Menteri Prof Dr Abdul Mu’ti: Anak Muda Sekarang Generasi Nokturnal, Tidur Lambat-Bangun Telat, dalam Perspektif Islam dan Ilmu Kedokteran Modern
Manfaat Bangun Pagi bagi Kesehatan dan Pembentukan Karakter dalam Perspektif Islam dan Ilmu Kedokteran Modern
Dr Widodo Judarwanto, pediatrician
Fenomena generasi muda yang terbiasa tidur larut dan bangun siang—yang disebut sebagai generasi nokturnal—menjadi perhatian serius dalam dunia pendidikan dan kesehatan. Kebiasaan ini berdampak pada kesehatan fisik, mental, serta pembentukan karakter. Artikel ini bertujuan mengkaji manfaat bangun pagi dari perspektif Islam dan ilmu kedokteran modern, serta relevansinya dengan pesan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti. Metode yang digunakan adalah studi literatur terhadap dalil Al-Qur’an, hadits shahih, pandangan ulama, serta jurnal kedokteran terkini. Hasil kajian menunjukkan bahwa bangun pagi selaras dengan ritme biologis manusia, meningkatkan fungsi kognitif dan kesehatan mental, serta merupakan bagian dari sunnah Nabi ﷺ yang mendukung pembentukan karakter disiplin, produktif, dan bertakwa.
Bangun pagi merupakan kebiasaan sederhana namun memiliki dampak besar terhadap kualitas hidup seseorang. Dalam konteks modern, banyak remaja dan pelajar mengalami pergeseran pola tidur akibat penggunaan gawai berlebihan, hiburan digital, dan aktivitas malam hari yang tidak terkendali. Kondisi ini mendorong munculnya istilah generasi nokturnal, yaitu generasi yang aktif di malam hari namun pasif di pagi hari, sehingga kehilangan momentum produktif.
Prof Dr Abdul Mu’ti menyoroti kebiasaan anak muda yang tidur larut dan bangun siang sebagai sebagai Generasi Nokturnal menjadi masalah dalam karakter dan pendidikan anak dan remaja. Data nasional menunjukkan remaja Indonesia rata rata tidur kurang dari 7 jam per malam, di bawah rekomendasi WHO 8 sampai 10 jam. Pola ini membuat pagi terlewat, sekolah kehilangan fokus, dan disiplin melemah. Menurut Prof Mu’ti, bangun pagi melatih tanggung jawab, konsistensi, dan kesiapan belajar. Pagi adalah waktu emas pembentukan karakter. Anak yang bangun pagi lebih siap menerima ilmu, lebih stabil emosinya, dan lebih teratur aktivitasnya. Ini bukan isu gaya hidup, ini isu masa depan pendidikan.
Ilmu kedokteran modern menguatkan pesan tersebut. Ritme sirkadian manusia bekerja optimal saat tidur malam dan bangun pagi. Studi di JAMA Psychiatry menunjukkan tidur larut dan bangun siang meningkatkan risiko depresi hingga 30 persen pada remaja. Penelitian di Journal of Adolescent Health mencatat remaja yang bangun lebih pagi punya konsentrasi lebih baik dan prestasi akademik lebih tinggi. Paparan cahaya pagi menurunkan melatonin dan menaikkan kortisol secara sehat, membuat otak siap belajar. Saat kamu biasakan bangun pagi, kamu menjaga otakmu, jiwamu, dan masa depanmu. Ini sains, bukan opini.
Bangun Pagi dalam Perspektif Islam
Islam memandang waktu pagi sebagai waktu yang penuh keberkahan dan potensi kebaikan bagi kehidupan manusia. Rasulullah ﷺ secara khusus mendoakan keberkahan pada waktu pagi sebagaimana sabdanya, “Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu paginya.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi; hadits hasan shahih). Para ulama seperti Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani dan Imam al-Munawi menjelaskan bahwa makna keberkahan pagi mencakup keluasan rezeki, kejernihan akal, kekuatan fisik, serta kemudahan dalam menyelesaikan berbagai urusan. Oleh karena itu, kebiasaan bangun pagi dipandang sebagai sarana meraih keberkahan hidup yang bersifat duniawi sekaligus ukhrawi.
Al-Qur’an juga menegaskan bahwa pagi dan siang hari merupakan waktu utama bagi aktivitas produktif manusia. Allah ﷻ berfirman, “Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS. an-Naba’: 11). Ayat ini oleh para mufassir dipahami sebagai penegasan bahwa ritme kehidupan yang sesuai fitrah adalah beristirahat di malam hari dan beraktivitas di pagi hingga siang hari. Pola ini menunjukkan adanya keseimbangan antara kebutuhan fisik dan tuntutan kehidupan, di mana bangun pagi menjadi bagian dari ketaatan terhadap sunnatullah dalam pengaturan waktu dan tenaga manusia.
Selain dimensi produktivitas, bangun pagi memiliki nilai spiritual yang sangat kuat dalam Islam. Bangun di waktu Subuh memudahkan seorang Muslim untuk menunaikan shalat Subuh berjamaah, berdzikir pagi, serta membaca Al-Qur’an, yang semuanya merupakan amalan dengan keutamaan besar dalam pembentukan ketenangan jiwa dan keteguhan iman. Ulama menjelaskan bahwa konsistensi bangun pagi melatih disiplin, pengendalian diri, dan kesungguhan dalam ibadah, sehingga berdampak langsung pada pembentukan karakter yang saleh, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kebaikan. Dengan demikian, bangun pagi dalam Islam bukan sekadar kebiasaan fisik, tetapi bagian integral dari pembinaan akhlak dan kualitas hidup seorang Muslim.
Manfaat Bangun Pagi Menurut Ilmu Kedokteran Terkini
Ilmu kedokteran modern menjelaskan bahwa bangun pagi selaras dengan kerja ritme sirkadian, yaitu jam biologis internal yang mengatur siklus tidur-bangun, sekresi hormon, suhu tubuh, tekanan darah, serta fungsi metabolik. Ritme ini dikendalikan oleh suprachiasmatic nucleus (SCN) di hipotalamus dan sangat dipengaruhi oleh paparan cahaya alami pagi hari. Tinjauan sistematis dalam Sleep Medicine Reviews menegaskan bahwa individu dengan pola tidur teratur dan waktu bangun lebih awal menunjukkan stabilitas ritme sirkadian yang lebih baik, yang berdampak langsung pada kesehatan kardiovaskular, metabolik, dan neurologis.
Dari aspek fungsi kognitif, berbagai penelitian menunjukkan bahwa bangun pagi berhubungan dengan peningkatan konsentrasi, daya ingat, dan kecepatan pemrosesan informasi. Studi kohort dalam Journal of Adolescent Health dan Nature Human Behaviour melaporkan bahwa remaja dan dewasa muda dengan kebiasaan bangun lebih pagi memiliki performa akademik yang lebih baik, tingkat kelelahan mental yang lebih rendah, serta kemampuan pengambilan keputusan yang lebih optimal. Hal ini berkaitan dengan kualitas tidur malam yang lebih stabil dan proses konsolidasi memori yang berlangsung efektif selama tidur malam.
Secara hormonal, bangun pagi berkaitan erat dengan regulasi melatonin dan kortisol yang seimbang. Paparan cahaya pagi hari membantu menghentikan produksi melatonin (hormon tidur) dan merangsang pelepasan kortisol dalam kadar fisiologis yang sehat, sehingga meningkatkan kewaspadaan, energi, dan kesiapan tubuh untuk beraktivitas. Penelitian dalam Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism menunjukkan bahwa individu yang bangun lebih pagi memiliki pola sekresi hormon yang lebih sinkron dengan kebutuhan biologis tubuh, dibandingkan mereka yang tidur larut dan bangun siang.
Dari perspektif kesehatan mental, bangun pagi terbukti memiliki efek protektif terhadap gangguan suasana hati. Studi longitudinal dalam JAMA Psychiatry dan The Lancet Psychiatry menemukan bahwa pola tidur terlambat dan bangun siang berkorelasi dengan peningkatan risiko depresi, kecemasan, iritabilitas, serta gangguan regulasi emosi, terutama pada remaja. Sebaliknya, kebiasaan bangun pagi dikaitkan dengan suasana hati yang lebih stabil, tingkat stres yang lebih rendah, serta resiliensi psikologis yang lebih baik dalam menghadapi tekanan akademik dan sosial.
Selain itu, bangun pagi juga berkontribusi pada kesehatan metabolik dan fisik secara keseluruhan. Penelitian dalam Sleep dan Obesity Reviews menunjukkan bahwa individu yang bangun lebih pagi cenderung memiliki indeks massa tubuh yang lebih sehat, sensitivitas insulin yang lebih baik, serta risiko obesitas dan sindrom metabolik yang lebih rendah. Hal ini disebabkan oleh keteraturan waktu makan, aktivitas fisik yang lebih optimal di siang hari, serta sinkronisasi metabolisme dengan ritme biologis alami tubuh. Dengan demikian, bangun pagi bukan sekadar kebiasaan gaya hidup, tetapi merupakan strategi preventif berbasis bukti ilmiah dalam menjaga kesehatan jangka panjang.
Integrasi Nilai Islam dan Sains Kedokteran
Jika ditelaah secara integratif, ajaran Islam tentang tidur malam dan bangun pagi sejalan dengan prinsip kesehatan preventif dalam kedokteran modern. Islam menekankan keseimbangan (tawazun) antara hak tubuh, jiwa, dan ibadah, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu.” (HR. al-Bukhari). Bangun pagi bukan hanya ibadah sunnah, tetapi juga bentuk menjaga amanah tubuh.
Pesan Menteri Abdul Mu’ti tentang pentingnya bangun pagi, mengurangi penggunaan gawai di malam hari, serta membangun kebiasaan sehat, dapat dipandang sebagai upaya kontekstual menghidupkan kembali nilai-nilai fitrah manusia. Ketika nilai Islam dipadukan dengan temuan ilmiah, bangun pagi menjadi kebiasaan strategis untuk membangun generasi yang sehat jasmani, stabil emosi, kuat spiritual, dan unggul secara akademik.
Kesimpulan
Bangun pagi merupakan kebiasaan fundamental yang memiliki manfaat multidimensi, baik dari perspektif Islam maupun ilmu kedokteran modern. Islam menempatkan pagi sebagai waktu penuh keberkahan, produktivitas, dan kedekatan dengan Allah, sementara sains kedokteran membuktikan bahwa bangun pagi mendukung kesehatan otak, mental, metabolisme, dan daya tahan tubuh. Fenomena generasi nokturnal yang disoroti oleh Menteri Abdul Mu’ti menunjukkan urgensi membangun kembali budaya tidur sehat dan bangun pagi sebagai bagian dari pendidikan karakter dan kesehatan masyarakat.
Saran
Orang tua dan pendidik disarankan untuk menjadi teladan dalam menjaga pola tidur sehat, membatasi penggunaan gawai di malam hari, serta membangun rutinitas bangun pagi yang konsisten sejak usia dini. Sekolah dapat mengintegrasikan edukasi kesehatan tidur dalam kurikulum dan program pembiasaan karakter. Sementara itu, generasi muda diharapkan menyadari bahwa bangun pagi bukan sekadar disiplin waktu, tetapi investasi jangka panjang bagi kesehatan, kecerdasan, dan kualitas ibadah.
Daftar Pustaka
- Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari.
- Muslim, Shahih Muslim.
- Abu Dawud, Sunan Abi Dawud.
- Crowley, S. J., et al. (2018). An update on adolescent sleep: New evidence informing the perfect storm model. Journal of Adolescent Health.
- Walker, M. (2017). Why We Sleep. New York: Scribner.
- Foster, R. G., & Kreitzman, L. (2014). The rhythms of life: What your body clock means to you. Experimental Physiology.
- JAMA Psychiatry; The Lancet Psychiatry (berbagai edisi tentang tidur dan kesehatan mental).
- Tedjasukmana, R., Seleng, J. C., & Sakasasmita, S. (2022). Dampak Bangun Lebih Pagi terhadap Irama Sirkadian dan Mengantuk. Jurnal Kedokteran Meditek, 28(2), 152–158. https://doi.org/10.36452/jkdoktmeditek.v28i2.2338
- Agussalim. (2025). The Impact of Early Morning Wakefulness on Circadian Hormonal Regulation: Implications for Chronobiology-Informed Nursing Practice. Kufa Journal for Nursing Sciences, 15(2). https://doi.org/10.36321/kjns.vi20252.20517
- Wang, F., Zhou, Y., Hou, X., et al. (2025). The association of chronotype on depression in adolescents: the mediating role of sensation seeking and sleep quality. BMC Psychiatry, 25, 468. https://doi.org/10.1186/s12888-025-06855-8
- Chronotype, Social Jet Lag, and Cardiometabolic Risk Factors in Early Adolescence. (2022). JAMA Pediatrics, 176(2):340–349.
- Sleep-Wake Timings in Adolescence: Chronotype Development and Associations with Adjustment. (2021). PubMed.












Leave a Reply