TAHNIK DALAM PERSPEKTIF SUNNAH DAN SAINS KEDOKTERAN MODERN
Suatu Tinjauan Fiqh, Medis, dan Praktik Sosial
Dr Widodo Judarwanto, pediatrician
Abstrak
Tahnik merupakan salah satu praktik neonatal dalam tradisi Islam yang dilakukan dengan memberikan sedikit kurma yang telah dilumatkan ke langit-langit mulut bayi baru lahir. Praktik ini bersumber dari hadits-hadits shahih dan dipraktikkan langsung oleh Nabi Muhammad ﷺ kepada bayi-bayi sahabat. Artikel ini mengulas tahnik secara komprehensif dari aspek definisi, dalil, tata cara sesuai sunnah, status hukum, serta perspektif ulama klasik dan kontemporer. Selain itu, artikel ini membahas manfaat tahnik berdasarkan sains kedokteran modern, termasuk stimulasi oral motorik, regulasi glukosa awal, serta aspek higienitas. Pembahasan budaya lokal Nusantara dan kesalahan umum dalam praktik tahnik juga disertakan, sehingga diharapkan artikel ini menjadi panduan ilmiah dan edukatif bagi masyarakat, tenaga kesehatan, dan pengelola lembaga Islam.
1. Pendahuluan
Tahnik merupakan salah satu sunnah Nabi yang berkaitan dengan perawatan bayi baru lahir. Dalam masyarakat Muslim global, termasuk Indonesia, praktik tahnik kembali populer seiring meningkatnya kesadaran orang tua akan praktik keagamaan dan medis yang aman. Namun, banyak praktik tahnik dilakukan tanpa mempertimbangkan kaidah fiqh dan keamanan medis, sehingga diperlukan panduan ilmiah yang holistik.
Selain itu, perkembangan ilmu kedokteran neonatologi menunjukkan pentingnya stimulasi oral dini terhadap refleks mengisap, regulasi glukosa, dan perkembangan neuro-oral. Oleh karena itu, integrasi antara sunnah dan sains menjadi landasan penting untuk memastikan praktik tahnik tetap sesuai tuntunan Islam namun tetap aman secara medis.
2. Definisi, Dalil, dan Hikmah
2.1 Definisi Tahnik
Tahnik adalah perbuatan mengoleskan kurma yang telah dilumatkan atau dicairkan ke langit-langit mulut bayi dengan lembut. Dalam literatur klasik, istilah ini berasal dari akar kata ḥ-n-k yang berarti “langit-langit mulut”.
2.2 Dalil Hadits Shahih
Banyak riwayat shahih menggambarkan Nabi ﷺ men-tahnik bayi sahabat, di antaranya:
Hadits HR. Bukhari (No. 5467) Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku mendapatkan seorang anak laki-laki, lalu aku membawanya kepada Nabi ﷺ. Beliau menamakannya Ibrahim, men-tahniknya dengan kurma yang telah dikunyah beliau, kemudian mendoakannya agar diberkahi, lalu beliau menyerahkannya kembali kepadaku.” (HR. Bukhari, No. 5467)
- Hadits ini menjadi dasar utama disyariatkannya tahnik. Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa perbuatan Nabi ﷺ menamai bayi, men-tahniknya, dan memberikan doa keberkahan adalah sunnah yang mengandung makna perhatian spiritual terhadap bayi baru lahir. Tahnik dilakukan dengan melunakkan kurma—pada masa itu biasa dilakukan dengan mulut—lalu menyentuhkan sedikit kurma ke langit-langit mulut bayi sebagai bentuk tabarruk (mengambil keberkahan) dari Rasulullah ﷺ.
- Imam Nawawi juga menegaskan bahwa tujuan utama tahnik adalah memberikan sentuhan rasa manis pertama pada bayi sebagai bentuk stimulasi mulut, bukan sekadar tindakan simbolik. Beliau menjelaskan bahwa penggunaan kurma memiliki hikmah medis karena mengandung glukosa alami yang dapat memperkuat kondisi bayi secara cepat. Para ulama menegaskan bahwa inti tahnik adalah menyampaikan rasa manis dan kontak lembut di langit-langit bayi, bukan wajib dilakukan dengan mulut orang dewasa, sehingga metode higienis lebih diutamakan pada masa kini.
Hadits HR. Muslim (No. 2145) Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Aku membawa Abdullah bin Abi Talhah kepada Rasulullah ﷺ ketika ia baru lahir. Beliau meminta sebutir kurma, lalu mengunyahnya, dan mengambil sedikit dari kunyahan tersebut dan memasukkannya ke dalam mulut bayi itu. Bayi itu mulai menggerakkan lidahnya. Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Inilah kecintaan orang Anshar terhadap kurma.’”
(HR. Muslim, No. 2145)
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Tuhfat al-Mawdud menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kombinasi antara aspek ibadah dan aspek medis. Nabi ﷺ memulai kehidupan bayi dengan rasa manis dari kurma, yang menurut beliau memberikan kekuatan instan pada tubuh bayi. Gerakan lidah bayi setelah diberi kurma menunjukkan bahwa stimulasi di palatum (langit-langit mulut) dapat memicu refleks mengisap yang penting bagi keberhasilan menyusu—bagian dari hikmah medis yang kemudian dibuktikan oleh ilmu neonatologi modern.
- Imam al-Qadhi ‘Iyadh menambahkan bahwa hadits ini menunjukkan adab membawa bayi kepada orang saleh untuk didoakan dan diberkahi. Namun, para ulama kontemporer menjelaskan bahwa tindakan mengunyah kurma oleh seorang dewasa bukanlah kewajiban syariat, melainkan metode Rasulullah ﷺ pada konteks saat itu. Karena larangan syariat menjaga kesehatan dan mencegah mudarat, maka metode modern yang higienis—melumatkan kurma dengan jari bersih atau alat steril—lebih dianjurkan dalam praktik tahnik masa kini.
2.3 Hikmah Spiritual
- Menegaskan identitas keislaman sejak lahir
- Mengambil berkah doa Nabi atau orang saleh
- Meneladani sunnah dan tradisi Rasulullah ﷺ
2.4 Hikmah Fisiologis (Menurut Ilmu Medis)
- Pemberian gula alami (glukosa/fruktosa) dari kurma membantu stabilisasi glukosa darah neonatus.
- Tekanan lembut pada palatum merangsang refleks mengisap, penting untuk keberhasilan menyusu dini.
- Rangsangan oral awal menstimulasi neural oral-motor pathways yang berperan dalam proses makan dan perkembangan wicara.
3. Tata Cara Tahnik Sesuai Sunnah (Lengkap dan Praktis)
3.1 Persiapan
- Kurma matang (lebih utama kurma ajwa, namun tidak wajib)
- Air matang untuk melumatkan kurma jika tidak dikunyah
- Orang yang men-tahnik sebaiknya dalam keadaan suci, sehat, dan berakhlak baik
3.2 Langkah-Langkah
- Melumatkan sejumlah kecil kurma hingga halus (dengan jari bersih atau alat steril).
- Mengoleskan sedikit kurma ke langit-langit mulut bayi dengan ujung jari bersih.
- Membaca doa keberkahan, misalnya doa kebaikan untuk bayi.
- Melakukan dengan penuh kelembutan agar bayi nyaman.
3.3 Waktu yang Disunnahkan
- Ideal dilakukan pada hari kelahiran, tetapi tetap boleh setelahnya.
3.4 Adab
- Dilakukan dengan niat mengikuti sunnah
- Tidak berlebihan
- Mengutamakan keamanan bayi
4. Status Hukum Tahnik: Sunnah, Mustahab, atau Adat?
- Jumhur ulama (Syafi’i, Maliki, Hanbali) menilai tahnik adalah sunnah muakkadah.
- Mazhab Hanafi menganggapnya mustahab, bukan wajib.
- Bukan tradisi budaya semata, karena memiliki dasar hadits shahih dan dilakukan langsung oleh Nabi.
5. Bolehkah Tahnik dengan Selain Kurma?
5.1 Pendapat Ulama
- Sebagian ulama membolehkan tahnik dengan madu atau air manis jika kurma tidak tersedia.
- Tujuan tahnik adalah memberikan rasa manis alami dan stimulasi oral, sehingga analognya dapat diterima.
5.2 Tinjauan Medis
- Kurma lebih aman dibanding madu untuk bayi <1 tahun karena madu berisiko botulisme.
- Air Zam-zam bisa digunakan sebagai pelengkap, bukan pengganti utama makanan.
- Kurma yang dilumatkan tanpa dikunyah oleh orang dewasa paling aman secara higienis.
6. Apakah Tahnik Harus Dengan Mulut? Jawaban Ulama Kontemporer dan Medis
6.1 Perspektif Fiqh
- Tidak ada kewajiban tahnik harus dilakukan dengan mulut.
- Mengunyah kurma oleh orang dewasa adalah praktik Nabi, namun tujuan utamanya adalah melembutkan kurma
6.2 Perspektif Medis
- Tidak disarankan mengunyah kurma dengan mulut:
- Risiko penularan virus: CMV, HSV, influenza, hepatitis
- Risiko bakteri rongga mulut
- Rekomendasi medis modern: gunakan jari steril, alat bersih, atau lumatan yang dibuat higienis.
7. Siapa yang Berhak Men-tahnik Bayi?
- Menurut sunnah: orang saleh, ulama, atau keluarga yang berakhlak baik.
- Dalam konteks kontemporer:
- Orang tua
- Tokoh ulama
- Dokter Muslim yang paham fiqh dan higienitas
- Syarat utama: bersih, aman, tidak membawa penyakit, dan berniat baik.
8. Keutamaan Tahnik Menurut Ulama Klasik & Kontemporer
- Imam Nawawi: Tahnik adalah sunnah yang sangat dianjurkan berdasarkan banyak riwayat.
- Ibn Hajar al-Asqalani: Tahnik merupakan bentuk doa dan keberkahan.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah: Menyebut tahnik sebagai bentuk stimulasi awal bayi yang sangat bermanfaat.
- Fatwa kontemporer (Lajnah Daimah, Dar al-Ifta Yordania): Tahnik dianjurkan dengan tetap memperhatikan kebersihan.
9. Manfaat Tahnik Menurut Sains Kedokteran Modern
- 9.1 Stabilitas Glukosa Darah Neonatus Pemberian glukosa dalam jumlah mikro dari kurma membantu mencegah hipoglikemia neonatal, terutama bayi kecil atau lahir dari ibu diabetik.
- 9.2 Stimulasi Oral-Motor dan Refleks Isap Tekanan lembut di palatum merangsang neural pathways yang meningkatkan koordinasi mengisap-menelan.
- 9.3 Potensi Menurunkan Rewel (Soothing Effect) Rasa manis terbukti secara ilmiah memberikan efek analgesik ringan pada neonatus (oral sweet solution analgesia).
- 9.4 Keamanan Kurma Kurma adalah buah tinggi gula alami, rendah risiko alergi, dan aman untuk konsumsi mikro jika dihaluskan dengan higienis.
10. Tahnik dalam Tradisi Muslim Nusantara
Setiap etnis memiliki adaptasi lokal terhadap tahnik:
- Jawa: sering dikombinasikan dengan doa selamatan
- Melayu: dikenal dengan istilah “belah mulut”
- Bugis–Makassar: diawali dengan pembacaan barzanji
- Minangkabau: disertai adat manjapuik bayi
Meskipun demikian, aspek sunnah tetap sama: kurma, doa, dan stimulasi lembut.
11. Kesalahan Umum Saat Tahnik (Dan Cara Mencegahnya)
- Mengunyahkan kurma langsung oleh banyak orang Risiko tinggi penularan infeksi.
- Memberikan potongan besar kurma Risiko tersedak pada bayi.
- Dilakukan oleh orang yang sedang sakit flu, sariawan, atau rentan infeksi. Harus dihindari.
- Menambah ritual yang tidak berdalil Seperti penggunaan berbagai ramuan, jampi tertentu, atau makanan selain kurma secara berlebihan.
Kesimpulan
Tahnik adalah sunnah yang memiliki dasar hadits shahih dan dipraktikkan langsung oleh Rasulullah ﷺ. Praktik ini membawa hikmah spiritual bagi keluarga Muslim dan memiliki manfaat fisiologis yang selaras dengan temuan kedokteran modern, terutama dalam stimulasi oral dan regulasi glukosa awal. Namun, praktik ini harus dilakukan dengan higienis, aman, dan sesuai tuntunan sunnah. Peran tenaga kesehatan Muslim dan edukasi masjid menjadi penting untuk mencegah kesalahan yang dapat membahayakan bayi.
Daftar Pustaka
- Al-Bukhari M. Sahih al-Bukhari. Kitab al-‘Aqiqah.
- Muslim I. Sahih Muslim. Kitab al-Adab.
- An-Nawawi Y. Sharh Sahih Muslim. Dar al-Ma’rifah; 2001.
- Ibn Hajar al-Asqalani. Fath al-Bari. Dar al-Ma’rifah; 2010.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah. Tuhfat al-Mawdud bi Ahkam al-Mawlud. Dar al-Salam; 2003.
- Lajnah al-Daimah lil Buhuth al-Ilmiyyah. Fatawa wa Rasail. Riyadh; 2015.
- Al-Zuhayli W. Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. Dar al-Fikr; 2007.
- Harrison MS, Goldenberg RL. Neonatal hypoglycemia: mechanisms and outcomes. Early Hum Dev. 2016;102:9-12.
- Stevens B, et al. Sweet solutions for neonatal pain. Cochrane Database Syst Rev. 2016;7:CD003488.
- Geddes DT, Kent JC. Oral development and breastfeeding. J Hum Lact. 2013;29(3):291-302.
- American Academy of Pediatrics. Botulism and honey exposure in infants. Pediatrics.
- Sarmadi M, Ismail A. Antioxidant and antibacterial activity of date fruits. Food Chem. 2010;118(3):574-577.


















Leave a Reply