggi Islam di Indonesia.
- 11. AR Baswedan (1908–1986)
- Abdurrahman Baswedan atau AR Baswedan dikenal sebagai tokoh nasionalis, jurnalis, diplomat, dan mubaligh Muhammadiyah. Ia aktif menyebarkan gagasan persatuan bangsa dan memperjuangkan kesetaraan masyarakat keturunan Arab di Indonesia.
- Dalam perjuangan kemerdekaan, AR Baswedan berperan sebagai diplomat Republik Indonesia. Ia ikut membawa misi diplomatik untuk memperoleh dukungan negara-negara lain terhadap kemerdekaan Indonesia.
- 12. Djuanda Kartawidjaja (1911–1963)
- Djuanda Kartawidjaja merupakan tokoh nasional yang memiliki keterlibatan dalam kegiatan Muhammadiyah di Tasikmalaya. Ia dikenal sebagai guru dan kemudian menjadi salah satu pemimpin pemerintahan Indonesia.
- Kontribusi terbesarnya bagi bangsa adalah Deklarasi Djuanda pada 13 Desember 1957. Deklarasi tersebut menegaskan bahwa laut di sekitar, di antara, dan di dalam kepulauan Indonesia merupakan satu kesatuan wilayah negara. Gagasan ini menjadi dasar penting konsep negara kepulauan Indonesia.
- 13. Jenderal Soedirman (1916–1950)
- Jenderal Soedirman memiliki hubungan kuat dengan Muhammadiyah melalui kiprahnya sebagai guru di lingkungan pendidikan Muhammadiyah dan keterlibatannya dalam Hizbul Wathan. Ia dikenal sebagai kader pergerakan yang memiliki kedisiplinan, kepemimpinan, dan semangat pengabdian.
- Sebagai Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia, Soedirman memimpin perang gerilya melawan Belanda. Meski dalam keadaan sakit, ia tetap memimpin perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Keteguhan dan kepemimpinannya menjadikannya salah satu pahlawan nasional paling berpengaruh.
- 14. Adam Malik (1917–1984)
- Adam Malik dikenal sebagai tokoh nasional yang memiliki keterlibatan dalam Hizbul Wathan, organisasi kepanduan Muhammadiyah. Ia aktif dalam pergerakan kemerdekaan dan memiliki pengalaman panjang dalam dunia jurnalistik serta politik.
- Ia pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Dalam bidang diplomasi, Adam Malik berperan dalam hubungan internasional Indonesia dan pembentukan ASEAN pada 1967.
- 15. Andi Sultan Daeng Radja (1894–1963)
- Andi Sultan Daeng Radja merupakan tokoh perjuangan dari Sulawesi Selatan dan dikenal sebagai aktivis Muhammadiyah di Bulukumba. Ia terlibat dalam gerakan kebangsaan serta perjuangan melawan kolonialisme.
- Ia berperan dalam membangun kesadaran masyarakat tentang kemerdekaan dan pentingnya persatuan bangsa. Kiprahnya memperlihatkan peran tokoh Muhammadiyah di daerah dalam memperkuat perjuangan nasional.
- 16. Mohammad Sroedji (1915–1949)
- Mohammad Sroedji merupakan pejuang kemerdekaan yang memiliki keterlibatan dalam Hizbul Wathan. Ia kemudian menjadi perwira TNI dan memimpin perjuangan mempertahankan kemerdekaan di wilayah Jawa Timur.
- Sroedji gugur dalam perjuangan melawan Belanda pada masa revolusi kemerdekaan. Pengabdiannya menunjukkan bahwa kader dari lingkungan kepanduan Muhammadiyah turut berperan dalam perjuangan bersenjata mempertahankan Republik Indonesia.
- 17. Fatmawati (1923–1980)
- Fatmawati merupakan anggota Nasyiatul Aisyiyah di Bengkulu. Ia dikenal luas sebagai istri Presiden Soekarno dan tokoh perempuan yang menjahit Bendera Merah Putih yang dikibarkan pada saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945.
- Perannya memiliki nilai historis yang besar dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia. Fatmawati juga menjadi teladan dalam pengabdian keluarga, kegiatan sosial, dan perjuangan perempuan pada masa awal kemerdekaan.
- 18. Buya Hamka (1908–1981)
- Buya Hamka merupakan ulama, sastrawan, dan tokoh Muhammadiyah. Ia aktif dalam dakwah dan pernah memimpin kegiatan organisasi Muhammadiyah di berbagai daerah. Ia dikenal sebagai pemikir Islam yang menghubungkan ilmu agama, sastra, sejarah, dan persoalan kehidupan masyarakat.
- Hamka menghasilkan banyak karya, termasuk Tafsir Al-Azhar. Karya tersebut menjadi salah satu rujukan penting dalam kajian tafsir Al-Qur’an di Indonesia. Ia juga dikenal karena keteguhan prinsip, pemikiran moderat, dan kontribusinya dalam dunia pendidikan Islam.
- 19. Lafran Pane (1922–1991)
- Lafran Pane merupakan tokoh Muhammadiyah dan pendiri Himpunan Mahasiswa Islam pada 5 Februari 1947. Ia memiliki perhatian besar terhadap pendidikan, keislaman, dan pembentukan karakter mahasiswa Indonesia.
- Melalui HMI, Lafran Pane mendorong mahasiswa Muslim agar memiliki wawasan keislaman dan kebangsaan. Gagasannya ikut membentuk tradisi intelektual dan kepemimpinan mahasiswa di Indonesia.
- 20. Soetomo (1888–1938)
- Dr. Soetomo merupakan tokoh pergerakan nasional dan salah satu pendiri Budi Utomo. Ia juga memiliki keterlibatan dalam Muhammadiyah melalui kegiatan Penolong Kesengsaraan Oemoem atau PKO Muhammadiyah.
- Soetomo dikenal karena perhatian terhadap pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat. Keterlibatannya dalam kegiatan sosial Muhammadiyah menunjukkan adanya kerja sama lintas organisasi untuk meningkatkan kualitas kehidupan rakyat.
B. Tokoh kepemimpinan dan pengembangan Muhammadiyah
- 21. KH Ibrahim (1874–1932)
- KH Ibrahim merupakan Ketua Muhammadiyah setelah wafatnya KH Ahmad Dahlan. Ia memimpin organisasi pada periode 1923–1932. Pada masa kepemimpinannya, Muhammadiyah mulai memperluas jangkauan organisasi dan memperkuat lembaga pendidikan serta kegiatan sosial.
- Ia melanjutkan perjuangan pendiri Muhammadiyah dengan memperluas dakwah dan membangun jaringan organisasi di berbagai daerah. Kepemimpinannya menjadi bagian penting dalam proses konsolidasi Muhammadiyah pada masa awal.
- 22. KH Hisyam (1883–1945)
- KH Hisyam memimpin Muhammadiyah pada periode 1932–1937. Ia berperan dalam pengembangan pendidikan Muhammadiyah dan penguatan sistem organisasi. Pada masa kepemimpinannya, perhatian terhadap sekolah dan pembinaan kader terus berkembang.
- Ia ikut memperkuat Muhammadiyah sebagai organisasi yang mengembangkan pendidikan modern berbasis nilai-nilai Islam. Pengembangan sekolah menjadi salah satu fondasi penting bagi kemajuan masyarakat Indonesia.
- 23. Buya AR Sutan Mansur (1895–1985)
- Buya AR Sutan Mansur merupakan Ketua Umum Muhammadiyah periode 1953–1959. Ia dikenal sebagai ulama dan mubaligh yang memiliki pengaruh besar dalam pengembangan dakwah Muhammadiyah, khususnya di Sumatra dan berbagai wilayah Indonesia.
- Ia memperkuat pembinaan akidah, pemahaman agama, dan kaderisasi organisasi. Kepemimpinannya membantu Muhammadiyah mempertahankan peran sebagai gerakan Islam yang berorientasi pada dakwah, pendidikan, dan pembaruan masyarakat.
- 24. KH Yunus Anis (1903–1979)
- KH Yunus Anis merupakan Ketua Umum Muhammadiyah periode 1959–1962. Ia dikenal sebagai tokoh organisasi yang memiliki pengalaman panjang dalam dakwah dan pembinaan umat.
- Pada masa kepemimpinannya, Muhammadiyah terus memperkuat konsolidasi organisasi setelah masa revolusi kemerdekaan. Ia ikut menjaga kesinambungan gerakan Muhammadiyah dalam bidang pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial.
- 25. KH Ahmad Badawi (1902–1969)
- KH Ahmad Badawi memimpin Muhammadiyah pada periode 1962–1968. Ia dikenal sebagai ulama yang memiliki perhatian terhadap pembinaan organisasi dan kehidupan keagamaan masyarakat.
- Ia memimpin Muhammadiyah dalam masa perubahan politik dan sosial Indonesia. Kepemimpinannya menekankan pentingnya menjaga kemandirian organisasi, memperkuat dakwah, dan mempertahankan peran Muhammadiyah dalam kehidupan bangsa.
- 26. KH Faqih Usman (1904–1968)
- KH Faqih Usman merupakan tokoh penting Muhammadiyah yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum pada 1968. Ia dikenal sebagai ulama, pemimpin organisasi, dan tokoh yang memiliki pengalaman dalam pemerintahan.
- Ia pernah menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia. Pemikirannya turut memperkuat hubungan antara dakwah Islam, pendidikan, dan pembangunan masyarakat. Pengabdiannya memperlihatkan kontribusi Muhammadiyah dalam kehidupan keagamaan dan kenegaraan.
- 27. KH AR Fachruddin (1916–1995)
- KH Abdur Rozak Fachruddin atau AR Fachruddin merupakan Ketua Umum Muhammadiyah selama 22 tahun, dari 1968 hingga 1990. Ia dikenal sebagai ulama yang sederhana, dekat dengan masyarakat, dan memiliki kemampuan dakwah yang luas.
- Di bawah kepemimpinannya, Muhammadiyah berkembang dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial. Ia juga dikenal karena pendekatan dakwah yang sejuk dan kemampuannya menjaga persatuan organisasi di tengah perubahan politik nasional.
- 28. KH Ahmad Azhar Basyir (1928–1994)
- KH Ahmad Azhar Basyir merupakan Ketua Umum Muhammadiyah periode 1990–1994. Ia dikenal sebagai ulama, akademisi, dan ahli filsafat hukum Islam. Ia memiliki pemikiran mendalam tentang fikih, akidah, dan persoalan kehidupan modern.
- Azhar Basyir berperan dalam pengembangan pemikiran keislaman Muhammadiyah. Ia mendorong agar pemahaman agama memiliki landasan ilmu yang kuat dan mampu menjawab persoalan masyarakat yang terus berkembang.
- 29. Prof. Dr. Haedar Nashir (lahir 1958)
- Haedar Nashir merupakan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah sejak 2015. Ia dikenal sebagai akademisi, sosiolog, dan pemikir Muhammadiyah. Ia banyak menulis tentang Islam, kebangsaan, modernitas, dan perkembangan gerakan Islam di Indonesia.
- Di bawah kepemimpinannya, Muhammadiyah terus mengembangkan pendidikan tinggi, rumah sakit, lembaga sosial, dan kerja sama internasional. Ia juga mendorong penguatan Islam berkemajuan yang berlandaskan nilai keislaman, kemanusiaan, dan kebangsaan.
- 30. Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. (lahir 1968)
- Abdul Mu’ti merupakan tokoh Muhammadiyah yang pernah menjabat Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2022–2027. Ia dikenal sebagai akademisi, pendidik, dan pemikir Islam yang aktif dalam pengembangan pendidikan serta dialog antarumat beragama.
- Ia memiliki kontribusi dalam pengembangan pendidikan Muhammadiyah dan pemikiran Islam yang inklusif. Pada 21 Oktober 2024, Abdul Mu’ti dilantik sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. Kiprahnya menunjukkan keterlibatan kader Muhammadiyah dalam pembangunan pendidikan nasional.
- Catatan penyusunan: Daftar ini menggabungkan tokoh pergerakan nasional yang memiliki keterlibatan organisasi Muhammadiyah atau organisasi otonomnya dengan tokoh yang pernah memimpin Muhammadiyah. Keanggotaan langsung, jabatan kepengurusan, dan keanggotaan organisasi otonom seperti Aisyiyah, Nasyiatul Aisyiyah, serta Hizbul Wathan merupakan bentuk keterlibatan yang berbeda. Karena itu, status masing-masing tokoh perlu dibaca sesuai keterangan biografinya.
Rujukan utama:
- Sejarah Muhammadiyah, situs resmi Muhammadiyah.
- 115 Tahun Kepemimpinan Muhammadiyah, Universitas Muhammadiyah Surabaya.
- Permusyawaratan dan Ketua Umum Muhammadiyah dari Masa ke Masa, Suara Muhammadiyah.
- Muhammadiyah, Daftar 23 Pahlawan Nasional dari Muhammadiyah.
- Muhammadiyah, Arti Penting Tokoh Muhammadiyah yang Menjadi Pahlawan Nasional.
- Sejarah Muhammadiyah, situs resmi Muhammadiyah.
-













Leave a Reply