MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Sejarah Shalat Tarawih: Dari Zaman Nabi Hingga Era Modern Di Berbagai Negara

Shalat Tarawih merupakan salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan selama bulan Ramadan. Ibadah ini dilakukan setelah shalat Isya dan biasanya dilakukan secara berjamaah di masjid. Meskipun shalat Tarawih telah menjadi bagian dari tradisi umat Islam di seluruh dunia, cara pelaksanaannya telah mengalami perkembangan sejak zaman Nabi Muhammad ﷺ hingga sekarang. Dalam artikel ini, kita akan membahas sejarah shalat Tarawih dari masa Rasulullah ﷺ, masa para khalifah, hingga praktiknya di berbagai negara di dunia.

Shalat Tarawih pada Zaman Nabi Muhammad ﷺ

Pada zaman Rasulullah ﷺ, shalat Tarawih tidak dilakukan secara berjamaah di masjid setiap malam. Awalnya, Rasulullah ﷺ melaksanakan shalat ini secara sendirian di rumah. Namun, ketika beliau beberapa kali melakukannya di masjid dan para sahabat ikut bergabung, jumlah jamaah semakin bertambah. Dalam suatu riwayat, Rasulullah ﷺ shalat Tarawih berjamaah selama tiga atau empat malam berturut-turut.

Namun, setelah melihat banyaknya orang yang berkumpul, Nabi ﷺ khawatir jika shalat ini dianggap sebagai ibadah wajib oleh umat Islam. Karena itu, beliau memutuskan untuk tidak lagi keluar ke masjid untuk memimpin shalat Tarawih secara berjamaah. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Aku khawatir jika shalat ini diwajibkan atas kalian, dan kalian tidak mampu melaksanakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari hadits ini, jelas bahwa Nabi ﷺ ingin menjaga kemudahan dalam beribadah bagi umatnya. Oleh karena itu, di masa beliau, shalat Tarawih lebih banyak dilakukan secara individu atau berjamaah dalam kelompok kecil di rumah masing-masing.

Setelah wafatnya Nabi Muhammad ﷺ, para sahabat tetap melaksanakan shalat Tarawih, tetapi mereka melakukannya secara sendiri-sendiri atau dalam kelompok kecil tanpa adanya jamaah yang besar di masjid. Hal ini berlangsung hingga masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab.

Shalat Tarawih pada Masa Khalifah

1. Masa Khalifah Umar bin Khattab

Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, beliau melihat bahwa kaum Muslimin melaksanakan shalat Tarawih dalam kelompok-kelompok kecil dengan imam yang berbeda-beda. Melihat hal ini, Umar bin Khattab memutuskan untuk mengumpulkan seluruh jamaah di bawah satu imam, yaitu Ubay bin Ka’b. Hal ini dilakukan agar umat Islam bisa merasakan kebersamaan dalam ibadah dan tidak terpecah dalam kelompok-kelompok kecil.

Umar bin Khattab berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini (shalat Tarawih berjamaah di masjid), tetapi orang-orang yang tidur dan melakukannya di akhir malam lebih baik dari mereka yang shalat di awal malam.” (HR. Bukhari).

Kebijakan ini menjadikan shalat Tarawih berjamaah sebagai praktik umum di bulan Ramadan. Beliau juga menetapkan jumlah rakaat sebanyak 20 rakaat, yang kemudian menjadi rujukan bagi banyak ulama dalam menetapkan jumlah shalat Tarawih.

2. Masa Khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib

Pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, tradisi shalat Tarawih berjamaah tetap diteruskan seperti yang telah ditetapkan oleh Umar bin Khattab. Khalifah Utsman lebih memperindah bacaan Al-Qur’an dalam shalat Tarawih, sehingga shalat menjadi lebih khusyuk dan menyentuh hati jamaah.

Di masa Ali bin Abi Thalib, shalat Tarawih tetap dilakukan secara berjamaah, tetapi ada juga sebagian umat Islam yang lebih memilih melakukannya secara sendiri-sendiri. Perbedaan dalam cara pelaksanaan ini menunjukkan adanya fleksibilitas dalam beribadah selama tetap sesuai dengan ajaran Islam.

Shalat Tarawih di Berbagai Negara Dunia

  1. Arab Saudi. Di Arab Saudi, shalat Tarawih dilakukan secara berjamaah di masjid-masjid besar, termasuk Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Shalat ini biasanya dilakukan sebanyak 20 rakaat, diikuti dengan witir tiga rakaat. Imam-imam terkenal memimpin shalat dengan bacaan Al-Qur’an yang merdu, dan sering kali shalat berlangsung hingga larut malam. Masjidil Haram di Makkah, Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir menggelar salat Tarawih 10 rakaat dan witir 3 rakaat. Tarawih dilakukan dengan 5 taslim atau tiap 2 rakaat 1 kali salam.”Tarawih di Dua Masjid Suci akan dilakukan dalam 5 taslim dilanjutkan salat witir. 10 rakaat + 3 rakaat witir,” lapor Inside the Haramain
  2. Mesir Di Mesir, shalat Tarawih dilakukan di hampir semua masjid dengan jumlah rakaat yang bervariasi antara 8 hingga 20 rakaat. Di Masjid Al-Azhar, sering kali imam membaca satu juz Al-Qur’an setiap malam, sehingga khatam dalam satu bulan.
  3. Turki Di Turki, shalat Tarawih memiliki nuansa khas dengan pembacaan Al-Qur’an yang indah. Masyarakat setempat sering memadukan ibadah ini dengan kegiatan sosial, seperti berbuka puasa bersama dan berbagi makanan kepada fakir miskin.
  4. Pakistan dan India Di Pakistan dan India, shalat Tarawih biasanya dilakukan sebanyak 20 rakaat. Banyak masjid yang menyelesaikan bacaan 30 juz Al-Qur’an dalam 27 malam pertama Ramadan, dengan malam ke-27 diperingati secara khusus sebagai malam yang istimewa.
  5. Indonesia Di Indonesia, shalat Tarawih dilakukan di hampir semua masjid dan mushola. Ada perbedaan jumlah rakaat yang diamalkan, sebagian masjid melaksanakan 8 rakaat, sementara yang lain menjalankan 20 rakaat sesuai tradisi yang berkembang. Banyak umat Islam di Indonesia juga mengikuti ceramah agama sebelum atau sesudah shalat Tarawih.
  6. Malaysia dan Brunei Di Malaysia dan Brunei, shalat Tarawih dilaksanakan secara berjamaah dengan jumlah rakaat yang bervariasi antara 8 hingga 20 rakaat. Sebagian besar masjid juga menyelenggarakan tadarus Al-Qur’an setelah Tarawih.
  7. Maroko dan Tunisia Di negara-negara Afrika Utara seperti Maroko dan Tunisia, shalat Tarawih umumnya dilakukan sebanyak 20 rakaat. Masjid-masjid besar sering kali penuh dengan jamaah yang ingin merasakan kebersamaan dalam beribadah.
  8. Amerika Serikat dan Eropa Di negara-negara Barat, shalat Tarawih dilakukan di masjid-masjid komunitas Muslim. Karena jumlah masjid yang terbatas, banyak Muslim melaksanakan shalat Tarawih di pusat-pusat komunitas atau bahkan di rumah mereka.
  9. Rusia dan Asia Tengah Di Rusia dan negara-negara Asia Tengah, seperti Uzbekistan dan Kazakhstan, shalat Tarawih dilakukan secara terbuka di masjid-masjid besar. Setelah bertahun-tahun mengalami pembatasan beragama, kini umat Islam di wilayah ini kembali menghidupkan tradisi shalat Tarawih dengan penuh semangat.
  10. Cina Di Cina, komunitas Muslim Uighur dan Hui tetap menjalankan shalat Tarawih, meskipun dalam beberapa tahun terakhir mereka menghadapi tantangan dalam menjalankan ibadah di tempat umum.
  11. Kanada. Di Kanada, komunitas Muslim melaksanakan shalat Tarawih di masjid-masjid dan pusat-pusat komunitas Islam. Meskipun umat Islam merupakan minoritas, semangat menjalankan ibadah Ramadan tetap tinggi. Kegiatan seperti buka puasa bersama dan ceramah agama sering diadakan untuk mempererat tali silaturahmi antarjamaah. Beberapa komunitas Muslim Indonesia di Kanada juga berinisiatif untuk membangun masjid yang mencerminkan budaya Indonesia, meskipun hingga saat ini rencana tersebut masih dalam tahap perencanaan.
  12. Inggris. Di Inggris, durasi puasa selama Ramadan bisa mencapai sekitar 18 jam, dengan waktu Isya jatuh sekitar pukul 23.22 waktu setempat. Hal ini menyebabkan shalat Tarawih sering dimulai mendekati atau bahkan setelah tengah malam. Meskipun demikian, umat Muslim tetap antusias melaksanakan shalat Tarawih berjamaah di masjid-masjid. Beberapa masjid menawarkan pilihan 8 atau 20 rakaat Tarawih, disesuaikan dengan preferensi jamaah. Sebelum shalat Tarawih, biasanya diadakan ceramah singkat mengenai ajaran Islam dan keutamaan puasa. Tradisi ini mirip dengan “kultum” yang dikenal di Indonesia.
  13. Negara-Negara Eropa Lainnya. Di berbagai negara Eropa lainnya, praktik shalat Tarawih juga disesuaikan dengan kondisi setempat. Misalnya, di beberapa kota di Eropa, waktu Isya bisa jatuh sangat larut, sehingga shalat Tarawih dilaksanakan hampir tengah malam. Meskipun umat Muslim adalah minoritas, masjid-masjid dan pusat komunitas Islam tetap aktif mengadakan shalat Tarawih berjamaah, buka puasa bersama, dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya untuk menyemarakkan bulan suci Ramadan. Secara umum, meskipun menghadapi tantangan seperti durasi puasa yang panjang dan waktu shalat yang larut malam, komunitas Muslim di Kanada, Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya tetap bersemangat menjalankan ibadah Ramadan. Kebersamaan dan adaptasi terhadap kondisi setempat menjadi kunci dalam menjaga semangat beribadah selama bulan suci ini.

Shalat Tarawih telah mengalami perkembangan dari zaman Nabi Muhammad ﷺ hingga saat ini. Awalnya dilakukan secara individu, lalu menjadi shalat berjamaah di masa Khalifah Umar bin Khattab. Tradisi ini terus berkembang di berbagai negara dengan variasi jumlah rakaat dan cara pelaksanaannya. Perbedaan dalam pelaksanaan shalat Tarawih menunjukkan fleksibilitas dalam Islam, asalkan tetap berpegang pada ajaran Rasulullah ﷺ. Yang terpenting adalah menjaga kekhusyukan dan keikhlasan dalam beribadah, serta menjadikan Ramadan sebagai momen meningkatkan keimanan dan ketakwaan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *