MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Bolehkah Mengambil Ilmu dari Orang Yahudi dan Nasrani?

Bolehkah Mengambil Ilmu dari Orang Yahudi dan Nasrani?Tinjauan Islam tentang Batasan, Dalil, dan Keteladanan Para Nabi**

Abstrak

Islam adalah agama yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan mendorong umatnya untuk menuntut ilmu dari berbagai sumber selama kebenarannya terjaga. Dalam sejarah Islam, interaksi dengan Yahudi dan Nasrani tidak dapat dihindari, termasuk dalam bidang ilmu pengetahuan. Artikel ini bertujuan membahas hukum mengambil ilmu dari orang Yahudi dan Nasrani menurut Islam, menjelaskan batasan yang diperbolehkan dan dilarang, serta menguraikan kisah-kisah para nabi sebagai landasan metodologis. Dengan pendekatan dalil Al-Qur’an, Sunnah, dan pandangan ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, diharapkan artikel ini memberikan pemahaman yang proporsional, kritis, dan aplikatif bagi umat Islam dalam menghadapi ilmu pengetahuan modern.

Kata kunci: Ilmu, Yahudi, Nasrani, Islam, Akidah, Pendidikan Islam

Menuntut ilmu merupakan kewajiban dalam Islam yang tidak dibatasi oleh ruang, waktu, maupun identitas etnis. Namun, muncul pertanyaan penting di tengah masyarakat Muslim: apakah boleh mengambil ilmu dari orang Yahudi dan Nasrani? Pertanyaan ini menjadi relevan mengingat banyak ilmu pengetahuan modern berkembang di lingkungan non-Muslim.

Islam sebagai agama yang sempurna tidak menutup diri dari ilmu yang datang dari luar, tetapi juga menetapkan filter akidah dan syariat agar umat tidak terjerumus pada penyimpangan iman. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang seimbang antara keterbukaan intelektual dan keteguhan aqidah.

Pandangan Islam: Ilmu yang Boleh dan Tidak Boleh Diambil

Ilmu yang Boleh Diambil

Islam membolehkan mengambil ilmu dari Yahudi dan Nasrani dengan syarat:

  1. Ilmu tersebut bersifat universal dan rasional
  2. Memberikan kemaslahatan bagi umat
  3. Tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah

Contohnya:

  • Kedokteran
  • Sains dan teknologi
  • Matematika
  • Astronomi
  • Administrasi dan strategi

Kaidah ulama:

Al-haqqu yu’rafu bi dalilih, la bi rijalihi
(Kebenaran dinilai dari dalilnya, bukan dari siapa yang menyampaikannya

Ilmu yang Tidak Boleh Diambil

Islam melarang mengambil:

  • Konsep ketuhanan Trinitas
  • Doktrin keselamatan eksklusif di luar Islam
  • Tafsir agama yang menyimpang dari tauhid
  • Ajaran yang merusak iman dan syariat

Allah berfirman:

“Sungguh telah kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah Al-Masih putra Maryam.”
(QS. Al-Ma’idah: 72)

Kisah Para Nabi sebagai Landasan 

1. Nabi Muhammad ﷺ dan Bahasa Ibrani

Rasulullah ﷺ memerintahkan Zaid bin Tsabit mempelajari bahasa Ibrani dan Suryani untuk kepentingan dakwah dan diplomasi. Ini menunjukkan bolehnya mengambil alat ilmu dari non-Muslim.

2. Kisah Nabi Musa ‘alaihis salam

Nabi Musa hidup berdampingan dengan Bani Israil dan memahami tradisi mereka, tetapi tetap menyaring ajaran yang menyimpang dan menegakkan tauhid.

3. Nabi Yusuf ‘alaihis salam di Mesir

Nabi Yusuf mengelola sistem ekonomi Mesir yang bukan masyarakat tauhid, bahkan memanfaatkan ilmu administrasi dan manajemen negara untuk menyelamatkan rakyat dari kelaparan.

4. Nabi Sulaiman ‘alaihis salam

Nabi Sulaiman memanfaatkan pengetahuan berbagai bangsa dan makhluk, namun seluruh kekuasaan dan ilmunya tetap tunduk kepada Allah semata.

Tabel: Bolehkah Mengambil Ilmu dari Yahudi dan Nasrani?

Bidang Ilmu Hukum Penjelasan
Kedokteran Boleh Ilmu empiris dan bermanfaat
Sains & Teknologi Boleh Netral secara akidah
Matematika Boleh Ilmu universal
Sejarah Boleh dengan seleksi Diverifikasi dengan Islam
Teologi & Akidah Tidak boleh Bertentangan dengan tauhid
Konsep keselamatan Tidak boleh Menyesatkan iman
Filsafat Ketuhanan Waspada Perlu filter Al-Qur’an & Sunnah

Kesimpulan

Islam membolehkan mengambil ilmu dari Yahudi dan Nasrani selama ilmu tersebut benar, bermanfaat, dan tidak merusak akidah. Sejarah para nabi menunjukkan bahwa keterbukaan terhadap ilmu tidak berarti kompromi terhadap tauhid. Sikap seorang Muslim adalah cerdas, kritis, dan berprinsip: mengambil manfaatnya, menolak penyimpangannya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *