Puasa Ramadan telah lama menjadi bagian dari praktik keagamaan umat Islam di seluruh dunia. Selain aspek spiritual, penelitian terbaru menunjukkan bahwa puasa Ramadan juga memiliki manfaat kesehatan yang signifikan, terutama dalam menurunkan tekanan darah. Studi global, termasuk LORANS (London Ramadan Study) dan meta-analisis terhadap ribuan peserta, menemukan bahwa tekanan darah sistolik dan diastolik mengalami penurunan yang signifikan setelah satu bulan berpuasa. Efek ini terjadi secara independen dari perubahan berat badan, kadar air tubuh, dan massa lemak, menunjukkan bahwa mekanisme lain, seperti perubahan pola makan dan ritme biologis, berkontribusi terhadap manfaat ini.
Hasil penelitian ini mendukung gagasan bahwa puasa Ramadan dapat menjadi strategi alami untuk mengelola tekanan darah, terutama bagi individu yang sehat serta mereka yang memiliki hipertensi atau diabetes. Beberapa pedoman kesehatan bahkan mengakui bahwa puasa dapat menjadi praktik yang aman dan bermanfaat bagi kesehatan kardiovaskular. Dengan pemantauan yang tepat dan pola makan seimbang selama bulan Ramadan, puasa tidak hanya menjadi ibadah tetapi juga bagian dari gaya hidup sehat yang dapat membantu mengurangi risiko penyakit jantung dan tekanan darah tinggi.
Puasa Ramadan adalah praktik keagamaan yang dijalankan oleh ratusan juta umat Muslim setiap tahunnya. Perubahan signifikan dalam pola makan, aktivitas fisik, dan pola tidur selama bulan ini dapat mempengaruhi berbagai aspek kesehatan, termasuk tekanan darah.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of the American Heart Association pada 8 Oktober 2021, berjudul “Effect of Religious Fasting in Ramadan on Blood Pressure: Results From LORANS (London Ramadan Study) and a Meta‐Analysis”, mengevaluasi dampak puasa Ramadan terhadap tekanan darah melalui studi observasional dan meta-analisis.
Metode
Studi ini terdiri dari dua bagian utama:
- LORANS (London Ramadan Study): Sebuah studi observasional yang melibatkan 85 peserta dengan usia rata-rata 45,6±15,9 tahun, di mana 52,9% adalah laki-laki. Tekanan darah sistolik (SBP) dan diastolik (DBP) diukur sebelum dan setelah Ramadan.
- Tinjauan Sistematis dan Meta-Analisis: Pencarian literatur dilakukan di PubMed, Embase, dan Scopus hingga 3 Maret 2020. Studi observasional yang mengukur SBP dan/atau DBP sebelum Ramadan dan selama dua minggu terakhir Ramadan atau dua minggu pertama setelahnya disertakan. Data diekstraksi dan dinilai oleh minimal dua peninjau secara paralel.
Hasil
- Puasa Ramadan adalah praktik keagamaan yang dijalankan oleh ratusan juta umat Muslim setiap tahunnya. Perubahan signifikan dalam pola makan, aktivitas fisik, dan pola tidur selama bulan ini dapat mempengaruhi berbagai aspek kesehatan, termasuk tekanan darah. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of the American Heart Association pada 8 Oktober 2021, berjudul “Effect of Religious Fasting in Ramadan on Blood Pressure: Results From LORANS (London Ramadan Study) and a Meta‐Analysis”, mengevaluasi dampak puasa Ramadan terhadap tekanan darah melalui studi observasional dan meta-analisis.MetodeStudi ini terdiri dari dua bagian utama:
- LORANS (London Ramadan Study): Sebuah studi observasional yang melibatkan 85 peserta dengan usia rata-rata 45,6±15,9 tahun, di mana 52,9% adalah laki-laki. Tekanan darah sistolik (SBP) dan diastolik (DBP) diukur sebelum dan setelah Ramadan.
- Tinjauan Sistematis dan Meta-Analisis: Pencarian literatur dilakukan di PubMed, Embase, dan Scopus hingga 3 Maret 2020. Studi observasional yang mengukur SBP dan/atau DBP sebelum Ramadan dan selama dua minggu terakhir Ramadan atau dua minggu pertama setelahnya disertakan. Data diekstraksi dan dinilai oleh minimal dua peninjau secara paralel.
Hasil
- LORANS: Setelah Ramadan, terdapat penurunan rata-rata SBP sebesar 7,29 mmHg dan DBP sebesar 3,42 mmHg, bahkan setelah penyesuaian untuk faktor perancu potensial.
- Meta-Analisis: Dari 2778 studi yang diidentifikasi, 33 studi dengan total 3213 peserta memenuhi kriteria inklusi. Analisis menunjukkan penurunan SBP sebesar 3,19 mmHg dan DBP sebesar 2,26 mmHg setelah Ramadan. Subgrup analisis menunjukkan penurunan tekanan darah pada individu sehat, serta mereka yang memiliki hipertensi atau diabetes, namun tidak pada pasien dengan penyakit ginjal kronis.
Kesimpulan
Studi ini menunjukkan bahwa puasa Ramadan memiliki efek menguntungkan terhadap tekanan darah yang independen dari perubahan berat badan, total air tubuh, dan massa lemak. Temuan ini mendukung rekomendasi beberapa pedoman pemerintah yang menyatakan bahwa puasa Ramadan adalah praktik keagamaan yang aman terkait dengan tekanan darah.
Informasi lebih lanjut dan akses ke artikel lengkap dapat diperoleh melalui tautan berikut:
- Meta-Analisis: Dari 2778 studi yang diidentifikasi, 33 studi dengan total 3213 peserta memenuhi kriteria inklusi. Analisis menunjukkan penurunan SBP sebesar 3,19 mmHg dan DBP sebesar 2,26 mmHg setelah Ramadan. Subgrup analisis menunjukkan penurunan tekanan darah pada individu sehat, serta mereka yang memiliki hipertensi atau diabetes, namun tidak pada pasien dengan penyakit ginjal kronis.
Kesimpulan
Studi ini menunjukkan bahwa puasa Ramadan memiliki efek menguntungkan terhadap tekanan darah yang independen dari perubahan berat badan, total air tubuh, dan massa lemak. Temuan ini mendukung rekomendasi beberapa pedoman pemerintah yang menyatakan bahwa puasa Ramadan adalah praktik keagamaan yang aman terkait dengan tekanan darah.
Referensi
- Alogaiel DM, Alsuwaylihi A, Alotaibi MS, Macdonald IA, Lobo DN. Effects of Ramadan intermittent fasting on hormones regulating appetite in healthy individuals: A systematic review and meta-analysis. Clin Nutr. 2025 Feb;45:250-261. doi: 10.1016/j.clnu.2025.01.005. Epub 2025 Jan 6. PMID: 39842253.

- 20 BAHAYA KONSUMSI DAGING BABI YANG TIDAK DISADARI SELAMA INI : TINJAUAN ILMIAH BERDASARKAN BUKTI KEDOKTERAN TERKINI DAN PERSPEKTIF ISLAM
- Dampak Kecanduan Gadget pada Anak dan Remaja Menurut Sains Kedokteran dan Islam
- 10 Penyakit dan Masalah Kesehatan yang Sering Dihadapi Lansia dalam Perspektif Kedokteran dan Islam
- Definisi dan Kriteria Lansia Menurut WHO, IAGG, Ilmu Kedokteran, dan Islam
- MENUJU LANSIA SEHAT, AKTIF, DAN MANDIRI 10 Pendekatan Kedokteran Modern dan Nilai-Nilai Islam
- Depresi pada Lansia dalam Perspektif Islam dan Kedokteran Geriatri Modern: Tinjauan Ilmiah tentang Faktor Risiko, Diagnosis, Penatalaksanaan, dan Dukungan Spiritual
- Fikih Pediatri dalam Islam: Integrasi Syariat dan Kedokteran Modern dalam Menjaga Kesehatan Anak
- Fikih Kedokteran Kesehatan: Integrasi Syariat Islam, Bioetika, dan Kedokteran Berbasis Bukti dalam Pelayanan Kesehatan Modern
- Tanya Jawab: Mengatasi Gangguan Kecemasan Menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder/GAD) dalam Perspektif Islam, Psikologi, dan Kedokteran Modern
- Disiplin Anak dalam Islam: Amanah Orang Tua untuk Membentuk Akhlak Mulia Berdasarkan Al-Qur’an, Hadis Shahih, Tafsir Ulama, Psikologi Perkembangan, Neurosains, dan Ilmu Kedokteran Modern
- Fikih Kedokteran (Al-Fiqh al-Ṭibbī): Kajian Hukum Islam dalam Dunia Medis Modern
- Tidur dalam Gelap: Harmoni Tuntunan Islam dan Bukti Ilmiah Kedokteran Modern untuk Tidur Berkualitas
- Badan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi Muhammadiyah sebagai Model Gerakan Kesehatan Berbasis Islam: Kajian Sosial, Teologi Al-Ma’un, dan Perspektif Kedokteran Modern
- KEDOKTERAN ISLAM
- PARENTING ISLAM
- PENDIDIKAN ISLAM
- PSIKOLOGI ISLAM
- KONSULTASI KEDOKTERAN ISLAM
- PARENTING ISLAM

















Leave a Reply