MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Khutbah Shalat Khusuf: “Gerhana: Tanda Kebesaran Allah dan Panggilan untuk Kembali kepada-Nya”

Khutbah Shalat Khusuf: “Gerhana: Tanda Kebesaran Allah dan Panggilan untuk Kembali kepada-Nya”. Masjid al-Falah Benhil Jakarta Senin 7 September 2025 bertepatan dengan tanggal 14 Rabi’ul Awal 1447.

Khatib: Ustadz Muhammad Taufik, S.Th., M.Ag

الحمد لله الذي خلق الليل والنهار، والشمس والقمر، وجعلها آياتٍ لقومٍ يعقلون. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، صلّى الله عليه وعلى آله وأصحابه أجمعين.

Gerhana bulan bukan sekadar fenomena alam semata, melainkan tanda kebesaran Allah agar manusia mengambil pelajaran. Allah berfirman dalam QS. Fussilat ayat 53: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar.” Dan dalam QS. Al-Isra ayat 59 Allah berfirman: “Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakut-nakuti (hamba-hamba Allah).” Maka, gerhana adalah peringatan agar kita kembali kepada Allah dengan zikir, doa, istighfar, dan shalat.

Sesungguhnya pergantian malam dan siang, terbit dan tenggelamnya matahari serta perjalanan bulan adalah tanda-tanda kebesaran Allah. Allah berfirman:“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)

Hari ini kita menyaksikan gerhana bulan, sebuah peristiwa besar yang bukan sekadar fenomena alam semata, tetapi tanda kekuasaan Allah.

Pada masa Rasulullah ﷺ terjadi gerhana matahari bertepatan dengan wafatnya Ibrahim, putra beliau dari Ummu Ibrahim, Maria Al-Qibthiyyah. Melihat peristiwa itu, sebagian orang musyrik dan orang awam di Madinah berkata bahwa gerhana tersebut terjadi karena meninggalnya Ibrahim. Mereka menyangka bahwa langit turut berduka atas kematian anak Nabi ﷺ, sebagaimana keyakinan jahiliah bahwa gerhana berkaitan dengan kelahiran atau kematian orang besar.

Mendengar ucapan itu, Rasulullah ﷺ segera meluruskan keyakinan yang keliru. Beliau naik mimbar dan bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Apabila kalian melihat gerhana, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah, dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari no. 1044, Muslim no. 901). Dengan sabda ini, Nabi ﷺ menegaskan bahwa gerhana hanyalah tanda kebesaran Allah untuk mengingatkan manusia, bukan karena sebab-sebab duniawi seperti lahir atau wafatnya seseorang.

Gerhana adalah peringatan agar hamba-hamba-Nya kembali takut kepada Allah. Bila manusia lalai dan tidak takut kepada Allah, maka ia termasuk orang-orang yang merugi. Maka hendaknya kita memperbanyak istighfar, doa, dan shalat dengan penuh khusyuk. Allah berfirman: “Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakut-nakuti.” (QS. Al-Isra: 59)

Perhiasan dunia sering melalaikan manusia dari mengingat Allah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Bersedekahlah kalian, karena aku melihat kalian (wahai para wanita) merupakan penghuni neraka yang paling banyak.” (HR. Bukhari no. 1462, Muslim no. 79). Maka perbanyaklah sedekah, karena sedekah dapat menghapus dosa, menjadi naungan di hari kiamat, dan menyelamatkan dari azab Allah.

Mari kita jadikan gerhana ini sebagai momentum untuk memperkuat iman, memperbanyak istighfar, bersedekah, dan memperbaiki diri. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sedekah dapat memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api.” (HR. At-Tirmidzi no. 614, dinyatakan hasan sahih)

Semoga Allah menerima shalat, doa, dan amal kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang selalu berzikir dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaringKHUTBAH

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *