Pembahasan akidah yang dilakukan ulama dalam Sifat Allah khusuanya penamaan sifat sifat Allah dilakukan secara sederhana dan mendasar. Salah satu isu yang sering menjadi perdebatan adalah tentang jumlah sifat Allah. Beberapa ulama dan tatjih muhammadiyah menegaskan bahwa setiap Muslim wajib beriman kepada Allah sebagai al-Ilahul Haq yang menciptakan segala sesuatu. Allah adalah wajib al-wujud, al-awwalu bila bidayah wa al-akhiru bila nihayah. Namun, perdebatan tentang jumlah sifat Allah, apakah tujuh, dua puluh, atau bahkan lebih, tetap menjadi isu penting dalam diskursus teologis.
Beberapa ulama termasuk muhammadiyah cenderung merujuk langsung pada Al-Qur’an dan Sunnah dalam memahami sifat-sifat Allah. Dalam pandangan kelompok ulama tertentu membatasi jumlah sifat Allah tidak sesuai dengan ajaran Al-Qur’an yang menyebutkan nama-nama dan sifat-sifat Allah tanpa membatasi jumlahnya. Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa Allah memiliki nama-nama yang tidak semuanya diketahui oleh manusia.
Dalil Penetapan Sifat Allah
- Tidak Ada Pembatasan dalam Al-Qur’an dan Sunnah
<span;>Rasulullah SAW tidak pernah membatasi sifat Allah dengan bilangan tertentu. Dalam hadis, Rasulullah menyebutkan bahwa Allah memiliki nama-nama yang hanya diketahui oleh-Nya. Dengan demikian, pembatasan sifat Allah bertentangan dengan dalil naqli.<span;>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. Aku memohon kepada Engkau dengan semua nama yang menjadi nama-Mu, baik yang telah Engkau jadikan sebagai nama diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau Engkau sembunyikan menjadi ilmu ghaib di sisi-Mu.” Nama-nama yang Allah Ta’ala sembunyikan menjadi ilmu ghaib di sisi-Nya, maka tidak mungkin dapat dihitung dan diketahui oleh makhluk-Nya. Oleh karena itu, di akhirat kelak Allah Ta’ala akan membukakan kepada Rasulullah untuk memuji-Nya dengan sifat-sifat yang belum pernah diajarkan di dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Maka Allah mengilhamkan kepadaku (untuk mengungkapkan) segala pujian kepada-Nya yang tidak diajarkan kepada seorang pun sebelumku.” Sampai-sampai Rasulullah sendiri tidak mampu menghitung pujiannya kepada Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Aku tidak bisa menghitung pujian kepada-Mu seperti Engkau memuji terhadap diri-Mu. - Asmaul Husna Mengandung Sifat Allah
Setiap nama Allah dalam Asmaul Husna menunjukkan sifat-Nya. Misalnya, nama Al-‘Alim menunjukkan sifat ilmu, dan nama Ar-Rahman menunjukkan sifat rahmat. Dengan demikian, jumlah sifat Allah mengikuti jumlah nama-Nya yang tidak terbatas. - Membatasi Sifat Allah Merupakan Kekurangan
Membatasi sifat Allah pada tujuh, tiga belas, atau dua puluh saja dapat dianggap sebagai bentuk celaan terhadap kesempurnaan Allah. Allah adalah Zat yang sempurna dengan sifat-sifat yang tak terhingga.
Pandangan Ulqma Asy’ariyyah
Ulama Asy’ariyyah berpendapat bahwa sifat Allah ditetapkan berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Sunnah tanpa membatasi jumlahnya. Mereka menolak pendekatan Asy’ariyyah yang hanya menetapkan tujuh atau dua puluh sifat. Pendekatan ini dianggap terlalu menyederhanakan sifat Allah untuk pemahaman masyarakat awam.
Dasar perbedaan pendapat terhadap Pendekatan Asy’ariyyah
- Tasybih dan Takwil
<span;>Asy’ariyyah sering kali menolak sifat-sifat tertentu seperti ghadhab (murka) dengan alasan bahwa hal tersebut menyerupai sifat makhluk. Namun, Ahlus Sunnah menetapkan sifat-sifat tersebut tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk. - Ketergantungan pada Akal
<span;>Pendekatan Asy’ariyyah yang menggunakan akal sebagai sumber utama dalam menetapkan sifat Allah menimbulkan pertanyaan tentang standar akal yang digunakan. Hal ini menyebabkan perbedaan pendapat yang signifikan di antara para ulama Asy’ariyyah sendiri.
Kesimpulan
Perdebatan tentang jumlah sifat Allah mencerminkan perbedaan metodologi dalam memahami akidah. Penting menekankan pentingnya kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah dalam memahami sifat-sifat Allah. Membatasi sifat Allah hanya pada tujuh , tigabelas atau dua puluh tidak memiliki dasar yang kuat dalam dalil naqli dan dapat mengurangi kesempurnaan Allah. Sebagai Muslim, memahami sifat Allah dengan mengacu pada wahyu adalah cara terbaik untuk menjaga kemurnian akidah.
Bila ingin mengutamakan kebersamaan mungkin lebih baik mwlepaskan diri dari perdebatan teologis yang tidak produktif antara Murji’ah, Khawarij, Jabariyah, Qadariyah, Mu’tazilah, Asy’ariyah, Maturidiyah dan lainnya. Muhammadiyah tidak ingin melupakan hal-hal yang lebih esensial dan nyata seperti menciptakan kesejahteraan umat dan mencerdaskan kehidupan bangsa.















Leave a Reply