MAB MASJID AL-FALAH BENHIL

MAB PORTAL ISLAM: “Dari Masjid untuk Umat, Berbagi Ilmu dan Kebaikan”

DAFTAR KETUA UMUM PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH DARI AWAL HINGGA SEKARANG

DAFTAR KETUA UMUM PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH DARI AWAL HINGGA SEKARANG

Sejak berdiri pada 18 November 1912, Muhammadiyah telah mengalami pergantian kepemimpinan dalam berbagai periode sejarah Indonesia. Sebelum menggunakan istilah Pimpinan Pusat (PP) pada 1953, organisasi ini memakai istilah Hoofdbestuur (HB) dan kemudian Pengurus Besar (PB).

Muhammadiyah merupakan organisasi Islam yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada 18 November 1912. Selama lebih dari satu abad, Muhammadiyah mengalami berbagai pergantian kepemimpinan yang mencerminkan dinamika perkembangan organisasi dan perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Pada masa awal, pimpinan tertinggi Muhammadiyah menggunakan istilah Hoofdbestuur (HB), kemudian Pengurus Besar (PB), dan sejak 1953 menggunakan istilah Pimpinan Pusat (PP). Artikel ini mengkaji perjalanan kepemimpinan Muhammadiyah sejak KH Ahmad Dahlan hingga Haedar Nashir, dengan menguraikan profil, masa jabatan, pemikiran, serta kontribusi setiap pemimpin terhadap perkembangan organisasi. Pembahasan mencakup peran para pemimpin dalam memperluas dakwah, mengembangkan pendidikan Islam, membangun pelayanan kesehatan dan sosial, memperkuat kaderisasi, serta merespons perubahan politik dan sosial Indonesia. Pergantian kepemimpinan tersebut juga memperlihatkan kesinambungan visi Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah serta berorientasi pada pembaruan dan kemajuan masyarakat. Kajian ini menunjukkan bahwa sejarah kepemimpinan Muhammadiyah tidak dapat dipisahkan dari perkembangan pendidikan, kehidupan keagamaan, perjuangan kebangsaan, dan pembangunan Indonesia. Dokumentasi perjalanan para pemimpin Muhammadiyah diharapkan dapat menjadi sumber pengetahuan sejarah dan inspirasi bagi generasi penerus dalam menjaga kesinambungan gerakan, memperkuat integritas kepemimpinan, serta melanjutkan pengabdian bagi umat dan bangsa.

Berikut daftar 15 tokoh yang pernah memimpin Muhammadiyah secara definitif, disusun berdasarkan urutan masa kepemimpinan. Setiap tokoh disertai dua paragraf mengenai kiprah dan kontribusinya.

DAFTAR KETUA UMUM PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH DARI AWAL HINGGA SEKARANG

  • 1. KH Ahmad Dahlan (1912–1923)
    • KH Ahmad Dahlan, bernama kecil Muhammad Darwis, mendirikan Muhammadiyah di Yogyakarta pada 18 November 1912. Ia menjadi pemimpin pertama organisasi ini. Ia membawa gagasan pembaruan Islam melalui pendidikan, dakwah, pemurnian akidah, dan pelayanan sosial.
    • Pada masa kepemimpinannya, Muhammadiyah mulai membangun sekolah, mengembangkan dakwah terorganisasi, serta merintis pelayanan kesehatan dan sosial. Ahmad Dahlan meletakkan dasar Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang menghubungkan pemahaman agama dengan tindakan nyata.
  • 2. KH Ibrahim (1923–1934)
    • KH Ibrahim menggantikan Ahmad Dahlan setelah wafatnya pendiri Muhammadiyah pada 1923. Ia memimpin organisasi selama sekitar sebelas tahun. Pada masa itu, Muhammadiyah mulai memperluas jangkauan dakwah dan memperkuat struktur organisasi di berbagai daerah.
    • Ia melanjutkan pengembangan sekolah, kegiatan sosial, dan pembinaan kader. Kepemimpinannya menjadi masa penting bagi konsolidasi Muhammadiyah sebagai organisasi Islam modern yang mulai berkembang secara nasional.
  • 3. KH Hisyam (1934–1937)
    • KH Hisyam memimpin Muhammadiyah pada 1934 hingga 1937. Ia memberikan perhatian besar terhadap pendidikan sebagai sarana meningkatkan kualitas umat. Pengembangan sekolah Muhammadiyah menjadi salah satu perhatian utama pada masa kepemimpinannya.
    • Ia memperkuat sistem pendidikan yang menggabungkan ilmu agama dan pengetahuan umum. Upaya tersebut ikut membentuk tradisi pendidikan Muhammadiyah yang terus berkembang hingga sekarang.
  • 4. KH Mas Mansur (1937–1942)
    • KH Mas Mansur merupakan ulama dan pemikir Islam yang memimpin Muhammadiyah pada 1937 hingga 1942. Ia dikenal sebagai tokoh pembaru yang memiliki perhatian terhadap persoalan keagamaan, pendidikan, dan kebangsaan.
    • Dalam perjuangan nasional, Mas Mansur menjadi anggota Empat Serangkai bersama Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ki Hajar Dewantara. Keterlibatannya memperlihatkan peran Muhammadiyah dalam dinamika perjuangan bangsa menjelang kemerdekaan.
  • 5. Ki Bagus Hadikusumo (1942–1953)
    • Ki Bagus Hadikusumo memimpin Muhammadiyah pada masa pendudukan Jepang hingga awal kemerdekaan Indonesia. Ia menghadapi situasi politik yang sulit, termasuk perubahan pemerintahan, pembatasan organisasi, dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
    • Ia juga menjadi anggota BPUPKI dan PPKI. Pemikirannya ikut berperan dalam proses perumusan dasar negara dan konstitusi Indonesia. Masa kepemimpinannya memperlihatkan keterlibatan Muhammadiyah dalam persoalan keagamaan sekaligus pembentukan negara.
  • 6. Buya AR Sutan Mansur (1953–1959)
    • Buya Ahmad Rasyid Sutan Mansur memimpin Muhammadiyah setelah Muktamar ke-32 di Purwokerto pada 1953. Ia dikenal sebagai ulama dan mubaligh yang memiliki pengalaman panjang dalam dakwah dan pembinaan organisasi.
    • Ia memperkuat pembinaan akidah, kaderisasi, dan pengembangan dakwah Muhammadiyah. Pada masa kepemimpinannya, Muhammadiyah memasuki periode penggunaan istilah Pimpinan Pusat secara resmi dalam struktur organisasi.
  • 7. H. M. Yunus Anis (1959–1962)
    • H. M. Yunus Anis memimpin Muhammadiyah setelah Muktamar ke-34 di Palembang pada 1959. Ia dikenal sebagai tokoh organisasi yang memiliki pengalaman dalam administrasi, dakwah, dan pembinaan umat.
    • Pada masa kepemimpinannya, Muhammadiyah terus memperkuat konsolidasi organisasi dan pelayanan pendidikan. Ia juga dikenal karena kiprahnya dalam lingkungan militer dan hubungan Muhammadiyah dengan perkembangan kehidupan kebangsaan.
  • 8. KH Ahmad Badawi (1962–1968)
    • KH Ahmad Badawi memimpin Muhammadiyah sejak Muktamar ke-35 di Jakarta pada 1962. Ia memimpin organisasi dalam masa perubahan politik dan sosial yang besar di Indonesia. Muhammadiyah menghadapi tantangan dalam menjaga independensi organisasi dan menjalankan dakwah.
    • Ia memberikan perhatian pada pembinaan keagamaan, pendidikan, dan konsolidasi organisasi. Kepemimpinannya berlangsung hingga Muktamar ke-37 pada 1968.
  • 9. KH Faqih Usman (1968)
    • KH Faqih Usman terpilih sebagai Ketua Umum Muhammadiyah dalam Muktamar ke-37 di Yogyakarta pada 1968. Ia merupakan ulama, tokoh Muhammadiyah, dan pernah menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia.
    • Masa kepemimpinannya sangat singkat karena ia wafat pada 3 Oktober 1968. Meskipun demikian, namanya tercatat dalam sejarah sebagai salah satu Ketua Umum Muhammadiyah. Setelah wafatnya, kepemimpinan dilanjutkan oleh AR Fachruddin.
  • 10. KH AR Fachruddin (1968–1990)
    • KH Abdur Rozak Fachruddin atau AR Fachruddin merupakan salah satu Ketua Umum Muhammadiyah dengan masa kepemimpinan terpanjang, sekitar 22 tahun. Ia memimpin sejak 1968 hingga 1990. Ia dikenal sebagai ulama yang sederhana dan dekat dengan masyarakat.
    • Pada masa kepemimpinannya, Muhammadiyah berkembang dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi. Ia juga menghadapi perubahan politik selama pemerintahan Orde Baru. Kepemimpinannya menjadi salah satu periode penting dalam perluasan jaringan amal usaha Muhammadiyah.
  • 11. KH Ahmad Azhar Basyir (1990–1994)
    • KH Ahmad Azhar Basyir memimpin Muhammadiyah setelah Muktamar ke-42 di Yogyakarta pada 1990. Ia merupakan akademisi dan ahli filsafat hukum Islam yang dikenal memiliki pemikiran mendalam tentang fikih, akidah, dan persoalan masyarakat modern.
    • Ia mendorong penguatan pemikiran keislaman dan pengembangan intelektual Muhammadiyah. Masa kepemimpinannya berakhir pada 1994 karena ia wafat pada 28 Juni 1994. Setelah itu, terjadi masa transisi kepemimpinan sebelum Amien Rais memimpin organisasi.
  • 12. Prof. Dr. H. M. Amien Rais (1995–1998)
    • Amien Rais terpilih sebagai Ketua Umum Muhammadiyah dalam Muktamar ke-43 di Banda Aceh pada 1995. Ia merupakan akademisi dan pemikir politik yang banyak membahas demokrasi, reformasi, serta hubungan Islam dan negara.
    • Pada masa kepemimpinannya, Indonesia memasuki periode perubahan politik menjelang Reformasi 1998. Amien Rais dikenal sebagai salah satu tokoh yang menyuarakan reformasi politik. Ia kemudian mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum Muhammadiyah pada 1998.
  • 13. Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif (2000–2005)
    • Ahmad Syafii Maarif atau Buya Syafii memimpin Muhammadiyah secara definitif pada 2000 hingga 2005. Sebelumnya, ia menjalankan tugas kepemimpinan sementara setelah Amien Rais mengundurkan diri pada 1998. Ia dikenal sebagai cendekiawan Muslim yang memiliki perhatian besar terhadap demokrasi, kemanusiaan, dan kebangsaan.
    • Buya Syafii mengembangkan gagasan Islam yang terbuka, berkemajuan, dan menghargai kemajemukan. Ia mendorong Muhammadiyah untuk berperan dalam persoalan kemanusiaan, demokrasi, toleransi, dan kehidupan berbangsa. Pemikirannya tetap menjadi bagian penting dalam diskusi Islam Indonesia.
  • 14. Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin (2005–2015)
    • Din Syamsuddin memimpin Muhammadiyah selama dua periode, yaitu 2005–2010 dan 2010–2015. Ia dikenal sebagai akademisi, pemikir Islam, dan tokoh yang aktif dalam hubungan antaragama serta kerja sama internasional.
    • Pada masa kepemimpinannya, Muhammadiyah memperluas peran dalam dialog antaragama, diplomasi perdamaian, dan kerja sama global. Organisasi ini juga terus mengembangkan perguruan tinggi, rumah sakit, lembaga pendidikan, serta kegiatan pemberdayaan masyarakat.
  • 15. Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si. (2015–sekarang)
    • Haedar Nashir terpilih sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam Muktamar ke-47 di Makassar pada 2015. Ia kembali terpilih dalam Muktamar ke-48 di Surakarta pada 2022 untuk periode 2022–2027. Ia merupakan akademisi dan sosiolog yang banyak menulis tentang Islam, masyarakat, dan kebangsaan.
    • Pada masa kepemimpinannya, Muhammadiyah terus mengembangkan pendidikan tinggi, rumah sakit, pelayanan sosial, ekonomi umat, dan kerja sama internasional. Ia juga mendorong penguatan konsep Islam Berkemajuan sebagai landasan dakwah dan pengabdian Muhammadiyah. Hingga Oktober 2026, Haedar Nashir masih menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah.

Catatan sejarah kepemimpinan

  • Ada beberapa masa peralihan yang perlu dicatat:
    1. Mohammad Rasjidi pernah menjadi pemangku jabatan sementara setelah wafatnya KH Faqih Usman pada Oktober 1968.
    2. AR Fachruddin juga tercatat menjalankan tugas sementara sebelum ditetapkan sebagai penerus kepemimpinan.
    3. Ahmad Syafii Maarif menjalankan tugas sebagai pelaksana tugas Ketua Umum setelah pengunduran diri Amien Rais pada 1998, sebelum menjadi Ketua Umum definitif pada 2000.

Sumber sejarah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *