Bahasa Arab Baku Moderen memiliki 28 fonem konsonan dan 6 fonem vokal atau 8 atau 10 dalam dialek moderen kebanyakan. Semua fonem kontras dengan fonem emfatis (faringealisasi) dan non-emfatis. Beberapa fonem ini dapat memiliki Penggabungan fonem dalam banyak dialek moderen, dan fonem baru juga ditambahkan karena kata pinjam atau pemenggalan fonem. “Kualitas panjang fonem” juga dihasilkan didalam konsonan dan vokal.
Fonologi bahasa Arab adalah studi tentang bunyi dalam bahasa Arab, termasuk bagaimana bunyi-bunyi tersebut diproduksi, didistribusikan, dan diproses dalam sistem bahasa. Berikut adalah beberapa aspek penting dalam fonologi bahasa Arab:
1. Fonem Bahasa Arab
Bahasa Arab memiliki 28 fonem konsonan dan 3 fonem vokal pendek (اَ, اِ, اُ) serta 3 fonem vokal panjang (ا، ي، و).
a. Konsonan
Konsonan dalam bahasa Arab mencakup beberapa kategori penting:
- Konsonan Faringeal: ص, ض, ط, ظ (konsonan faringealisasi/emfatis)
- Konsonan Velar: ق
- Konsonan Uvular: غ, ق
- Konsonan Faringeal: ع, ح
- Konsonan Laringeal: ه, ء (hamzah)
- Konsonan Samping (Lateral): ل
- Konsonan Sengau (Nasal): م, ن
- Konsonan Gesek (Fricative): ث, ذ, ز, س, ش, ف, خ
- Konsonan Letup (Plosive): ب, ت, د, ك, ق, ط
b. Vokal
Bahasa Arab memiliki tiga vokal dasar:
- Vokal Pendek:
- /a/ (اَ – fathah)
- /i/ (اِ – kasrah)
- /u/ (اُ – dhammah)
- Vokal Panjang (dilambangkan dengan huruf mad):
- /aa/ (آ – alif mad)
- /ii/ (ي – ya mad)
- /uu/ (و – wau mad)
2. Ciri Khas Fonologi Bahasa Arab
Beberapa fitur unik dari fonologi bahasa Arab:
a. Emfatisasi (Tafkhīm)
Bahasa Arab memiliki konsonan yang disebut “emfatis”, yang dihasilkan dengan menaikkan bagian belakang lidah, misalnya:
- ص /sˤ/ (ṣād) dibandingkan dengan س /s/ (sīn)
- ط /tˤ/ (ṭā’) dibandingkan dengan ت /t/ (tā’)
b. Hamzah (ء)
Hamzah adalah konsonan letup glotal /ʔ/ yang muncul di awal atau tengah kata, seperti dalam أَكَلَ ak-ala (makan).
c. Sukun (ْ)
Sukun menunjukkan konsonan yang tidak memiliki vokal setelahnya, misalnya:
كَتْب (katb, “menulis”).
d. Gemination (Tasydid, ّ)
Tasydid menandakan penggandaan konsonan, misalnya:
- كتب kataba (“dia menulis”)
- كَتَّبَ kattaba (“dia membuat seseorang menulis”)
3. Struktur Suku Kata dalam Bahasa Arab
Pola umum suku kata dalam bahasa Arab:
- CV (konsonan-vokal): بَ /ba/
- CVC (konsonan-vokal-konsonan): كِتْ /kit/
- CVV (konsonan-vokal panjang): كَا /kaa/
- CVVC (konsonan-vokal panjang-konsonan): كَالْ /kaal/
4. Perubahan Fonologis dalam Bahasa Arab
- Assimilasi: Contoh dalam “al-syams” (الشَّمْسُ), huruf ل dalam “al-” tidak diucapkan karena berasimilasi dengan ش.
- Imalah: Perubahan vokal /a/ menjadi /e/ dalam beberapa dialek, terutama dalam bacaan tertentu dalam Al-Qur’an.
- Elision: Hamzah bisa dihilangkan dalam pengucapan sehari-hari, misalnya “Ibn” terkadang diucapkan tanpa hamzah.
5. Dialek dan Perbedaan Fonologi
Bahasa Arab memiliki banyak dialek yang mempengaruhi fonologinya:
- Dialek Hijazi: Penggunaan vokal panjang lebih dominan.
- Dialek Mesir: /ʤ/ (ج) diucapkan sebagai /g/.
- Dialek Levant: Sering mengganti ق /q/ menjadi /ʔ/ atau /g/.
- Dialek Maghribi: Banyak elision dan perubahan vokal.
6. Fonologi dalam Tajwid (Bacaan Al-Qur’an)
Dalam bacaan Al-Qur’an, ada beberapa kaidah fonologis yang penting:
- Idgham: Penggabungan dua huruf serupa.
- Iqlab: Perubahan bunyi ن sukun menjadi م sebelum ب.
- Ikhfa’: Pengucapan samar pada huruf-huruf tertentu setelah ن sukun atau tanwin.
Kesimpulan
Fonologi bahasa Arab sangat kaya dengan variasi konsonan unik, vokal panjang dan pendek, serta fenomena seperti tafkhīm, tasydid, dan sukun. Sistem ini tidak hanya membentuk dasar bahasa Arab klasik tetapi juga memberikan perbedaan khas dalam berbagai dialek Arab modern.
Apakah Anda ingin penjelasan lebih rinci tentang aspek tertentu?
Vokal

Bahasa Arab Baku Moderen memiliki enam fonem vokal yang membentuk tiga pasang vokal panjang dan pendek (MAD) (/a, aː, i, iː, u, uː/). Banyak varietas lain yang juga memasukkan fonem /oː/ dan /eː/. Standar bahasa Arab Moderen memiliki dua diftong (terbentuk dari kombinasi /a/ dengan konsonan semivokal /j/ dan /w/). Alofoni dapat terjadi pada dialek yang lainnya dalam bahasa Arab dan sebagian diantaranya terasimilasikan dengan konsonan yang berdekatan dalam kata yang sama. Terdapat beberapa hukum umum dalam fonem vokal bahasa ini:
- /a, aː/
- “Ditarik” kebelakang sampai posisi [ɑ] jika vokal /a/ terletak berdekatan dengan /r/, /q/ atau konsonan emfatis (yang secara teknis mengalami uvularisasi, walaupun dideskripsikan sebagai konsonan yang mengalami faringalisasi): /sˤ/, /dˤ/, /tˤ/, /ðˤ/, /ɫ/ dan juga /x/ dan /ɣ/ dalam penuturan standar regional sebagai berikut:[4]
- Daerah Irak dan negara-negara di Teluk Persia: [ɐ] terjadi sebelum batas kata.[4]
- Penggeseran suara sampai [æ], jika vokal /a aː/ terletak berdekatan dengan:
- konsonan dwibibir (/m/, /b/ dan /f/),
- konsonan koronal murni (non emfatis) dengan pengecualian konsonan /r/, yakni /θ/, /ð/, /n/, /t/, /d/, /s/, /z/, /l/, /ʃ/ dab /d͡ʒ~ɡ~ʒ/
- konsonan faring (/ħ/ dan /ʕ/)
- konsonan celah-suaras (/h/ dan /ʔ/)
- /j/, /k/ dan /w/;[5]
- Disepanjang Afrika Utara dan Asia Barat, alofoni [æ] dan [ɑ] mungkin dapat dilepaskan secara berbeda, entah sebagai [(a) ~ (ɑ) ~ (ɛ)], ataupun sebagai [(a) ~ (ä)]
- Di Afrika Barat Laut, vokal panjang depan /æ/ dinaikkan sampai posisi [ɛ] atau [e].
- /i, iː, u, uː/
- Disepanjang Afrika Utara dan Asia Barat, /i/ mungkin saja dilepaskan sebagai [(ɪ) ~ (e) ~ (ɨ)] sebelum atau berkesinambungan terhadap konsonan emfatis dan [q], [r], [ħ], [ʕ]. /u/ juga dapat memiliki pelepasan sebagai [(ʊ) ~ (o) ~ (ʉ)]. Terkadang, dengan satu nilai ataupun dua nilai yang berbeda untuk setiap vokal dalam bentuk panjang dan pendek, vokal tersebut dapat menjadi fonem yang sangatlah berbeda dalam kata piniam untuk beberapa penutur.
- Di Mesir, vokal tertutup memiliki nilai yang berbeda, sebagai vokal inisial pendek atau medial: [e], [o] ← dan bukan /i, u/. /i~ɪ/ dan /u~ʊ/ secara penuh berubah menjadi [e] dan [o] dalam dialek terkait yang lain. Vokal akhiran panjang /aː, iː, uː/ biasanya ataupun sering diucapkan dengan panjang yang lebih pendek ataupun dikurangi, sebagai contoh: /aː/ → [æ ~ ɑ], /iː/ → [i], /uː/ → [o~u].
| pendek | panjang | |||
|---|---|---|---|---|
| i | عِدْ /ʕid/ | “berjanjilah!” | عِيد /ʕiːd/ | “liburan” |
| u | عُدّ /ʕudd/ | “komando” | عُود /ʕuːd/ | “lut” |
| a | عَدّ /ʕadd/ | “diperhitungkan” | عَاد /ʕaːd/ | “telah kembali” |
| aj | عَيْن /ʕajn/ | “mata” | ||
| aw | عَوْد /ʕawd/ | “kembali” | ||
Namun, hukum bacaan utama yang sebenarnya adalah yang mengatur penggunaan penarikan vokal, sehingga membuat hukum bacaan ini lebih kompleks dan biasanya juga memiliki prestise.[7] Penutur biasa, bahkan penutur yang sangat mahir seringkali akan menuturkan bahasa ini menurut aturan penarikan vokal dari dialek asli mereka.[8] Jadi, misalnya, penutur dialek Kairo mencoba menuturkan bahasa Arab, konsonan emfatis akan memengaruhi setiap vokal di antara batas kata, sedangkan penutur Saudi tertentu hanya menunjukkan penekanan pada vokal yang berdekatan dengan konsonan emfatis.[9] Beberapa penutur (biasanya penutur Levan) menunjukkan tingkat yang berbeda dan asimetirs dalam penyebaran penarikan vokal, yakni ke kiri atau ke kanan.[9][10]
|
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Suku kata berat (silabik berat) akhir dari akar kata diubah menjadi tertekan.[6]
Vokal pendek [u, ʊ, o, o̞, ɔ] yang dapat ditemui di dialek-dialek bahasa Arab, merupakan alofoni dari /u/ yang dapat terjadi, sebagai contoh: قُلْت /ˈqult/ (‘aku berkata [LAMPAU]’) dapat diucapkan sebagai [ˈqʊlt] atau [ˈqolt] atau [ˈqɔlt], sementara perbedaan antar vokal tengah pendek [o, o̞, ɔ] dan [u, ʊ] tidak pernah ditemukan dalam bentuk fonemik, dan konsonan ini kebanyakan ditemukan dalam distribusi komplementarium, kecuali untuk beberapa jumplah penutur yang dapat mengucapkanya sebagai fonemik, tetap hanya di kata pinjam saja.
Vokal tengah [i, ɪ, e, e̞, ɛ] yang dapat ditemui di dialek-dialek bahasa Arab, merupakan alofoni dari /i/ yang dapat terjadi, sebagai contoh: مِن /ˈmin/ (‘dari’) dapat diucapkan sebagai [ˈmɪn] atau [ˈmen] atau [ˈmɛn] dikarenakan perbedaan antar vokal tengah pendek [e, e̞, ɛ] dan [i, ɪ] tidak pernah ditemukan dalam bentuk fonemik, dan konsonan ini kebanyakan ditemukan dalam distribusi komplementarium, kecuali untuk beberapa jumplah penutur yang dapat mengucapkanya sebagai fonemik, tetap hanya di kata pinjam saja.
Vokal tengah panjang /oː/ dan /eː/ ditemukan sebagai fonemik dalam kebanyakan varietas bahasa Arab kecuali bahasa Arab Maghrib, dimana vokal tersebut bergabung dengan /uː/ dan /iː/. Sebagai contoh, لون (‘warna’) secara umum diucapkan sebagai /loːn/ dalam dialek Mashriqi tetapi kebanyakan penutur bahasa Arab Maghrib meniturkannya sebagai /luːn/. Vokal tengah panjang juga dapat digunakan salam bahasa Arab Baku Moderen dalam kata-kata dialektal atau dalam nama dan kata pinjam yang stabil, sebagaimana dalam روما /ˈroːma/ (‘Roma’) dalam شيك /ˈʃeːk/ (‘kertas cek’).
Kata-kata pinjam sering memiloki vokal panjang dan pembubuhan fonem dikarenakan bentuk dari huruf tersebut tidak mudah untuk dibakukan menggunakan pengucapan preskriptif yang dituliskan oleh ortogradi untuk vokal pendek.[12] Vokal tengah panjang /eː/ dan /oː/ selalu ditulis menggunakan ي dan و. Secara umum, penguxapan dari kata pinjam sangat bergantung pada varietas natif penutur.
Konsonan
Bahkan dalam konvensi paling formal sekalipun, pengucapan suatu fonem ditentukan oleh latar belakang penutur.[13] Walaupun begitu, jumlah dan karakter fonem dari kebanyakam 28 konsonan memiliki kesamaan dalam daerah penuturan bahasa Arab. Perlu diingat bahwa bahasa Arab kaya akan suara dari konsonan langit-langit belakang (Uvular), konsonan faring, dan konsonan terfaringkan. Konsonan emfatis koronal (/sˤ/, /dˤ/, /tˤ/, dan /ðˤ/) dapat menyebabkan asimilasi dari pergerakan menjadi konsonan koronal non-empatik. Fonem untuk /p/ ⟨پ⟩ dan /v/ ⟨ڤ⟩ (tidak digunakan oleh semua penutur) tidak dianggap sebagai bagian dari kotak fonem, dikarenakan fonem ini hanya muncul di kata-kata dalam bahasa asing dan biasanya hanya diucapkan sebagai /b/ ⟨ب⟩ dan /f/ ⟨ف⟩ tergantung penutur.[12][14] Standar pengucapan untuk ⟨ج⟩ /d͡ʒ/ berbeda-beda, tergantung dari suatu dialek daerah, kebanyakan diucapkan sebagai [d͡ʒ] pada daerah Semenanjung Arab, bagian dari Levant, Irak dan Algeria Utara, konsonan ini dianggap sebagai pengucapan pradominan dalam bahasa Arab diluar dunia Arab, [ʒ] merupakan penuturan dari kebanyakan Afrika Utara dan Levant, [g] di Mesir, pesisir Yaman, dan pesisir selatan Oman, juga [ɟ] di Sudan.
Catatan: Tabel dan catatan berikut menunjukkan kotak fonem konsonan Standar bahasa Arab Moderen diantara penutur bahasa Arab dan bukan varietas dialek bahasa Arab.
| Dwibibir | Gigi | Gigi-Alveolar | Psc. Ronggi./ Langit-langit |
Langit-langit belakang | Tekak | Faring | Celah-suara | |||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Murni | Emfatis[a] | |||||||||
| Letup/ Gesek |
Nirsuara[b] | (p)[c] | t[d] | tˤ[e] | k | q[f] | ʔ | |||
| Bersuara | b | d[d] | dˤ[g] | d͡ʒ[h] | ɡ[i] | |||||
| Frikatif | Nirsuara | f | θ[j] | s | sˤ | ʃ | x ~ χ[k] | ħ[l] | h | |
| Bersuara | (v)[c] | ð[j] | z | ðˤ ~ zˤ[m] | ɣ ~ ʁ[k] | ʕ[l] | ||||
| Sengauan | m | n | ||||||||
| Getar | r[n] | |||||||||
| Hampiran | l | (ɫ)[o] | j | w | ||||||
- ^ Konsonan empatik diucapkan dengan cara lidah bagian belakang mendekati faring (lihat faringealisasi). Konsonan ini diucapkan dengan velarisasi pada penutur Irak dan teluk Arab. /q/, /ħ/, dan /ʕ/ dapat dianggap sebagai varian empatik dari /k/, /h/, dan /ʔ/.[15]
- ^ /t/ dan /k/ teraspirasikan menjadi [tʰ] dan [kʰ], dan /tˤ/ dan /q/ tidak teraspirasikan.[16]
- ^ Lompat ke:a b Suara asing untuk /p/ ﭖ dan /v/ ﭪ (biasanya ditranskripsikan sebagai ب /b/ dan ف /f/) tidak benar-benar digunakan oleh semua penutur dan penggunaanya opsional. Dikarenakan huruf ini tidak terdapat pada papan ketik standar, sehingga huruf ini ditulis sebagai ب /b/ dan ف /f/, contoh: باكستان or پاکستان /pa(ː)kistaːn, ba(ː)kistaːn/ “Pakistan”, فيروس or ڤيروس /vi(ː)ru(ː)s, vajru(ː)s, fi(ː)ru(ː)s, fajru(ː)s/ “virus”, dsvb.[12][14]
- ^ Lompat ke:a b Tergantung dari daerah, konsonan letup dapat berupa konsonan letup rongga-gigi atau konsonan gigi.
- ^ ط [tˤ] secara historis merupakan [ɬˤ], dan masih ada dalam beberapa dialek terisolasi lainnya.[17]
- ^ Orang Sudan biasanya mengucapkan /q/ (ق) sebagai [ɢ].
- ^ ض [dˤ] secara historis merupakan [ɮˤ], dan masih digunakan oleh penutur dalam dialek terisolasi.[18]
- ^ Standar bahasa Arab Moderen menggunakan ǧīm untuk (ج) dan diucapkan sebagai [d͡ʒ], [ʒ], [ɡ], atau [ɟ] tergantung dialek penutur.[19] Diluar liga Arab [d͡ʒ] dianggap sebagai varian yang disarankan.
- ^ Dalam Standar bahasa Arab Moderen /ɡ/ dapat berupa pengucapan standar untuk ǧīm (ج) atau digunakan untuk kata-kata asing yang mungkin ditranskripsikan sebagai ج, غ, ق arau ك atau ݣ yang jarang digunakan (Digunakan di Maroko) atau ڨ (digunakan di Tunisia dan Algeria), tergantung dari varietas bahasa arab atau huruf bahasa Arab dengan diakritik.
- ^ Lompat ke:a b /θ/ dan /ð/ mungkin memiliki artikulasi hampiran ke [t] dan [d] atau [s] dan [z].
- ^ Lompat ke:a b Dalam kebanyakan daerah, Frikatif tekak dapat menjadi langit-langit belakang maupun paska langit-langit belakang dalam periode lama.[20]
- ^ Lompat ke:a b “Konsonan desis hulu-kerongkongan bersuara” /ʕ/ (ع) lebih dianggap bukan sebagai hulu-kerongkongan maupun desis, namun lebih kepada suara berderit dari konsonan hulu-kerongkongan aproksiman.[21] Varian nirsuara dari konsonan ini, yakni /ħ/ (ح) lebih terkesan sebagai hulu-kerongkongan, walaupun ini merupakan konsonan Frikatif nyata. Juga, Thelwall menyatakan bahwa ع sebenarnya merupakan Hentian glotis terfaringkan [ʔˤ].[22] Hampir mirip, McCarthy (1994) menyatakan bahwa variasi dari hentian /ʕ/ di Irak dan Kuwait dianggap sebagai fonem yang “tidak memiliki kelanjutan fonem”.”[23]
- ^ Konsonan empatik Frikatif gigi ظ [ðˤ] kebanyakan diucapkan sebagai konsonan empatik desis rongga-gigi bersuara [zˤ] di Mesir dan Lebanon.[24]
- ^ Konsonan empatik /r/ dapat ditemukan di Afrika Barat Laut. /r/ juga dapat direduksikan sebagai konsonan getar tunggal, tetapi masih dianggap sebagai getaran, dan bukan konsonan kepak rongga-gigi, dikarenakan pengucapan getaran tunggal ini diantara konsonan getar [r] dan kepak [ɾ]. <r> merupakan variasi bebas diantara konsonan getar /r/ dan kepakan [ɾ] di Mesir dan Levant.
- ^ Dalam kebanyakan pengucapan, fonem /ɫ/ muncul dalam banyak kata pinjam. Konsonan ini juga muncul di الله Allah /ʔaɫˈɫaːh/, dengan nama Allah,[25] kecuali jika diikuti oleh /i/ pendek maupun panjang, maka konsonan ini tidak lagi seperti sebelumnya: بسم الله bismi l-lāh /bis.milˈlaːh/ (“dengan nama Allah (Tuhan)”).[26] Namun, /ɫ/ tidak muncul dalam banyak daerah, seperti di Lembah Nil, dan daerah luas lainnya, seperti Irak, dimana konsonan tekak di verlarisasikan secara langsung karena dikelilingi oleh /l/ dan tidak dibedakan oleh /i/.
Konsonan panjang (ganda atau geminasi) diucapkan sama seperti konsonan pendek, namun lebih panjang. Dalam bahasa Arab, konsonan ini disebut dengan mushaddadah (“dikuatkan”, ditandai oleh shaddah), tetapi konsonan ini tidak diucapkan “lebih kuat”. Diantara konsonan panjang dan jeda, terjadi penambahan fonem [ə],[6] namun ini hanya terdapat pada daerah di Asia barat.
Fonotatik
Struktur suku kata dalam bahasa Arab Baku hanya dapat ditemukan dalam 5 bentuk:
- K V (ringan)
- K V V (berat)
- K V K (berat)
- K V V K (sangat berat)
- K V K K (sangat berat)
Struktur suku kata bahasa Arab tidak memungkinkan suatu suku-kata memiliki vokal sebagai awalannya atau dengan himpunan konsonan lainnya. Dalam beberapa kasus dimana sebuah huruf diawali oleh himpunan konsonan didepannya, maka, suku kata tersebut diawali oleh sebuah suara samar [ʔi] emfatis secara inisial atau [i] jika diawali oleh sebuah kata yang berakhiran dengan konsonan. Namun, terdapat pengecualian seperti من /min/ dan ـهم /-hum/ yang menghubungkan himpunan konsonan dalam inisial kata dengan [a] dan [u], dan jika kata yang mengawalinya berakhir dengan vokal panjang, maka vokal tersebut harus diperpendek.
Suku kata sangat berat biasanya tidak diperbolehkan untuk digunakan kecuali untuk akhiran dari kata tersebut, namun suku kataKVVK dapat ditemukan dalam komponen partisipal aktif dari geminasi, seperti dalam حاج /ħaːʒ.ʒ/ “pilgrim”, مادة /maːdda(h)/ “benda, cairan”, كافة /kaːf.fa(h)/ “sepenuhnya”, سام /saːm.m/ “beracun”, جاف /d͡ʒaːf.f/ “kering”, عام /ʕaːm.m/ “umum”, خاص /χaːsˤ.sˤ/ “private, special”, dan حار /ħaːr.r/ “pedas”.
Dalam bentuk jeda, geminasi akhir bertindak sebagai konsonan tunggal jika terletak sebelum kata lain atau dengan vokalisasi, sehingga terjadilah geminasi yang terletak antara dua suku kata terpisah.
Tekanan kata
Penempatan dari penekanan dalam suatu kata dalam bahasa Arab berbeda-beda antara satu dialek dengan yang lainnya dan telah menjadi fokus penelitian dan perdebatan.
Dalam menentukan penekanan, bahasa Arab mengelompokkan tiga tipe suku kata untuk penekanan ini:[29]
- Ringan:
- Suku kata terbuka yang mengandung vokal pendek (atau KV), seperti dalam wa ‘dan’
- Berat:
- Suku kata terbuka yang nengandung vokal panjang (atau KVV), seperti dalam sā.fara ‘musafir’
- Suku kata tertutup yang mengandung vokal pendek dan diikuti oleh konsonan lainnya (atau KVK), seperti dalam min ‘dari’ atau ka.tab.tu ‘Aku menulis (LAMPAU)’
- Sangat berat:
- Suku kata tertutup yang mengandung vokal panjang yang diikuti oleh satu konsonan (atau KVVK), seperti dalam bāb# ‘pintu’ dan mād.dun ‘memperpanjang (NOMINAL)’
- Suku kata tertutup yang mengandung vokal pendek yang diikuti oleh dua konsonan (atau KVKK), seperti bint# ‘perempuan’ atau mādd# ‘perpanjangan’
Terdapat juga deskripsi miliki J. C. E. Watson yang lebih rinci mengenai penekanan. Dibawah ini, suku kata tertekan mengikuti penanda ‘ dan varietas hukum bacaan ditandai dalam tanda kurung:
- Menekan suku kata sangat berat (KVVK, KVVGG, atau KVKK) pra-pausal: [kiˈtaːb] ‘kitab’, [ˈmaːdd] ‘memperpanjang (MASKULIN, TUNGGAL)’, [ʃaːˈribt] ‘aku/kamu (MASKULIN, TUNGGAL) minum (LAMPAU)’.
- Jika tidak, maka penekanan terjadi pada suku kata berat (KVV, KVK, atau KVVG paling kanan (akhiran) non akhiran (sampai antepenultimasi): [daˈrasnaː] ‘kami mempelajari (LAMPAU)’, [ṣaːˈbuːnun] ‘sabun (NOMINAL)’, [ˈmaktabah] ‘perpustakaan’, [ˈmaːddun] ‘memperpanjang (NOMINAL)’, [ˈmaktabatun] ‘perpustakaan’ (non-jeda/pausal) (atau [makˈtabatun]).
- Jika tidak maka penekanan terjadi pada suku kata KV paling kiri (awal) (atau antepenultimasi) [ˈkataba] ‘dia (laki-laki) menuliskan [LAMPAU]’, [ˈkatabatuhu] ‘dia (perempuan) menuliskannya [LAMPAU]’ (atau [kataˈbatuhu]).
Semua dialek bahasa Arab Moderen mengandung hukum bacaan (1) dan (2). Tetapi jika tidak ada suku kata akhir sangat berat ataupun suku kata penultimasi berat, penempatan hukumnya dapat bervariasi. Sementara dalam doalek Palestina, hukum (3) digunakan dalam bentuk ‘jika tidak, tekanan ditempatkan di suku kata awal (sampai antepenultimasi): [ˈkatab] ‘dia (laki-laki) menuliskan [LAMPAU]’, [ˈzalama] ‘seorang lelaki’’, sedangkan hukum penekanan dalam dialek Kairo (dengan beberapa pengecualian) adalah:[31]
- Menekankan ultimasi super berat
- Jika tidak, penultimasi berat ditekankan
- Jika tidak, penultimasi ataupun antepenultimasi ditekankan, juga dipisahkan dengan jumlah suku kata genap dari suku kata berat non akhir paling kanan, atau, jika tidak ada suku kata berat non akhiran, dari batas kiri kata
Variasi Lokal dari bahasa Arab Baku Moderen
Varietas yang dituturkan berbeda dengan bahasa Arab Klasik dan bahasa Arab Baku, tidak hanya dalam tata bahasa (grammar), namun juga pengucapannya. Diluar semenanjubg Arab, terdapat sebuah pengelompokan ilmu bahasa antara sedentary, penuturan biasa (urbanisasi), varietas dan varietas rural. Didalam seenanjung Arab dan di Irak, terdapat dua tipe yang sedikit berbeda, tapi bahasa yang sering dituturkan setidaknya di Hejaz, kemungkinan merupakan varietas sedentary konservatif karena ditunjukkan secara kuat.
Beberapa contoh variasi:
Konsonan
| Fonem | Huruf | ||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Maroko | Algeria | Tunisia | Mesir | Levant | Palestina | Israel | Hejaz | Najd | Irak | Teluk Persia |
|
| /p/[a] | پ / ب | ||||||||||
| /v/[a] | ڥ / ڢ / ف | ڤ / ف | |||||||||
| /t͡ʃ/ | ڜ | تش (ت + ش) | چ / ك | ||||||||
| /g/ | ڭ / گ | ڨ / ڧـ ـڧـ ـٯ / ق | ج[b] | غ / ج[c] | چ / ج | ق | گ / ك | ق | |||
| /ʒ/ atau /d͡ʒ/ | ج | چ / ج | ج | ||||||||
- ^ Lompat ke:a b tidak seperti /ɡ/ dan /t͡ʃ/, /p/ dan /v/ tidak pernah muncul sebagai fonem natif dalam dialek Arab manapun, dan penggunaanya biasanya hanya terdapat pada kata pinjam, konsonan ini mungkin “diredam” menjadi fonem natif, tergantung pelafalan penutur.
- ^ Di Mesir, saat terdapat penggunaan transkripsi untuk /ʒ/ atau /d͡ʒ/, keduanya di-hampirkan menjadi [ʒ] menggunakan چ.
- ^ /ɡ/ bukanlah bagian dari kotak fonemik natif dari bahasa Arab dialek levatin (Lebanon, Suriah, Palestina) urban.
Fonologi dari dialek bahasa Arab
Perbedaan utama dari varietas konsonan dialektal bahasa Arab terdapat pada enam konsonan, yakni ⟨ج⟩, ⟨ق⟩, ⟨ث⟩, ⟨ذ⟩, ⟨ض⟩ dan ⟨ظ⟩:
| Huruf | Klasikal | Baku Moderen | Varietas utama dialektal | Varietas dialektal yang jarang ditemukan | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| ث | /θ/ | /θ/ | [θ] | [t] | [s] | [f] | |||||
| ج | /gʲ/ atau /ɟ/ | /d͡ʒ/ | [d͡ʒ] | [ʒ] | [ɡ] | [ɟ] | [j] | [d͡z] | [d] | ||
| ذ | /ð/ | /ð/ | [ð] | [d] | [z] | [v] | |||||
| ض | /ɮˤ/ | /dˤ/ | [dˤ] | [ðˤ] | [zˤ] | [d] | |||||
| ظ | /ðˤ/ | /ðˤ/ | [ðˤ] | [dˤ] | [zˤ] | ||||||
| ق | /q/ atau /ɡ/ | /q/ | [q] | [ɡ] | [ʔ] | [ɢ] | [k] | [d͡ʒ] | [d͡z] | [ɣ ~ ʁ] | |
- Bagian yang di gelapkan merupakan pengucapan baku.














Leave a Reply