Widodo Judarwanto, dr, pediatrician
Manusia diciptakan oleh Allah SWT sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Sebagai makhluk sosial, manusia selalu membutuhkan interaksi dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam hal keluarga, teman, komunitas, maupun masyarakat secara luas. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat (49:13), “Wahai umat manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling mengenal.” Ayat ini mengandung pesan bahwa perbedaan suku, bangsa, dan status sosial adalah bagian dari takdir Ilahi yang seharusnya disikapi dengan sikap saling mengenal dan saling menghormati satu sama lain, bukan dengan permusuhan atau perpecahan. Dalam konteks ini, Islam mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk tidak saling bersatu, melainkan sebagai sarana untuk saling memahami dan menghargai.
Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama, terlepas dari perbedaan yang ada. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” Hadits ini menegaskan bahwa iman seseorang tidak akan sempurna jika ia tidak dapat merasakan empati dan saling mengenal dengan sesama. Dalam Islam, persaudaraan bukan hanya terbatas pada ikatan agama atau golongan, tetapi lebih luas lagi, yaitu persaudaraan kemanusiaan yang harus dijaga dengan penuh rasa saling pengertian dan toleransi. Dengan saling mengenal, kita dapat mengurangi kesalahpahaman dan membangun kedamaian di tengah-tengah masyarakat yang plural.
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (QS Al-Hujurat: 13).
Dalam Tafsir Wajiz, Syekh Wahbah menjelaskan, ayat ini mengingatkan manusia bahwa manusia berasal dari keturunan yang sama yaitu Adam dan Hawa. Semua manusia sama saja derajat kemanusiaannya, tidak ada perbedaan antara satu suku dengan suku lainnya. Kemudian Allah menjadikan kita berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Dengan saling memahami, maka akan terwujud sikap saling membantu satu sama lain, bukan saling mengolok-olok dan saling memusuhi antara satu kelompok dengan lainnya.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan tanggal 4 Februari sebagai Hari Internasional Persaudaraan Manusia (International Day of Human) pada 2019 lalu. Hal ini sebagai dukungan pada kesepakatan Piagam Persaudaraan Manusia yang ditandatangani oleh Grand Syekh Al-Azhar Ahmed Al Tayeb dan Pemimpin Gereja Katolik Paus Fransiskus di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Piagam ini menjadi salah satu dokumen penting bagi kita semua dan generasi mendatang untuk merajut dan menguatkan persatuan, menguatkan kerja sama, meningkatkan kesadaran untuk hidup bersama, demi mewujudkan perdamaian dunia. Dalam konteks kebhinekaan di Indonesia, piagam ini sangat relevan dan signifikan bagi upaya mewujudkan sikap moderat dalam beragama serta menguatkan peran aktif kita dalam mewujudkan perdamaian dunia.
Manusia sebagai Makhluk Sosial
- Interaksi dalam Keluarga Sebagai makhluk sosial, manusia pertama-tama belajar untuk berinteraksi dalam lingkup keluarga. Keluarga adalah unit sosial yang paling dasar, tempat di mana kita belajar tentang kasih sayang, pengertian, dan bagaimana menjaga hubungan baik dengan orang lain. Seorang anak, misalnya, pertama kali mengenal dunia sosial melalui interaksi dengan orang tuanya. Keluarga menjadi dasar penting dalam membangun karakter sosial yang positif, yang selanjutnya memengaruhi bagaimana seseorang berinteraksi dengan masyarakat lebih luas.
- Interaksi di Sekolah Di sekolah, anak-anak belajar untuk berinteraksi dengan teman sebaya, guru, dan pihak lain dalam lingkungan pendidikan. Di sinilah mereka mengembangkan keterampilan sosial seperti kerjasama, toleransi, dan kemampuan berkomunikasi. Interaksi sosial di sekolah juga menjadi sarana penting bagi anak-anak untuk belajar mengenal perbedaan, seperti perbedaan latar belakang agama, budaya, atau status sosial, yang pada gilirannya membantu mereka untuk hidup berdampingan dengan damai di masyarakat yang majemuk.
- Interaksi di Tempat Kerja Manusia sebagai makhluk sosial juga berinteraksi dalam lingkup pekerjaan. Di tempat kerja, individu harus berkomunikasi dan bekerja sama dengan rekan-rekan sejawat, atasan, maupun klien. Di sini, keterampilan sosial sangat diperlukan untuk menciptakan hubungan profesional yang baik. Interaksi yang efektif di tempat kerja dapat meningkatkan produktivitas dan menciptakan lingkungan kerja yang harmonis, di mana setiap orang merasa dihargai dan memiliki peran penting dalam pencapaian tujuan bersama.
- Interaksi dalam Masyarakat Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa terpisah dari kehidupan bermasyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, kita berinteraksi dengan banyak orang yang memiliki latar belakang, pandangan hidup, dan budaya yang berbeda. Interaksi ini terjadi dalam berbagai kegiatan seperti gotong royong, pertemuan sosial, atau bahkan di tempat-tempat umum seperti pasar. Saling mengenal dan menghormati perbedaan dalam masyarakat menjadi kunci untuk menciptakan keharmonisan dan mengurangi potensi konflik antar individu atau kelompok.
4 tips untuk saling mengenal:
- Berkomunikasi dengan Terbuka
Cara terbaik untuk saling mengenal adalah dengan berkomunikasi secara terbuka dan jujur. Ketika kita berbicara dengan orang lain, penting untuk mendengarkan mereka dengan penuh perhatian, menunjukkan minat pada cerita mereka, serta berbagi pengalaman pribadi kita. Komunikasi yang terbuka dan empatik dapat mempererat hubungan dan mengurangi kesalahpahaman, serta memungkinkan kita untuk lebih memahami pandangan dan nilai-nilai orang lain. - Menghargai Perbedaan
Saling mengenal berarti menerima dan menghargai perbedaan. Dalam interaksi dengan orang lain, kita akan menemukan banyak perbedaan dalam hal agama, budaya, kebiasaan, dan bahkan cara berpikir. Menghormati perbedaan ini dan melihatnya sebagai kekayaan bukan sebagai hambatan adalah kunci untuk membangun hubungan yang sehat dan harmonis. Misalnya, dalam kegiatan sehari-hari, kita dapat berusaha memahami dan tidak menghakimi cara orang lain menjalani kehidupan mereka. - Aktif Terlibat dalam Kegiatan Sosial
Bergabung dalam kegiatan sosial atau komunitas adalah cara yang sangat efektif untuk saling mengenal orang lain. Dengan terlibat dalam acara atau proyek bersama, seperti kegiatan gotong royong, acara keagamaan, atau kegiatan sosial lainnya, kita dapat berinteraksi lebih dekat dengan berbagai orang. Ini membuka kesempatan untuk saling berbagi, bekerja sama, dan memperluas pemahaman kita tentang kehidupan orang lain di sekitar kita. - Membangun Kepercayaan dan Keterbukaan
Untuk saling mengenal dengan baik, penting untuk membangun kepercayaan. Kepercayaan tercipta ketika kita konsisten dalam kata-kata dan tindakan kita serta menunjukkan niat baik dalam setiap interaksi. Dengan memperlakukan orang lain dengan tulus dan tanpa prasangka, kita membuka ruang bagi mereka untuk merasa aman dan nyaman dalam berbagi pengalaman dan pandangan mereka dengan kita. Keterbukaan dalam berbagi juga memungkinkan terciptanya hubungan yang lebih dalam dan saling mendukung.
Kesimpulan
- Islam mengajarkan bahwa manusia sebagai makhluk sosial harus menjaga hubungan baik dengan sesama, dengan saling mengenal dan menghormati. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an dan hadits, di mana kita diajarkan untuk tidak membedakan orang berdasarkan suku, ras, atau status sosial, tetapi lebih kepada bagaimana kita dapat saling mengenal dan menjaga perdamaian di tengah keragaman. \
- Saling mengenal dapat mempererat ikatan sosial dan mencegah kesalahpahaman yang sering kali terjadi akibat perbedaan.
Saran
- Sebagai langkah konkret untuk saling mengenal, kita perlu berusaha untuk lebih terbuka dalam berinteraksi dengan orang lain, baik di lingkungan keluarga, tempat kerja, maupun di masyarakat.
- Salah satu cara untuk memulai adalah dengan berkomunikasi dengan baik, mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian, dan menghargai perbedaan yang ada.
- Selain itu, kita juga harus berupaya untuk mengenal kebudayaan dan tradisi yang ada di sekitar kita, yang akan memperkaya pemahaman dan menjalin hubungan yang lebih harmonis. Dengan cara ini, kita dapat mewujudkan kehidupan sosial yang damai dan penuh toleransi.















Leave a Reply