MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Dr Agus Wahyudin MA: Puasa dan Al-Qur’an Sebagai Syafaat

Ceremah Tarawih hari ke 17, Gema Ramadhan MAB

Puasa dan Al-Qur’an merupakan dua amalan utama dalam Islam yang memiliki keistimewaan besar. Keduanya menjadi perantara bagi seorang hamba dalam memperoleh syafaat di hari kiamat. Puasa adalah ibadah yang menahan diri dari makan, minum, serta hawa nafsu demi mendapatkan ridha Allah, sementara Al-Qur’an adalah pedoman hidup yang mengandung petunjuk bagi manusia. Keduanya akan datang sebagai saksi dan penolong bagi orang-orang yang mengamalkannya dengan ikhlas.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata, ‘Wahai Rabbku, aku telah menahannya dari makan dan syahwat pada siang hari, maka izinkan aku memberi syafaat kepadanya.’ Al-Qur’an juga berkata, ‘Aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka izinkan aku memberi syafaat kepadanya.’ Maka keduanya pun diberi izin untuk memberi syafaat.” (HR. Ahmad dan Hakim).

Puasa yang dilakukan dengan penuh keikhlasan akan menjadi penyelamat bagi pelakunya di akhirat. Keikhlasan dalam puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga hati dari riya’, hasad, serta maksiat lainnya. Seorang mukmin yang berpuasa dengan benar akan merasakan ketenangan jiwa dan mendapatkan limpahan rahmat dari Allah.

Sebaliknya, puasa yang dilakukan dengan niat yang tidak lurus, seperti hanya untuk sekadar menggugurkan kewajiban atau mendapat pujian dari orang lain, tidak akan membawa manfaat di akhirat. Bahkan, puasa yang tidak disertai dengan ketakwaan bisa menjadi penyebab seseorang tidak mendapatkan syafaat, karena amalannya tidak bernilai di sisi Allah.

Puasa untuk Menjadi Orang Bertakwa

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

Ayat ini menjelaskan bahwa tujuan utama puasa adalah menjadikan seorang mukmin sebagai pribadi yang bertakwa. Takwa adalah puncak keimanan, yaitu selalu merasa diawasi oleh Allah dalam setiap aspek kehidupan. Dengan puasa, seorang hamba belajar untuk mengendalikan hawa nafsunya dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya.

Tiga Kelompok dalam Menyikapi Ramadhan

  1. Puasa sebagai Hal yang Penting  Kelompok pertama adalah mereka yang memahami bahwa puasa di bulan Ramadhan adalah bagian penting dari keimanan. Mereka berusaha menjalankannya dengan penuh kesungguhan, baik dalam ibadah wajib maupun sunnah. Mereka tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menjaga lisan, pandangan, dan hati mereka dari perbuatan yang sia-sia.  Orang-orang dalam kelompok ini senantiasa memperbanyak membaca Al-Qur’an, shalat malam, dan bersedekah. Mereka memahami bahwa Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan, sehingga mereka berlomba-lomba dalam kebaikan. Mereka menjadikan puasa sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas iman dan memperbaiki diri.
  2. Yang Penting Puasa, Tetapi Mengabaikan Esensinya. Kelompok kedua adalah mereka yang hanya menjalankan puasa sebatas menahan lapar dan dahaga, tetapi tidak memahami esensi ibadah tersebut. Mereka menganggap Ramadhan sebagai beban sehingga lebih banyak tidur di siang hari dan bermalas-malasan. Puasa mereka mungkin sah secara syariat, tetapi mereka tidak mendapatkan hikmah dan manfaatnya. Rasulullah ﷺ bersabda: “Betapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad). Ini menunjukkan bahwa puasa yang tidak disertai dengan ibadah lain akan kehilangan maknanya.
  3. Menganggap Puasa Tidak Penting. Kelompok ketiga adalah mereka yang meremehkan puasa dan bahkan tidak menjalankannya tanpa uzur syar’i. Mereka menganggap puasa sebagai sesuatu yang tidak perlu, padahal meninggalkan puasa dengan sengaja tanpa alasan yang dibenarkan adalah dosa besar. Puasa adalah salah satu rukun Islam. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa meninggalkan puasa Ramadhan tanpa uzur atau sakit, maka ia tidak akan bisa menggantinya meskipun berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah). Orang yang meremehkan puasa telah melakukan kesalahan fatal yang bisa menghilangkan keberkahan dalam hidupnya.

Ciri Mukmin yang Benar Menurut Al-Qur’an

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka yakin akan adanya akhirat, mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Luqman: 4-5).

Ayat ini menegaskan bahwa seorang mukmin sejati adalah mereka yang menjaga shalatnya dengan sungguh-sungguh. Mereka tidak hanya melaksanakannya secara rutin, tetapi juga dengan penuh khusyuk dan keikhlasan.

Keutamaan Amal yang Baik

Rasulullah ﷺ bersabda: “Jika shalat seseorang baik, maka baik pula amalannya yang lain. Jika shalatnya rusak, maka rusak pula amalannya yang lain.” (HR. Thabrani).

Hadits ini menunjukkan bahwa shalat adalah tolok ukur dari amal lainnya. Jika seseorang menjaga shalatnya dengan baik, maka zakat, sedekah, dan amal ibadah lainnya juga akan berkualitas.

Tiga Keutamaan Amal yang Benar

  1. Jaminan Surga. Allah berfirman:“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka adalah surga Firdaus sebagai tempat tinggal.” (QS. Al-Kahfi: 107). Surga adalah balasan bagi orang-orang yang beriman dan menjalankan amal dengan ikhlas. Dengan puasa, shalat, dan amal baik lainnya, seorang mukmin berhak mendapatkan jaminan surga dari Allah.
  2. Dosa Diampuni. Puasa yang dilakukan dengan ikhlas akan menjadi penghapus dosa. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
  3. Harta Menjadi Berkah Allah memberkahi harta orang yang menginfakkannya di jalan yang benar. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim).

Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan sebagaimana firman Allah: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.” (QS. Al-Baqarah: 185). Al-Qur’an menjadi pedoman bagi umat Islam dan sumber cahaya dalam kehidupan.

Al-Qur’an sebagai Syafaat

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini dan merendahkan yang lain dengannya.” (HR. Muslim).

Kesimpulan

Puasa dan Al-Qur’an adalah dua amalan yang memiliki keutamaan besar. Mereka yang menjadikannya sebagai pedoman hidup akan mendapatkan keberkahan, kemuliaan, dan syafaat di akhirat. Semoga kita termasuk dalam golongan yang berpuasa dengan ikhlas dan menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *