MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Bagaimana Hukum Mendahulukan Puasa Qadha Ramadhan atau Puasa Syawal Bagi Wanita yang Haid? Menurut Ulama 4 Mahdzab dan Ulama Kontemporer

Buat para muslimah yang sempat gak puasa Ramadhan karena haid, terus setelah Idul Fitri pengen banget ikut puasa 6 hari di bulan Syawal… Nah, sebaiknya gimana ya urutannya? Apakah:

  1. Harus qadha puasa Ramadhan dulu sampai lunas baru boleh puasa 6 hari Syawal?
  2. Atau boleh aja langsung puasa Syawal dulu, nanti qadhanya belakangan selama masih dalam tahun itu?

Dan kalau ada yang sudah terlanjur puasa Syawal dulu, baru qadha setelahnya… gimana status puasanya? Masih sah gak ya? Masih dapat pahala puasa setahun penuh atau enggak? Kira-kira menurut sunnah Nabi, dan menurut pendapat para ulama dari 4 mazhab (Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hambali), bagaimana pandangannya? Terus kalau menurut ulama kontemporer zaman sekarang seperti Syaikh Utsaimin, Syaikh Yusuf Qardhawi, atau lembaga fatwa di Mesir, gimana ya? 

 

Pertanyaan yang sangat bagus dan sering ditanyakan: bagaimana hukum mendahulukan puasa qadha Ramadhan atau puasa sunah (seperti puasa Syawal) bagi wanita yang haid? Kita bahas secara lengkap dari sisi dalil syariat, pandangan 4 mazhab, dan pendapat ulama kontemporer.


Hukum Qadha Puasa Bagi Wanita Haid Wanita haid wajib mengqadha puasa Ramadhan yang ditinggalkan karena haid, berdasarkan ijma’ (kesepakatan ulama). Dalil: Hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Kami mengalami haid di masa Rasulullah ﷺ, lalu kami diperintahkan mengqadha puasa, dan tidak diperintahkan mengqadha shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim) ✅ Jadi, qadha puasa adalah wajib, dan harus dilaksanakan sebelum Ramadhan berikutnya.


Bolehkan Puasa Syawal Dulu, Lalu Qadha Ramadhan?


Pendapat Ulama Mazhab

1. Mazhab Syafi’i dan Hambali

  • Pendapat kuat: Harus qadha dulu, baru puasa Syawal agar dapat pahala puasa setahun penuh.
  • Jika puasa Syawal dulu: tetap boleh, tetapi keutamaan penuh tidak didapat.

2. Mazhab Hanafi

  • Lebih fleksibel: boleh puasa Syawal dulu.
  • Tetap mendapat pahala secara umum, tapi tidak menyatakan secara eksplisit tentang “keutamaan setahun penuh”.

3. Mazhab Maliki Ada dua riwayat:

  • Riwayat kuat: boleh puasa Syawal dulu, qadha nanti.
  • Riwayat lain: utama qadha dulu, tetapi tidak mutlak dilarang.

Pendapat Ulama Kontemporer

  1. 1Syaikh Ibn Baz dan Syaikh Utsaimin (Ulama Saudi)
    • Menyarankan: qadha dulu, karena puasa Syawal hanya berlaku jika sudah menunaikan puasa Ramadhan secara lengkap.
    • Tapi, tidak menyalahkan jika puasa Syawal dilakukan dulu karena waktu qadha lebih luas.
  2. Dr. Yusuf al-Qaradawi
    • Membolehkan puasa Syawal dulu.
    • Mengedepankan kemudahan, selama qadha tidak ditinggalkan.
  3. Lembaga Fatwa Mesir (Dar al-Ifta’) 
    • Boleh puasa Syawal dulu dan tetap mendapat pahala puasa setahun penuh.
    • Asalkan qadha Ramadhan tetap ditunaikan sebelum Ramadhan berikutnya.
    • Ini memudahkan bagi banyak wanita yang haid panjang atau nifas.
    • Mengedepankan kemudahan, selama qadha tidak ditinggalkan.
  4. Ulama Lembaga Fatwa Indonesia (MUI)
    1. Fleksibel: Qadha bisa dilakukan kapan saja hingga Sya’ban, dan puasa Syawal boleh dilakukan dalam 6 hari di bulan Syawal, meski qadha belum selesai.
    2. Namun, tetap dianjurkan menyempurnakan Ramadhan terlebih dahulu bila memungkinkan.

Kalau Sudah Terlanjur Puasa Syawal Dulu, Apakah Sah?

Sah puasanya, dan tetap bernilai ibadah.

Tapi:

  • Menurut sebagian ulama (Syafi’i dan Hambali), tidak mendapatkan pahala “puasa setahun penuh”, karena syaratnya belum lengkap puasa Ramadhan.
  • Namun menurut Hanafi, Maliki, dan ulama kontemporer: tetap syah  dapat pahala.

✍️ CATATAN PENTING

  1. Yang paling utama dan hati-hati:
    Qadha dulu, baru puasa Syawal. Ini berdasarkan pemahaman bahwa puasa Syawal hanya dianjurkan setelah sempurna puasa Ramadhan.
  2. Boleh puasa Syawal dulu jika qadha belum selesai, menurut banyak ulama, asalkan qadha tetap ditunaikan nanti.
    ➤ Pahalanya tetap insya Allah tidak hilang, karena niat baik dan keterbatasan waktu qadha.
  3. Kalau sudah terlanjur puasa Syawal dulu sebelum qadha:
    Tidak berdosa, puasanya tetap sah dan berpahala.
    ➤ Namun, sebagian ulama berpendapat tidak mendapat keutamaan “puasa setahun penuh” karena syaratnya belum lengkap (belum qadha Ramadhan).
Situasi Hukum dan Anjuran
Wanita haid di Ramadhan Wajib qadha puasa setelah Ramadhan
Ingin puasa 6 hari Syawal Pendapat kuat dan hati-hati: Qadha dulu baru Syawal (Syafi’i dan Hambali)
Sudah terlanjur puasa Syawal dulu Sah puasanya, tapi sebagian ulama bilang tidak dapat pahala penuh
Terbatas waktu (haid/nifas lama) Boleh Syawal dulu, qadha nanti (pendapat Maliki, Hanafi, dan kontemporer)

 


 Qadha vs Puasa Syawal bagi Wanita Haid

Situasi Mazhab Syafi’i Mazhab Hanafi Mazhab Maliki Mazhab Hambali Ulama Kontemporer
1. Qadha dulu, baru puasa Syawal Disunnahkan. Harus qadha dulu agar keutamaan Syawal sah. Boleh. Tidak wajib dahulukan qadha, tapi bagus. Disunnahkan qadha dulu. Disunnahkan qadha dulu. Dianjurkan. Ibn Baz, Utsaimin: utamakan qadha dulu.
2. Puasa Syawal dulu, baru qadha Boleh, tapi kurang afdhal. Keutamaan puasa Syawal bisa tidak sempurna. Boleh. Tidak masalah puasa Syawal dulu. Ada dua riwayat: boleh & afdhal qadha dulu. Boleh, tapi afdhal qadha dulu. Boleh. Yusuf Qaradawi, MUI: fleksibel, tetap berpahala.
3. Sudah terlanjur puasa Syawal dulu Tidak masalah. Tetap lakukan qadha setelahnya. Sah. Tetap lanjutkan qadha. Boleh. Qadha tetap wajib disusul. Sah. Lanjutkan qadha setelahnya. Sah. Tidak perlu khawatir. Utamakan tetap qadha.

 


Kesimpulan Umum

  1. Qadha puasa Ramadhan wajib bagi wanita haid, berdasarkan ijma’ ulama dan hadis shahih dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.
  2. Mengenai urutan antara qadha dan puasa sunah Syawal, terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama:
    • Mazhab Syafi’i dan Hambali: mengharuskan qadha dulu agar mendapatkan keutamaan puasa Syawal.
    • Mazhab Hanafi dan Maliki: membolehkan puasa Syawal dulu, lalu qadha selama masih dalam batas waktu (sebelum Ramadhan berikutnya).
  3. Ulama kontemporer cenderung memberikan kelonggaran, terutama bagi wanita yang kesulitan mengqadha sebelum Syawal habis, dengan tetap menekankan pentingnya menyelesaikan qadha secepat mungkin.
  4. Jika sudah terlanjur puasa Syawal dulu, maka:
    1. Puasanya tetap sah sebagai ibadah sunah.
    2. Perihal pahala puasa setahun penuh masih menjadi perbedaan pendapat; sebagian mengatakan tetap mendapatkannya, sebagian menyebutkan tidak sempurna tanpa qadha Ramadhan sebelumnya.

Saran

  1. Utamakan menyelesaikan qadha puasa terlebih dahulu, terutama bagi yang mengikuti mazhab Syafi’i atau ingin lebih hati-hati dalam mengamalkan sunnah.
  2. Jika waktu terbatas (misalnya karena haid atau nifas panjang), maka boleh melaksanakan puasa Syawal terlebih dahulu, sesuai pendapat ulama yang membolehkan, lalu qadha setelahnya.
  3. Jangan menunda-nunda qadha puasa tanpa uzur, karena kewajiban ini harus ditunaikan sebelum masuk Ramadhan berikutnya.
  4. Untuk memaksimalkan pahala:
    • Niatkan ibadah dengan ikhlas karena Allah.
    • Pelajari pendapat ulama dan sesuaikan dengan kondisi masing-masing.
    • Konsultasikan dengan ustadz atau guru agama yang memahami kondisi personal dan fiqih praktis.
  5. Tetap jaga semangat ibadah meskipun ada perbedaan pendapat, karena semua ulama berdalil dari sumber yang sama dan menginginkan kebaikan umat.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Sahih al-Bukhari. Kitab ash-Shiyam. Hadis no. 321.
  2. Muslim, Imam. Sahih Muslim. Kitab ash-Shiyam. Hadis no. 1146.
  3. An-Nawawi, Yahya bin Sharaf. Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab. Beirut: Dar al-Fikr; 1997.
  4. Ibn Qudamah. Al-Mughni. Kairo: Maktabah al-Qahirah; 1968.
  5. Al-Kasani. Bada’i’ as-Shana’i’ fi Tartib as-Shara’i’. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah; 1986.
  6. Ad-Dardir. Asy-Syarh al-Kabir ‘ala Mukhtashar Khalil. Kairo: Dar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah; 1955.
  7. Ibn Baz, Abdul Aziz. Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah. Riyadh: Dar Al-Watan; 2000.
  8. Al-Utsaimin, Muhammad bin Shalih. Majmu’ Fatawa wa Rasail. Riyadh: Dar al-Turath; 2005.
  9. Al-Qaradawi, Yusuf. Fiqh al-Siyam. Kairo: Maktabah Wahbah; 2001.
  10. Dar al-Ifta’ al-Mishriyyah. Fatwa Online. https://www.dar-alifta.org/. Diakses 7 April 2025.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *