Hadits Arbain Imam Nawawi. Empat Puluh Dua Hadits sebagai Fondasi Ajaran Islam
Hadits Arbain Imam Nawawi atau Al-Arba’in An-Nawawiyyah merupakan salah satu kitab hadits paling populer dalam tradisi keilmuan Islam. Kitab ini disusun oleh Imam Yahya bin Syaraf an-Nawawi pada abad ke-13 M dengan tujuan menghimpun hadits-hadits yang menjadi pokok ajaran Islam. Meskipun disebut “Arbain” yang berarti empat puluh, kitab ini berisi 42 hadits yang mencakup akidah, ibadah, akhlak, muamalah, serta kaidah-kaidah dasar syariat. Sebagian besar hadits berasal dari Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, sehingga memiliki derajat yang sangat kuat. Artikel ini mengulas latar belakang penyusunan Hadits Arbain, kedudukannya dalam khazanah Islam, serta daftar seluruh 42 hadits beserta tema utamanya.
Hadits merupakan sumber hukum Islam kedua setelah Al-Qur’an. Melalui hadits, umat Islam memahami penjelasan Rasulullah ﷺ mengenai akidah, ibadah, akhlak, hukum, dan kehidupan sehari-hari. Ribuan hadits telah diriwayatkan oleh para sahabat dan dikumpulkan oleh para ulama dalam berbagai kitab hadits. Untuk memudahkan umat mempelajari pokok-pokok agama, beberapa ulama menyusun kumpulan hadits pilihan yang mewakili prinsip-prinsip utama Islam.
Di antara karya yang paling terkenal adalah Al-Arba’in An-Nawawiyyah karya Imam Nawawi. Kitab ini telah dipelajari selama ratusan tahun di berbagai pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi Islam. Keistimewaannya terletak pada pemilihan hadits-hadits yang menjadi landasan berbagai cabang ilmu Islam sehingga kitab ini sering menjadi materi dasar dalam mempelajari sunnah Nabi ﷺ.
Hadits Arbain adalah kumpulan 42 hadits pilihan yang disusun oleh Imam Yahya bin Syaraf an-Nawawi, seorang ulama besar mazhab Syafi’i yang hidup pada abad ke-13 M. Kitab ini lebih dikenal dengan nama Al-Arba’in An-Nawawiyah atau Hadits Arbain Imam Nawawi dan menjadi salah satu kitab hadits paling populer dalam dunia Islam. Tujuan penyusunannya adalah menghimpun hadits-hadits yang memuat pokok-pokok ajaran Islam, meliputi akidah, ibadah, akhlak, muamalah, serta berbagai prinsip dasar kehidupan seorang Muslim. Sebagian besar hadits yang dipilih berasal dari kitab-kitab hadits yang sahih, terutama Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, sehingga memiliki kedudukan yang sangat kuat dalam khazanah keilmuan Islam.
Istilah “Arbain” berasal dari bahasa Arab yang berarti “empat puluh”. Meskipun demikian, kitab ini berisi 42 hadits. Imam Nawawi pada awalnya bermaksud mengumpulkan empat puluh hadits yang mencakup dasar-dasar agama, kemudian menambahkan dua hadits lain karena dinilai memiliki kedudukan yang sangat penting. Hadits-hadits tersebut membahas berbagai tema utama, seperti niat sebagai dasar setiap amal, rukun Islam, rukun iman, ihsan, larangan melakukan bid’ah, halal dan haram, agama adalah nasihat, meninggalkan perkara yang meragukan, larangan menimbulkan bahaya, kewajiban berakhlak mulia, hingga anjuran berkata baik atau diam. Seluruh hadits tersebut dipilih karena mewakili kaidah-kaidah besar yang menjadi fondasi syariat Islam.
Kitab Hadits Arbain sangat populer karena ringkas, mudah dipelajari, dan memuat prinsip-prinsip dasar yang menjadi landasan seluruh ajaran Islam. Banyak ulama menjelaskan bahwa siapa saja yang memahami dan mengamalkan kandungan Hadits Arbain berarti telah mempelajari sebagian besar kaidah pokok agama. Oleh karena itu, kitab ini menjadi materi dasar di pesantren, madrasah, perguruan tinggi Islam, dan berbagai majelis ilmu di seluruh dunia. Meskipun terdapat beberapa kitab lain yang juga menghimpun empat puluh hadits, Al-Arba’in An-Nawawiyah tetap menjadi karya yang paling terkenal, paling banyak disyarahkan, diterjemahkan, dan dijadikan rujukan dalam pendidikan Islam hingga saat ini.
Imam Nawawi dan Latar Belakang Penyusunan
Imam Nawawi bernama lengkap Yahya bin Syaraf an-Nawawi (631–676 H). Beliau merupakan ulama besar mazhab Syafi’i yang dikenal karena keluasan ilmu, ketakwaan, dan karya-karyanya yang hingga kini menjadi rujukan dunia Islam.
Beliau menyusun kitab ini berdasarkan hadits yang menyebutkan keutamaan mengumpulkan empat puluh hadits bagi umat Islam. Walaupun hadits tentang keutamaan tersebut dinilai lemah oleh para ahli hadits, para ulama membolehkan penggunaannya sebagai motivasi dalam amal kebajikan. Imam Nawawi kemudian memilih hadits-hadits yang menurut beliau menjadi fondasi agama.
Daftar 42 Hadits Arbain Imam Nawawi, Tema, Matan Singkat, dan Sumber Riwayat
- Niat sebagai dasar seluruh amal. Matan: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” Riwayat: HR. Al-Bukhari No. 1, HR. Muslim No. 1907.
- Hadits Jibril tentang Islam, Iman, Ihsan, Hari Kiamat, dan tanda-tandanya. Matan: “Jibril datang bertanya tentang Islam, Iman, Ihsan, Hari Kiamat, dan tanda-tandanya.” Riwayat: HR. Muslim No. 8.
- Rukun Islam. Matan: “Islam dibangun di atas lima perkara.” Riwayat: HR. Al-Bukhari No. 8, HR. Muslim No. 16.
- Proses penciptaan manusia dan penetapan takdir. Matan: “Sesungguhnya penciptaan salah seorang di antara kalian dikumpulkan dalam rahim ibunya selama empat puluh hari.” Riwayat: HR. Al-Bukhari No. 3208, HR. Muslim No. 2643.
- Larangan membuat perkara baru dalam agama. Matan: “Barang siapa mengada-adakan perkara baru dalam urusan kami yang bukan darinya, maka perkara itu tertolak.” Riwayat: HR. Al-Bukhari No. 2697, HR. Muslim No. 1718.
- Halal, haram, dan perkara syubhat. Matan: “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas.” Riwayat: HR. Al-Bukhari No. 52, HR. Muslim No. 1599.
- Agama adalah nasihat. Matan: “Agama adalah nasihat.” Riwayat: HR. Muslim No. 55.
- Perintah memerangi hingga manusia mengucapkan syahadat. Matan: “Aku diperintahkan memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah.” Riwayat: HR. Al-Bukhari No. 25, HR. Muslim No. 22.
- Melaksanakan perintah sesuai kemampuan. Matan: “Apa yang aku larang maka jauhilah, dan apa yang aku perintahkan kerjakanlah sesuai kemampuan kalian.” Riwayat: HR. Al-Bukhari No. 7288, HR. Muslim No. 1337.
- Allah Mahabaik dan hanya menerima yang baik. Matan: “Sesungguhnya Allah Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik.” Riwayat: HR. Muslim No. 1015.
- Tinggalkan perkara yang meragukan. Matan: “Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.” Riwayat: HR. At-Tirmidzi No. 2518, HR. An-Nasa’i No. 5711.
- Meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat. Matan: “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” Riwayat: HR. At-Tirmidzi No. 2317.
- Mencintai saudara sebagaimana mencintai diri sendiri. Matan: “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Riwayat: HR. Al-Bukhari No. 13, HR. Muslim No. 45.
- Darah seorang Muslim tidak halal kecuali dalam tiga keadaan. Matan: “Tidak halal darah seorang Muslim kecuali karena tiga perkara.” Riwayat: HR. Al-Bukhari No. 6878, HR. Muslim No. 1676.
- Berkata baik atau diam serta memuliakan tetangga dan tamu. Matan: “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah berkata baik atau diam.” Riwayat: HR. Al-Bukhari No. 6018, HR. Muslim No. 47.
- Jangan marah. Matan: “Jangan marah.” Riwayat: HR. Al-Bukhari No. 6116.
- Berbuat ihsan dalam segala hal. Matan: “Sesungguhnya Allah mewajibkan ihsan dalam segala sesuatu.” Riwayat: HR. Muslim No. 1955.
- Bertakwa kepada Allah dan berakhlak baik. Matan: “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada.” Riwayat: HR. At-Tirmidzi No. 1987.
- Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Matan: “Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu.” Riwayat: HR. At-Tirmidzi No. 2516.
- Jika tidak malu, berbuatlah sesukamu. Matan: “Jika engkau tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” Riwayat: HR. Al-Bukhari No. 3483.
- Katakan, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian istiqamah. Matan: “Katakanlah, aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah.” Riwayat: HR. Muslim No. 38.
- Menjalankan kewajiban dan menjauhi yang haram. Matan: “Jika engkau menunaikan salat wajib, menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram, maka engkau masuk surga.” Riwayat: HR. Muslim No. 15.
- Kesucian, zikir, sedekah, dan Al-Qur’an sebagai hujah. Matan: “Kesucian adalah separuh iman.” Riwayat: HR. Muslim No. 223.
- Allah mengharamkan kezaliman. Matan: “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku.” Riwayat: HR. Muslim No. 2577.
- Sedekah tidak hanya berupa harta. Matan: “Pada setiap tasbih terdapat sedekah.” Riwayat: HR. Muslim No. 1006.
- Setiap persendian memiliki sedekah. Matan: “Pada setiap persendian manusia terdapat kewajiban sedekah setiap hari.” Riwayat: HR. Al-Bukhari No. 2989, HR. Muslim No. 1009.
- Kebaikan adalah akhlak yang baik. Matan: “Kebaikan adalah akhlak yang baik.” Riwayat: HR. Muslim No. 2553.
- Berpegang teguh kepada sunnah Nabi dan Khulafaur Rasyidin. Matan: “Berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin.” Riwayat: HR. Abu Dawud No. 4607, HR. At-Tirmidzi No. 2676.
- Jalan menuju surga melalui amal saleh. Matan: “Maukah aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan.” Riwayat: HR. At-Tirmidzi No. 2616.
- Batas-batas yang ditetapkan Allah. Matan: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan kewajiban-kewajiban.” Riwayat: HR. Ad-Daraquthni No. 4396.
- Zuhud terhadap dunia dan apa yang dimiliki manusia. Matan: “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu.” Riwayat: HR. Ibnu Majah No. 4102.
- Tidak boleh menimbulkan bahaya dan saling membahayakan. Matan: “Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain.” Riwayat: HR. Ibnu Majah No. 2341, Imam Malik dalam Al-Muwaththa’.
- Beban pembuktian berada pada penggugat. Matan: “Bukti wajib dibawa oleh penggugat, dan sumpah bagi yang mengingkari.” Riwayat: HR. Al-Baihaqi No. 21201.
- Mengubah kemungkaran sesuai kemampuan. Matan: “Barang siapa melihat kemungkaran hendaklah mengubahnya dengan tangannya.” Riwayat: HR. Muslim No. 49.
- Larangan saling dengki, membenci, dan memutus persaudaraan. Matan: “Janganlah saling dengki, saling membenci, dan saling membelakangi.” Riwayat: HR. Muslim No. 2564.
- Keutamaan menolong sesama Muslim. Matan: “Barang siapa menghilangkan kesusahan seorang Mukmin.” Riwayat: HR. Muslim No. 2699.
- Luasnya rahmat Allah dan pahala amal. Matan: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan dan keburukan.” Riwayat: HR. Al-Bukhari No. 6491, HR. Muslim No. 131.
- Wali Allah dan kedekatan kepada-Nya melalui ibadah. Matan: “Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya.” Riwayat: HR. Al-Bukhari No. 6502.
- Allah memaafkan kesalahan karena lupa, tidak sengaja, dan dipaksa. Matan: “Sesungguhnya Allah memaafkan umatku karena kesalahan, lupa, dan dipaksa.” Riwayat: HR. Ibnu Majah No. 2045, Al-Baihaqi.
- Jadilah seperti orang asing atau musafir di dunia. Matan: “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.” Riwayat: HR. Al-Bukhari No. 6416.
- Iman belum sempurna hingga hawa nafsu mengikuti syariat. Matan: “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” Riwayat: Diriwayatkan oleh Abu al-Qasim al-Ashbahani dalam Al-Hujjah. Dicantumkan Imam Nawawi dalam Al-Arba’in. Hadits ini diperselisihkan derajatnya dan dinilai lemah oleh sebagian ahli hadits.
- Luasnya ampunan Allah bagi hamba yang bertaubat. Matan: “Wahai anak Adam, selama engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampunimu.” Riwayat: HR. At-Tirmidzi No. 3540, hasan sahih.
Keistimewaan Hadits Arbain
Hadits-hadits dalam kitab ini mencakup hampir seluruh pokok ajaran Islam. Para ulama menyebutnya sebagai “jawami’ al-kalim”, yaitu sabda Nabi ﷺ yang singkat tetapi mengandung makna yang sangat luas. Banyak kaidah fikih, usul fikih, akhlak, dan tasawuf yang bersumber dari hadits-hadits dalam kitab ini. Oleh karena itu, kitab Arbain sering dijadikan materi awal bagi penuntut ilmu sebelum mempelajari kitab hadits yang lebih besar.
Hadits Arbain Menurut Pendapat Para Ulama dan Beberapa Catatan Ilmiah
Mayoritas ulama Ahlus Sunnah memberikan penilaian yang sangat positif terhadap Al-Arba’in An-Nawawiyah karya Imam Yahya bin Syaraf an-Nawawi. Kitab ini dipandang sebagai salah satu ringkasan hadits terbaik yang memuat pokok-pokok ajaran Islam, mencakup akidah, ibadah, akhlak, muamalah, serta kaidah-kaidah fikih yang menjadi fondasi syariat. Ulama seperti Imam Ibnu Rajab al-Hanbali kemudian melengkapi kitab ini dengan menambahkan delapan hadits sehingga menjadi Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam yang berisi 50 hadits beserta penjelasan mendalam. Banyak ulama lain, seperti Imam As-Suyuthi, Ibnu Daqiq al-‘Id, Ibnu Hajar al-‘Asqalani, dan para ulama kontemporer, juga menulis syarah atau penjelasan terhadap Hadits Arbain. Hingga saat ini, kitab tersebut menjadi materi dasar di pesantren, madrasah, perguruan tinggi Islam, dan berbagai majelis ilmu karena dianggap merangkum prinsip-prinsip utama agama dalam bentuk yang ringkas dan mudah dipelajari.
Meskipun demikian, terdapat beberapa pembahasan ilmiah di kalangan ahli hadits. Kontroversi utama bukan terletak pada keseluruhan kitab, melainkan pada beberapa hadits tertentu dan alasan penyusunannya. Hadits yang menyebutkan keutamaan menghafal empat puluh hadits, yang menjadi salah satu motivasi penyusunan kitab Arbain, dinilai lemah oleh banyak ahli hadits seperti Imam An-Nawawi sendiri, Ibnu Hajar al-‘Asqalani, dan Al-Albani. Selain itu, Hadits Arbain nomor 41 tentang kesempurnaan iman hingga hawa nafsu mengikuti syariat diperselisihkan derajatnya dan oleh banyak muhaddits dinilai dhaif, meskipun maknanya dinilai sejalan dengan prinsip umum Al-Qur’an dan hadits-hadits sahih lainnya. Di luar beberapa catatan tersebut, hampir seluruh hadits dalam Al-Arba’in An-Nawawiyah berasal dari riwayat-riwayat sahih, terutama Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, sehingga kitab ini tetap diterima secara luas sebagai salah satu karya klasik paling penting dalam pendidikan Islam.
Kesimpulan
Hadits Arbain Imam Nawawi merupakan salah satu karya klasik Islam yang memiliki kedudukan sangat penting dalam pendidikan umat Islam. Keempat puluh dua hadits yang dipilih Imam Nawawi merangkum prinsip-prinsip utama akidah, ibadah, akhlak, muamalah, dan kehidupan seorang Muslim. Mempelajari, memahami, dan mengamalkan hadits-hadits tersebut menjadi langkah awal yang sangat baik untuk membangun pemahaman Islam yang utuh berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.

















Leave a Reply