Pedagogi humanisme , Pedagogik, dan Pedagogis dalam Praktik Pendidikan Guru: Kajian Konseptual Perspektif Islam, Sains Pendidikan Terkini, dan Implementatif
Dr Widodo Judarwanto
Pedagogi humanisme, pedagogik, dan pedagogis merupakan tiga pilar penting dalam praktik pendidikan guru yang menempatkan manusia sebagai pusat proses pendidikan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara konseptual hubungan antara pedagogi humanisme, pedagogik, dan pedagogis dalam perspektif Islam serta sains pendidikan terkini, sekaligus mengelaborasi implementasinya dalam praktik pembelajaran guru. Metode yang digunakan adalah studi literatur terhadap sumber-sumber pendidikan Islam klasik, pemikiran tokoh humanisme modern, serta hasil riset pendidikan kontemporer. Hasil kajian menunjukkan bahwa pedagogi humanisme seperti yang difokuskan menteri Kemendikdas Prof Dr Abdul Muti M Ed, menekankan penghormatan terhadap martabat manusia, pengembangan potensi individu, dan pembelajaran yang bermakna; pedagogik berfungsi sebagai kerangka ilmiah dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran; sementara pedagogis merupakan manifestasi sikap dan tindakan guru yang mencerminkan nilai kemanusiaan dan akhlak mulia. Integrasi ketiganya memperkuat peran guru sebagai pendidik profesional yang tidak hanya efektif secara akademik, tetapi juga humanis dan berorientasi pada pembentukan karakter.
Kata kunci: pedagogi humanisme, pedagogik, pedagogis, pendidikan Islam, guru profesional
Guru dalam Islam diposisikan sebagai murabbi, mu‘allim, dan mu’addib, yakni pendidik yang tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membina akhlak dan kepribadian peserta didik. Konsep ini sejalan dengan tuntutan pendidikan modern yang menekankan pembelajaran holistik—mengembangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara seimbang.
Namun, dalam praktik pendidikan kontemporer, masih ditemukan guru yang kuat secara metodologis tetapi lemah secara sikap pedagogis, atau sebaliknya memiliki empati tinggi namun kurang berbasis keilmuan. Oleh karena itu, pemahaman yang tepat mengenai pedagogi, pedagogik, dan pedagogis menjadi sangat penting agar guru mampu menjalankan perannya secara utuh, ilmiah, dan bernilai ibadah.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan pentingnya pedagogi humanisme sebagai landasan kebijakan pendidikan nasional, yakni pendekatan pendidikan yang menempatkan peserta didik dan guru sebagai manusia seutuhnya dengan potensi, martabat, dan kebutuhan yang harus dihormati. Dalam perspektif ini, pendidikan tidak dipahami semata sebagai proses transfer pengetahuan, melainkan sebagai layanan negara untuk membentuk manusia Indonesia yang cerdas, terampil, kritis, dan berakhlak mulia. Gagasan Pendidikan Bermutu untuk Semua yang diusung Mu’ti mencerminkan komitmen terhadap pemerataan akses dan jaminan mutu pendidikan bagi seluruh warga negara, sejalan dengan prinsip pedagogi humanisme yang berkembang dalam pemikiran pendidikan modern serta selaras dengan nilai-nilai pendidikan Islam yang menekankan pembinaan akal, moral, dan kemanusiaan secara utuh.
Landasan Konseptual
1. Pedagogi dalam Perspektif Islam dan Sains Pendidikan
- Pedagogi adalah ilmu dan seni mendidik manusia yang berfokus pada tujuan, nilai, dan hakikat pendidikan. Dalam Islam, pedagogi berakar pada tujuan penciptaan manusia sebagai hamba dan khalifah Allah (QS. Adz-Dzariyat: 56; QS. Al-Baqarah: 30). Pendidikan bertujuan membentuk insan berilmu, beriman, dan berakhlak.
- Sains pendidikan modern memperkuat konsep ini dengan teori pendidikan humanistik dan konstruktivistik yang menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif. Dengan demikian, pedagogi menjadi landasan nilai yang menjawab pertanyaan mengapa dan untuk apa pendidikan dilakukan.
2. Pedagogi Humanisme Menurut Pendidikan dan Islam
- Pedagogi humanisme merupakan pendekatan pendidikan yang menempatkan peserta didik dan guru sebagai manusia seutuhnya, dengan menekankan penghormatan terhadap martabat, kebebasan, emosi, serta potensi individu dalam proses pembelajaran. Dalam perspektif Islam, pedagogi humanisme selaras dengan konsep tarbiyah, ta‘līm, dan ta’dīb yang bertujuan membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia, sehingga pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian kognitif, tetapi juga pada pembinaan moral dan kemanusiaan. Sementara itu, dalam sains pendidikan modern, pedagogi humanisme berakar pada pemikiran tokoh-tokoh seperti Abraham Maslow dan Carl Rogers yang menekankan pentingnya aktualisasi diri, otonomi belajar, serta hubungan empatik dan dialogis antara guru dan peserta didik. Dengan demikian, pedagogi humanisme dapat dipahami sebagai landasan nilai pendidikan yang mengarahkan praktik pedagogik dan pedagogis agar pembelajaran berlangsung secara bermakna, adil, dan berorientasi pada pengembangan manusia secara holistik.
2. Pedagogik dalam Perspektif Ilmiah dan Pendidikan Modern
- Pedagogik adalah ilmu sistematis tentang cara mendidik, meliputi perencanaan pembelajaran, strategi, metode, media, dan evaluasi. Dalam Islam, pedagogik tercermin dari metode Rasulullah ﷺ yang variatif: dialog, keteladanan, pengulangan, dan bertahap (tadarruj).
- Dalam sains pendidikan terkini, pedagogik dikembangkan melalui riset berbasis bukti (evidence-based education), seperti pembelajaran diferensiasi, asesmen formatif, pembelajaran aktif, dan pendekatan berbasis kebutuhan peserta didik.
3. Pedagogis sebagai Implementasi Nyata Guru
- Pedagogis adalah sikap, perilaku, dan keputusan nyata guru dalam proses pembelajaran. Islam menekankan kelembutan, kesabaran, dan kasih sayang dalam mendidik, sebagaimana firman Allah: “Maka disebabkan rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka” (QS. Ali ‘Imran: 159).
- Dalam perspektif pendidikan modern, pedagogis berkaitan dengan kompetensi sosial dan emosional guru, termasuk empati, komunikasi efektif, dan pengelolaan kelas yang bermartabat
Perbedaan Pedagogi, Pedagogik, dan Pedagogis
| Aspek | Pedagogi | Pedagogik | Pedagogis |
|---|---|---|---|
| Hakikat | Nilai dan tujuan pendidikan | Ilmu dan sistem pendidikan | Praktik dan sikap mendidik |
| Perspektif Islam | Tujuan ibadah dan akhlak | Metode Nabi ﷺ dalam mengajar | Akhlak guru terhadap murid |
| Perspektif sains | Humanistik & holistik | Evidence-based learning | Social-emotional competence |
| Pertanyaan kunci | Mengapa mendidik? | Bagaimana mendidik? | Bagaimana bersikap saat mendidik? |
| Bentuk | Filosofis | Teoretis-ilmiah | Praktis-aplikatif |
5 Contoh Sehari-hari yang Harus Dipahami Guru
| No | Situasi Nyata di Sekolah | Pedagogi (Nilai) | Pedagogik (Metode) | Pedagogis (Sikap) |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Siswa lambat memahami pelajaran | Setiap anak diciptakan Allah dengan potensi berbeda | Diferensiasi pembelajaran | Sabar dan tidak merendahkan |
| 2 | Siswa berbuat kesalahan | Kesalahan adalah proses belajar | Asesmen formatif | Menegur dengan lemah lembut |
| 3 | Menyusun rencana pembelajaran | Pendidikan membentuk akhlak dan ilmu | Pemilihan model dan evaluasi | Fleksibel dan adaptif |
| 4 | Menghadapi siswa bermasalah | Anak perlu dibina, bukan dihukum | Pendekatan konseling edukatif | Tidak mempermalukan siswa |
| 5 | Kelas pasif dan tidak fokus | Guru bertanggung jawab menghidupkan belajar | Active learning & kolaboratif | Memberi motivasi dan empati |
Integrasi pedagogi, pedagogik, dan pedagogis menunjukkan bahwa Islam dan sains pendidikan modern memiliki titik temu yang kuat. Islam memberi fondasi nilai dan akhlak, sementara sains pendidikan menyediakan pendekatan ilmiah yang teruji. Guru yang ideal adalah guru yang mampu mengharmoniskan ketiganya dalam satu kesatuan praktik pendidikan. Tanpa pedagogi, pendidikan kehilangan arah. Tanpa pedagogik, pembelajaran kehilangan sistem. Tanpa pedagogis, pendidikan kehilangan ruh kemanusiaannya.
Pedagogi Humanjsme
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyadari secara mendalam pentingnya pedagogi humanisme, yaitu sistem pemikiran pendidikan yang menempatkan peserta didik dan guru sebagai manusia seutuhnya. Dalam pandangan ini, pendidikan tidak sekadar proses transfer pengetahuan, tetapi juga ruang tumbuhnya nilai kemanusiaan, martabat, dan potensi diri. Kesadaran tersebut mendorong Mu’ti untuk merancang arah kebijakan pendidikan yang tidak mekanistik, melainkan berorientasi pada manusia sebagai subjek utama pendidikan.
Atas dasar itu, Mu’ti menggagas sistem Pendidikan Bermutu untuk Semua, sebuah kerangka kebijakan yang menekankan pemerataan akses pendidikan sekaligus jaminan mutu layanan pendidikan. Menurutnya, pendidikan adalah hak dasar seluruh warga negara Indonesia tanpa kecuali. Ia secara sengaja menggunakan istilah “layanan pendidikan” untuk menegaskan bahwa negara memiliki kewajiban moral dan konstitusional dalam menyediakan pelayanan pendidikan yang adil, bermutu, dan berkelanjutan bagi seluruh rakyat.
Melalui pendekatan ini, Mu’ti berharap pendidikan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga terampil, kritis, dan berakhlak mulia. Pendidikan dipandang sebagai proses pembentukan manusia yang utuh—mengembangkan akal, rasa, dan moral secara seimbang. Di sinilah terlihat dengan jelas bahwa kebijakan Mu’ti tidak berdiri semata pada logika administratif, melainkan berakar pada nilai-nilai pedagogi humanisme yang menempatkan kemanusiaan sebagai inti pendidikan.
Gagasan pedagogi humanisme sendiri berakar pada pemikiran para tokoh seperti Abraham Maslow, Carl Rogers, dan James F. T. Bugental pada awal abad ke-20. Mereka mengembangkan pendekatan ini sebagai respons kritis terhadap dominasi behaviorisme dan psikoanalisis yang dianggap terlalu menekankan kontrol eksternal dan aspek patologis manusia. Bagi para pemikir humanisme, pendidikan harus memfasilitasi perkembangan emosi, otonomi, serta potensi individu secara optimal. Dengan demikian, kebijakan pendidikan Abdul Mu’ti dapat dipahami sebagai upaya kontekstual untuk menghidupkan kembali semangat pedagogi humanisme dalam sistem pendidikan nasional Indonesia.
Kesimpulan
Pedagogi, pedagogik, dan pedagogis merupakan tiga pilar utama dalam praktik pendidikan guru. Islam telah meletakkan dasar-dasar pedagogi dan pedagogis yang kuat melalui Al-Qur’an dan sunnah, sementara sains pendidikan terkini memperkaya pedagogik dengan pendekatan ilmiah berbasis riset. Guru profesional dituntut untuk memahami dan mengintegrasikan ketiganya agar proses pendidikan berjalan efektif, bermakna, dan bernilai ibadah.
Daftar Pustaka
- Al-Attas, S. M. N. (1980). The concept of education in Islam: A framework for an Islamic philosophy of education. Kuala Lumpur: ABIM.
- Al-Ghazali, A. H. (2004). Ihya’ ‘Ulum al-Din (Jilid 1). Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
- Anwar, Q. (2018). Pedagogik: Teori dan praktik pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
- Hattie, J. (2009). Visible learning: A synthesis of over 800 meta-analyses relating to achievement. London: Routledge.
- Joyce, B., Weil, M., & Calhoun, E. (2015). Models of teaching (9th ed.). Boston, MA: Pearson Education.
- Knowles, M. S., Holton, E. F., & Swanson, R. A. (2015). The adult learner: The definitive classic in adult education and human resource development (8th ed.). New York, NY: Routledge.
- Majid, A. (2017). Strategi pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
- Mulyasa, E. (2021). Menjadi guru profesional: Menciptakan pembelajaran kreatif dan menyenangkan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
- Nata, A. (2016). Ilmu pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
- Rasulullah ﷺ. (n.d.). Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Kathir.
- Rasulullah ﷺ. (n.d.). Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi.
- Slavin, R. E. (2020). Educational psychology: Theory and practice (13th ed.). Boston, MA: Pearson.
- Suyanto, & Jihad, A. (2019). Menjadi guru profesional. Jakarta: Erlangga.
- Tilaar, H. A. R. (2012). Pedagogik kritis: Perkembangan, substansi, dan implikasinya. Jakarta: Rineka Cipta.
- UNESCO. (2015). Rethinking education: Towards a global common good? Paris: UNESCO Publishing.















Leave a Reply