MAB MASJID AL-FALAH BENHIL

MAB PORTAL ISLAM: “Dari Masjid untuk Umat, Berbagi Ilmu dan Kebaikan”

Mencari Kebenaran tentang Tuhan: Allah, Yesus (Isa), dan Pertanyaan tentang Ketuhanan

Mencari Kebenaran tentang Tuhan: Allah, Yesus (Isa), dan Pertanyaan tentang Ketuhanan

Pertanyaan tentang siapa Tuhan dan bagaimana kedudukan Yesus (Isa) merupakan salah satu persoalan teologis yang paling penting dalam sejarah agama. Dalam Islam, Allah dipahami sebagai Tuhan Yang Maha Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan, sedangkan Nabi Isa adalah hamba dan rasul Allah. Dalam Kekristenan, Yesus disebut Lord/Kyrios dalam Perjanjian Baru dan dalam teologi Trinitarian dipahami sebagai pribadi ilahi bersama Bapa dan Roh Kudus. Perbedaan ini tidak cukup dijelaskan hanya dengan perbedaan istilah “Allah” dan “Tuhan”, tetapi berkaitan dengan penafsiran terhadap keseluruhan kitab suci dan perkembangan doktrin. Karena itu, pencarian kebenaran tentang Tuhan membutuhkan sikap jujur terhadap teks, pemeriksaan konteks, kajian sejarah, dan kesediaan membedakan antara apa yang secara langsung dinyatakan oleh kitab suci dengan kesimpulan teologis yang muncul kemudian.

Manusia sejak dahulu mencari jawaban atas pertanyaan paling mendasar: Siapakah Tuhan? Apakah Tuhan itu satu? Apakah Tuhan dapat menjadi manusia? Siapakah Yesus sebenarnya? Pertanyaan tersebut bukan sekadar persoalan istilah, tetapi menyangkut dasar iman, ibadah, dan pandangan manusia tentang hubungan dengan Sang Pencipta.

Dalam tradisi Islam, jawaban tentang ketuhanan berpusat pada tauhid. Al-Qur’an menyatakan bahwa Allah adalah Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan (QS. Al-Ikhlas 112:1–4). Isa disebut sebagai Al-Masih, nabi dan rasul Allah, bukan Tuhan yang harus disembah (QS. An-Nisa 4:171).

Sementara itu, dalam Perjanjian Baru terdapat teks yang menyebut Yesus sebagai Kyrios atau “Tuan”, tetapi terdapat pula teks yang membedakan Yesus dengan Bapa, misalnya ketika Yesus berdoa kepada Bapa dan menyebut Bapa sebagai Allah. Tradisi Kristen kemudian memahami berbagai teks tersebut dalam kerangka doktrin Trinitas. Karena itu, persoalan ini perlu dikaji secara hati-hati, tanpa mengambil kesimpulan hanya dari satu ayat.

Beda antara ajaran Islam, teks Perjanjian Baru, dan perkembangan doktrin Kristen, supaya tidak mencampur fakta teks dengan kesimpulan teologis.

Aspek Islam: Allah Yesus dalam Perjanjian Baru Yesus sebagai Tuhan dalam Kekristenan
Identitas Allah Yang Maha Esa Isa Al-Masih, Anak Allah/Mesias dalam berbagai teks Dipahami sebagai Tuhan/Putra dalam iman Kristen
Jumlah Tuhan Satu Yesus berdoa kepada Bapa Trinitas: satu Allah dalam tiga pribadi
Hubungan dengan Bapa Allah tidak memiliki “Bapa” Yesus menyebut Allah sebagai Bapa Bapa dan Anak dibedakan sebagai pribadi ilahi
Ketuhanan Yesus Ditolak Ada ayat yang menyebut Yesus “Tuhan” dan ada yang membedakannya dari Allah/Bapa Yesus dipahami sebagai ilahi
“Allah” dan “Tuhan” Allah adalah Tuhan Theos = Allah; Kyrios = Tuhan/Lord Kyrios yang diterapkan kepada Yesus dipahami sebagai bagian dari pengakuan iman kepada keilahian-Nya
Doa Hanya kepada Allah Yesus berdoa kepada Bapa (Matius 26:39) Doa Yesus kepada Bapa dipahami dalam hubungan Bapa–Anak
Pengetahuan Allah Mahatahu Markus 13:32 menyatakan Anak tidak mengetahui hari/jam tersebut, hanya Bapa Ditafsirkan dalam kerangka inkarnasi dan dua natur Kristus
Kemanusiaan Allah bukan manusia Yesus mengalami kelahiran, lapar, haus, penderitaan dan kematian Dipahami memiliki natur ilahi dan manusiawi
Anak Allah Allah tidak beranak secara biologis Yesus disebut “Anak Allah” “Anak” dipahami sebagai relasi kekal dengan Bapa, bukan anak biologis
Isa/Yesus Nabi dan rasul Allah, Al-Masih Mesias/Anak Allah dalam berbagai teks Tuhan dan Juruselamat
Trinitas Ditolak Kata “Trinitas” tidak terdapat sebagai istilah dalam Perjanjian Baru Doktrin Trinitas dirumuskan dalam sejarah gereja
Dasar Islam QS. Al-Ikhlas 112:1–4; QS. An-Nisa 4:171 — —

Tentang “Yesus dinobatkan menjadi Tuhan”

  • Kalimat “Yesus dinobatkan menjadi Tuhan” perlu hati-hati. Dalam sejarah Kristen, bukan berarti ada satu peristiwa sederhana ketika seseorang kemudian “memberi gelar Tuhan” kepada Yesus. Perjanjian Baru sudah menggunakan sebutan “Lord/Tuan” (Kyrios) untuk Yesus, sementara makna dan kedudukan teologisnya berkembang dan dirumuskan dalam perdebatan gereja awal.
  • Salah satu teks penting adalah Filipi 2:9–11, yang menyatakan bahwa Allah sangat meninggikan Yesus dan memberikan kepadanya “nama di atas segala nama”, sehingga setiap lidah mengaku “Yesus Kristus adalah Tuhan.”
  • Sebaliknya, dalam perspektif Islam, Isa tidak mengalami proses “dinobatkan menjadi Tuhan”. Ia tetap hamba dan rasul Allah. Al-Qur’an bahkan mengutip Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah…”— QS. Maryam 19:30

Dengan demikian, perbedaannya dapat diringkas:

  • Islam: Allah → Tuhan Yang Esa → Isa adalah nabi dan rasul.
    Kekristenan Trinitarian: satu Allah → Bapa, Anak, dan Roh Kudus → Yesus dipahami sebagai Anak yang ilahi dan Tuhan.
  • Perbedaan tersebut merupakan perbedaan teologi yang mendasar, bukan sekadar perbedaan penerjemahan kata “Allah” dan “Tuhan”.

Bagaimana Sebaiknya Manusia Mencari Kebenaran?

1. Mulai dari kejujuran, bukan dari kesimpulan

  • Pencarian kebenaran seharusnya dimulai dengan pertanyaan:
  • “Apa yang sebenarnya dikatakan sumber tersebut?”
  • bukan:
  • “Bagaimana saya membuktikan bahwa keyakinan saya pasti benar?”
  • Orang yang mencari kebenaran harus bersedia menemukan fakta yang mungkin berbeda dari dugaan awalnya.

2. Membaca teks secara utuh

  • Satu ayat dapat mempunyai konteks yang berbeda jika dibaca sendirian. Karena itu, ayat tentang Yesus sebagai “Tuhan”, ayat tentang Bapa sebagai Allah, maupun ayat tentang keesaan Allah perlu dibaca bersama konteks sebelum menarik kesimpulan.

3. Membedakan teks dan tafsir

  • Ini sangat penting.
  • Teks: apa yang benar-benar tertulis dalam kitab.
  • Tafsir: bagaimana komunitas keagamaan memahami teks tersebut.
  • Doktrin: rumusan teologis yang dibangun dari kumpulan teks dan tradisi.
  • Dengan membedakan ketiganya, seseorang tidak mudah menganggap sebuah tafsir sebagai kalimat eksplisit dari kitab suci.

4. Memeriksa bahasa asli

  • Perbandingan istilah seperti Theos, Kyrios, “Allah”, “Tuhan”, “Bapa”, “Anak”, dan “Roh Kudus” perlu melihat bahasa sumber dan konteks penggunaannya. Terjemahan dapat membantu pembaca, tetapi tidak selalu mampu menunjukkan seluruh nuansa bahasa asli.

5. Mempelajari sejarah secara objektif

  • Jika sebuah doktrin mengalami perkembangan sejarah, pertanyaannya bukan hanya “kapan istilah itu muncul?”, tetapi juga:
  • bagaimana umat awal memahami Yesus;
  • bagaimana para penulis awal berbicara tentang Bapa dan Anak;
  • bagaimana perdebatan teologis berkembang;
  • bagaimana konsili gereja merumuskan doktrin;
  • dan bagaimana berbagai tradisi Kristen kemudian menafsirkannya.

6. Tidak menjadikan banyak pengikut sebagai bukti kebenaran

  • Sebuah keyakinan tidak otomatis benar hanya karena banyak orang mempercayainya. Sebaliknya, sesuatu juga tidak otomatis salah karena hanya sedikit orang yang mengikutinya.
  • Kebenaran harus dicari melalui dalil, bukti, konsistensi, dan kejujuran intelektual.

7. Menggunakan akal sekaligus hati nurani

  • Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia untuk berpikir, memperhatikan tanda-tanda Allah, dan menggunakan akalnya. Pencarian kebenaran bukan hanya aktivitas akademis, tetapi juga persoalan moral: apakah seseorang benar-benar siap mengikuti kebenaran apabila kebenaran itu menuntut perubahan dirinya?

8. Berdoa meminta petunjuk

  • Bagi seorang pencari kebenaran yang beriman, penelitian tidak harus dipertentangkan dengan doa. Manusia dapat mempelajari kitab, sejarah, bahasa, dan argumentasi secara serius sekaligus memohon kepada Tuhan agar diberikan petunjuk kepada kebenaran.

Penutup

Pertanyaan “Siapakah Yesus?” tidak seharusnya dijawab hanya berdasarkan slogan, perdebatan, atau potongan ayat. Ia membutuhkan pembacaan yang utuh terhadap kitab suci, konteks bahasa, sejarah, dan perkembangan pemikiran teologis. Islam memberikan jawaban yang tegas melalui konsep tauhid: Allah adalah satu-satunya Tuhan dan Isa adalah hamba serta rasul-Nya. Kekristenan Trinitarian memberikan kerangka berbeda dengan memahami Yesus sebagai pribadi ilahi dalam keesaan Allah.

Pada akhirnya, mencari kebenaran membutuhkan kejujuran, keberanian untuk memeriksa keyakinan sendiri, kesediaan mendengar argumen yang berbeda, dan ketundukan kepada kebenaran yang ditemukan. Sebab tujuan pencarian kebenaran bukan memenangkan perdebatan, melainkan menemukan jawaban yang paling benar tentang Tuhan, manusia, dan tujuan kehidupan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *