TOKOH MUHAMMADIYAH YANG MENJADI PAHLAWAN NASIONAL
- TOKOH MUHAMMADIYAH YANG MENJADI PAHLAWAN NASIONAL
Muhammadiyah merupakan gerakan Islam yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada 18 November 1912 di Yogyakarta. Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah berkontribusi dalam pendidikan, dakwah, kesehatan, pelayanan sosial, dan perjuangan kebangsaan. Pengaruh gerakan ini terlihat melalui kiprah para tokohnya yang berasal dari beragam latar belakang, seperti ulama, pendidik, cendekiawan, aktivis perempuan, diplomat, politisi, dan militer.
- Artikel ini membahas 23 tokoh yang disebut dalam sumber resmi Muhammadiyah sebagai Pahlawan Nasional dari Persyarikatan. Perjuangan mereka berlangsung dalam berbagai periode, mulai dari masa pergerakan nasional, persiapan kemerdekaan, proklamasi, revolusi fisik, hingga pembangunan Indonesia setelah merdeka. Kiprah mereka menunjukkan bahwa pengabdian Muhammadiyah kepada bangsa dilakukan melalui pendidikan, pembaruan pemikiran Islam, perjuangan politik, diplomasi, pertahanan negara, dan pelayanan masyarakat.
Muhammadiyah lahir sebagai gerakan pembaruan Islam yang berupaya membangun kehidupan umat melalui pendidikan, dakwah, dan amal sosial. Dalam perkembangannya, Muhammadiyah melahirkan banyak tokoh yang berperan dalam perjuangan dan pembangunan Indonesia.
Menurut sumber resmi Muhammadiyah, hingga 2023 terdapat 23 Pahlawan Nasional yang berasal dari Persyarikatan. Mereka memiliki latar belakang dan bentuk keterlibatan yang beragam. Sebagian merupakan anggota atau pemimpin Muhammadiyah, sementara sebagian lainnya aktif melalui organisasi otonom, lembaga pendidikan, atau kegiatan sosial Muhammadiyah.
TOKOH MUHAMMADIYAH YANG MENJADI PAHLAWAN NASIONAL
- 1. KH Ahmad Dahlan
- KH Ahmad Dahlan merupakan pendiri Muhammadiyah. Ia membangun gerakan Islam yang menekankan pemahaman agama berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah serta penerapannya dalam kehidupan nyata.
- Ia memperjuangkan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, kesehatan, kegiatan sosial, dan dakwah. Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 657 Tahun 1961.
- 2. Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan
- Siti Walidah merupakan tokoh perintis gerakan perempuan Muhammadiyah. Ia memperjuangkan pendidikan dan peningkatan peran perempuan dalam kehidupan sosial, keagamaan, dan kebangsaan.
- Ia berperan dalam pendirian Aisyiyah, organisasi perempuan Muhammadiyah yang mengembangkan pendidikan dan pelayanan sosial. Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 22 September 1971 melalui SK Nomor 042/TK/1971.
- 3. Soekarno
- Soekarno pernah menjabat sebagai Ketua Bagian Pengajaran Muhammadiyah di Bengkulu. Ia kemudian menjadi proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia.
- Dalam perjuangan internasional, Soekarno berperan dalam Konferensi Asia-Afrika dan Gerakan Non-Blok. Ia memperoleh gelar Pahlawan Proklamator pada 1986 dan gelar Pahlawan Nasional pada 2012.
- 4. Fatmawati
- Fatmawati merupakan aktivis Nasyiatul Aisyiyah di Bengkulu. Ia berasal dari keluarga yang aktif dalam Muhammadiyah dan Aisyiyah.
- Fatmawati dikenal sebagai penjahit Bendera Merah Putih yang dikibarkan saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 2000 melalui Keppres Nomor 118/TK/2000.
- 5. Jenderal Soedirman
- Jenderal Soedirman merupakan anggota pandu Hizbul Wathan dan pernah menjadi guru HIS Muhammadiyah di Cilacap. Ia kemudian menjadi Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia.
- Soedirman memimpin perjuangan mempertahankan kemerdekaan, termasuk perang gerilya selama Agresi Militer Belanda II pada 1948–1949. Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 10 Desember 1964 melalui Keppres Nomor 314 Tahun 1964.
- 6. Dr. Soetomo
- Dr. Soetomo dikenal sebagai pendiri Budi Utomo dan tokoh pergerakan nasional. Ia bergabung dalam kegiatan Penolong Kesengsaraan Oemoem atau PKO Muhammadiyah dan menjadi penasihat urusan kesehatan sejak 1925.
- Ia turut mendirikan Rumah Sakit Muhammadiyah Surabaya. Pemerintah mengangkatnya sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 657 Tahun 1961.
- 7. Haji Agus Salim
- Haji Agus Salim merupakan anggota Muhammadiyah pada masa KH Ahmad Dahlan. Ia dikenal sebagai ulama, diplomat, dan tokoh pergerakan nasional.
- Agus Salim menjadi anggota BPUPKI dan memimpin misi diplomatik Indonesia ke Timur Tengah pada 1947. Ia juga mewakili Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag dan beberapa kali menjabat Menteri Luar Negeri. Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 27 Desember 1961.
- 8. KH Mas Mansur
- KH Mas Mansur merupakan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1937–1942. Ia dikenal sebagai ulama pembaru dan tokoh pergerakan nasional.
- Mas Mansur menjadi anggota Empat Serangkai bersama Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ki Hajar Dewantara. Ia juga memimpin organisasi Putera pada masa pendudukan Jepang. Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui SK Nomor 162 Tahun 1964.
- 9. Djuanda Kartawidjaja
- Djuanda Kartawidjaja memiliki latar belakang sebagai pengurus Muhammadiyah Tasikmalaya dan guru SMA Muhammadiyah Kramat, Jakarta. Ia kemudian menjadi tokoh penting dalam pemerintahan Indonesia.
- Kontribusinya yang terkenal adalah Deklarasi Djuanda pada 13 Desember 1957, yang memperkuat konsep Indonesia sebagai negara kepulauan. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Perhubungan, Menteri Keuangan, Menteri Pertahanan, dan Menteri Pekerjaan Umum. Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui Keppres Nomor 244 Tahun 1963.
- 10. Haji Fachrodin
- Haji Fachrodin merupakan tokoh pers dan salah satu pendiri Suara Muhammadiyah. Ia aktif dalam dakwah, organisasi, dan perjuangan sosial.
- Ia juga menjadi perintis Badan Penolong Haji Indonesia serta pernah menjabat Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres Nomor 162 Tahun 1964
- 11. Otto Iskandar Dinata
- Otto Iskandar Dinata atau Si Jalak Harupat pernah menjadi guru di SMA Muhammadiyah Kramat, Jakarta. Ia merupakan anggota BPUPKI dan berperan dalam persiapan pembentukan Badan Keamanan Rakyat.
- Dalam sidang PPKI pada 18 Agustus 1945, Otto mengusulkan agar Soekarno dan Mohammad Hatta dipilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres Nomor 088/TK/1973 pada 6 November 1973.
- 12. Andi Sultan Daeng Radja
- Andi Sultan Daeng Radja merupakan aktivis Muhammadiyah di Bulukumba dan tokoh perjuangan dari Sulawesi Selatan. Ia mengikuti Kongres Pemuda 1928 dan terlibat dalam perjuangan melawan kolonialisme.
- Ia menjadi wakil Sulawesi Selatan dalam sidang PPKI. Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres Nomor 085/TK/2006.
- 13. Teuku H. Muhammad Hasan
- Teuku H. Muhammad Hasan merupakan Konsul pertama Muhammadiyah di Kutaraja, Aceh, pada 1927. Ia kemudian berperan dalam pemerintahan dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
- Ia pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kabinet Darurat 1948–1949 serta menjadi Wakil Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres Nomor 085/TK/2006.
- 14. Adam Malik
- Adam Malik merupakan anggota pandu Hizbul Wathan Muhammadiyah. Ia berperan dalam penyebaran berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan aktif dalam perjuangan jurnalistik serta politik.
- Adam Malik pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia, Menteri Luar Negeri, dan Ketua Majelis Umum PBB. Ia juga menjadi salah satu pendiri ASEAN dan Kantor Berita ANTARA. Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres Nomor 107/TK/1998.
- 15. Buya Hamka
- Buya Hamka merupakan ulama, sastrawan, jurnalis, dan tokoh Muhammadiyah. Ia aktif dalam dakwah serta perjuangan politik dan gerilya melawan pasukan Belanda dan Jepang di Sumatera Barat.
- Hamka juga menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia pertama. Karya-karyanya, termasuk Tafsir Al-Azhar, memberikan pengaruh besar terhadap pemikiran Islam di Indonesia. Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui SK Nomor 113/TK/2011.
- 16. Ki Bagus Hadikusumo
- Ki Bagus Hadikusumo memimpin Muhammadiyah pada 1942–1953. Ia merupakan anggota BPUPKI dan PPKI serta salah satu tokoh penting dalam proses perumusan dasar negara.
- Ia berperan dalam pembahasan Piagam Jakarta dan penyusunan Pembukaan UUD 1945. Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres Nomor 116/TK/2015.
- 17. Nani Wartabone
- Nani Wartabone merupakan tokoh Muhammadiyah dari Gorontalo dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia aktif melawan penjajahan Belanda serta membangun kesadaran kebangsaan di daerahnya.
- Ia mendirikan Jong Gorontalo di Surabaya pada 1923 dan menjadi Ketua PNI cabang Gorontalo. Pada 1942, ia memimpin gerakan yang memproklamasikan kemerdekaan Gorontalo dari kekuasaan Belanda. Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui SK Nomor 085/TK/2003.
- 18. Lafran Pane
- Lafran Pane tumbuh dengan pendidikan Muhammadiyah dan menjadi aktivis mahasiswa. Ia dikenal sebagai pendiri Himpunan Mahasiswa Islam pada 5 Februari 1947.
- Melalui HMI, Lafran Pane mendorong pembinaan mahasiswa yang memiliki wawasan keislaman dan kebangsaan. Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres Nomor 115/TK/2017.
- 19. AR Baswedan
- AR Baswedan merupakan mubalig Muhammadiyah kelahiran Ampel, Surabaya. Ia aktif dalam perjuangan politik dan menjadi anggota BPUPKI, BP-KNIP, parlemen, serta Dewan Konstituante.
- Ia pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Penerangan pada masa Kabinet Sjahrir. Misi diplomatiknya ke Arab turut menghasilkan pengakuan kemerdekaan Indonesia dari Mesir. Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres Nomor 123/TK/2018.
- 20. Gatot Mangkupraja
- Gatot Mangkupraja merupakan Wakil Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan anggota BPUPKI. Ia terlibat dalam perjuangan politik pada masa pergerakan nasional.
- Gatot juga merintis pembentukan pasukan sukarela Pembela Tanah Air atau PETA pada masa pendudukan Jepang. Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres Nomor 089/TK/2004.
- 21. Letkol Mohammad Sroedji
- Mohammad Sroedji merupakan anggota pandu Hizbul Wathan Muhammadiyah yang kemudian menjadi perwira militer. Ia berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia di wilayah Jawa Timur.
- Sroedji gugur dalam pertempuran melawan pasukan Belanda di Jember pada 1949. Pemerintah memberikan penghormatan melalui Keppres Nomor 91/TK/2016.
- 22. Abdul Kahar Muzakkir
- Abdul Kahar Muzakkir merupakan anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah, akademisi, dan tokoh pendidikan Islam. Ia berperan dalam pengembangan pendidikan serta pemikiran kebangsaan.
- Ia menjadi anggota Panitia Sembilan yang merumuskan Piagam Jakarta menjelang kemerdekaan Indonesia. Pada masa revolusi, ia turut membina mental Angkatan Perang Sabil. Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres Nomor 120/TK/2019.
- 23. Kasman Singodimedjo
- Kasman Singodimedjo merupakan Ketua Muhammadiyah Cabang Jakarta dan anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ia juga memiliki pengalaman dalam bidang militer sebagai Komandan PETA dan Badan Keamanan Rakyat.
- Dalam pemerintahan, Kasman menjadi anggota PPKI, Ketua KNIP, Jaksa Agung pertama Republik Indonesia, dan Menteri Muda Kehakiman. Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres Nomor 123/TK/2018.
- Kesimpulan
- Kiprah 23 Pahlawan Nasional dari Muhammadiyah memperlihatkan luasnya kontribusi Persyarikatan terhadap sejarah Indonesia. Mereka berjuang melalui pendidikan, dakwah, pelayanan sosial, pers, diplomasi, politik, dan pertahanan negara.
- Perjuangan para tokoh tersebut menunjukkan bahwa pengabdian kepada bangsa dapat dilakukan melalui berbagai bidang. Warisan mereka menjadi inspirasi bagi warga Muhammadiyah untuk melanjutkan dakwah, memperkuat pendidikan, membangun pelayanan sosial, dan berkontribusi bagi kemajuan Indonesia.
Sumber utama: Muhammadiyah, Jalan Panjang Muhammadiyah Menyiapkan Tangga Kemerdekaan Indonesia.











Leave a Reply