MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Muhadharah Masyayikh Yaman di Masjid Al-Falah Benhil Jakarta

 

Alhamdulillah, kegiatan Muhadharah Masyayikh Yaman dengan tema “Sebab Husnul Khotimah” yang diselenggarakan pada Senin, 12 Mei 2025 ba’da Maghrib di Masjid Al-Falah Benhil, Jakarta Pusat telah berlangsung dengan lancar dan penuh keberkahan. Acara ini sukses menyedot perhatian jamaah dari berbagai daerah, mulai dari Jakarta, Bandung, hingga beberapa kota lainnya. Peserta mengikuti dengan tekun dari awal hingga akhir, mencerminkan antusiasme umat terhadap majelis ilmu yang menghadirkan ulama dari tanah Yaman.

Pemateri utama, Asy-Syaikh Nashr Muhammad Abdullah Al-Imam dari Darul Hadits Ma’bar, Yaman, menyampaikan materi dengan mendalam dan menyentuh hati, mengingatkan pentingnya amal shalih dan taubat sebagai kunci husnul khatimah. Materi beliau diterjemahkan secara fasih oleh Al-Ustadz Almanazil Billah, Lc, Mudir Ma’had Ashabus Sunan dari Lampung Tengah, sehingga peserta dari berbagai latar belakang dapat menyerap faedah dengan jelas. Banyak peserta yang mencatat, merekam, dan larut dalam kekhusyukan menyimak nasihat-nasihat beliau.

Acara juga disiarkan langsung melalui Zoom dan YouTube Markaz Ilmu, memungkinkan kaum muslimin dari luar kota untuk ikut mengambil manfaat. Usai pemaparan materi, sesi tanya jawab pun dibuka dan disambut antusias. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan menunjukkan semangat ingin memahami agama secara benar dan mendalam, serta kerinduan akan bimbingan ulama rabbani.

Kegiatan dakwah ini ditutup dengan ramah-tamah sederhana namun hangat. Panitia membagikan hidangan khas Masjid Al-Falah Benhil, yakni pisang rebus dan nasi mie bakso, sebagai bentuk kebersamaan dengan para jamaah. Semua peserta tampak puas dan bersyukur bisa hadir di majelis penuh faedah ini.

Penyelenggaraan kegiatan ini adalah hasil kerja sam yang baik antara I-SALAM, Markaz Ilmu, dan Yayasan Masjud Al-Falah Benhil. Semoga acara ini menjadi sebab turunnya rahmat Allah dan menjadi pemicu semangat untuk memperbaiki diri, menapaki jalan taubat, serta mengejar akhir kehidupan yang mulia—husnul khatimah. Kegiatan seperti ini diharapkan terus berlangsung dan menjadi oase keilmuan di tengah hiruk pikuk dunia.

 

Rangkuman Muhadharah Masyayikh Yaman, Asy-Syaikh Nashr Muhammad Abdullah Al-Imam dari Darul Hadits Ma’bar, Yaman

Meninggal secara husnul khatimah adalah keadaan yang maha agung dan mulia, suatu akhir kehidupan yang didambakan setiap insan beriman. Tidak ada kemuliaan yang lebih besar selain wafat dalam keadaan diridhai Allah, dalam iman dan amal shalih. Karena sesungguhnya, sebagaimana sabda Rasulullah, amalan itu tergantung dari akhir hayatnya. Tiga akhir yang menentukan: akhir usia, akhir amal, dan akhir kalimat—siapa yang akhir hayatnya baik, maka seluruh hidupnya menjadi cahaya.

Namun bagi mereka yang wafat dalam keadaan su’ul khatimah, penuh penyesalan tanpa sempat bertaubat, datanglah kematian dalam seburuk-buruk keadaan. Di saat itu mereka memohon, “Wahai Rabbku, kembalikanlah aku ke dunia, agar aku dapat mengerjakan amal shalih yang dahulu aku lalaikan.” Tetapi permintaan itu hanya menjadi penyesalan belaka, karena tak seorang pun diberi kesempatan kedua. Maka, selagi ruh masih menyatu dengan raga, marilah kita memperbaiki hidup dan menjemput kematian dengan husnul khatimah.

Seandainya Allah bukakan rasa penyesalan itu di akhir hayat, betapa pedih dan perihnya jiwa yang selama ini jauh dari-Nya. Manusia yang sepanjang hidupnya dipenuhi kesenangan dunia, namun lalai dari mengingat Allah, akan menangis dan merintih karena menyadari bahwa setiap detik usianya hanya digunakan untuk maksiat, kesombongan, dan kelalaian. Hati yang dulunya keras akan melembek, namun semuanya telah terlambat—saat nyawa telah sampai di tenggorokan dan pintu taubat tertutup rapat.

Pada saat itulah, keinginan terbesar bukan lagi harta atau jabatan, tetapi sekadar satu kesempatan lagi untuk bersujud, satu kali lagi untuk bertasbih dan memohon ampun. Namun Allah telah berfirman bahwa penyesalan di ujung ajal tidak akan berguna. Maka sungguh beruntunglah mereka yang diberi hidayah sebelum maut tiba—yang memperbaiki hidupnya sejak kini, sebelum datang hari di mana tak ada kembali, dan tak ada lagi ruang untuk taubat.

Maukah kita merenung sejenak, bahwa kematian adalah kepastian yang tak bisa dihindari? Mahkamah maut bukanlah ruang kosong yang jauh, ia dekat—amat dekat. Ada yang sedang makan, tiba-tiba malaikat maut menjemput. Ada yang sedang bersiap menerima ijazah dari perguruan tinggi, namun meninggal lebih dahulu. Ada pula yang sedang melamar pernikahan, lalu ajal menutup pintu kehidupannya.

Kematian tidak mengenal status, tidak peduli apakah kita pejabat atau rakyat jelata, kaya atau miskin, muda atau tua. Ia datang ketika waktunya tiba, dan saat itu kita semua akan merasakan mati. Maukah kita sadar, bahwa mahkamah maut adalah kepastian yang tak seorang pun bisa hindari? Ia tidak menunggu kesiapan, tidak menunda karena harapan. Ada yang sedang makan, lalu tiba-tiba malaikat maut menjemput. Aku pernah menyaksikan seseorang yang bersiap menerima ijazah perguruan tinggi, namun tak sempat datang—ia wafat sehari sebelumnya. Ada pula yang sedang melamar kekasihnya, dengan hati penuh harap, namun ajal lebih dulu memisahkan dunia mereka.

Kematian tidak memandang siapa, tidak kenal jabatan, tidak peduli tua atau muda, kaya atau miskin. Ia datang dengan ketetapan yang tak bisa ditawar. Maka siapa pun kita, akan merasakan mati saat tiba waktunya. Pertanyaannya bukan kapan, tetapi bagaimana kita menjemputnya dalam keadaan lalai, atau dalam keadaan siap kembali kepada-Nya.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa salah satu sebab seseorang meninggal dalam keadaan husnul khatimah adalah ia segera bertaubat dari seluruh dosa dan kemaksiatan. Taubat yang sungguh-sungguh—taubatan nasuha—akan menjernihkan hati, memutihkan catatan amal, dan mengangkat derajat seseorang di sisi Allah. Allah berfirman dalam Surah At-Tahrim ayat 8: “Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” Taubat yang ikhlas akan menghapus segala keburukan, dan Allah Maha Pengampun bagi siapa yang kembali dengan hati tunduk.

Orang yang bertaubat sebelum ajal menjemput, lalu wafat dalam keadaan bersih dari dosa dan penuh dengan amal kebaikan, maka ia akan meninggal dalam kebahagiaan sejati. Ruhnya disambut oleh para malaikat dengan salam dan kabar gembira dari Allah. Inilah puncak dari karunia Ilahi: wafat dalam keadaan ridha dan diridhai, membawa hati yang tenang, wajah yang bercahaya, dan nama yang harum di bumi dan langit. Husnul khatimah bukan mimpi bagi yang mempersiapkannya dengan taubat dan amal shalih.

Berapa banyak perkara dan ucapan yang kita dengar atau lontarkan setiap hari yang ternyata menyelisihi syariat—yang tak diridhai Allah, namun kita anggap sepele? Betapa banyak lidah yang berbicara tanpa ilmu, hati yang menghakimi tanpa dalil. Maka koreksilah hati kita, berhati-hatilah dalam berucap, karena satu kata bisa mengangkat derajat, atau justru menjerumuskan ke dalam neraka. Bahkan orang yang sudah shalat dan beribadah pun bisa terjatuh jika tak menjaga lisannya. Maka belajarlah ilmu agama agar kita paham mana yang diridhai Allah, dan Allah akan memberikan kemuliaan kepada siapa yang Dia kehendaki dengan ilmu. Nabi bersabda, “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Allah akan pahamkan ia dalam agama.”

Setiap kita wajib memperhatikan dan memperbaharui taubat, setiap saat, setiap waktu, dan setiap detik dalam hati. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, manusia paling mulia dan ma’shum, yang seluruh dosanya—yang lalu maupun yang akan datang—telah diampuni oleh Allah, tetap berkata, “Sungguh aku bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari seratus kali.” Maka apakah kita tidak ingin mengikutinya? Jika Rasulullah yang suci masih terus bertaubat, bagaimana dengan kita yang penuh dosa? Maka, jangan tunda taubat, dan teruslah perbaiki diri, agar bisa mengakhiri hidup dalam ridha-Nya.

Sebab HusNul Khatimah

Sebab husnul khatimah adalah hidup dalam keteguhan iman, menjaga tauhid, dan menjauhi syirik. Asy-Syaikh Nashr Al-Imam menekankan pentingnya mengenal dan mengamalkan tauhid dengan benar hingga akhir hayat. Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka tetap istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata): ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.’” (QS. Fussilat: 30).
Istiqamah ini mencakup akidah, ibadah, dan akhlak sesuai sunnah Nabi.

Amalan yang konsisten, walau sedikit, merupakan sebab husnul khatimah. Syaikh Nashr menasihati agar senantiasa menjaga shalat, membaca Al-Qur’an, dan amal hati seperti ikhlas dan sabar. Bila terjatuh dalam dosa, segera kembali kepada Allah dengan taubat. Firman-Nya: “Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31).. Penutup hidup seseorang mencerminkan kondisi hatinya selama hidup, maka menjaga amal dan taubat merupakan kunci.

Syaikh Nashr juga menekankan pentingnya doa agar diberi akhir yang baik, karena hanya Allah yang mampu menetapkan hati. Doa Nabi yang sering beliau panjatkan adalah: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.”Sebagaimana firman Allah: “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi karunia.” (QS. Ali Imran: 8).
Husnul khatimah bukan semata hasil usaha, tapi karunia yang dimohonkan kepada Allah.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *