Meninjau Penyimpangan Syiah terhadap Syariat Islam, Quran dan Sunah, dr Widodo Judarwanto
Syiah merupakan salah satu kelompok besar dalam Islam yang berkembang dengan berbagai cabang dan doktrin. Meskipun mengakui keesaan Allah dan kerasulan Nabi Muhammad SAW, sejumlah ajaran dalam aliran Syiah, khususnya Syiah Imamiyah (Itsna ‘Asyariyah), dinilai menyimpang dari syariat Islam yang diajarkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Shahih. Artikel ini mengulas secara objektif penyimpangan-penyimpangan tersebut dari segi aqidah dan ibadah, serta menawarkan panduan sikap umat Islam dalam merespon perbedaan ini secara bijak namun tegas berdasarkan prinsip-prinsip agama.
Sejarah Islam menyaksikan perpecahan pasca wafatnya Rasulullah SAW yang melahirkan dua kutub utama: Sunni dan Syiah. Perbedaan tersebut mula-mula bersifat politik, namun seiring waktu berkembang menjadi perbedaan dalam teologi, hukum, dan praktik keagamaan. Aliran Syiah, terutama dalam cabang Imamiyah, berkembang pesat di Iran dan beberapa negara lain, serta memiliki tafsir dan pandangan sendiri terhadap syariat Islam yang sering kali bertentangan dengan pemahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Perbedaan tersebut tidak semata-mata pada aspek furu’ (cabang agama), tetapi menyentuh aspek ushul (pokok agama), seperti konsep imamah yang dianggap lebih tinggi dari kenabian, kepercayaan bahwa para imam ma’shum (terbebas dari dosa), dan pengkafiran sebagian sahabat Nabi. Oleh karena itu, penting untuk menilai secara kritis apakah ajaran-ajaran ini masih dalam koridor Islam atau telah keluar dari jalur syariat yang lurus. Penilaian ini harus tetap didasari oleh ilmu, bukan semata-mata kebencian.
13 Penyimpangan Aliran Syiah dalam Syariat Islam, Al-Qur’an, dan Sunnah,
1. Imamah sebagai Rukun Iman Pengganti Khilafah
Syiah Imamiyah menjadikan keyakinan terhadap para imam sebagai rukun iman yang wajib dipercaya. Mereka meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib dan keturunannya adalah para imam ma’shum yang diangkat oleh Allah, memiliki otoritas spiritual dan politik, serta wajib ditaati dalam segala hal. Dalam pandangan mereka, iman seseorang tidak sah kecuali jika ia mengimani para imam tersebut.
Hal ini bertentangan dengan prinsip tauhid dalam Islam. Dalam Al-Qur’an, tidak ada satu pun ayat yang menetapkan imamah sebagai bagian dari rukun iman. Allah hanya menyebut rukun iman dalam QS. Al-Baqarah:177 dan QS. An-Nisa:136 tanpa mencantumkan imamah. Dengan demikian, keyakinan ini adalah penambahan dalam agama yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW maupun para sahabat.
2. Mengkafirkan dan Melaknat Para Sahabat Nabi
Syiah menganggap sebagian besar sahabat Nabi sebagai pengkhianat karena mereka tidak mengangkat Ali sebagai khalifah pertama setelah Rasulullah wafat. Beberapa bahkan dituduh merusak Islam dari dalam, dan mereka melaknat Abu Bakar, Umar, dan Utsman secara terbuka dalam ziarah dan doa-doa mereka.
Ini sangat bertentangan dengan firman Allah dalam QS. At-Taubah:100 yang memuji para sahabat Muhajirin dan Anshar serta menjanjikan surga bagi mereka. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Bukhari-Muslim: “Janganlah kalian mencaci maki sahabatku, karena jika salah satu dari kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud sedekah mereka.” Maka melaknat sahabat adalah penyimpangan serius dalam akhlak dan aqidah.
3. Keyakinan Para Imam Ma’shum dan Mengetahui yang Ghaib
Syiah menganggap para imam mereka ma’shum (terbebas dari dosa) dan memiliki ilmu ladunni, termasuk kemampuan mengetahui hal ghaib. Mereka percaya para imam bisa mengetahui nasib umat dan akan memberi syafaat secara mutlak di akhirat.
Keyakinan ini jelas melanggar QS. Al-Jin:26-27, “(Dialah) Yang Mengetahui yang ghaib, dan Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya.” Dalam Islam, hanya para nabi yang mendapat wahyu, bukan keturunan nabi atau imam yang diangkat manusia. Menyamakan imam dengan kenabian adalah bentuk ghuluw (berlebihan) yang dilarang oleh syariat.
4. Taqiyah: Membolehkan Berbohong atas Nama Agama
Taqiyah adalah konsep yang membolehkan pemeluk Syiah menyembunyikan keyakinan mereka bahkan dengan berdusta demi keselamatan atau maslahat mazhab. Doktrin ini dianggap sah dalam hampir semua keadaan, tidak terbatas pada kondisi darurat.
Dalam Islam, kejujuran adalah prinsip pokok yang tidak boleh dikompromikan. Rasulullah SAW bersabda, “Kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga.” (HR. Bukhari-Muslim). Menghalalkan kebohongan atas nama agama mengancam integritas syariat dan merusak nilai amanah yang dijunjung tinggi dalam ajaran Islam.
5. Ritual Asyura: Menyakiti Diri Sendiri dalam Ibadah
Dalam memperingati hari Asyura, Syiah melakukan ritual melukai diri dengan pedang, rantai, atau benda tajam sebagai bentuk belasungkawa atas kematian Husain bin Ali. Mereka menganggap ritual ini sebagai bentuk cinta dan pengorbanan.
Padahal Rasulullah SAW bersabda, “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain.” (HR. Ibn Majah). Islam melarang segala bentuk menyakiti diri sendiri, apalagi menjadikannya sebagai ibadah. QS. Al-Baqarah:195 juga menegaskan, “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” Ritual seperti ini tidak memiliki dasar dalam sunnah Nabi.
6. Nikah Mut’ah: Kontrak Seksual yang Dianggap Sah
Syiah memperbolehkan nikah mut’ah, yaitu pernikahan sementara dengan durasi waktu tertentu dan imbalan materi. Meski dahulu pernah dibolehkan dalam masa awal Islam, nikah mut’ah telah diharamkan oleh Rasulullah SAW untuk selamanya.
Dalam hadits riwayat Muslim, Ali bin Abi Thalib berkata, “Rasulullah melarang mut’ah dan memakan daging keledai peliharaan pada Perang Khaibar.” Nikah mut’ah menjatuhkan martabat perempuan dan membuka pintu perzinaan yang dilegalkan. Islam memuliakan pernikahan sebagai ikatan suci, bukan transaksi sementara.
7. Mengubah dan Meragukan Kemurnian Al-Qur’an
Dalam kitab Syiah seperti Al-Kafi, terdapat riwayat yang menyatakan bahwa mushaf Al-Qur’an saat ini telah mengalami perubahan dan pengurangan oleh sahabat. Mereka menuduh Abu Bakar dan Umar sebagai penyebab hilangnya mushaf asli milik Ali.
QS. Al-Hijr:9 dengan tegas menyatakan: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” Menuduh adanya perubahan dalam Al-Qur’an sama saja dengan menolak janji Allah. Tuduhan ini merupakan penyimpangan yang amat serius karena menyentuh pokok iman terhadap wahyu.
8. Ziarah Kubur Imam Melebihi Ibadah Haji
Dalam sebagian riwayat Syiah, menziarahi makam Husain bin Ali di Karbala disebut lebih utama daripada menunaikan ibadah haji. Bahkan ada anggapan bahwa pahala ziarah tersebut setara dengan ratusan kali haji mabrur.
Ini jelas menyalahi prinsip-prinsip syariat Islam. Ibadah haji adalah rukun Islam kelima yang telah diwajibkan Allah dalam QS. Ali Imran:97. Menyamakannya atau bahkan melebihkan ritual lokal seperti ziarah kubur dengan haji ke Baitullah adalah pengagungan yang tidak proporsional dan tidak berdasar dalam sunnah.
9. Doa dan Tawassul kepada Imam
Syiah membolehkan berdoa langsung kepada para imam, meminta pertolongan dan syafaat mereka seolah-olah mereka adalah perantara antara manusia dan Allah. Hal ini sering dilakukan dalam doa-doa mereka seperti Dua al-Tawassul dan Ziyarat Jamiah Kabirah.
Padahal Islam mengajarkan bahwa doa hanya boleh ditujukan kepada Allah. QS. Al-A’raf:55 menyatakan: “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut.” Dalam hadits sahih, Rasulullah SAW mengajarkan agar kita berdoa langsung kepada Allah, tanpa perantara manusia yang telah wafat.
10. Penolakan terhadap Ijma’ Sahabat dan Qiyas
Syiah tidak mengakui ijma’ sahabat sebagai sumber hukum. Mereka menolak keputusan sahabat setelah wafatnya Rasulullah SAW, dan menganggap hanya para imam yang boleh menafsirkan hukum. Qiyas (analogi hukum) juga ditolak, sehingga sistem hukum mereka hanya mengacu pada riwayat dari para imam.
Padahal ijma’ dan qiyas adalah dua sumber hukum penting dalam syariat Islam yang disepakati oleh jumhur ulama. Rasulullah SAW bersabda, “Umatku tidak akan sepakat dalam kesesatan.” (HR. Tirmidzi). Menolak ijma’ berarti menolak warisan kolektif umat Islam dalam memahami wahyu secara kontekstual dan menyeluruh.
11. Pengkafiran Para Sahabat Nabi SAW
Syiah Imamiyah secara terang-terangan mengkafirkan mayoritas sahabat Nabi SAW, terutama Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan. Mereka menganggap ketiganya sebagai pengkhianat karena dinilai merebut kekhalifahan dari Ali bin Abi Thalib. Pandangan ini bertolak belakang dengan ajaran Ahlus Sunnah yang memuliakan seluruh sahabat berdasarkan banyak ayat Al-Qur’an, seperti QS. At-Taubah:100 yang memuji para Muhajirin dan Anshar.
Mengkafirkan sahabat bukan hanya mencederai sejarah Islam, tetapi juga merusak landasan periwayatan hadits dan pemahaman syariat. Sebagian besar ilmu Islam—baik Al-Qur’an maupun Sunnah—diriwayatkan oleh para sahabat. Jika mereka dikafirkan, maka keutuhan ajaran Islam pun otomatis diragukan. Ini adalah bentuk penolakan terhadap sanad ilmu dan pemalsuan sejarah Islam yang sangat serius.
12. Kultus Terhadap Karbala dan Kuburan Imam
Syiah menjadikan Karbala dan kuburan para imam sebagai tempat suci yang bahkan dianggap lebih utama dari Ka’bah. Mereka mengadakan ritual ziarah khusus dengan doa-doa yang berlebihan, seperti meminta pertolongan kepada Husein bin Ali dan menjadikan tanah Karbala sebagai benda keramat. Ini bertentangan dengan ajaran tauhid dalam Islam, karena tempat suci yang diakui syariat hanya tiga: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha.
Pengkultusan terhadap kuburan juga dilarang keras dalam sunnah Rasulullah SAW. Dalam hadits shahih, Nabi bersabda: “Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat perayaan (id).” (HR. Abu Dawud). Syiah justru membangun kubah, memperindah makam, dan menjadikannya pusat ibadah. Ini merupakan bentuk tasyabbuh dengan ajaran kaum terdahulu yang menjadikan kuburan nabi dan wali sebagai sesembahan.
13. Pengingkaran terhadap Hadits Shahih dan Periwayatan Sunni
Syiah menolak sebagian besar hadits yang diriwayatkan oleh perawi Sunni, seperti Bukhari dan Muslim, dengan alasan para sahabat yang meriwayatkan tidak dapat dipercaya. Mereka hanya menerima hadits dari jalur Ahlul Bait menurut versi mereka, dan bahkan lebih memuliakan riwayat dari kitab-kitab seperti Al-Kafi dan Bihar al-Anwar yang sarat dengan riwayat dhaif dan palsu. Ini menyebabkan distorsi besar dalam fondasi hukum dan akidah.
Penolakan terhadap hadits shahih membuka peluang pembentukan hukum-hukum baru yang tidak memiliki dasar dalam sunnah Rasulullah SAW. Akibatnya, banyak praktik Syiah tidak dapat ditemukan dalam Islam yang diajarkan Nabi, seperti jumlah rakaat shalat yang berbeda, bentuk azan yang ditambahi nama Ali, hingga tata cara wudhu yang menyelisihi tuntunan Nabi. Ini semua menunjukkan bahwa Syiah Imamiyah telah membentuk agama tersendiri yang berbeda dari Islam berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah shahih.
Sikap Umat Islam yang Bijak terhadap Perbedaan Ini
Pertama, umat Islam harus memahami perbedaan ini bukan dalam rangka memprovokasi perpecahan, tetapi untuk menjaga kemurnian akidah. Pengetahuan yang benar tentang kesalahan-kesalahan akidah Syiah akan menjadi benteng bagi umat dari penyimpangan pemahaman dan praktik agama. Dalam era globalisasi ini, penyebaran informasi sangat cepat, sehingga umat wajib membekali diri dengan ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadits shahih.
Kedua, umat Islam perlu menguatkan ukhuwah di internal Ahlus Sunnah wal Jamaah terlebih dahulu. Persatuan dalam kebenaran lebih utama daripada toleransi dalam penyimpangan. Dalam menghadapi ajaran Syiah, umat harus cerdas membedakan antara toleransi antar manusia dan kompromi terhadap prinsip-prinsip agama. Jangan sampai rasa damai justru membutakan mata terhadap kerusakan aqidah yang diusung oleh aliran tersebut.
Ketiga, para ulama dan da’i harus lebih aktif dalam menyuarakan dakwah tauhid, menjelaskan aqidah yang benar kepada umat, serta membongkar kesesatan dengan cara ilmiah dan argumentatif. Tidak cukup hanya mengkritik, tetapi juga membekali umat dengan pemahaman Islam yang lurus sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
Keempat, umat Islam sebaiknya mendukung lembaga-lembaga yang berkomitmen menjaga aqidah sesuai manhaj salaf. Pendidikan berbasis sunnah, pengkajian kitab-kitab shahih, dan forum kajian akidah harus ditingkatkan agar tidak memberi ruang bagi berkembangnya ajaran menyimpang di tengah masyarakat. Dengan cara ini, penyimpangan Syiah bisa dihadapi dengan ilmu, bukan emosi.
Kesimpulan
Aliran Syiah, terutama dalam bentuk Imamiyah, menunjukkan berbagai penyimpangan serius dalam akidah, ibadah, dan hukum yang bertentangan dengan syariat Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah. Penyimpangan tersebut meliputi konsep imamah, penghinaan terhadap sahabat, penghalalan nikah mut’ah, hingga pengubahan makna ayat Al-Qur’an. Umat Islam wajib bersikap tegas namun ilmiah, menjaga akidah dengan ilmu, dan menjauhi segala bentuk penyimpangan dengan tetap mengedepankan dakwah yang bijaksana. Kesatuan umat hanya akan terwujud jika dibangun di atas aqidah yang lurus, bukan pada kompromi terhadap penyimpangan.














Leave a Reply