Hari Tasyrik merupakan bagian penting dalam rangkaian ibadah Idul Adha dan pelaksanaan qurban. Secara syariat, hari Tasyrik adalah tiga hari setelah Idul Adha (11, 12, dan 13 Zulhijjah) yang memiliki ketentuan khusus terkait penyembelihan hewan qurban, ibadah, dan aktivitas lainnya. Tulisan ini membahas pengertian hari Tasyrik menurut sunnah Nabi ﷺ, penjelasan rinci hukum dan tata cara pelaksanaan qurban, serta bagaimana praktiknya dalam kehidupan sehari-hari saat Idul Adha berlangsung. Pemahaman ini penting untuk menjamin ibadah qurban berjalan sesuai syariat dan membawa manfaat maksimal bagi umat.
Hari Tasyrik merupakan istilah yang banyak muncul dalam konteks pelaksanaan ibadah haji dan qurban pada bulan Zulhijjah. Namun, bagi sebagian umat Islam, makna dan aturan khusus terkait hari Tasyrik belum sepenuhnya dipahami secara mendalam, terutama dalam kaitannya dengan waktu penyembelihan hewan qurban dan larangan-larangan tertentu yang menyertainya.
Selain sebagai hari pelaksanaan qurban, hari Tasyrik juga memiliki sejumlah aturan ibadah yang membedakannya dari hari-hari biasa, misalnya larangan untuk berpuasa dan anjuran untuk menyembelih hewan qurban. Oleh karena itu, pemahaman yang benar tentang hari Tasyrik sangat penting agar umat Islam dapat menjalankan sunnah Nabi ﷺ secara tepat dan memperoleh pahala yang maksimal.
Dalil Hadits Hari Tasryik
- Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
Nabi ﷺ bersabda:“Hari-hari Tasyrik adalah hari-hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.”— (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban) - Hadits dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu:
Nabi ﷺ bersabda:“Barang siapa berpuasa pada hari Tasyrik maka dia telah berpuasa suatu puasa yang tidak disukai Allah.”— (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad) - Hadits riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
Nabi ﷺ bersabda:“Hari Tasyrik adalah tiga hari setelah hari Nahr (hari penyembelihan qurban).”— (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)
Menurut Sunnah Nabi ﷺ
- Definisi Hari Tasyrik
Hari Tasyrik adalah tiga hari setelah hari Idul Adha, yakni tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijjah. Dalam hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban, Nabi ﷺ bersabda bahwa hari-hari Tasyrik adalah waktu yang disyariatkan untuk menyembelih hewan qurban. - Hukum Menyembelih pada Hari Tasyrik
Nabi ﷺ menganjurkan agar penyembelihan hewan qurban dapat dilakukan tidak hanya pada hari Idul Adha, tetapi juga selama tiga hari Tasyrik, sehingga umat diberikan kelonggaran waktu untuk melaksanakan qurban. - Larangan Puasa pada Hari Tasyrik
Salah satu sunnah Nabi ﷺ adalah melarang puasa pada hari Tasyrik. Hal ini sesuai dengan sabda beliau bahwa puasa pada hari tersebut adalah makruh karena merupakan hari untuk makan, minum, dan berdzikir kepada Allah. - Dzikir dan Doa di Hari Tasyrik
Nabi ﷺ menganjurkan untuk memperbanyak dzikir, takbir, tahmid, dan tasbih di hari-hari Tasyrik sebagai bentuk ibadah yang menyertai pelaksanaan qurban dan hari raya Idul Adha. - Makna Simbolis Hari Tasyrik
Hari Tasyrik melambangkan pengorbanan, syukur, dan ketaatan kepada Allah. Melalui sunnah dan tata cara pelaksanaan qurban di hari Tasyrik, umat diajarkan untuk terus memupuk rasa keimanan dan solidaritas sosial.
Tabel Rangkuman Pemahaman Hari Tasyrik Menurut Pendapat Ulama
| No | Ulama / Mazhab | Definisi & Pemahaman Hari Tasyrik |
|---|---|---|
| 1 | Imam Abu Hanifah (Hanafi) | Hari Tasyrik adalah tiga hari setelah Idul Adha (11, 12, dan 13 Zulhijjah). Hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah. |
| 2 | Imam Malik (Maliki) | Hari Tasyrik adalah hari-hari tasyriq, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijjah. Disunnahkan berzikir dan makan pada hari ini. |
| 3 | Imam Syafi’i (Syafi’i) | Hari Tasyrik adalah tiga hari sesudah Idul Adha, yang diperbolehkan untuk makan daging kurban dan dianjurkan berdzikir. |
| 4 | Imam Ahmad bin Hanbal (Hanbali) | Sama seperti mazhab lain, hari Tasyrik adalah 11-13 Zulhijjah. Puasa hari ini tidak diperbolehkan, dianjurkan dzikir. |
| 5 | Imam Nawawi (Syafi’i) | Hari Tasyrik adalah waktu tasyriq, tiga hari setelah Idul Adha, waktu sunnah beribadah dengan makan dan berdzikir. |
| 6 | Ibn Abbas (Sahabat Nabi) | Hari Tasyrik disebut hari makan, minum, dan berdzikir, dilarang puasa pada hari tersebut. |
| 7 | Imam Al-Ghazali | Hari Tasyrik adalah momentum setelah Idul Adha untuk memperbanyak amalan dzikir dan menyantap daging qurban. |
| 8 | Ibn Qudamah (Hanbali) | Hari Tasyrik tiga hari setelah Idul Adha, waktu dilarang berpuasa dan dianjurkan makan serta berdzikir. |
| 9 | Imam Al-Qurtubi | Hari Tasyrik adalah masa tasyriq (penyebaran daging qurban), hari makan dan dzikir dengan daging qurban. |
| 10 | Imam Al-Baghawi | Menjelaskan hari Tasyrik adalah hari untuk makan daging kurban dan berdzikir sebagai bentuk syukur. |
| 11 | Sayyid Qutb | Hari Tasyrik sebagai momentum spiritual untuk refleksi, syukur, dan ibadah setelah hari Idul Adha. |
| 12 | Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin | Hari Tasyrik adalah hari makan daging kurban dan berdzikir kepada Allah, diharamkan berpuasa di hari tersebut. |
| 13 | Yusuf Al-Qaradawi | Menjelaskan pentingnya hari Tasyrik sebagai waktu memperkuat ukhuwah dengan berbagi daging kurban dan berdzikir. |
| 14 | Dr. Wahbah Az-Zuhaili | Hari Tasyrik adalah tiga hari setelah Idul Adha, yang diwajibkan makan dan dzikir serta tidak diperbolehkan puasa. |
Intisari Kesamaan Pendapat Ulama
- Hari Tasyrik adalah tiga hari berturut-turut setelah Idul Adha, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijjah.
- Pada hari Tasyrik dianjurkan makan daging kurban dan berdzikir (menyebut nama Allah).
- Puasa di hari Tasyrik dilarang karena hari tersebut adalah hari makan dan syukur.
- Hari Tasyrik disebut sebagai masa tasyriq (penyebaran daging kurban), sehingga daging kurban boleh dimakan pada hari tersebut.
- Hari Tasyrik merupakan kelanjutan ibadah qurban dan momentum spiritual yang penting dalam kalender Islam.
Penjabaran dalam Praktik Sehari-hari Saat Idul Adha
- Penyembelihan Hewan Qurban
Dalam praktiknya, penyembelihan hewan qurban dapat dilakukan mulai pagi hari Idul Adha dan berlanjut selama tiga hari Tasyrik. Hal ini memberikan kemudahan bagi panitia dan masyarakat agar tidak terkendala waktu. - Kegiatan Sosial dan Pembagian Daging
Setelah penyembelihan, daging qurban dibagikan kepada keluarga miskin, tetangga, dan yang membutuhkan sesuai ketentuan. Pada hari Tasyrik, pembagian ini masih dilakukan sehingga manfaat ibadah tersebar luas. - Larangan Puasa
Masyarakat dianjurkan untuk tidak berpuasa di hari Tasyrik dan justru memperbanyak makan, minum, serta berdzikir, sehingga suasana kegembiraan hari raya dan syukur atas karunia Allah terasa merata. - Pengajian dan Majelis Dzikir
Seringkali di masjid atau mushalla diadakan pengajian dan majelis takbir, tahlil, dan dzikir selama hari Tasyrik sebagai bentuk penguatan iman dan rasa kebersamaan. - Perayaan Idul Adha yang Berlanjut
Perayaan Idul Adha tidak hanya pada satu hari, tetapi berlanjut selama hari Tasyrik, dengan pelaksanaan qurban dan ibadah yang konsisten hingga hari terakhir. - Kebersamaan dan Solidaritas Sosial
Hari Tasyrik menjadi momentum memperkuat tali silaturahmi, gotong royong, dan kepedulian sosial antar sesama umat Islam melalui penyelenggaraan qurban dan pembagian makanan. - Pengingat Ketaatan kepada Allah
Melalui ibadah dan ritual selama hari Tasyrik, umat diingatkan kembali akan makna pengorbanan Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail sebagai contoh ketaatan dan pengabdian kepada Allah.
Kesimpulan
Hari Tasyrik adalah tiga hari penting setelah Idul Adha yang memiliki nilai ibadah dan sosial yang tinggi dalam Islam. Sunnah Nabi ﷺ menegaskan bahwa hari-hari ini adalah waktu yang sah dan dianjurkan untuk menyembelih hewan qurban, larangan berpuasa, serta memperbanyak dzikir. Dalam praktik sehari-hari, hari Tasyrik menjadi momentum memperkuat solidaritas sosial dan meningkatkan keimanan umat. Memahami dan melaksanakan hari Tasyrik sesuai tuntunan sunnah merupakan bagian penting dari menjaga keaslian dan keberkahan ibadah qurban.












Leave a Reply